"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RISAU
H-1 HUT PANTI ASUHAN AMANAH
Bowo dan Alan memasukkan dus air mineral ke ruang tamu panti. Reina, Hasbi dan Rega mengatur dekorasi di tenda acara yang terpasang siang tadi. Adi dan Chandra mengatur cek sound system.
Anak-anak panti berlatih penampilan di awasi Bu Siska di ruang kelas. Aira bersama panitia lain membungkus parcel snack dan mainan di mushola.
"Aira, aku dengar Reina suka sama Rega dari dulu. Reina ada cerita nggak ke kamu? "
"Yah mana mungkin Reina curhatnya ke Aira, Nan. Kan Rega jelas-jelas suka sama Aira." sahut Mita.
"Eh iya ya. Maaf ya Aira, " sahut Nani sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nggak apa-apa, aku juga sebenarnya nggak pernah anggap itu serius. Cuma candaan Bowo sama Alan aja. Mereka kan memang suka jailin Rega, " sahut Aira.
"Kalau menurutku nggak sih Aira. Rega itu serius sama kamu."
Aira terdiam. Pertanyaan Rega beberapa waktu lalu berputar lagi di kepalanya.
"Dia sempat kecewa dengar kamu nikah, Aira. Patah hati banget, kata Hasbi. Dia suka cerita sama Hasbi, " sambung Mita.
"Ya gimana nggak patah hati, cinta Rega selama itu sama Aira, " tambah Nani.
"Sudah, mending nggak usah bahas itu. Aku anggap semua teman dan saudara, gitu juga sama Rega."
"Tapi nggak ada salahnya juga Aira, Kamu kan sekarang sudah sendiri lagi. Jarang ada laki-laki lajang mau dengan janda yatim. Kalau Rega ajak serius, iyakan aja, " celetuk Nani.
"Nani, omonganmu coba di filter dulu, seenaknya aja itu mulut, " tegur Mita.
Lagi-lagi, Nani keceplosan. Spontan ia menutup mulutnya sambil menatap Aira tak enak.
"Nggak apa Mita. Memang itu kenyataannya. Baru juga umur segini sudah jadi janda, yatim lagi, " tukas Aira dengan senyum getir.
Mita melotot ke arah Nani, memarahinya dengan tatapan. Nani makin tak enak.
"Jangan kecil hati gitu Aira. Jodoh Allah yang atur, mana tahu kamu ketemu yang super duper lagi nanti, " bujuk Mita.
"Aamiin ya allah, " seru Nani sambil menengadah kedua tangan, matanya menerawang khusyuk.
Aira tersenyum, dalam hati ia ikut mengaminkan.
Parcel yang sudah dikemas dikumpulkan dalam kardus besar sambil di hitung. Mereka kemudian beralih ke dapur membantu Dharma menata air mineral dalam kotak kue.
"Aira tolong antar piring kue keluar buat teman-teman, " titah Dharma.
Aira mengangguk lalu membawa piring keluar.
"Ga, pegangin. Nanti aku jatuh loh, " rengek Reina.
"Iya, sudah aku pegang kursinya. Bawel banget sih, " omel Rega.
Konsentrasi Rega teralihkan saat melihat Aira yang tiba-tiba datang. Kursi oleh, keseimbangan Reina goyah.
"Regaaa.. AAAH!!, " teriak Reina.
HAAP
Rega buru-buru menangkap tubuh Reina yang hampir jatuh ke bawah. Posisi mereka seperti Bridal style. Yang lain spontan menoleh ke arah mereka, terkejut. Begitu juga dengan Aira.
"Ah, syukurlah, " ujar Reina lega.
"Sori, Rei, " sahut Rega sungkan.
"Ekhem.. " Dehem Hasbi menyadarkan mereka kembali ke posisi semula.
Aira meletakkan piring kue di meja pinggir panggung.
"Kue nya teman-teman, di makan dulu, " ujar Aira membuyarkan kecanggungan.
"Eh iya makasih Aira. Waah ada kue kesukaanku, " sahut Adi.
Mereka mendekat ke arah Aira, begitu juga dengan Reina. Mengerubungi piring kue yang Aira bawa. Saat akan kembali ke dapur, Aira dan Rega bertemu mata, tapi Aira buru-buru mengalihkan pandangan.
Rega merasa kikuk disikapi begitu.
'Dia jadi menghindar, ' keluh Rega dalam hati.
Hasbi menyenggol lengan Rega menyodorkan piring kue padanya. Rega menghela nafas, lalu ikut mengambil satu kue. Reina melihat mereka dari kejauhan.
'Apa ada sesuatu? ' batin Reina.
Hari makin senja, panas matahari berganti dengan hembusan angin sore. Aira mengambil jemuran di samping depan dapur.
"Aira, " panggil Rega.
Aira terhenyak, menatap Rega yang sudah berdiri di belakang nya 150 senti.
"Gimana? sudah kamu pikirkan? " tanya Rega sambil berjalan mendekat.
Aira berbalik dengan ragu.
"Maaf ya Rega, aku.. aku nggak cocok sama kamu. Aku ini janda sakit, kamu terlalu baik buatku. Kamu bisa mencintai perempuan yang lebih layak. Aku juga sulit punya anak dengan sakitku ini. Aku nggak mau kamu menyesal nanti."
Rega melipat tangannya ke dada.
"Ini bukan alasan karena kamu mau kembali dengan mantan suami mu kan? Bukannya kalau kamu kembali dengannya bakal ada masalah lagi nanti? " tanya Rega dingin.
Aira tertawa getir.
"Aku bahkan nggak tahu dia masih sendiri atau sudah menikah lagi, Ga! Aku nggak senaif itu. Aku cuma merasa aku nggak layak sama kamu. Cuma itu! " jawab Aira tegas.
Rega menghembus nafas kasar.
"Justru aku paling layak sama kamu, Aira. Kamu nggak perlu ada drama dengan mertua lagi. Kita sama---anak yatim."
"Tapi nggak sama janda kayak aku juga, Rega."
"Aku tahu, Reina suka sama kamu. Kenapa kamu nggak coba pendekatan dengan dia aja?" bujuk Aira dengan nada menggoda.
Rega melengos, ia tak suka di provokasi begitu.
"Terserah aku mau pendekatan sama siapa Aira, dan aku maunya sama kamu, " tekan Rega lagi.
"Ck... kamu ini. Aku masih belum bisa terima orang baru. Aku mau sendiri, " jawab Aira kesal. Ia buru-buru mengambil jemuran yang tersisa lalu masuk sambil membawa baskom jemuran.
Rega mengacak rambutnya kesal.
"Aira.. tunggu, aku belum selesai bicara, " ujar Rega setengah berteriak.
Tak jauh di balik tembok teras depan, Reina berdiri dengan mata berkaca-kacak menahan isak tangis. Tangannya menggenggam sampai buku-buku jarinya memutih.
"Ternyata, Rega seserius itu dengan Aira. Selama ini usahaku dianggap apa? " gumamnya lirih.
***
"Assalamu'alaikum, " sapa Bara dari luar.
"Wa'alaikumsalam, " jawab Norma dan puspa di ruang tamu.
"Bara, kita dapat undangan ulang tahun Rasti. Tadi ART bu Hani yang antar" ujar Norma bersemangat. Puspa melirik ke arah ibunya dengan tatapan cemas.
"Ulang tahun? Kayak anak kecil aja, " sahut Bara ke mengejek.
"Eh ini perayaan bukan yang kayak anak kecil lah, kamu ini. Dia ngadain syukuran pakai tumpeng gitu di panti asuhan, " jelas Norma dengan senyum puas.
"Memangnya kapan? " tanya Bara sambil membuka kancing kemejanya perlahan.
"Besok jam sembilan. Di panti asuhan Aira, Panti asuhan Hasanah, " jawab Norma santai.
Bara tertegun, " Kok bisa ngadain di sana? kayak nggak ada panti asuhan dekat sini. "
Perasaan Bara tiba-tiba tak enak.
"Ya terserah mereka lah mau ngadain dimana. Lagian kan bagus, panti asuhannya Aira jadi dapat donasi. Kamu itu, aneh. "
"Bu, itu sama dengan acara HUT PANTI Aira. Kalau Bara datang di acara itu, Bagaimana perasaan Aira nanti? "
"Ya, itu urusan dia. Bukannya kamu juga di undang bu Siska? Kamu bilang ibu harus kesana menyampaikan permintaan maaf sama Aira. Ya sudah sekalian, kok bingung."
"Kayaknya Kak Aira nggak kenal sama mbak Rasti, Mas. Jadi Mas Bara nggak perlu cemas. "
Bara terdiam lalu masuk ke kamar dengan wajah tegang.
Puspa dan Norma saling tatap melihat ekspresi Bara yang mendadak jelek.
CEKLEK
Bara melempar tubuhnya ke atas ranjang. Ia akhirnya galau pergi atau tidak. Tak ada alasan untuk tak kesana, tapi bagaimana kalau ada hal-hal yang membuat Aira tak nyaman nantinya.
Ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Siska.
[Bara, besok pasti datang kan? Aira pasti senang kalau kamu datang. Dia belum tahu, ibu kasih kejutan untuknya.]
[ Oh ya, nanti juga ada donatur yang mengadakan acara perayaan ulang tahun putrinya di acara HUT panti..alhamdulillah. Kebetulan yang jadi penolong panitia. Kami sempat kewalahan, karena donasi acara belum banyak terkumpul. Donatur itu tiba-tiba datang. Jadi sekalian saja kami tawarkan acara perayaannya. ]
Bara menatap layar dengan perasaan makin kacau. Risau harus menjawab apa.