Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Benturan Dua Kemutlakan
Surga Pertama - Pelataran Kawah Sekte Penelan Era.
Angin tidak berani berhembus. Debu perak dari Gurun Waktu di luar kawah membeku di udara, tertahan oleh dua niat membunuh yang begitu masif hingga menekan hukum ruang itu sendiri.
Di ambang pintu aula Menelan Kalpa, Shen Yu melangkah keluar. Jubah hitamnya berkibar pelan. Mata kirinya yang kini memiliki cincin perak memutari pupil hitam legamnya menatap tajam ke arah sosok wanita yang melayang di atas pelataran obsidian.
Penguasa Pedang Musim Dingin, Bai Ku. Kain perak menutupi kedua matanya yang buta, namun persepsi pedangnya jauh lebih tajam daripada penglihatan makhluk mana pun di Surga Pertama. Di tangannya, sebilah pedang ramping memancarkan kabut putih yang membekukan cahaya di sekitarnya. Ranahnya berada di puncak mutlak Dewa Fana, hanya terhalang sehelai kertas dari Dewa Sejati.
"Pasukanmu gemetar di sudut kawah, Kaisar Malam," suara Bai Ku terdengar sedatar hamparan es. "Kekuatan sejati tidak membutuhkan pion. Pedangku telah mencari lawan yang bisa menahan tebasan pemutus emosi ini selama seratus ribu tahun."
Shen Yu menyeringai, sebuah lengkungan bibir yang merendahkan segala bentuk arogansi di alam semesta. Ia mengangkat Sabit Penebas Langit, membiarkan Api Ketiadaan berkobar melahap bilah hitamnya.
"Kau mencari kematianmu terlalu jauh, Penguasa Pedang," balas Shen Yu, melangkah menuruni anak tangga pualam. "Banyak yang mengira mereka pantas mengukur kedalaman Ketiadaan. Semuanya berakhir menjadi debu di bawah kakiku."
"Buktikan."
Satu kata itu menjadi pemicu ledakan.
BZZZZT!
Bai Ku menghilang dari pandangan. Ia tidak bergerak dengan kecepatan fisik, melainkan menggunakan Dao Es Ekstrem untuk membekukan konsep 'jarak' antara dirinya dan Shen Yu.
Dalam seperseribu kedipan mata, ujung pedang Bai Ku sudah berada satu inci dari tenggorokan Shen Yu. Hawa dingin dari pedang itu begitu ekstrem hingga meridian di leher Shen Yu mulai mengeras menjadi es kristal.
"Seni Salju Pucat: Tebasan Pemutus Benang Merah!"
Namun, pedang itu tidak pernah menembus kulit Shen Yu.
TRANG!
Sabit hitam legam menahan laju pedang tersebut dengan presisi yang mengerikan. Api Ketiadaan bentrok langsung dengan Dao Es Ekstrem. Ledakan energi yang dihasilkan meretakkan pelataran obsidian di bawah kaki mereka. Ratusan pilar kuno di sekitar kawah bergetar hebat.
"Membekukan jarak?" Shen Yu menatap lurus ke arah kain perak yang menutupi mata Bai Ku. "Trik yang indah. Sayangnya, Ketiadaan tidak memiliki jarak."
Shen Yu memutar pergelangan tangannya. Ketiadaan melahap sisa-sisa hawa es di ujung pedang Bai Ku, mengubah gaya tolak menjadi hisapan mematikan. Sabit Shen Yu meluncur turun, bersiap membelah tubuh wanita itu menjadi dua.
Bai Ku tidak panik. Ia melepaskan pegangannya pada pedangnya sejenak, membiarkan pedang itu melayang, sementara kedua tangannya membentuk segel dengan kecepatan kilat.
"Domain Es Ekstrem: Makam Musim Dingin Abadi!"
Seketika, seluruh kawah purba itu berubah menjadi dunia putih. Pilar obsidian, anak tangga, bahkan debu perak di udara membeku sepenuhnya. Udara berubah menjadi balok es absolut yang mengurung tubuh Shen Yu dari segala arah. Di dalam domain ini, bahkan aliran darah dan detak jantung dipaksa berhenti oleh hukum alam.
Bai Ku menangkap kembali pedangnya. Ia melayang mundur, menatap patung es Shen Yu di tengah pelataran.
"Tidak ada yang bisa bergerak di dalam Makam Musim Dinginku," gumam Bai Ku dingin. "Bahkan ketiadaanmu membutuhkan waktu untuk melahap."
Bai Ku mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Ribuan pedang es raksasa terbentuk di langit kawah, menunjuk lurus ke arah patung es Shen Yu, bersiap untuk menghancurkannya menjadi serbuk yang tak bisa disatukan lagi.
Namun, di dalam balok es absolut itu... sebuah mata dengan cincin perak terbuka perlahan.
Bai Ku tiba-tiba merasakan hawa kematian yang membuat jiwa pedangnya bergetar.
KRAAAAK!
Balok es yang mengurung Shen Yu tidak hancur atau meleleh. Balok itu... menghilang. Eksistensinya dihapus seketika.
Shen Yu melangkah keluar dengan santai. Mata kirinya berpendar dengan cahaya perak yang sangat kuno.
"Kau benar," suara Shen Yu menggema dari segala penjuru, tidak bisa dilacak. "Ketiadaan membutuhkan waktu untuk melahap sesuatu yang sangat padat. Tapi... bagaimana jika aku menelan 'waktu' dari esmu itu sendiri?"
Bai Ku membelalak di balik kain peraknya. Instingnya berteriak. Ia segera mengayunkan pedangnya ke bawah, melepaskan ribuan pedang es raksasa itu ke arah Shen Yu.
Hujan kehancuran turun.
Shen Yu tidak menghindar. Ia tidak memutar pusaran ketiadaan raksasa. Ia hanya mengangkat jari telunjuk kirinya dan menunjuk ke arah badai pedang es tersebut.
"Seni Kaisar Malam: Satu Detik Kehampaan."
Cincin perak di mata Shen Yu berputar terbalik.
Seketika, ribuan pedang es yang berjarak hanya sepuluh tombak dari atas kepalanya... lenyap. Mereka tidak hancur. Mereka dikembalikan pada wujud mereka satu detik yang lalu, yaitu tidak ada.
Hukum Dao Waktu yang dipadukan dengan Ketiadaan secara paksa merobek rentetan serangan absolut Bai Ku dari panggung realitas.
"M-Mustahil! Kau memutarbalikkan hukum alam!" Bai Ku kehilangan ketenangannya untuk pertama kali dalam seratus ribu tahun.
Sebelum Bai Ku bisa memadatkan Dao-nya kembali, sekelebat bayangan hitam muncul tepat di punggungnya.
"Di hadapanku, akulah hukum alam itu."
Shen Yu mengayunkan sabitnya secara horizontal.
Bai Ku bereaksi dengan insting murni, memutar tubuhnya dan menangkis dengan pedang musim dinginnya menggunakan seluruh kultivasi Dewa Fana Tahap Puncak-nya.
BLAAAAAAR!
Benturan kali ini tidak seimbang. Sabit Shen Yu tidak hanya memotong pedang itu dengan Ketiadaan, tetapi juga mempercepat usia logam pedang tersebut dengan Dao Waktu.
Tring... KRAAAAK!
Pedang pusaka yang telah membeku selama puluhan ribu tahun itu retak, lalu hancur menjadi serpihan es kusam.
Gaya ayunan sabit Shen Yu terus melaju, menghantam dada Bai Ku dengan punggung bilahnya. Wanita itu terlempar bagaikan boneka putus tali, menghantam pilar obsidian raksasa hingga pilar itu runtuh menimpanya.
Darah segar tumpah dari mulut Bai Ku, menodai salju putih di sekitarnya. Kain perak di matanya terlepas, memperlihatkan kelopak mata yang tertutup rapat.
Ia mencoba bangkit, namun meridiannya telah hancur oleh benturan Ketiadaan dan Waktu. Domain Makam Musim Dinginnya runtuh seketika, mengembalikan warna asli kawah tersebut.
Shen Yu mendarat perlahan, berjalan menghampiri tubuh Bai Ku yang terkapar tak berdaya. Ujung sabit hitamnya menyentuh dagu wanita itu, mengangkat wajahnya yang pucat.
Bai Ku batuk darah. Ia menengadah, meski tidak bisa melihat, ia bisa merasakan kematian yang mengunci lehernya.
"Kau menang, Kaisar Malam," bisik Bai Ku dengan suara parau. "Cabut nyawaku. Ini adalah kehormatan bagi seorang pencari pedang untuk mati di bawah hukum yang lebih absolut."
Pasukan fana di kejauhan bersorak liar, mengelu-elukan kemenangan tiran mereka. Lin Xue hanya menatap dari atas anak tangga, menunggu keputusan mutlak gurunya.
Shen Yu menatap wanita buta di ujung sabitnya. Membunuhnya semudah membalikkan telapak tangan. Namun, seorang tiran tidak selalu membunuh pion yang bisa digunakan untuk mengacaukan papan catur musuh.
Shen Yu menarik sabitnya, membiarkan bilah hitam itu memudar ke dalam lengannya.
"Nyawamu tidak ada harganya bagiku, Bai Ku," kata Shen Yu sedingin es. "Dunia ini terlalu penuh dengan anjing Pengadilan Langit. Aku butuh seseorang yang tidak peduli pada aturan mereka untuk menjadi saksi."
Bai Ku tertegun. "Kau membiarkan musuhmu hidup?"
"Aku membiarkan pembawa pesanku hidup," Shen Yu berbalik, mengibaskan jubah hitamnya yang memancarkan dominasi tanpa batas. "Kembalilah ke Kuil Pedang Salju Pucat. Katakan pada mereka yang duduk di awan... bahwa Kaisar Malam telah tiba, dan musim dingin mereka telah berakhir."
Shen Yu berjalan menaiki anak tangga pualam, menghampiri Lin Xue yang menyambutnya dengan senyuman penuh arti.
Di bawah pilar yang runtuh, Penguasa Pedang Musim Dingin hanya bisa menundukkan kepalanya, menyadari bahwa era Tiga Puluh Tiga Surga yang lama baru saja menemukan penghancurnya.
"Buka lorong pemindah dimensi purba itu," perintah Shen Yu pada Lin Xue dan pasukannya. "Kita tinggalkan makam ini. Panggung kita selanjutnya menunggu."
💪💪💪