Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14.Pahlawan tak di kenal.
Pagi datang tanpa suara.
Kabut tipis masih menggantung rendah di antara batang-batang pohon ketika Yun Lan membuka mata. Api unggun semalam sudah menjadi abu keabu-abuan. Udara lembap menusuk kulit.
Ia langsung duduk.
Refleks.
Matanya mencari.
Yun.
Pria itu sedang jongkok tak jauh dari sana, memegang dua ranting kayu dengan wajah sangat serius. Seolah sedang memikirkan persoalan hidup paling berat di dunia.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Yun Lan.
Yun menoleh dengan wajah bangga.
“Aku mencoba menyalakan api seperti manusia.”
Di depannya… ada dua batu.
Yang jelas-jelas bukan batu api.
Yun Lan menatapnya beberapa detik.
Lalu bangkit tanpa berkata apa-apa, mengambil batu api asli dari tasnya, menggeseknya sekali, dan api langsung menyala.
Yun terdiam.
“Oh…”
Yun Lan menatapnya datar.
“Sebaiknya kamu harus belajar menjadi manusia dulu dan terutama tugas menjadi pelayan.”
Yun tersenyum canggung.
“Dulu…jika ingin menyalahkan api hanya sekali jentikan jari, tapi sekarang aku harus bersusah payah seperti manusia.”
Yun Lan menghela napas panjang.
“Aku akan mengajarimu pelan-pelan. ”
Yun pun menganggukkan kepalanya yang berarti setuju, malam itu Yun lan mengajarinya tugasnya menjadi pelayan pribadinya dan tugasnya untuk melindungi Yun lan di kamp perbatasan nanti.
Keesokan harinya mereka tidur dengan rasa lelah, dan untuk pertama kali seorang dewa merasakan kelelahan seperti manusia.
Saat matahari menunjukkan sinarnya, mereka bergegas untuk meninggalkan hutan tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka.
Dan perjalanan hari ini akan panjang.
Dan tampaknya… melelahkan.
Mereka berangkat ketika matahari baru naik separuh.
Yun Lan menunggang Paman Hitam. Yun berjalan di samping, kini sudah memakai pakaian sederhana hasil potongan kain dari bekal Yun Lan. Terlihat aneh, tapi setidaknya tidak lagi memalukan.
Hutan mulai menipis.
Jalan tanah mulai terlihat.
Itu tanda mereka semakin dekat dengan jalur suplai menuju Kamp Perbatasan Timur.
Tempat yang ingin Yun Lan capai.
Tempat di mana ia akan memulai penyamarannya sebagai prajurit.
Tempat di mana takdir lama ayahnya akan mulai berulang… jika ia tidak mengubahnya.
Yun berjalan diam.
Lalu berkata pelan.
“Kau sangat fokus pada tujuanmu.”
Yun Lan tidak menjawab.
“Aku bisa merasakannya. Bahkan tanpa kekuatanku.”
“Tidak perlu kau rasakan,” jawab Yun Lan singkat.
“Tujuanmu… bukan hanya menyelamatkan ayahmu.”
Yun Lan mengencangkan genggaman tali kekang.
Yun tersenyum kecil.
“Kau ingin melawan takdir.”
Yun Lan menatap lurus ke depan.
“Aku hanya tidak ingin orang yang kucintai mati sia-sia.”
Mereka berjalan beberapa saat dalam sunyi.
Lalu—
Suara.
Teriakan.
Dentuman besi.
Jeritan kuda.
Yun Lan langsung menarik tali kekang.
Paman Hitam berhenti mendadak.
Yun menoleh ke arah suara.
Dari balik tikungan jalan tanah, terlihat asap tipis dan bayangan orang-orang bergerak cepat.
Suara perkelahian.
Yun Lan langsung menggeser kudanya mundur.
“Kita cari jalan lain.”
Yun menoleh cepat.
“Kau tidak akan membantu?”
Yun Lan menatapnya.
“Aku tidak ingin menarik perhatian sebelum masuk kamp.”
“Tapi itu suara orang meminta tolong.”
“Aku tidak dengar, mereka juga para prajurit tangguh. jadi jangan khawatir!.”
“Tapi mereka butuh bantuan mu.”
Yun Lan terdiam.
Yun melanjutkan, kali ini suaranya lebih tegas.
“Kekuatan yang kau miliki bukan hanya untuk melindungi dirimu sendiri dari takdir.”
Yun Lan menatapnya tajam.
“Jangan mulai mengajariku.”
“Kau punya kekuatan yang bahkan sepuluh pria tidak miliki. Dan kau ingin menghindar ketika orang lain membutuhkannya?”
Yun Lan memalingkan wajah.
“Aku punya tujuan.”
“Dan mereka butuhkan mu.”
Sunyi.
Yun tidak pernah berbicara seperti ini sebelumnya.
Yun Lan menggertakkan gigi.
Yun melangkah mendekat.
“Kau marah pada dewa. Pada takdir. Pada dunia. Tapi jangan sampai kau menjadi sama seperti mereka yang menutup mata.”
Kalimat itu…
Mengenai.
Tepat.
Yun Lan menatap jalan di depan.
Teriakan semakin jelas.
Dentuman semakin keras.
Ia menghela napas kasar.
“Jaga kudaku.”
Yun tersenyum kecil.
“Tentu, tuan muda.”
Yun Lan melompat turun dari kuda.
Ia menarik kain dari tasnya.
Menutup setengah wajah.
Hanya mata yang terlihat.
Lalu—
Ia berlari.
Cepat.
Sangat cepat.
Di depan, pemandangan kacau.
Empat kereta kayu pembawa bahan makanan terjebak di tengah jalan.
Beberapa prajurit berseragam suplai bertahan mati-matian.
Dan belasan perampok mengelilingi mereka.
Prajurit itu jelas kewalahan.
Satu sudah terluka di lengan.
Satu lagi jatuh di tanah.
Dan perampok mulai mendekat.
Saat salah satu perampok mengangkat pedang untuk menebas—
Tubuhnya mendadak terlempar.
Bukan jatuh.
Bukan terdorong.
Terlempar.
Seperti ditendang kuda raksasa.
Ia menghantam pohon dengan suara keras.
Semua orang terdiam.
Yun Lan berdiri di tengah jalan.
Kain menutup wajahnya.
Matanya dingin.
Perampok lain menoleh.
“Apa—”
Belum selesai.
Yun Lan sudah bergerak.
Satu pukulan.
Perampok kedua terangkat dari tanah.
Dua langkah.
Sikutannya membuat yang ketiga berguling tiga meter.
Yang keempat mencoba menyerang dari belakang.
Yun Lan berputar.
Menendang.
Tubuh itu melayang seperti boneka kain.
Para prajurit terdiam.
Benar-benar terdiam.
Tidak ada teknik rumit.
Tidak ada pedang.
Tidak ada tombak.
Hanya tangan kosong.
Dan setiap pukulan…
Menghancurkan.
Perampok mulai panik.
“LARI!”
Terlambat.
Yun Lan bergerak seperti bayangan.
Satu per satu mereka tumbang.
Dalam waktu yang terasa terlalu singkat…
Jalan itu sunyi.
Hanya suara rintihan pelan para perampok yang masih sadar.
Prajurit-prajurit berdiri membeku.
Salah satu dari mereka menelan ludah.
“Apa… itu tadi…”
Yun Lan tidak menjawab.
Ia hanya menatap mereka sebentar.
Memastikan tidak ada lagi ancaman.
Lalu berbalik.
Berjalan cepat.
Sebelum satu pun dari mereka sempat berbicara.
“TUAN! Tung—!”
Yun Lan sudah menghilang di balik pepohonan.
Secepat ia datang.
Yun berdiri di semak-semak bersama Paman Hitam.
Matanya membesar.
Mulutnya sedikit terbuka.
“Ah…”
Yun Lan muncul dari balik pepohonan.
Melepas kain dari wajahnya.
Napasnya masih teratur.
Tidak terlihat lelah sama sekali.
Yun menatapnya lama.
Sangat lama.
“Kau… benar-benar mengerikan.”
Yun Lan menaiki kudanya.
“Diam.”
Yun masih menatap dengan kagum.
“Aku tidak salah memberikan kekuatan itu padamu.”
Yun Lan menatapnya tajam.
“Jangan bercanda,aku disini bukan mau menjadi pahlawan bertopeng tapi seorang prajurit.”
Yun tersenyum tipis.
“Tapi sekarang aku mengerti. Kenapa Kaisar Langit menghukumku,yaitu untuk mengawasimu”
Yun Lan menoleh.
Yun melanjutkan pelan.
“Karena manusia sepertimu…perlu di ingatkan saat membawa kekuatan dewa agar bisa di gunakan ke jalan yang benar.”
Yun Lan tidak menjawab.
Tapi untuk pertama kalinya…
Ia tidak membantah.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Dan di belakang mereka…
Para prajurit suplai masih berdiri terpaku.
Salah satu dari mereka berkata pelan.
“Apa itu tadi… manusia?”
Yang lain menjawab lirih.
“Kalau itu manusia…bagaimana punya kekuatan sebesar itu?.”
Dan tanpa mereka sadari…
Orang yang baru saja menyelamatkan mereka…
Sedang berjalan menuju kamp yang sama.
Sebagai prajurit biasa.