NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membasuh Jejak, Menanam Kuasa

​Matahari pagi menembus celah-celah jendela rumah megah di kawasan elit itu, namun suasananya tak lagi sama. Bau apek dari kenangan lama yang menyesakkan dada seolah menguap bersama kepulan asap kopi hitam di tangan Gendis. Ia berdiri di tengah ruang tamu, memandangi sekelilingnya dengan tatapan dingin dan kalkulatif. Rumah ini, yang dulu ia bangun dengan cinta dan harapan bersama Indra, kini tak lebih dari sebuah monumen pengkhianatan yang harus segera dihancurkan secara estetika maupun emosional.

​"Mulai dari tembok ini," ucap Gendis pelan kepada mandor renovasi yang berdiri di sampingnya. "Aku ingin semuanya. Semuanya, tanpa terkecuali, dicat dengan warna putih bersih. Pure white. Tidak boleh ada aksen krem, tidak boleh ada sentuhan emas, apalagi warna-warna hangat yang dulu dipilih mantan suamiku. Aku ingin rumah ini terlihat seperti galeri yang suci, dingin, dan tak tersentuh."

​Para pekerja mulai bergerak. Suara gesekan kape dan aroma tajam cat baru mulai memenuhi udara. Gendis berjalan menuju gudang di bagian belakang rumah. Ruangan itu gelap dan berdebu, tempat segala barang yang menyakitkan ditumpuk sementara selama proses perceraian. Di pojok ruangan, bersandar pada dinding yang lembap, sebuah bingkai foto raksasa berukuran 100x150 cm masih terbungkus plastik tipis yang mulai robek.

​Itu adalah foto pernikahan mereka. Indra tampak gagah dengan tuksedo hitam, dan Gendis tersenyum tulus dalam balutan kebaya putih yang anggun. Dulu, Gendis melihat foto itu sebagai simbol kemenangan cinta.

Sekarang, ia hanya melihat dua orang asing yang terjebak dalam sandiwara busuk. Tanpa ragu, Gendis menyeret bingkai berat itu keluar menuju halaman samping, di mana sebuah tong sampah besi besar sudah disiapkan.

​Krak!

​Suara kaca pecah terdengar memilukan saat Gendis menghantamkan bingkai itu ke tepi tong sampah. Ia tidak berhenti di situ. Ia mengambil balok kayu sisa renovasi dan menghancurkan wajah Indra di dalam foto tersebut hingga tak berbentuk.

Serpihan kaca dan sobekan kanvas itu jatuh berserakan di antara tumpukan sampah domestik. Tidak ada air mata. Yang ada hanyalah helaan napas lega yang panjang. Masa lalu itu kini benar-benar menjadi sampah yang menunggu diangkut truk pembuangan.

​Transformasi berlanjut ke kamar utama, ruangan yang paling ia benci. Setiap kali Gendis melangkah masuk ke sana, bayangan Indra yang pulang dengan aroma parfum murahan milik Cindy seolah menari-nari di udara. Ia membayangkan keringat pengkhianatan yang mungkin pernah tertinggal di sprei, atau bisikan kebohongan yang diucapkan Indra di atas ranjang itu.

​"Angkut ranjang ini sekarang juga!" perintah Gendis tegas.

​"Tapi Bu, ini kayu jati kualitas ekspor, harganya sangat mahal," sela salah satu pekerja ragu.

​"Saya tidak peduli harganya. Saya tidak sudi tidur di tempat yang sudah terpolusi oleh raga seorang pengkhianat. Bawa ke tukang loak atau bakar sekalian, atau ambil saja semua barang yang akan aku ganti untuk kalian, terserah kalian. Jangan biarkan ada satu serat kain pun dari kamar lama ini yang tersisa," balas Gendis dengan nada yang membuat pekerja itu langsung menunduk dan bekerja lebih cepat.

​Gendis mengganti semuanya. Lemari pakaian besar yang dulu penuh dengan jas-jas mahal Indra kini diganti dengan walk-in closet minimalis berwarna putih salju dengan pencahayaan LED yang futuristik. Tempat tidur lama digantikan dengan king-size bed baru dengan desain modern dan seprai sutra berkualitas tinggi yang belum pernah disentuh siapa pun kecuali dirinya. Kursi-kursi, meja rias, hingga gorden, semuanya baru.

​Di ruang tamu, tempat foto pernikahan yang besar itu dulu menggantung, kini terpasang sebuah potret tunggal Gendis. Dalam foto itu, ia mengenakan setelan blazer power suit berwarna biru tua, rambutnya yang panjang hasil extension mahal di salon ternamadi gerai dengan gaya wave dan tatapannya tajam menatap kamera, tatapan seorang wanita yang telah menaklukkan badai.

Tidak ada lagi kacamata atau senyum malu-malu. Yang ada hanyalah Gendis sang bankir triliuner, sang calon ratu parfum, sang penguasa hidupnya sendiri. ​Sementara itu, di balik jeruji besi yang dingin dan berbau pesing di Rutan Salemba, kehidupan Indra berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Indra duduk meringkuk di sudut sel yang sempit, berbagi ruang dengan lima tahanan lain yang terus-menerus merokok dan berbicara kasar. Kemeja branded-nya yang dulu selalu licin kini dekil, dan wajahnya yang dulu klimis kini ditumbuhi jenggot yang tidak terawat.

​Hari ini adalah jadwal kunjungan. Ibunya datang dengan mata sembab dan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Mereka duduk di balik sekat kaca, berbicara melalui telepon interkom yang suaranya sering terputus-putus.

​"Indra, kamu harus kuat, Nak. Pengacara bilang berkasmu sudah hampir P21. Jaksa sangat menekan soal aliran dana ke perusahaan cangkang itu," isaknya pilu membuat ​Indra memijat pelipisnya.

"Ibu, tolong bilang pada Cindy untuk mengembalikan sisa uang yang aku berikan padanya. Aku butuh itu untuk membayar pengacara yang lebih bagus. Pengacara yang sekarang payah!"

​Wanita tua itu mendengus benci saat mendengar nama Cindy. "Wanita itu? Jangan harap, Indra! Dia sekarang jadi buronan. Debt collector terus mendatangi rumah kontrakan lamanya. Kabarnya dia ketakutan setengah mati karena polisi juga mengejarnya atas tindak pidana pencucian uang. Dia lari entah ke mana, mungkin bersembunyi di lubang tikus."

​Indra memejamkan mata, rasa sesal mulai menggerogoti ulu hatinya. Ia mengorbankan segalanya untuk wanita yang kini bahkan tidak berani menunjukkan batang hidungnya.

​"Dan Gendis?" tanya Indra lirih, sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak ia ajukan jika ia ingin menjaga kewarasannya.

​Wajah perempuan paruh baya itu langsung berubah merah padam karena amarah dan iri hati.

"Perempuan sombong itu! Tadi Ibu lewat depan gedung perkantoran di Sudirman, fotonya terpampang besar di baliho sebagai 'Tokoh Finansial Tahun Ini'. Dia masuk majalah bisnis, Indra! Majalah itu menulis bagaimana dia berhasil menyelamatkan aset-aset macet dan sekarang kabarnya mau memulai bisnis kosmetik mewah."

​Ibu Indra terus mengomel dengan nada tinggi,

"Ibu dengar dari teman-teman sosialita Ibu yang sekarang menjauhi Ibu, Gendis sekarang dikelilingi laki-laki kelas atas. Ada anak pemilik grup properti, ada pengusaha tambang, bahkan katanya dia sering terlihat makan malam dengan Baskara, si miliarder muda itu. Dia benar-benar merajalela, Indra! Dia seperti sengaja pamer bahwa dia jauh lebih bahagia tanpamu!"

​Setiap kata ibunya seperti sembilu yang menyayat hati Indra. Ia membayangkan Gendis yang dulu selalu menyiapkan sarapannya, Gendis yang selalu sabar menunggunya pulang, kini justru bersinar di bawah lampu sorot dunia, sementara ia sendiri membusuk di dalam penjara.

Penyesalan itu datang terlambat, menghantamnya dengan kenyataan bahwa ia telah membuang berlian demi segenggam kerikil yang beracun.

​Di sisi lain kota, di sebuah kamar kos sempit dan pengap di pinggiran Jakarta, setelah berpindah-pindah, Cindy duduk gemetar. Ia mematikan lampu kamar, takut jika cahaya akan memberikan petanda bagi siapa pun yang mencarinya. Ponselnya terus bergetar, ratusan panggilan dari nomor tidak dikenal.

Ada penagih hutang kartu kredit yang ia gunakan secara gila-gilaan saat masih bersama Indra, dan ada pesan-pesan ancaman dari rekan bisnis Indra yang merasa dirugikan.

​"Aku tidak bisa masuk penjara, aku cantik, aku tidak boleh di sana," gumamnya gila pada dirinya sendiri. Ia menatap cermin kecil yang retak, melihat wajahnya yang kini pucat tanpa riasan mahal. Ia mendengar suara langkah kaki berat di koridor kos, dan jantungnya seolah mau copot.

Ia merasa dunia sedang mengecil, menghimpitnya hingga ia tidak bisa bernapas. Ia telah kehilangan pelindungnya, kehilangan kemewahannya, dan kini, ia berada di ambang kehilangan kebebasannya.

​Kembali ke kediaman Gendis yang kini serba putih, Gendis berdiri di balkon kamarnya yang baru, menghirup udara malam yang segar. Tidak ada lagi sisa-sisa Indra di sini. Tidak ada lagi aroma parfum murahan Cindy yang menghantui pikirannya.

​Ia mengambil sebuah botol sampel kecil dari meja kerjanya. Itu adalah eksperimen aroma pertamanya, perpaduan antara white musk, sandalwood, dan sedikit sentuhan citrus yang tajam namun segar. Ia menamakan aroma itu Resurrection atau Kebangkitan.

​Gendis menyemprotkan sedikit ke pergelangan tangannya, lalu menghirupnya dalam-dalam.

"Ini baru permulaan," bisiknya pada langit malam. "Dunia akan tahu, bahwa aroma kemenangan jauh lebih harum daripada aroma dendam."

​Ia berjalan kembali ke dalam, menutup pintu balkon, meninggalkan masa lalunya yang kini telah menjadi abu di dalam tong sampah, dan bersiap untuk melangkah sebagai penguasa baru di industri yang akan ia bangun dengan tangannya sendiri. Gendis tidak lagi membutuhkan sandaran, dialah pilar itu sendiri.

1
Ruby Jingga
guys aku up maleman ya hari ini banyak lembur di real life🙏
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!