NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERISOLASI DI TANAH SENDIRI

Pagi itu, Jakarta tidak terbangun oleh suara klakson yang biasa, melainkan oleh deru berita yang meledak di seluruh kanal televisi dan media sosial nasional. Judul besar menghiasi layar kaca dengan latar belakang lampu strobo polisi yang berpendar biru di tengah kegelapan malam pelabuhan: "SKANDAL LOGISTIK RAKSASA: WIRATAMA TRADING TERJERAT PENYELUNDUPAN BARANG ILEGAL". Rekaman video amatir memperlihatkan deretan truk kontainer berlogo Wiratama dan unit-unit armada dari perusahaan logistik milik Anton yang dipasangi garis polisi di area gudang Tanjung Priok.

Di apartemen mewahnya yang menghadap ke arah cakrawala kota, Anton terpaku menatap layar televisi dengan tangan gemetar. Secangkir kopi yang ia pegang hampir terlepas saat ia melihat supir-supirnya sendiri diborgol dan dimasukkan ke dalam mobil patroli. Wajahnya yang biasanya berwibawa kini pucat pasi, napasnya memburu tertahan oleh rasa kecewa yang amat sangat.

"Aku niat membantumu melalui kerja sama ini, Alina... malah kamu memanfaatkan aku seperti ini," gumam Anton dengan suara serak yang penuh kepahitan.

Pikirannya kalut. Ia merasa seolah-olah seluruh niat tulusnya untuk kembali ke Jakarta dan memberikan dukungan terbaik bagi sahabat lamanya telah dijadikan tumbal. Dalam benaknya yang sedang kalut, ia mulai meragukan segalanya. Apakah Alina sengaja menjebak dirinya dalam sebuah skema pengiriman barang ilegal agar Wiratama memiliki "pelampung" untuk disalahkan jika masalah ini tercium aparat? Anton merasa dikhianati secara profesional dan personal. Ia tidak mengerti mengapa Alina, wanita yang ia kenal cerdas, harus melakukan cara sekotor ini.

Anton sempat berpikir untuk segera menghentikan kontrak kerja sama hari itu juga. Ia ingin menarik seluruh pasukannya dan memutus hubungan dengan keluarga Wiratama selamanya. Namun, saat ia membuka draf perjanjian di meja kerjanya, ia tersentak melihat klausul denda penalti yang sangat fantastis. Jika ia memutus kontrak secara sepihak, nilai dendanya cukup untuk mengguncang stabilitas keuangan perusahaan ayahnya. Terjepit di antara harga diri dan logika finansial, Anton terpaksa menyerah pada keadaan. Ia hanya bisa pasrah melepaskan unit-unit kendaraannya ditahan kepolisian, sembari menyimpan bara dendam yang mulai menyala di dadanya.

Di sisi lain kota, di kediaman senior Wiratama yang kini terasa mencekam, Reni Silvia duduk di depan meja kerja jati yang dipenuhi koran pagi. Sebagai sosok yang membangun fondasi Wiratama bersama mendiang suaminya, melihat nama perusahaan tersebut disandingkan dengan kata "Ilegal" adalah penghinaan yang tak tertahankan bagi martabatnya.

Reni tidak habis pikir. Ia mengenal Alina lebih baik dari siapa pun; anaknya mungkin keras kepala dan dingin, tapi Alina bukanlah orang yang akan bermain-main dengan hukum. Ia terus menyelidiki setiap lembar berita, mencoba mencari benang merah mengapa perusahaan Anton juga ikut terseret begitu dalam.

"Ada tangan-tangan gelap yang sedang bermain di balik punggung Alina," gumam Reni dengan mata yang menyipit tajam.

Reni bukan hanya seorang ibu; ia adalah pemilik perusahaan yang juga bergerak di bidang jasa keamanan dan intelijen korporat. Tanpa menunggu laporan resmi dari pihak kepolisian yang ia anggap terlalu lamban, Reni segera meraih ponsel satelitnya. Ia menghubungi kepala divisi investigasi di perusahaannya sendiri.

"Segera terjunkan tim investigasi tertutup. Selidiki asal-usul muatan dari pabrik Nathan, cek latar belakang setiap supir yang baru masuk, dan cari tahu siapa yang memberikan akses pada armada Anton untuk membawa muatan tersebut. Saya ingin bukti, bukan sekadar opini. Jika ada tikus di dalam Wiratama, saya ingin kepalanya ada di meja saya besok," perintah Reni dengan suara dingin yang memancarkan otoritas mutlak.

Karena kontrak pengiriman sudah berjalan dan masih menyisakan waktu dua bulan lagi, Wiratama Trading harus tetap menjalankan operasional sampai selesai. Berhenti berarti mengakui kesalahan secara total dan menghadapi tuntutan perdata yang mematikan. Dalam keadaan terjepit ini, Alina Wiratama menyadari bahwa ia tidak bisa lagi hanya duduk di belakang meja kantor pusat.

Ia memutuskan untuk turun tangan sendiri langsung ke lapangan, sebuah langkah yang jarang ia ambil. Alina berangkat menuju pelabuhan ditemani oleh Susi, agar tidak terjadi lagi kecolongan muatan. Namun, suasana di dalam mobil menuju Tanjung Priok terasa sangat menyesakkan. Susi, yang biasanya ceria, kini hanya diam dengan wajah masam yang sangat kentara. Ia terpaksa mengikuti keinginan Alina hanya agar perusahaan tempatnya bekerja tidak hancur lebih jauh, dan agar setelah semua kekacauan ini selesai, ia bisa memiliki alasan yang cukup kuat untuk kembali ke sisi Bima tanpa beban pekerjaan yang menggantung.

Begitu Alina menginjakkan kaki di dermaga pelabuhan, suasana seketika berubah. Langit pelabuhan yang terik terasa lebih berat karena suasana kebencian yang menggantung di udara. Alina, yang mengenakan helm proyek putih dan kemeja rapi, melangkah di antara tumpukan peti kemas. Namun, ada yang berbeda.

Setiap kali ia berpapasan dengan karyawan lapangan, tidak ada lagi sapaan hormat yang tulus. Semua mata karyawan menatapnya dengan sinis. Beberapa buruh kasar bahkan sengaja meludah ke arah samping saat Alina lewat, sementara yang lain berbisik-bisik dengan nada mencemooh yang sengaja dikeraskan.

Hal itu terjadi bukan hanya karena mereka malu perusahaan mereka terseret kasus hukum, tetapi lebih karena ketidakhadiran Bima Pradana di lapangan. Bagi para pekerja di Tanjung Priok, Bima adalah nyawa dari dermaga itu. Meskipun Bima absurd, sering telat, dan bicara soal teori kosmik yang tidak masuk akal, ia adalah pemimpin yang manusiawi. Bima sering berbagi rokok dengan supir truk, mendengarkan keluh kesah buruh panggul, dan selalu membela bawahannya jika ditekan oleh manajemen pusat.

Mereka tahu benar bahwa Bima tidak hadir hari ini karena ulah Alina—si "Ratu Es" yang terlalu merasa paling tinggi dan telah menginjak harga diri Bima di depan umum.

"Lihat tuh, Bos besar turun tangan. Mungkin dia baru sadar kalau pelabuhan butuh otak, bukan cuma gincu," bisik seorang supir truk yang sedang duduk di atas ban bekas, cukup keras untuk didengar Alina.

Alina mengepalkan tangannya di balik saku celana. Ia merasa sangat risih. Tekanan psikologis dari tatapan sinis itu jauh lebih menyakitkan daripada tuntutan hukum kepolisian. Ia merasa seperti orang asing di tanahnya sendiri. Saat ia mencoba memberikan instruksi pada seorang mandor gudang, mandor itu hanya menjawab dengan jawaban pendek "Ya" dan "Tidak" tanpa sedikit pun menatap matanya.

"Di mana daftar muatan untuk truk nomor 502?" tanya Alina dengan nada tegas yang ia paksakan.

"Ada di meja, Bu. Cari saja sendiri. Biasanya Pak Bima yang hafal semua letaknya tanpa perlu kami beri tahu," jawab mandor itu dengan nada dingin sebelum berbalik pergi begitu saja.

Alina tertegun. Ia merasakan dadanya sesak. Bayangan Bima yang biasanya berlarian di area ini sambil berteriak tentang "cakra pelabuhan" yang miring mulai menghantuinya. Tanpa Bima, tempat ini terasa hambar, dingin, dan penuh permusuhan. Susi yang berdiri di belakangnya hanya menatap dengan pandangan kosong, tidak berniat membela atau menenangkan atasannya itu. Bagi Susi, Alina memang pantas merasakan "hukuman" sosial ini.

Di bawah terik matahari yang menyengat, Alina Wiratama berdiri di tengah hiruk-pikuk pelabuhan yang kini membencinya. Ia mulai menyadari bahwa otoritas dan jabatan tidak ada artinya jika ia kehilangan hati dari orang-orang yang menggerakkan roda perusahaannya. Dan di balik tumpukan kontainer, beberapa anak buah Eko terus memantau, menunggu saat yang tepat untuk menambah penderitaan sang Ratu Es yang kini sedang berada di titik terendahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!