NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan yang Tak Searah

...****************...

Malam itu, setelah semuanya terasa tenang, aku memutuskan untuk bicara.

“Linda… aku mau ngomong sama kamu.”

“Iya, kenapa sayang?” jawabnya ringan. Terlalu ringan.

Aku menatapnya serius.

“Kita menikah yuk.”

Ia terdiam.

“Karena kita udah sejauh ini,” lanjutku pelan tapi tegas. “Kita harus halal, Linda. Jangan terlalu jauh lagi.”

Linda menarik napas panjang. Bukan napas terharu. Bukan napas bahagia.

Napas berat.

“Ka… aku nggak mau bahas ini.”

Aku mengernyit. “Kenapa?”

“Aku mau kayak gini aja.”

Aku tidak langsung mengerti.

“Apa maksudnya?”

Ia menatapku lurus, tanpa senyum.

“Aku nggak ada rencana untuk menikah.”

Kata-katanya jatuh seperti benda keras di dadaku.

“Apa?” suaraku meninggi tanpa sadar. “Kenapa nggak ada rencana? Apa tujuan hidupmu, Linda?”

“Enggak, Ka. Menikah cuma akan jadi beban buatku.”

Aku sungguh kaget.

“Kamu nggak boleh berpikir begitu. Kita harus menikah.”

Ia menggeleng pelan, tapi tegas.

“Aku nggak mau, Raka sayang. Aku seneng begini aja. Kita bebas. Nggak terikat apa pun. Aku lebih suka begini.”

Setiap kalimatnya seperti menarik satu per satu fondasi yang sedang kubangun.

“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, Linda?”

Ia tertawa kecil. Bukan karena lucu. Lebih seperti pahit.

“Karena aku mau bebas. Aku mau kesenangan. Aku nggak mau terikat apa pun. Aku nggak mau nambah beban. Hidupku udah berat banget, Ka.” Suaranya mulai bergetar. “Aku menanggung semua kebutuhan rumah ini. Sejak kecil.”

Aku terdiam.

Potongan-potongan cerita yang dulu pernah ia sampaikan kini terasa lebih jelas. Bukan sekadar keluhan. Tapi luka.

“Berarti… mantanmu meninggalkanmu bukan karena dia nggak serius, kan?” tanyaku hati-hati.

“Dia memang nggak serius!” balasnya cepat. “Aku dulu berharap bisa menikah dengannya. Tapi dia hancurkan hidupku.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku sudah terlanjur rusak, Ka. Jadi rusak sekalian.”

Kalimat itu membuatku menelan ludah.

“Jangan bilang begitu,” ucapku pelan.

“Tapi itu kenyataannya,” katanya dingin. “Aku capek berharap. Capek bergantung. Capek dikecewakan. Kalau begini… aku nggak punya ekspektasi. Nggak ada yang bisa menghancurkanku lagi.”

Ruangan terasa sunyi.

Aku menatap perempuan yang kucintai—

dan untuk pertama kalinya aku sadar,

kami tidak sedang berdiri di tepi yang sama.

Aku ingin membangun.

Ia ingin bertahan.

Aku ingin mengikat.

Ia ingin bebas.

Linda berdiri dan berjalan ke jendela. Punggungnya menghadapku. Bahunya terlihat tegang, tapi ia berusaha tampak kuat.

“Aku sudah capek berharap sama laki-laki,” katanya pelan. “Setiap kali aku serius, aku yang hancur duluan.”

Aku bangkit dari tempat dudukku.

“Tapi aku bukan dia, Linda.”

Ia tersenyum tipis tanpa menoleh. “Semua juga bilang begitu di awal.”

Kalimat itu menamparku lebih keras dari penolakannya tadi.

“Aku nggak main-main,” ucapku, berusaha menjaga suaraku tetap tenang. “Kalau aku nggak serius, aku nggak akan ngomong soal menikah.”

Linda akhirnya menoleh. Matanya tidak marah. Tidak juga lembut. Hanya lelah.

“Ka… kamu baik. Kamu terlalu baik malah. Dan justru itu yang bikin aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut nanti aku nggak bisa jadi perempuan yang kamu harapkan.”

Aku terdiam.

Ia melanjutkan, “Kamu bicara soal halal, soal tanggung jawab. Sementara aku… aku cuma lagi bertahan hidup. Aku kerja, aku bantu keluarga, aku nanggung ini itu. Aku nggak punya ruang buat mikirin pernikahan.”

“Tapi aku bisa bantu kamu,” kataku cepat.

Linda menggeleng. “Itu dia. Aku nggak mau bergantung.”

Ruangan kembali sunyi. Hanya suara kendaraan sesekali terdengar dari luar.

“Jadi selama ini… kamu anggap hubungan kita apa?” tanyaku akhirnya.

Ia menatapku dalam. “Aku sayang sama kamu, Raka. Tapi aku sayang tanpa rencana.”

Kalimat itu terasa asing di telingaku.

Sayang tanpa rencana.

Bagiku, sayang justru harus punya arah. Harus punya tujuan. Harus jelas ujungnya ke mana.

“Kamu mau terus kayak gini?” tanyaku pelan.

“Iya,” jawabnya mantap. “Selama kita masih nyaman. Selama kita masih mau.”

“Dan kalau salah satu nggak mau lagi?”

“Ya selesai.”

Jawabannya terlalu mudah.

Hatiku terasa seperti ditarik pelan-pelan. Bukan disobek, tapi dilepaskan perlahan dari sesuatu yang kupegang erat.

“Aku nggak bisa kayak gitu, Linda,” ucapku lirih. “Aku nggak bisa cinta tanpa arah.”

Ia mendekat, memegang tanganku. Hangatnya masih sama seperti tadi malam. Tapi rasanya berbeda.

“Ka… jangan rusak yang sudah enak cuma karena kamu mau buru-buru.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Buat kamu ini enak. Buat aku ini beban.”

Linda menunduk.

“Aku cuma nggak mau terikat lagi,” katanya pelan. “Aku cuma mau merasa bebas.”

Aku menatapnya lama.

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memikirkan dosa dan tanggung jawab, sementara ia sibuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang sama.

Kami sama-sama takut.

Hanya arah takut kami yang berbeda.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku merasa sangat jauh darinya meski kami berdiri hanya beberapa langkah.

Namun, Linda menciumku lagi.. Ia memang selalu agresif nafsunya tinggi. Ia benar benar terlihat hanya ingin bebas. Ia menciumku tanpa henti. Dengan dada yang terbuka itu aku tergoda. Dan kemudian melakukannya lagi..

Arrghhhh.... Arghhh lagiii Raka.. Arghhhh..

Hummmzz.. Betul begini Raka.. Ini enak.. Arghhh

.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!