NovelToon NovelToon
Emily Rose

Emily Rose

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana kimtae

Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abai

Pagi sekali Namira sudah mendatangi rumah Jeon yang masih terlihat sepi.Hanya ada maid yang berlalu lalang membersihkan rumah dan mengerjakan lainnya.

Matanya menatap keseluruhan isi dalam rumah itu, ternyata selera gadis itu memang sangat bagus.Wajar saja Jeon tak bisa berpaling dari gadis muda itu.Foto Emily yang berukuran besar terpajang di dinding.Dibawahnya terlihat foto-foto mereka di berbagai tempat, kebanyakan foto mesra mereka entah itu ketika Jeon mencium ataupun memeluk Emily.

Tiba-tiba saja dada Namira begitu sesak saat memikirkan kehidupan dirinya saat menjadi istri Jeon.Dirumah mereka hanya terpajang satu Foto pernikahan bahkan tak ada foto liburan seperti foto-foto mereka saat ini.Menyedihkan bukan..

"Kalian tidak memasak sarapan..?"

"Tidak nyonya, karena dirumah ini Nona Emily yang memasak untuk tuan"

Maid menyuguhkan air teh beraroma Jasmine dan beberapa camilan untuk Namira dan Evan.Anak kecil itu sibuk berlari kesana kemari sembari menggenggam mainan ditangannya.

"Evan.. dimana kamar Daddy...ayo kita bangunkan Daddy,ini sudah siang"

Evan menuntun tangan Namira menaiki tangga karena dia sudah hafal dimana letak kamar ayahnya berada.

"Ketuk pintunya nak..?"

Tok tok tok..

"Daddy.. Daddy..."

Suara ribut Evan membangunkan Emily yang langsung terduduk sembari mengerjapkan matanya.Astaga sepagi ini...

"Heii Evan what happened..?

Emily membuka pintu kamar dan sengaja membukanya lebar saat dia melihat Namira disana bersama Evan.Dia sengaja supaya wanita itu bisa melihat Jeon yang masih tertidur dengan pulas.Juga kamar yang berantakan karena bekas percintaan mereka semalam.Gadis itu tertawa dalam hati karena melihat raut wajah Namira yang sangat kesal.

"Maaf..ehmmm ada apa pagi sekali kemari..? sudah janji sama Jeon?"Mata Emily beralih pada Namira yang masih berdiri mematung disana.Gadis itu melihat jam dinding dan ini baru jam tujuh pagi.sialan memang perempuan ini..

"Evan merindukan ayahnya,apa salah jika aku mengantarnya kemari..?"

"Tidak...aku hanya bertanya apa kamu sudah membuat janji dengan Jeon "

"Tidak perlu janji bukan saat ingin bertemu ayahnya sendiri.."

"Sebenarnya siapa yang ingin bertemu disini.."dengus Emily kesal.

Karena perdebatan mereka Jeon terbangun dari tidurnya.Dia melihat didepan pintu ada Emily yang sedang berdebat dengan Namira.

"Daddy..."Evan segera menerobos masuk kamar saat melihat Jeon terbangun.

"Heyyy..."sapanya dengan suara serak khas bangun tidur, terdengar seksi sampai Namira merinding mendengarnya.

Evan kesusahan untuk naik ke tempat tidur tinggi itu, Jeon segera bangkit dari tidurnya dan langsung membantu putranya untuk naik.Dada telanjangnya tak luput dari perhatian Namira.Wajah wanita itu sedikit memerah karena dia membayangkan yang tak seharusnya.

"Sayang.. Emily.."

Emily menoleh dan sedikit cemberut saat melihat lelaki itu seperti tak peka untuk menutupi dada polosnya di depan mantan istrinya.

"Silahkan anda pulang, bukankah anda kemari hanya untuk mengantarkan Evan"

"Tidak...aku akan menunggu Evan sampai waktunya pulang,dia tak ingin ku tinggalkan.Bukan begitu Evan..?"tanya Namira sedikit kencang supaya anaknya mendengar ucapannya.

"Iya..hali ini Evan mau main sama Daddy juga mommy"Namira menyunggingkan senyumannya merasa senang dengan ucapan putranya.Bukankah Evan begitu pintar..

"Sayang... Emily.."Jeon kembali memanggil gadis itu untuk mendekat padanya.Emily menutup pintu kamar dengan sengaja untuk membuat Namira pergi dari sana.Wanita itu sangat kesal mendapatkan perlakuan kurang ajar dari gadis muda itu

"Tak punya etika..."desisnya sembari kembali turun untuk menunggu Evan yang masih setia memeluk tubuh ayahnya.Namira berpikir sejenak memikirkan apa lagi yang harus dia lakukan untuk mendapatkan kesempatan mendekati Jeon.

"Sayang..."Jeon mengusap punggung Emily yang kini sudah duduk bersamanya ditempat tidur.Evan masih memeluk erat tubuh Jeon sembari memejamkan matanya.Terlihat sekali bocah itu masih mengantuk.

"Mandilah.. setelah itu kita sarapan"

"Kamu gak nyuruh wanita itu pergi..?"

"Evan nanti nangis kalau Namira pulang.."

"Alasan.."sahut Emily sembari pergi menuju kamar mandi dan membanting pintunya sehingga terdengar bunyi yang cukup kencang.

Jeon menghela nafasnya,baru saja semalam mereka berbaikan dan menghabiskan malam panas berdua.Ternyata pagi ini ada lagi masalah yang membuat Emily kesal padanya.Tangan besarnya mengusap punggung Evan sehingga putranya semakin terlelap dalam tidurnya.Jeon terkekeh melihat pipi gembil bocah itu yang sedikit terbuka saat tidur.

Emily keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya.Gadis itu tak berniat untuk menyapa Jeon atau menyuruhnya mandi Dia hanya melirik sekilas saat Jeon membaringkan tubuh putranya yang sudah terlelap.

Saat Emily sedang sibuk mengambil baju yang akan dia pakai, sebuah tangan besar memeluknya dari belakang.

"Jangan marah lagi sayanggg..."

"Kenapa kamu gak bilang perempuan itu mau kesini"Dengus Emily kesal.

"Aku juga gak tau Evan mau kerumah sepagi ini.."

"Memang perempuan itu masih ingin sama kamu jadi nyari-nyari alesan biar ketemu sama kamu"

Jeon terkekeh sembari menciumi tengkuk kekasihnya.Wangi sabun dan sampo yang menguar dari tubuhnya membuat Jeon sangat bernafsu pagi ini.

"Tapi aku maunya sama kamu.. gimana dong?"

"Tapi kamu sengaja mengumbar dada telanjangmu ini.."

Pria itu semakin merapatkan tubuhnya pada Emily.Tubuh gadis itu dia balikkan untuk menghadap ke arahnya.

"Lihat hanya mencium tubuh kamu saja,penisku tegang"Tangan jeon menarik tangan Emily untuk menggenggam kebanggaannya.

Emily menepuk pelan dada polos Jeon, wajahnya memerah saat tangannya menggenggam penis besar milik kekasihnya.

"Ishhh... tidak tau tempat..di kasur sana ada putramu dan dibawah sana ada mantan istrimu.Bisa-bisanya kamu mau berbuat mesum,apa semalam tak cukup,huhhh?"

"Sayanggg.."rengek Jeon saat Emily mendorong tubuhnya dan segera memakai pakaian.

"Mandilah... setelah itu turun untuk sarapan "

"Kamu mau memasak..?"

Emily menganggukan kepalanya,tangan lentiknya menangkup kedua sisi wajah Jeon.Gadis itu mencium lembut bibir Jeon Respati tak ada lumatan hanya menempelkan bibir keduanya.

"Mandilah sayang.."

Jeon dengan berat hati membiarkan Emily keluar dari kamar dan pergi meninggalkannya.Kakinya dia seret ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal karena tak diberi jatah pagi ini.

Emily menatap mantan istri suaminya dari atas tangga, dia sangat kesal pada perempuan tidak tau diri itu tapi dia tak boleh marah.Semuanya harus sesuai dengan keinginannya, dia yang akan mengendalikan.Bukan Jeon juga bukan perempuan ular itu..

"Kukira kamu sudah pulang.."ucap Emily tanpa menoleh pada Namira.Dia bergegas ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk Jeon dan dirinya.

Perempuan itu mengikuti Emily sampai dapur,dia hanya ingin melihat apa yang dilakukan Emily sepagi ini untuk Jeon. Tangan Emily begitu terampil memotong bawang bombay dan teman-temannya.Dia juga mencuci sayuran dan daging yang baru saja dia ambil dari lemari pendingin.

Namira mengakui keterampilan Emily memegang peralatan dapur.Karena dirinya tak bisa memasak, bahkan masuk ke dapur pun hampir tak pernah.Dirinya bangga terlahir dari keluarga berada tapi dia juga menyesal karena tak bisa membuat Jeon nyaman dengan masakannya.

"Apa yang mau kamu buat..?"

"Hanya sarapan sederhana untuk kami makan berdua"

"Bukankah Jeon tak suka makan nasi saat sarapan.."

"Mungkin itu dulu saat bersamamu, denganku dia akan makan apa saja yang tersedia di meja makan"sahut Emily sembari tersenyum remeh.

"Mommy.. mommy.."Suara Evan terdengar memanggil Namira.

Perempuan itu segera pergi dari dapur dan menghampiri putranya yang sedang bermain bola plastik bersama ayahnya.

"Wahh..Evan bermain bola bersama Daddy"Namira sengaja meninggikan suara saat dia memanggil Jeon dengan sebutan Daddy.

Emily sungguh sangat kesal melihat pemandangan dari dapur.Pria tua itu benar-benar membuat dirinya murka, bisa-bisanya dia duduk berdekatan dengan mantan istrinya disaat dirinya sedang memasak untuk mereka.

Mungkin bukan dirinya yang menginginkan duduk berdampingan seperti itu tapi bukankah dia bisa mengeserkan tubuhnya.

"Memang sialan kalian.."gumamnya kesal.

Setelah Emily selesai memasak dia mengajak semuanya untuk makan.Biarlah dia memendam kemarahan nya supaya perempuan ular itu tidak merasa di atas awan.Itu tidak akan pernah terjadi.

Jeon tersenyum melihat Evan yang tak sabar untuk memakan masakan yang dibuat Emily.Tanpa diduga Namira menyendokkan nasi ke piringnya saat dia selesai menyendok nasi untuk putranya.Jeon terdiam begitu juga Emily yang acuh seperti tak terjadi apa-apa.

Jeon menggeser piringnya untuk diganti dengan piring Emily yang kosong.Lelaki itu juga menyendokkan daging dan sayur kedalam piring milik Emily.

"Lain kali tidak usah seperti itu.. Emily yang akan mengurus saya.."

"Maaf..itu sudah kebiasaanku saat makan bersama kamu.."

Namira menyunggingkan senyuman, walaupun bibirnya meminta maaf tapi Emily yakin perempuan gila itu sengaja ingin membuat dirinya cemburu.

"Evan mau kemana hari ini..?"

Bocah itu menatap Jeon dan tersenyum manis pada ayahnya.."Evan mau jalan-jalan sama mommy juga Daddy, beltiga saja"

"Gak bisa begitu sayang.. Tante Emily juga ikut ya..?"

Bocah kecil itu menundukkan kepalanya dan meletakkan sendok yang dia genggam.

"Evan..?"

"Evan mau beltiga saja sama Daddy juga mommy.."Evan mengangkat kepalanya dan terlihat matanya sudah merah dan berair.

"Sayang...jangan seperti itu, tante Emily juga sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kita"

Evan tetap menggelengkan kepalanya, wajahnya merengut dan siap untuk menumpahkan tangisnya.

"Evan..."suara Jeon sedikit meninggi tapi Emily segera menyentuh tangan pria itu.Gadis itu menggelengkan kepalanya mencoba menenangkan Jeon.

"Tak apa mas...aku juga hari ini akan pergi ke pameran lukisan "

"Sayang..."

Emily tersenyum dan mengecup pipi Jeon sekilas.Meminta semuanya untuk meneruskan sarapan yang tertunda karena keinginan putra Jeon.

Ketiganya sudah pergi dari rumah meninggalkan Emily sendirian.Gadis itu melihat Namira mengulum senyum licik saat memasuki mobil milik Jeon.Ohh..perempuan licik itu sangat menyebalkan.Ingin rasanya Emily menjambak rambut pendeknya.

Didalam mobil suasana sangat sepi karena Jeon tak berminat untuk mengajak Namira mengobrol.Pria itu memikirkan Emily yang tak bersamanya, pikiran Jeon begitu kacau.Kalau bukan untuk menyenangkan Evan dia tak ingin satu mobil dengan mantan istrinya.

"Ingatkan Evan untuk menerima Emily.. Kamu yang harus mengerti perasaan Emily"

"Untuk apa aku menjelaskan sesuatu yang Evan belum seharusnya mengetahui perselingkuhan Daddy nya"

"Berhentilah berbicara omong kosong Namira"

"Hentikan membicarakan perempuan lain saat bersama kami"

"Ingatlah posisi mu sekarang..kita hanya mantan suami istri"

Namira terdiam dan mengalihkan pandangannya ke jendela.Sungguh dia tidak ingin berkata Omong kosong tapi sikap Jeon sangat menyebalkan.Entah apa yang dilakukan Emily sehingga Jeon sangat tergila-gila pada gadis itu.

1
Ana Dinozzo
yuk baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!