NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sementara itu, dia langsung memulai pekerjaannya.

"Banyak banget bukunya," gumamnya, begitu melihat tumpukan buku di troli buku itu yang harus dia rapihkan, dan dia susun di rak buku perpustakaan.

Dia menarik napasnya dalam, kemudian menghembuskan napas itu dengan cepat dan penuh keberanian.

"Ga papa Khaira. Mau sebanyak apa pun pekerjaannya, pasti bisa terselesaikan, asalkan berusaha," ucapnya, menyemangati dirinya sendiri.

Dia menarik kedua sudut bibirnya, memulai pekerjaan itu dengan penuh semangat.

Satu per satu buku-buku itu dia letakkan di atas rak buku.

Dia melakukannya dengan sangat hati-hati, karena pijakkan tangga itu bisa dibilang kecil, sehingga dia harus benar-benar memperhatikan pijakannya.

Dia memang sudah berusaha untuk tetap berhati-hati, walaupun dia tidak tahu takdirnya akan seperti apa.

Dia sibuk menyimpan buku-buku yang baru saja dia ambil dari tumpukan di troli buku yang baru saja dia ambil dari gudang perpustakaan.

Kini dia berada di atas anak tangga, hendak menempatkan buku tersebut ke rak yang tinggi.

Namun, saat dia menggapai rak dengan satu tangan, kakinya tergelincir dan tubuhnya seolah akan jatuh ke belakang.

Hingga akhirnya...

"Akh!" teriak Khaira, tidak terdengar keras, karena dia langsung membungkam sendiri mulutnya, sehingga orang-orang yang berada di seberang rak buku itu tidak sempat mendengar suaranya.

Karena terlalu banyak buku yang dia pegang, membuat keseimbangannya terganggu, dan menyebabkan kakinya tergelincir di atas anak tangga itu.

Tak disangka, di saat yang genting seperti itu, tiba-tiba saja Galvin muncul dan berada tepat di belakangnya.

Dengan sigap dan kekuatan insting, Galvin segera menarik tubuh Khaira ke arahnya, membuat Khaira jatuh ke dalam pelukan hangatnya.

Khaira, yang sempat teriak tertahan karena ketakutan, kini terdiam di dalam pelukan Galvin.

Matanya memandang bingung, tak mengerti bagaimana Galvin bisa ada di sana pada saat yang tepat.

Sementara itu, Galvin mempererat pelukannya, merasakan detak jantung Khaira yang masih berdebar kencang karena rasa terkejut.

Dia menatap kedua bola mata Khaira yang begitu indah, lalu bernapas lega karena berhasil menyelamatkan gadis itu dari bahaya yang mengancamnya.

"G-galvin?" lirih Khaira, begitu halus dan pelan.

Karena saking terkejutnya, hingga membuat dia sampai lupa bagaimana caranya berkedip.

Kini, dia tetap pada posisinya, terhenti, seperti patung yang tak bergerak. Dia masih belum bisa memproses apa yang baru saja terjadi.

Galvin, laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya, tiba-tiba datang menyelamatkannya ketika kakinya tergelincir dari tangga yang dia gunakan untuk meletakkan buku di sederet rak buku panjang.

Tanpa sadar, Khaira masih berada dalam dekapan Galvin, dia merasa hangat dan nyaman, sehingga tubuhnya enggan menjauh barang sedikit pun.

"Ceroboh!" ucap Galvin tiba-tiba, di tengah-tengah keheningan mereka.

Mendengar ucapan Galvin, Khaira langsung tersadar dari lamunannya. Dia merasa malu karena telah berada dalam dekapan Galvin dengan waktu yang terlalu lama.

"M-maaf, Gal!" ucapnya, sedikit kaku.

Dia segera melepaskan pelukannya dari tubuh Galvin dan mundur beberapa langkah. Hingga akhirnya...

Brakk!

Tanpa sengaja, punggungnya menabrak rak buku yang ada di belakang.

Untung saja Galvin segera menarik Khaira ke arahnya, sehingga buku-buku itu tidak terjatuh karena benturan punggung Khaira.

"Ck! Terbukti. Lo itu memang ceroboh," cibir Galvin, sambil menyentil kening Khaira, pelan.

Blush!

Wajah Khaira memerah, menunjukkan rasa malu yang tak terkendali. Untung saja dia menggunakan cadar, sehingga Galvin tidak dapat melihat kedua pipinya yang mendadak bersemu merah.

Dia menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan Galvin yang memandangnya dengan senyum samar.

"Lihat sini!" pinta Galvin, dengan suaranya yang terkesan berat dan pelan.

Dia mengangkat dagu Khaira dengan lembut, memaksanya untuk menatap mata tajamnya tetapi memberikan kenyamanan bagi Khaira.

Dalam tatapan mata mereka yang bertemu, ada rasa saling mengerti dan perasaan yang tak terucapkan.

Khaira menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.

"Terima kasih, Galvin. Aku... aku tidak tahu harus berkata apa," ujar Khaira dengan suara lirih, masih merasa malu.

Galvin menarik kedua sudut bibirnya dengan samar. Senyum itu sangat tipis, sehingga siapa pun tidak akan menyadarinya, termasuk Khaira.

Melihat tingkah Khaira yang tersipu malu seperti itu, membuat Galvin merasa, bahwa Khaira begitu menggemaskan di matanya.

Aish! Apa yang Galvin pikirkan? Apakah baru saja hatinya menunjukkan ketertarikannya kepada Khaira?

"Ga perlu bilang makasih. Gue cuma melakukan apa yang seharusnya gue lakukan," jawab Galvin, kembali bersikap dingin, seolah tidak peduli.

"Hilangin sikap ceroboh lo. Karena ga setiap waktu gue ada di samping lo," sambungnya kembali.

Khaira terkadang dibuat bingung oleh sikap Galvin terhadapnya yang terkesan cuek tetapi perhatian.

'Jangan pikirkan itu, Khaira,' batin Khaira pada dirinya sendiri.

"Gal," sahut Khaira, memberanikan diri untuk kembali menatap ke arah Galvin.

Galvin membalas tatapan bola mata teduh itu tanpa berbicara.

"Aku izin buat melanjutkan pekerjaan aku," ucapnya meminta izin, kemudian melangkahkan kaki untuk berlalu dari hadapan Galvin.

"Shh!"

Khaira hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, namun tiba-tiba dia meringis kesakitan. Galvin

yang melihatnya langsung bertanya, "Kenapa?" tanya Galvin, merasa khawatir karena Khaira tiba-tiba meringis seperti itu.

Dengan wajah yang masih meringis, Khaira menjawab, "Ah, tidak apa-apa, hanya terasa sedikit sakit."

Khaira merasa bingung pada dirinya sendiri, padahal sebelumnya sakit itu tidak dia rasa. Apakah karena hatinya yang terlalu berdebar saat Galvin mendekapnya, sehingga dia melupakan rasa sakit itu untuk sesaat?

Dia mencoba untuk kembali melangkahkan kaki.

"Shh!" ringisnya pelan, ternyata rasa sakit itu benar nyata, dan dia baru merasakannya sekarang.

Mendengar Khaira meringis untuk yang kedua kali, Galvin langsung menggendong Khaira tanpa meminta izin lebih lanjut.

Khaira menolak, "Galvin, turunkan aku! Nanti ada orang yang melihat kita, ditambah lagi ada CCTV di perpustakaan ini!"

Namun Galvin sama sekali tidak peduli. Dengan wajah yang tenang dan tegas, ia berkata, "Gue ga peduli."

Mereka berdua berjalan melewati rak-rak buku, hingga akhirnya Galvin mendudukkan Khaira di sebuah kursi yang merupakan kursi tempat kerja Khaira.

Khaira masih merasa malu, namun dia juga merasa terharu dengan perhatian Galvin yang begitu tulus padanya.

Galvin duduk di sebelah Khaira, memegang kaki wanita itu lembut dan mulai melepaskan ikatan tali sepatu yang menghiasi kaki Khaira.

Khaira merasa tidak enak dan canggung, mencoba menarik kaki tersebut dari genggaman Galvin.

"Kamu tidak perlu seperti ini,Galvin. Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Khaira dengan wajah merah menahan malu.

Namun, Galvin tetap bersikeras, tak menggubris protes Khaira.

Perlahan, Galvin melepaskan sepatu Khaira, lalu memegang pergelangan kaki Khaira dengan penuh perhatian.

Dalam hati, Khaira merasa terharu namun tetap merasa malu dengan perlakuan Galvin yang begitu perhatian.

Galvin mulai mengurut pergelangan kaki Khaira yang terkilir, gerakan tangannya terasa lembut dan menenangkan. Khaira menutup matanya, merasakan ketegangan di kakinya perlahan mereda.

"Kaki lo terkilir, Khaira. Tapi bisa-bisanya lo bilang ga papa," ucap Galvin berdecak pelan, sambil terus memijat dengan lembut.

"Aku memang ga papa, Gal."

Meski masih merasa tidak enak, Khaira akhirnya menyerah pada kebaikan hati Galvin.

Galvin dengan hati-hati menggenggam pergelangan kaki Khaira yang terkilir.

Sementara itu, matanya fokus menatap mata Khaira, mencoba membaca rasa sakit yang mungkin tersembunyi di balik tatapan gadis itu.

"Bilang kalau sakit. Jangan pura-pura kuat!" ucap Galvin dengan nada dingin, tetapi tersembunyi berjuta rasa khawatir di hatinya.

Dia tahu betapa keras kepala Khaira yang selalu ingin menunjukkan kekuatannya, bahkan saat merasakan sakit sekalipun.

Khaira menelan ludah, menatap Galvin yang begitu fokus merawat kakinya.

Dia tersenyum tipis di balik cadar, kemudian mengangguk pelan. "Iya, Gal. Aku akan bilang kalau aku merasa sakit," jawabnya dengan suara pelan.

Namun, di dalam hati, Khaira berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap bertahan walupun dia merasakan sakit sekali pun, karena dia tidak ingin menjadi beban bagi Galvin.

Galvin terus memijat pergelangan kaki Khaira, sesekali menanyakan apakah pijatannya terlalu keras atau malah terlalu lembut.

Khaira hanya menggeleng,menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun, di balik senyuman itu, dia merasakan rasa sakit yang semakin menyerang pergelangan kakinya.

Dia menahan erat tangisan, tak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan Galvin.

"Gal, seperti sudah cukup," lirih Khaira.

Di tengah-tengah rasa sakitnya, dia juga merasa tidak nyaman saat Galvin terus memijat pergelangan kakinya.

Dia tidak nyaman bukan karena pijatan Galvin, tetapi karena dia takut jika ada orang lain yang melihat mereka dalam situasi seperti ini.

Bagaimana mereka harus menjelaskan jika ada orang lain yang melihat mereka?

Sementara itu, Galvin tampak fokus dalam memijat kaki Khaira, tak peduli jika ada orang lain yang mungkin melihat mereka.

Dia dengan hati-hati mengurut pergelangan kaki Khaira, mencoba mengurangi rasa sakit yang dirasakannya. Hingga akhirnya, pijatannya selesai.

Setelah selesai memijat, Galvin menatap Khaira dengan ekspresi serius dan berkata, "Lain kali hati-hati. Jangan ceroboh kaya tadi."

Khaira hanya bisa mengangguk, merasa bersyukur atas bantuan Galvin, namun tetap saja merasa cemas jika ada orang yang melihat mereka.

"Makasih, Gal. Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Khaira, begitu tulus.

Galvin menjawab hanya dengan sebuah gumaman pelan.

"Mau ke mana?" tanya Galvin, begitu melihat Khaira bangkit dari duduknya.

"Aku harus kembali bekerja, pekerjaan aku masih banyak, Gal," jawab Khaira sambil berusaha berdiri dengan perlahan, wajahnya menunjukkan rasa sakit yang dia tahan.

Galvin langsung melarang dengan tegas, "Kita pulang sekarang. Lo harus istirahat."

Namun, Khaira menolak, "Tidak, pekerjaan ini adalah tanggung jawab aku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."

Dia mencoba melangkah, sambil menahan rasa sakitnya, karena kakinya langsung digerakan, padahal baru saja selesai dipijat.

"Berhenti." Galvin menghentikan Khaira yang melangkahkan secara terlatih.

"Kenapa, Gal?" tanya Khaira, yang sudah memegang sebuah buku dan siap untuk menyusun kembali buku itu.

"Itu bukan tugas lo lagi," ucap Galvin, sambil mengambil sebuah buku yang ada di genggaman tangan Khaira, kemudian dia meletakkan kembali buku itu ke dalam troli.

Khaira menatap Galvin dengan rasa kebingungan, karena Galvin tiba-tiba mengambil bukunya.

"Maksud kamu?" tanya Khaira, di tengah-tengah rasa bingungnya.

Galvin tidak menjawab. Dia malah langsung mengeluarkan ponselnya, kemudian mengirimkan sebuah pesan kepada salah satu kontak yang ada di dalam sana.

Dia selaku pemilik Perpustakaan Galaksi, tentu saja merasa bersalah dan khawatir atas kejadian yang menimpa Khaira.

Sebagai tanggung jawabnya, dia langsung mengirim pesan kepada Kepala Perpustakaan untuk mengganti peraturan kerja mereka.

Mulai saat itu, yang merapikan buku ke rak yang tinggi hanyalah pekerja laki-laki.

"Kamu kirim pesan ke siapa?" tanya Khaira.

Galvin langsung menunjukan layar pesan antara dirinya dan Kepala Perpustakaan.

Melihat itu, kedua bola mata Khaira langsung memincing sempurna.

Dalam waktu sekejap saja, Galvin bisa mengubah peraturan yang sudah lama diterapkan di Perpustakaan itu.

"Kenapa kamu ngelakuin ini? Apa karena aku?"

tanyanya dengan suara pelan.

(Bagian kelima)

Jika memang karena dirinya, maka dia akan merasa bersalah, karena tidak seharusnya Galvin melakukan itu karenanya.

"Percaya diri lo bagus juga. Tapi gue ngelakuin ini bukan karena lo," ucap Galvin, sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket.

Menurutnya, laki-laki tidak akan seceroboh perempuan. Lagi pula tugas menaiki tangga seperti itu lebih sesuai dikerjakan oleh laki-laki.

"Aku pikir kamu ngelakuin ini karena aku," ucap Khaira, sambil tersenyum tipis di balik cadar. Dia

bertanya hanya untuk memastikan, bukan karena terlalu percaya diri.

"Gue ga mau ada orang lain yang terluka seperti lo tadi. Jadi, mulai sekarang, cuma laki-laki yang bertugas nyusun buku di rak tinggi," jelasnya.

Khaira langsung mengangguk paham. "Sekali lagi makasih, Gal!" ucapnya, sambil menundukkan kepalanya.

"Hm. Sekarang kita pulang," ucap Galvin.

"Ga bisa, Gal. Masih banyak pekerjaan lain yang harus aku selesaikan malam ini," ucapnya.

Setelah tugasnya untuk menyusun buku di rak tinggi dihilangkan, bukan berarti pekerjaan selesai. Karena faktanya, masih ada tugas lain yang menanti untuk dia selesaikan.

"Oke, gue bantu," pungkas Galvin.

"Jangan... aku bisa menyelesaikannya sendiri," tolak Khaira.

Bagaimana tanggapan orang lain yang ada di sana, jika pemilik dari Perpustakaan itu tiba-tiba membantunya.

"Atau begini saja, kamu lebih baik pulang duluan. Aku bisa pulang menggunakan kendaraan umum," tawar Khaira, memberikan solusi.

"Dengan kaki lo yang sakit lo mau naik kendaraan umum?" timpal Galvin, dengan salah satu alisnya yang terangkat.

"In sya Allah nanti udah ga sakit," balas Khaira cepat.

Melihat Khaira yang terus membalas ucapannya, membuat Galvin menatap kedua manik-manik Khaira dengan tatap tajam.

Tidak hanya itu, Galvin melangkahkan kakinya ke arah Khaira, hingga mengikis jarak di antara mereka.

"Lo tau, ngebantah ucapan suami itu dosa?" bisik Galvin, tepat di samping telinga Khaira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!