Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Patah Hatì Nasional
Pengumuman itu tidak datang melalui desas-desus. Pengumuman itu datang langsung melalui buletin resmi istana dan surat kabar nomor satu di bawah naungan agensi "Nin", yang rilis secara serentak di seluruh penjuru negeri.
"PENGUMUMAN RESMI: PERNIKAHAN AGUNG ANTARA DUKE MATTHIAS VON FALKENHAYN DAN LADY SHANEEN VON ASTURIA AKAN DILAKSANAKAN PADA BULAN DEPAN."
Berita itu bagaikan petir di siang bolong. Di butik-butik mewah, di salon-salon kecantikan, hingga di meja makan para bangsawan, suara cangkir teh yang jatuh terdengar di mana-mana.
Di Kediaman Clarissa
Clarissa sedang mencoba gaun sutra barunya saat ibunya masuk dengan wajah pucat sambil membawa koran pagi. Begitu membaca tajuk utamanya, Clarissa langsung merobek renda gaunnya sendiri karena syok.
"T-tidak mungkin! Shaneen Asturia?!" Clarissa berteriak, matanya memerah menahan tangis dan amarah. "Dia bahkan jarang muncul di pesta! Dia tidak punya prestasi sosial! Bagaimana bisa Matthias memilih gadis dingin yang tidak punya selera itu daripada aku?!"
Clarissa jatuh terduduk di depan cermin besar. Dia teringat betapa dia selalu berusaha menarik perhatian Matthias dengan gaun-gaun mahalnya, namun Matthias bahkan tidak pernah meliriknya lebih dari satu detik. Dan sekarang, dia harus menerima kenyataan bahwa gadis "sandal bulu" yang dia ejek tempo hari adalah calon Duchess yang akan memimpin seluruh wanita bangsawan.
"Dia pasti menggunakan sihir! Atau ayahnya mengancam keluarga Falkenhayn!" jeritnya histeris, membuat para pelayannya ketakutan.
Di Istana: Kemurkaan Putri Isabella
Sementara itu, di taman istana, Putri Isabella melempar nampan peraknya hingga isinya berantakan. Wajahnya yang biasanya dipoles sempurna kini tampak mengerikan karena amarah.
"Ayah! Kenapa kau biarkan ini terjadi?!" Isabella membentak ayahnya, Raja Valerius, yang hanya bisa diam karena posisinya sendiri sedang terdesak oleh Lord Maximillian.
"Matthias menolakku... dia menolak seorang Putri hanya untuk putri dari keluarga 'pemberontak' itu?!" Isabella terengah-engah. Harga dirinya hancur berkeping-keping. "Gadis lulusan Oxford itu? Apa yang dia punya yang tidak aku miliki? Aku lebih cantik, aku lebih berkuasa!"
Isabella meremas koran itu hingga hancur. Dia merasa dunia baru saja berhenti berputar. Selama ini dia menganggap Matthias adalah miliknya yang hanya tinggal menunggu waktu untuk diklaim. Melihat nama Shaneen bersanding dengan Matthias di kertas resmi kerajaan adalah penghinaan paling mematikan bagi ego sang Putri.
Di tengah kekacauan mental para wanita bangsawan, Shaneen justru sedang duduk tenang di studio musiknya. Dia melihat notifikasi ponselnya yang meledak dengan pesan-pesan kebencian anonim dan pertanyaan dari media.
Shaneen hanya tersenyum dingin. Dia mengambil ponselnya dan mengunggah sebuah foto di akun media sosial agensinya—sebuah foto sederhana: Tangan Matthias yang kasar dan besar sedang menggenggam tangan Shaneen yang ramping, dengan pin berlian hitam milik Falkenhayn yang mengkilap di latar belakang.
Tanpa caption. Tanpa penjelasan.
Postingan itu langsung mendapatkan jutaan likes dalam hitungan menit. Ini adalah cara Shaneen mengatakan kepada seluruh wanita di kerajaan: "Dia milikku. Dan kalian... bahkan tidak cukup simetris untuk berada di radarnya."
Matthias, yang saat itu sedang berada di barak militer, melihat anak buahnya mendadak lemas dan lesu—beberapa tentara muda yang diam-diam mengagumi Shaneen juga ikut patah hati. Namun, Matthias tidak peduli. Dia malah merasa sangat puas.
Dia menelepon Shaneen tak lama setelah itu. "Ninin, kau baru saja membuat seluruh wanita di negeri ini menangis pagi ini."
"Bagus," jawab Shaneen di seberang telepon dengan suara datarnya. "Itu artinya mereka punya waktu untuk mencuci wajah mereka agar lebih bersih. Suara tangisan mereka merusak ketenangan pagiku, Matthias."
Matthias terkekeh. "Aku akan menjemputmu nanti malam. Kita harus mulai memilih dekorasi altar. Dan ingat, kakekmu ingin pernikahan ini diadakan di istana utama."
"Katakan pada kakek, aku yang akan mengatur tata letak kursinya. Aku tidak mau ada satu pun kursi yang miring meskipun hanya satu milimeter," sahut Shaneen tegas.
"Siap, sayangku." Jawab Matthias dengan nada penuh cinta yang bisa membuat siapa pun yang mendengarnya ikut patah hati.