“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#16
“Yakin besok mau pulang?” Tanya Elang saat mereka sedang makan malam di rumah.
“Hmm. Mas, kak Alex gak ada? Ke mana?”
“Ada kerjaan katanya. Malam ini kayaknya gak akan nginep di sini. Lagi pula ada Bi Jumirah.”
“Oh, gitu.”
“Kenapa? Kok kayaknya kecewa gitu?”
“Ih, siapa yang kecewa. Aku cuma nanya doang juga.”
“Hahaha. Aku becanda. Tapi katanya besok mau ikut nganter kamu pulang.”
“Ngapain ih ikut-ikut?”
“Pengen maen ka kampung katanya.”
“Mas, kak Alex itu direktur rumah sakit ya?”
“Kenapa? Kamu diajak maen ke tempat kerjanya?”
“Iya.”
“Bukan, direktur rumah sakit itu pamannya. Kalau dia sih punya usaha sendiri.”
“Apa?”
Alex menatap curiga pada Ayunda.
“Kenapa gitu banget sih liatnya? Aku loh cuma pengen tahu gak ada niatan lain.”
“Loh, emang aku ngapain? Gak ngomong apa-apa juga.”
“Iya, tapi Mas tuh natapnya kek penuh curiga gitu sama aku.”
“Lagian Alex itu ganteng loh. Yakin kamu gak tertarik? Jomblo tau dia tuh.”
“Gak percaya.”
“Ih, seriusan. Dia itu belum punya pacar tapi punya mantan istri.”
“Uhukkk!”
Elang tertawa melihat reaksi Ayunda.
“Dia duda?” Tanya ayunda kaget dengan suara berbisik.
Elang mengangguk. “Istrinya meninggal pas lagi hamil muda. Makanya dia trauma dan gak mau deket sama cewek lagi.”
“Iyalah pasti. Tragis gitu ya kisah hidupnya.”
“Kemarin ke mana aja sama Alex?”
Ayunda menelan makanan yang sedang dia kunyah lalu berkata, “Habis dari rumah sakit, aku diajak makan sushi, terus ke toko aksesoris gitu. Dibeliin beberapa aksesoris juga sama boneka. Udah.”
“Baik ya dia?”
“Baik banget cuma irit ngomong. Mungkin karena trauma itu kali ya?”
“Nggak, kalau irit ngomong nya emang bawaan orok. Dia itu baiknya melalui tindakan, bukan omongan.”
“Mending gitu gak sih kalau cowok? Ketimbang banyak omong tapi kosong.”
“Makanya ayo pepet aja.”
“Mas, ngomong sekali lagi aku lempar pake timun.”
Elang tertawa.
...***...
“Udah semua? Gak ada yang tertinggal?” Tanya Elang saat mereka bersiap memasuki mobil.
Ayunda menggelengkan kepala.
“Kamu duduk di depan ya sama Alex sampai keluar pintu tol. Aku ngantuk banget tadi malem lembur kerja di rumah biar sekarang bisa libur.”
Mendengar alasan Elang, mau tidak mau ayunda duduk di depan menemani Alex.
Elang membaringkan tubuhnya, dia tidur sepanjang jalan. sementara Alex dan ayunda masih sama-sama saling diam.
“Wanita yang bersama pria kemarin, dia bukan kekasihnya.”
“Ya?” Ayunda menoleh pada Alex.
“Kok bisa tahu? Kakak nyari tahu? Ih buat apa?”
“Nggak sengaja bertemu wanita itu sekalian aja nanya.”
Ayunda merasa lega mendengar perempuan itu bukanlah kekasih Zayan.
Alex tersenyum sangat tipis hingga nyaris tak terlihat saat melihat raut rasa lega di wajah Ayunda.
“Lagi pula dia bukan siapa-siapa aku sekarang.”
“Tapi kamu terlihat seneng tadi.”
“Gak tau juga sih. Mungkin masih berharap atau … entahlah.”
“Sakit hati itu, obatnya hati juga. Kehilangan kekasih, cari kekasih baru.”
“Nggak segampang itu. Kakak juga kan?”
Alex menoleh dengan wajah terkejut. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ayunda. Pria itu melirik sekilas pada Elang.
“Jangan terlalu memaksakan. Biarkan waktu yang mengobati luka kita, Kak. Toh pasti nanti entah kapan itu, kita akan bertemu dengan jodoh kita. Entah di mana dan dengan cara apa, kita pasti akan bertemu.”
“Mungkin saja dengan cara seperti ini, kan?”
Ayunda menoleh dengan sangat cepat pada Alex. Dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja Alex katakan.
“Yaaa kan, siapa tahu. Kan kamu sendiri yang bilang kalau jodoh kita pasti akan bertemu entah dengan cara apa.”
Ayunda tersenyum. “Kak, tumben banget bicaranya panjang.”
Alex menjadi kikuk dengan apa yang dikatakan ayunda.
Sementara elang yang sudah terbangun, hanya tersenyum kecil mendengar pembicaraan ayunda dan sahabatnya itu.
...***...
Dengan lauk yang lumayan banyak, Nunung menyambut Elang dan Alex yang sudah mengantarkan putrinya kembali pulang.
“Seadanya aja ya. Maklum di kampung gak ada apa-apa. Ini juga seadanya di kebun aja.”
“Ini sih udah banyak banget. Enak lagi,” ujar Elang. Sementara Alex hanya tersenyum ramah.
Ada ikan goreng, tempe goreng, sambal, lalapan, kerupuk, mie goreng dan gulai daun singkong. Alex dan Elang makan dengan lahap. Sementara ayunda ada di kamarnya, tidur.
Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang tamu. Ditemani singkong goreng, uli ketan dan teh hangat.
“Pasti Yunda merepotkan sekali ya, Lang? Maaf ya.”
“Gak apa-apa, tante. Dia sama sekali gak merepotkan kok. Malah aku minta buat nginep seminggu lagi, tapi gak mau katanya.”
“Jadi, gimana keputusan nya?” Tanya Pak Mul.
“Kayaknya dia masih belum tertarik. Katanya di kota gak senyaman di kampung.”
“Apa dia masih memikirkan untuk jadi menantunya keluarga itu, Ma? Kan temen kamu itu maunya punya mantu yang gak sekolah biar bisa ngabdi ke suami.”
“Gak tau juga, Pak, coba deh nanti tanya anaknya kenapa gak mau kuliah.”
Alex hanya diam mendengar obrolan yang sama sekali tidak dia mengerti. Alex hanya bisa mengumpulkan bahwa Ayunda ini BULOL, bucin tolol.
Sesekali Alex menyeruput teh. Lalu kembali diam mendengarkan obrolan orang tua Ayunda dan Elang.
Tidak lama kemudian, ayunda yang masih terlihat mengantuk, datang.
“Kirain udah pada pulang. Masih di sini ternyata. Pasti gibahin aku kan?” Tanyanya sambil menguap-nguap.
“Ya ampuuun, malu dong neng. Ada tamu.” nunung menyeret anaknya untuk duduk dan merapikan diri.
“Tamu? Dia?” Menunjuk Elang.
“Ya bukan. Dia mah udah kayak anak sendiri.”
“Oh, kak Alex? Hehehe. Maaf ya, Kak. Aku gak kuat ngantuk banget,” ujarnya sambil nguap.
“Ishhhh.” Nunung memukul kaki anaknya saat dia hendak menaikannya.
“Mumpung belum terlalu sore, saya pamit dulu.”
“Loh, kenapa buru-buru? Kan rumahnya deket ini.”
“Ini temen saya lelah. Mau istrihat katanya.”
Alex sedikit terkejut saat Elang menyebut namanya. Padahal sejak tadi dia hanya diam menyimak obrolan yang sangat seru, menurutnya.
Mereka berdua pun pamit undur diri.
“Yunda, besok kita ngebolang ya. Kasih unjuk kelebihan kamu sama Alex.”
“Kelebihan apa?”
“Manjat pohon kelapa.”
Lagi-lagi Alex mendapat kejutan.
“Oh, itu. Hahaha. Oke!”
Ayunda melambaikan tangan pada Alex dan Elang saat mereka mulai pergi meninggalkan jalan rumah.
“Kamu itu, bukan nya turun dengan baju rapi. Ini malah pake kolor doang. Rambut acak-acakan. Malu atuh neng.”
“Udah biasa dia lihat aku kayak gini, Ma. Orang kita tinggal serumah.”
“Hah?”
“Mas elang bilang tinggal dalam satu atap berdua aja itu gak boleh. Makanya Mas Elang ngajak temennya sama pembantu satu.”
“Owh, hahaha. Emang tanggung jawab banget ya elang itu. Mama suka sama dia.”
“Nikah aja atuh biar aku punya papa muda.”
“Sembarangan!” Nunung menjitak kepala anak gadisnya.