Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA PULUH SATU
"Na.. Lihat, Bastian berkelahi. Dia diserang... Cepat telepon polisi".
Suara seruan Dena terdengar memenuhi kabin mobil, sontak Livia, Rani dan Siena langsung menolehkan kepalanya menatap kebelakang.
"Astaga, siapa mereka?" ujar Livia dengan raut wajah panik.
Diluar, dua orang pria tak dikenal mencoba terus menyerang Bastian secara bersamaan. Salah satunya pukulan kasar yang berhasil Bastian hindari. Namun, serangan berikutnya datang terlalu cepat.
Brakk!!
Tubuh Bastian sedikit mundur ketika bahunya terkena hantaman keras. Ia hampir kehilangan keseimbangannya sepersekian detik.
"Bas-". Siena refleks berseru, tangannya memegang handle pintu hendak bersiap keluar. Tapi, dengan cepat Livia langsung menahan nya.
"Jangan keluar Na, bahaya". Ujar Livia memperingati
"Tapi Bastian terluka". Sahut Siena, tanpa sadar ia merasa khawatir pada bodyguardnya itu. Pandangan matanya tak lepas dari Bastian.
"Diluar bahaya, Na. Jangan keras kepala". Ucap Rani sedikit meninggikan suaranya. Ia takut Siena nekat keluar. "Dena sudah telepon polisi, duduk tenanglah disini, Na".
Siena hanya diam tak menggubris ucapan Rani. Ia tetap fokus menatap kearah Bastian seraya menggigit bibir bawahnya harap-harap cemas.
Di luar mobil, Bastian kembali menangkis serangan lawannya. Gerakannya masih cepat dan presisi, namun jelas tidak sehalus biasanya. Bahunya yang tadi terkena hantaman tampak sedikit kaku saat ia memutar tubuh menghindari pukulan berikutnya.
Salah satu pria itu tiba-tiba mengayunkan sesuatu dari balik jaketnya.
Sret!
Ujung benda tajam itu hanya mengenai lengan Bastian sekilas, tetapi cukup membuat kain kemejanya robek dan meninggalkan goresan merah tipis di kulitnya.
Napas Siena tercekat.
“Dia berdarah…” bisiknya pelan.
"Aaahhh..." Livia dan Rani menjerit bersamaan, mereka sangat takut sekali jika ada yang berkelahi.
"Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Aku harus keluar".
"Na jangan nekat!". Ucap Dena ketika ia melihat Siena sudah hendak meraih kembali handle pintu mobil.
Tepat bersamaan dengan itu terdengar suara sirine mobil polisi. Sontak, mereka langsung menoleh kearah sumber suara.
Helaan nafas lega ketiga nya hembuskan bersamaan. Tapi, tidak dengan Siena. Gadis itu masih merasa takut bercampur khawatir yang entah tiba-tiba melingkupi dadanya.
Kedua pria itu langsung berhenti menyerang Bastian dan bergegas berlari pergi kembali masuk kedalam mobil.
Polisi langsung turun dan berlari menghampiri Bastian. Ia sempat melayangkan tembakan tanda peringatan, tapi tak diindahkan oleh kedua pria yang menyerang Bastian.
"Anda tidak apa-apa tuan?" tanya salah satu anggota seraya membantu Bastian berdiri tegak
Bastian menggeleng kecil. "Tidak apa-apa". Jawabnya singkat
"Kasus penyerangan ini akan segera saya proses tindak lanjuti, anda tenang saja tuan". Kata anggota polisi itu lagi.
Dan, Bastian hanya menjawabnya dengan anggukan. Ekor matanya tak sengaja melirik kearah sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari tempat kejadian.
Itu adalah mobil yang dikemudikan anak buahnya bersama Darian. Dari sorot matanya yang tajam Bastian memberikan kode isyarat pada Darian seolah berkata.
"Bereskan kekacauan ini dan cari tau siapa mereka!"
Dan, dari balik kaca hitam mobil itu Darian mengangguk paham.
Setelah memastikan situasi mulai terkendali, polisi perlahan mundur memberi ruang. Beberapa orang yang tadi sempat berkerumun juga mulai menjauh.
Bastian menarik napas panjang. Tangannya kembali menekan lengannya yang terluka. Darah tipis masih merembes dari balik sobekan kemejanya, membasahi kain putih itu dengan warna merah samar.
Ia menurunkan tangannya perlahan, seolah memastikan lukanya tidak terlalu parah. Namun gerakan kecil bahunya menunjukkan rasa nyeri yang berusaha ia sembunyikan.
Dari dalam mobil, Siena tak lagi mampu duduk diam.
Tanpa mempedulikan protes sahabatnya, ia langsung membuka pintu mobil.
Ceklek!
“Na!” seru Dena kaget.
Namun Siena sudah turun lebih dulu.
Langkahnya cepat menghampiri Bastian, bahkan sebelum polisi sempat menghalangi. Nafasnya sedikit terengah, campuran panik dan khawatir jelas terlihat di wajahnya.
“Bas… kau terluka,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Bastian yang semula berbicara dengan petugas polisi langsung terdiam saat melihat Siena berdiri di depannya. Sorot matanya berubah, tidak lagi setajam tadi.
“Hanya goresan kecil, Nona,” jawabnya tenang, seolah itu bukan apa-apa.
Namun ketika Siena tanpa sadar meraih lengannya untuk melihat luka itu lebih jelas, Bastian sedikit meringis saat luka nya tersenggol jemari lentik Siena ketika gadis itu ingin menyentuhnya.
"Kau bilang hanya goresan kecil? Ini luka Bas. Berdarah..." Ucap Siena lirih, matanya pun sudah berkaca-kaca.
Sungguh, ia sangat merasa bersalah pada Bastian. Pria itu terluka karena harus melindungi dia dan teman-temannya.
Saat Siena sibuk memindai luka goresan itu, tanpa sadar Bastian mengulum senyum tipis. Sangat tipis sampai Siena tidak menyadarinya.
"Perlahan tapi pasti, aku akan membuatmu bergantung padaku. Selalu mencari dan mengandalkan ku, my Sie".
Bastian berkata dalam hatinya.
"Berikan kunci mobilnya Bas, kita harus segera kembali kerumah sakit". Kata Siena lalu mendongak menatap wajah tampan Bastian.
"Tidak perlu kerumah sakit. Ini hanya luka kecil, yang terpenting sekarang kita harus segera pulang. Nona masih butuh istirahat". Sahut Bastian dengan anda bicara setenang mungkin.
"Aku baik-baik saja Bas, justru kamu yang-aaahhh".
Belum sempat Siena menyelesaikan ucapannya, tanpa aba-aba Bastian langsung membungkukkan sedikit badannya lalu mengangkat tubuh Siena memanggul nya dipundak kanan nya, sebab bagian lengan kirinya terluka.
"Bas turunkan aku". Teriak Siena seraya memukul-mukul punggung lebar Bastian.
Tapi, teriakan nya tak diindahkan oleh pria itu. Bastian bergegas melangkahkan kakinya kembali ke mobil. Namun, matanya sempat melirik lagi kearah mobil Darian memberikan isyarat pada asistennya itu untuk segera pergi dan melaksanakan perintah nya.
Disaat yang bersamaan Dena yang baru saja hendak turun menyusul Siena seketika langsung mengurungkan niatnya saat melihat Bastian berjalan mendekat sambil memanggul Siena.
"Bastian turunkan aku!! Kau sedang terluka". Teriak Siena seraya terus memukul-mukul punggung Bastian.
Pukulan itu tak terasa sakit sama sekali. Justru merasa enak karena seperti sedang dipijat.
"Diamlah nona, atau saya akan membanting anda diaspal". Ancam Bastian bercanda
Siena yang mendengar itu sontak terdiam tapi bibirnya mengerucut kesal.
Merasa Siena tak lagi memukulnya, Bastian kembali mengulas senyum tipis.
"good girl..." Ucap nya seraya tangannya dengan nakal memukul pelan pantat Siena.
Plakk!!
"BAS!!!!"
.
.
.
Haii temen-temen jangan lupa dukungannya yaa... Like, vote dan komen....terimakasih ♥️🫶🏻
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut