Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Pak Bryan Tersenyum
Bryan memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk para petinggi, jadi tidak ada karyawan yang tahu jika pria yang disebut sebut anti wanita itu, Tiba-tiba datang menggandeng seorang wanita cantik.
Bryan segera masuk ke dalam lift bersama Queen. Queen membawa laptop miliknya sendiri. Keduanya berdiri berdampingan dan tampak sangat serasi. Mereka seperti pasangan yang tercipta dari surga.
Queen dan Bryan tiba di ruang kontrol IT. Mereka semua tampak bekerja dengan cepat dan terburu-buru. Jika sistem keamanan mereka bobol, data data penting akan bisa diakses oleh pihak lawan dan kemungkinan besar hal itu akan memicu kerugian besar pada perusahaan Bryan.
"Tuan, anda di sini."
Ethan segera mendekati Bryan. Dia agak terkejut melihat Queen ikut di belakang atasannya.
Beberapa staf IT juga sama terkejutnya saat melihat Queen. Mereka sempat menghentikan aktifitasnya untuk beberapa detik.
"Apa yang kalian lihat? Apakah semuanya sudah aaman?"
Semuanya langsung kembali menunduk dengan rasa penasaran yang semakin besar. Sebenarnya siapa perempuan ini?
Queen duduk dan mulai membuka laptopnya. Meski matanya menatap layar laptopnya, Queen terus menanyakan beberapa hal pada Bryan. Baru kali ini Bryan melihat secara jelas laptop milik Queen. Ini bukan laptop dengan nama brand terkenal. Laptop milik Queen cenderung polos. Namun, saat layarnya terbuka, banyak fitur aplikasi yang tidak diketahui Bryan. Dia merasa takjub sekaligus tak percaya. Wanita ini selalu memiliki kejutan yang mencengangkan.
Tangan Queen bergerak dengan cepat. data yang dia masukkan terenskripsi dengan sangat cepat. Dia memasukkan format asli dan mengubahnya menjadi cipertext dalam hitungan detik. Tak lama kemudian laman di layar laptopnya bergerak dengan cepat penuh dengan angka dan simbol yang tidak dipahami Bryan.
Setengah jam kemudian, ekspresi serius semua staf tim IT berubah. Mereka tampak menghela napas lega dan lalu semuanya menatap ke arah Queen dengan ekspresi yang beragam.
Mereka tahu, sistem yang semula hampir tertembus kini telah aman dan itu bukan karena pekerjaan mereka.
"Tuan Bryan, siapa nona ini?"
"Dia adalah Queen."
"Nona Queen, anda memulihkan server kami dan bahkan membuatkan firewall di sistem. Anda sungguh luar biasa."
"Bukan apa-apa. Saya hanya membantu Bryan saja," ujar Queen merendah. Bryan dan Ethan semakin terpukau pada Queen. Entah keahlian apa yang tidak bisa dia lakukan."
Setelah itu, Bryan mengajak Queen naik untuk bertemu dengan kakeknya. Queen pun tidak menolak ajakan Bryan. Setibanya mereka di depan ruangan kakek Lewis. Tiba-tiba seorang gadis menghalangi Bryan dan Queen.
"Tuan, nona, anda tidak bisa masuk begitu saja. Apakah kalian sudah memiliki janji temu dengan tuan Lewis?"
Bryan berbalik dengan alis berkerut. "Kamu anak baru di sini?"
"Ba_bagaimana anda tahu, Anda ....?" Tak berselang lama mata gadis itu melebar dan menunduk berulang kali di depan Queen dan Bryan.
"Maaf, Tuan Bryan, saya sempat tidak mengenali anda."
"Apakah sekarang kamu mengenaliku?"
"I_iya, Tuan."
Bryan lantas mengajak Queen masuk ke ruangan kakek Lewis. Sementara itu gadis yang tadi sempat menegur Bryan, menggerutu dalam hati.
"Katanya pak Bryan tidak suka berdekatan dengan wanita, tetapi hari ini dia membawa wanita sampai membuat aku salah mengira orang. Sungguh sial sekali. Untung Pak Bryan baik."
Di dalam ruangan kerja kakek Lewis. Pria tua itu menatap Queen dan Bryan dengan ekspresi senang. Dia tidak menyangka cucunya akan membawa Queen ke perusahaan. Dengan begini, Bryan secara tidak langsung menepis omongan orang yang mengira dirinya penyuka sesama jenis karena tidak pernah membawa seorang wanita pun ke perusahaan.
"Ku dengar dari Ethan kamu membantu mencegah data perusahaan diretas. Kamu sungguh sangat luar biasa, Queen," puji kakek Lewis pada Queen.
"Itu bukan apa-apa, Kek."
"Bagaimana bisa disebut bukan apa-apa. Kamu mungkin mengira ini masalah biasa, tetapi jika firewall kami berhasil ditembus, Kerugian yang mungkin akan timbul mencapai puluhan juta dollar. Jasamu patut diapresiasi."
Kakek Lewis mengeluarkan sebuah kartu bank berwarna emas. "Di dalamnya ada uang, tetapi tidak banyak. Anggap saja ini ketulusan dari kakek karena kamu menyelamatkan perusahaan."
Queen melirik Bryan, pria itu mengangguk memberi isyarat agar Queen menerima kartu bank itu. Queen pun mengambil kartu itu sambil mengucapkan terima kasih pada kakek Lewis.
Kakek Lewis tersenyum senang. Dia kemudian mempunyai ide. "Hari sudah siang. Makan siang sekalian temani kakek di kantin perusahaan, apakah kamu mau, Queen?"
Queen tidak bisa menolak setelah menerima kartu bank dari kakek Lewis. Dia pun akhirnya setuju. Bryan juga tetap tinggal. Mereka bertiga akhirnya bersama-sama menuju kantin.
Sejak kemunculan Queen, Bryan dan kekek Lewis, Kantin yang semula biasanya riuh dengan suara karyawan, kini mendadak hening.
Semua mata tertuju pada pemandangan di depan mereka di mana Bryan berjalan berdampingan dengan seorang perempuan.
Meski dia telah berstatus duda, tetapi Bryan sama sekali belum pernah terlihat berjalan bersama istrinya yang dulu. Jadi ini sesuatu pemandangan yang langka.
"Eh, siapa itu?"
"Iya, siapa, ya? Kenapa dia berjalan di samping pak Bryan?"
Selentingan selentingan pertanyaan itu sampai ke telinga Queen. Dia menoleh untuk menatap Bryan. Bryan menunduk menatapnya dan kemudian tersenyum.
"Aaa ... lihat! Pak Bryan tersenyum. Ya Tuhan, tampan sekali."
Queen menggeleng dan berjalan cepat ke depan. "Kakek, kenapa semua menatap ke arah kita?"
"Itu karena sepanjang hidupnya, Bryan tidak pernah berada dekat dengan wanita. Baru kamu yang berhasil berjalan berdampingan dengan dia. Bahkan meski itu klien. Bryan selalu menempatkan Ethan di tengah."
Queen tidak menyangka dengan jawaban kakek Lewis. Jadi benar dia adalah satu-satunya. Wah, luar biasa.
Queen dan yang lain masuk ke ruang makan khusus. Makanan segera disajikan oleh seorang staf. Kaca yang mengelilingi ruangan itu semuanya tembus pandang. Jadi apa yang terjadi di dalam ruangan itu, semua orang bisa melihatnya.
Queen duduk di sebelah kakek Lewis, sedangkan Bryan duduk tepat di depannya. Bryan dengan tenang mengiris daging steak dan lalu menukar piringnya dengan piring milik Queen.
Tindakan kecil ini memicu banyak seruan kagum dari pada karyawan perempuan.
"Lihat! Tuan Bryan melayani wanita itu, ini benar-benar mengagumkan."
"Mereka terlihat sangat serasi sekali. Yang satu cantik dan yang lainnya tampan. Jika mereka mempunyai anak, pasti akan sangat memukau."
"Kamu benar. Ini sungguh sangat hebat."
Di dalam ruangan, kakek Lewis mengangguk dengan bangga. Cucunya tidak terlalu buruk. Dia merasa keduanya memiliki peluang untuk bersatu. Hanya tinggal sedikit lagi, ketika Queen berhasil mendepak suaminya, setelah itu dia akan melamar Queen untuk cucunya.