NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden apartemen Danesha terasa seperti sembilu yang menyayat mataku. Kepalaku berdenyut hebat, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk saraf pusatku. Tubuhku menggigil di bawah selimut tebal, namun kulitku terasa membara.

Demam tinggi. Dampak dari kehancuran mental semalam akhirnya meruntuhkan pertahanan fisikku.

Di tengah kesadaran yang timbul tenggelam, ponselku di atas nakas bergetar hebat. Nama Pak Hendra berkedip di layar. Dengan tangan gemetar dan napas yang terasa panas, aku menggeser tombol jawab.

"Halo... Pak Hendra," suaraku parau, nyaris hilang.

"Aruna? Suara kamu kenapa? Kamu sakit?" suara Pak Hendra terdengar panik di seberang sana. "Begini, ada revisi krusial dari Direksi soal model retensi yang kamu kirim semalam. Ada anomali data yang hanya kamu yang paham alurnya. Saya butuh kamu berdiskusi lagi dengan Baskara jam sepuluh ini. Rasya juga sudah di kantor untuk menyesuaikan draf kreatifnya."

"Maaf, Pak... saya... saya demam tinggi. Saya benar-benar tidak bisa bangun," lirihku, air mata mulai mengalir karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.

"Aduh, lusa kita sudah harus go-live, Aruna. Oke, kamu istirahat dulu. Saya akan minta Baskara untuk menghubungi kamu lewat Zoom atau telepon saja kalau kamu sudah agak mendingan. Dia yang akan mengambil alih koordinasinya. Cepat sembuh ya."

Sambungan terputus. Aku memejamkan mata, merutuki nasibku. Di saat aku ingin menghilang dari jangkauan Baskara, takdir justru mengikatku lebih kencang lewat pekerjaan.

Baru saja aku hendak meletakkan ponsel, sebuah pesan masuk. Kali ini bukan dari Pak Hendra, melainkan dari nomor yang sangat kuhindari.

Baskara: Pak Hendra bilang kamu sakit. Jangan pakai alasan sakit untuk lari dari tanggung jawab revisi ini, Aruna. Kirimkan password file backup data mentahmu sekarang, atau aku akan datang ke tempatmu untuk mengambilnya sendiri.

Aku meremas ponsel itu ke dadaku. Dia bahkan tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Baginya, aku hanyalah rekan kerja yang tidak kompeten dan penuh drama.

Danesha masuk ke kamar membawa semangkuk bubur dan kompres air hangat. Ia melihat wajahku yang basah oleh air mata dan ponsel yang masih kugenggam erat.

"Siapa yang telepon, Na?" tanya Danesha cemas sambil meraba keningku.

"Pak Hendra... dan Baskara," bisikku. "Dia mau datang ke sini, Dan. Dia pikir aku cuma pura-pura sakit buat menghindar."

Danesha menghela napas panjang, matanya berkilat marah. "Biar dia datang. Biar dia lihat sendiri kalau 'monster' yang dia maki semalam itu sekarang cuma perempuan ringkih yang bahkan nggak bisa duduk tegak. Aku nggak akan halangi dia kalau dia berani datang ke sini."

" meskipun kamu pernah buat salah di masa lalu apakah pantas dia terus menghukummu seperti ini na!! bahkan dia tidak tahu selama ini kamu menyesal menutup diri " ucap danesha pelan

Aku hanya bisa mengangguk lemah menanggapi ucapan Danesha. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mengetikkan alamat apartemen Danesha dan mengirimkannya kepada Baskara. Aku tidak ingin berdebat lagi. Aku tidak ingin dituduh sebagai pengecut untuk kesekian kalinya. Jika dia ingin mengambil data itu, biarlah dia datang dan segera mengakhiri urusan ini.

"Aku sudah kirim alamatnya, Dan," lirihku sebelum mataku kembali terpejam karena pusing yang luar biasa.

Sekitar satu jam kemudian, suara bel apartemen berbunyi nyaring. Danesha bangkit dari kursinya dengan wajah yang masih menunjukkan kemarahan. Aku bisa mendengar sayup-sayup perdebatan di ruang tamu.

"Dia benar-benar sakit, Baskara! Kamu pikir dia punya tenaga buat akting saat badannya panas seperti tungku?" suara Danesha meninggi.

Lalu terdengar langkah kaki yang berat mendekat ke arah kamar. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Baskara. Ia masih memakai kemeja kantor, namun napasnya tampak sedikit terengah. Awalnya, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kemarahan dan skeptisisme, tapi begitu matanya tertuju padaku, langkahnya langsung membeku.

Aku terbaring lemah dengan kompres yang sudah mulai mengering di dahi. Wajahku pucat pasi, namun pipiku memerah karena panas tubuh yang mencapai tiga puluh sembilan derajat. Bibirku kering dan pecah-pecah. Aku bahkan tidak punya kekuatan untuk menolehkan kepala ke arahnya.

Baskara melangkah mendekat ke tepi ranjang. Tangannya yang tadi memegang ponsel dengan erat, kini perlahan turun. Sorot matanya yang tajam dan menghakimi semalam, mendadak luruh. Kilat luka yang bercampur dengan rasa tidak percaya terpancar jelas di sana.

"Aruna..." suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang hancur.

Ia mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh keningku untuk memastikan, namun ia menariknya kembali dengan cepat. Ia melihat ponsel lamaku yang tergeletak di nakas—ponsel yang semalam kunyala-kan kembali dan menampilkan wallpaper kami berdua.

"Dia nggak pernah benar-benar membuang semuanya, Bas," suara Danesha terdengar dari ambang pintu, kali ini lebih tenang namun menusuk. "Dia menutup diri setahun ini bukan karena dia bahagia, tapi karena dia nggak tahu cara menghadapi rasa bersalahnya padamu. Sekarang, silakan ambil datamu dan pergi."

Baskara terdiam mematung. Matanya tidak beralih dariku. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat kemarahan di sana, melainkan sebuah penyesalan yang sangat dalam—seolah dia baru saja menyadari bahwa dalam usahanya menghukumku, dia juga sedang menghancurkan sisa-sisa kenangan yang masih aku jaga mati-matian.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!