Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keanehan pondok kayu anomali 2
"Ti-- tidak mungkin!" Ucap Tarjo yang kaget bukan kepalang. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tidak mungkin tempat paling menakutkan di dunia lain ini menyambut Tuan Janu seperti menyambut tamu terhormat.
"Bagus! Aku benar benar terkesan dengan pondok kayu ini! Ternyata bagus juga bagian dalamnya, ya." Ucap Janu.
Tarjo menghirup udara dalam dalam, "aku benar benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat.." ucapnya dalam hati.
Janu kemudian duduk di kursi yang sebelumnya tidak ada itu.
"Pak Tarjo, sebelumnya kan kamu sudah berada di dalam pondok kayu ini, apakah kamu benar benar tidak melihat ada staf di tempat ini?" Tanya Janu.
Tarjo menggaruk kepalanya dengan bingung, "apakah Tuan ini masih berpura pura tidak tahu tentang pondok kayu ini? Mengapa dia masih saja bertanya tentang staf?"
Tarjo kemudian berucap, "saya benar benar tidak melihat adanya staff di sini, Pak..." jawab Tarjo.
Janu menganggukan kepalanya secara perlahan, "sepertinya ini memang belum di buka secara resmi, jadi mungkin mereka sedang bersiap di sebuah tempat." Ucap Janu yang memilih tak ambil pusing.
"Eh.. oh iya, ayo berkeliling. Aku ingin melihat seberapa bagus pondok kayu ini." Ucap Janu kepada Tarjo.
"Berkeliling?" Ulang Tarjo.
Tanpa basa basi lagi Janu kemudian berdiri dan berjalan ke sebuah arah.
Tarjo menelan ludahnya arah yang di tuju Tuan Janu adalah arah di mana lukisan kosong itu berada. Sebuah lukisan yang bisa meramal kematian sosok random yang di gambarnya.
"Tu--tunggu!" Buru buru Tarjo langsung menyusul Janu untuk menceritakan betapa mengerikannya tempat di mana lukisan tersebut tersimpan.
Janu malah berucap, "alangkah baiknya sebelum staf pergi menyiapkan jajanan untuk kita!" Ucap Janu.
Hingga akhirnya mereka berdua tiba di tempat di mana lukisan kosong itu berada. Tarjo terdiam, kali ini Gambar yang muncul di kanvas itu adalah pemandangan pondok kayu itu sendiri.
"Loh, bukankah seharusnya menggambar sosok random?" Tanya Tarjo dengan bingung.
Janu memandangi lukisan tersebut dengan ekspresi takjub, "bagus juga lukisannya." Ucap Janu.
Ia benar benar takjub pasalnya lukisan sebesar ini tidak mungkin dapat di buat dengan mudah. Harus seniman handal yang melukisnya.
"Eh, ini dia jajanannya." Ucap Janu yang menengok kesamping. Di mana terdapat sebuah meja yang di penuhi loyang berisi buah buahan.
Janu tanpa basa basi lagi langsung mengambil satu buah anggur dan memakannya.
"Hmm, ini baru enak! Tidak seperti ikan di kolam luar!" Ucap Janu yang memuji rasa anggur ini enak.
Tarjo kembali mengalami syok yang sangat hebat.
"Me-- mengapa?" Hanya itu kalimat tanya yang muncul di benaknya.
"Mengapa pondok kayu anomali ini berusaha menyambut Tuan Janu?" Tarjo menatap ke arah Tuan Janu yang memakan buah buahan di sana dengan bola mata yang bergetar.
"Siapa sebenarnya Tuan Janu? Mengapa pondok kayu ini justru yang takut dengannya?" Tanya Tarjo dalam hatinya.
Janu kemudian dengan santai makan makanan yang berada di atas meja itu.
Terlihat Tarjo hanya menatap Janu dengan ekspresi sulit di percaya, termenung kaget dan terus menatap Janu.
Bagaimana tidak? Mengapa tiba tiba ada jamuan di tempat ini?
Mengapa pondok kayu anomali ini menjamu Tuan Janu? Mengapa pondok kayu anomali yang terkenal sebagai tempat yang sangat menyeramkan, bahkan hantu saja takut kini menjadi tempat super duper jinak?
Janu menatap Tarjo dengan ekperesi aneh.
"Pak Tarjo, apakah anda juga ingin makan? Makan saja!" Ujar Janu.
"Ti-- tidak! Saya tidak berani pak." Ucap Tarjo.
Janu termenung, "apakah karena Pak Tarjo seorang pertapa ia tidak punya uang untuk membayar makanan ini?" Tanya Janu.
Janu berbeda dengan Tarjo, Janu sendiri adalah tamu undangan jadi ia berhak untuk makan makanan yang ada di sini.
Entah mengapa pada saat ini Tarjo sedikut kagum kepada Pak Tarjo. Meskipun tidak ada staf di tempat ini, namun Pak Tarjo masih memegang etikanya, dia bukan tamu undangan, dia tidak punya uang, dia tidak berani memakan makanan yang ada di sini.
"Pak Tarjo jangan khawatir, nanti aku yang membayar kalau memang di suruh membayar." Ucap Janu dengan serius..
"Membayar?" Ulang Tarjo.
Melihat Tarjo yang masih ragu, buru buru Janu menarik Tarjo, "ayo pak Tarjo, makan saja, Aman." Ucap Janu.
Tarjo mengambil sepotong buah apel yang sudah di potong dari sananya. Kemudian dengan ragu ragu dia mamasukan potongan buah apel itu ke dalam mulutnya.
Seketika itu juga Tarjo melebarkan matanya, merasakan betapa manisnya apel ini.
Janu tersenyum melihat Tarjo yang sangat menikmati apel tersebut. Rasanya sangat bahagia ketika mengajak seseorang yang belum pernah makan makanan enak, kemudian orang itu tampak sangat bahagia merasakan makanan enak.
"Ayo Pak Tarjo, makan! Makan yang banyak! Sepertinya kamu sudah sangat lama tidak makan." Ucap Janu.
Tarjo menatap ke arah Janu dengan mata berkaca kaca, "a.. apakah saya benar benar boleh memakannya?"
"Tentu saja! Tidak akan ada yang menghentikanmu." Ucap Janu penuh dengan senyuman..
Tarjo langsung memakan buah buahan di sana dengan sangat lahap.
Dengan izin Tuan Janu, tarjo pada saat ini sama sekali tidak takut dengan para anomali di tempat ini.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, akhirnya Tarjo duduk di kursi dengan perut yang sedikit buncit.
Janu juga duduk disebelah Tarjo, "lumayan enak ya Pak Tarjo." Ucap Janu.
"Hehe..." pada saat ini Tarjo hanya bisa tersenyum kecil, "iya pak Janu, enak! Terimakasih."
Janu mengannggukan kepalanya kemudian Janu berucap, "ayo keliling, aku ingin melihat lihat kamar yang ada di tempat ini."
Seketika itu juga Tarjo menegang, "melihat kamar?" Ucapnya dalam hati. Ia teringat dengan kamar kamar misterius yang jumlahnya tidak terhingga dan di setiap kamar ada sebuah lukisan pemandangan tidak lebih tepatnya jendela penghubung kamar dengan dunia lain.
Tarjo menelan ludahnya.
"Kenapa Pak Tarjo?" Tanya Janu dengan penasaran, mengapa Pak Tarjo tampak tegang seperti ini.
"Ti... tidak pak! Mari kita lihat lihat!" Ucap Tarjo yang kembali menelan ludahnya.
Entah mengapa pada saat ini Taro sedikit penasaran, bagaimana rupa kamar itu apabila yang mendatangi adalah Tuan Janu.
Dengan cepat Janu berdiri dan berjalan ke sebuah lorong. Tarjo langsung mengikutinya dari belakang.
Mereka menuju ke lorong di mana terdapat banyak pintu kamar di sana.
"Loh?" Tarjo terkejut, ketika mendapati lorong ini tidak berliku liku dan hanya lurus saja. sangat berbeda ketika ia masuk tadi.
"Hmm... coba kita lihat ada apa di dalam kamar ini." Janu membuka salah pintu kamar.
Tarjo tercengang, ia teringat di kamar itu ada sosok wanita muda cantik yang Tarjo duga sebagai penyembah Sang Bethari Panggodo Pangrencono.
"Loh... Rina?"