"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNTUTAN
KEESOKAN HARINYA
Hari yang cerah, matahari mulai meninggi perlahan. Kokok ayam, tawa anak-anak yang bermain di pekarangan rumah. Bau nasi yang di tanak, suara Sutil bertabrakan dengan wajan. Mengisi suasana hari minggu pagi kala itu.
Bara dan Norma mengendarai motor ke rumah pak Salim. Sesampainya di sana, mereka di sambut hangat oleh Salim dan Hani.
"Silahkan, Bara di minum tehnya, " ujar Hani sambil meletakkan cangkir ke atas meja di hadapan Bara.
"Terima kasih, Bu."
"Jadi..ada maksud apa Bara dan Bu Norma ke sini? " tanya Salim ramah.
"Saya sebelumnya menyampaikan permintaan maaf atas perbuatan Ibu saya pada keluarga Bapak. Saya baru tahu, Ibu sampai meminjam uang pada bu Hani. Saya jadi merasa bersalah sebagai anak."
"Tidak, apa-apa Bara. Sudah sepatutnya saling membantu, " sahut Hani.
"Ini Bu, Saya kembalikan uang Bu Hani. Terima kasih banyak bantuannya."
Bara menyodorkan amplop coklat berukuran agak besar ke atas meja di hadapan Hani.
"Seharusnya tidak perlu buru-buru, Bara. Saya senang bisa membantu."
"Tidak apa-apa Bu Hani, sudah jadi tanggungjawab saya sebagai anak untuk menyelesaikan masalah Ibu saya."
"Bara, kamu lama kan tidak tinggal di rumah. Jadi, belum sempat bertemu Rasti. Ma, panggil Rasti untuk sapa Bu Norma dan Bara."
Hani mengangguk, dan bergerak cepat menghampiri kamar di lantai dua. Bara sudah tak sempat berbasa basi menolak.
"Rasti sejak pulang jarang keluar rumah, tapi beberapa waktu lalu sempat mampir ke rumahmu. Tapi cuma ketemu adikmu Puspa."
"Katanya sempat ngobrol lama dengan Puspa dan mereka terlihat cocok, " sambung Salim.
"Iya, Pak. Saya masih melanjutkan kontrakan rumah dekat panti. Sesekali masih besuk mantan istri."
Senyum Salim seketika memudar, Norma tercengang dengan cerita Bara. Entah benar atau tidak yang dikatakan putranya itu.
"Bagaimana kondisinya? " tanya Salim basa basi, pura-pura peduli.
"Alhamdulillah, dia rutin berobat. Sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, Pak."
"Alhamdulillah... "
Ekspresi Salim seketika canggung.
'Aku harus gerak cepat mengambil hati mantan istrinya di panti, sebelum mereka benar-benar kembali, ' batin Salim.
" Lalu amnesianya bagaimana? "
"Masih proses pemulihan, Pak. Setidaknya dengan dia tinggal di panti, membantu mengingat memorinya. Kata dokter, soal ini memang butuh waktu dan tidak bisa dipaksakan. Harus mendapat dukungan dari orang-orang sekelilingnya."
"Rasti, " panggil Norma dengan senyuman bahagia melihat seorang perempuan muda yang begitu cantik. Rasti menghampirinya mereka bersalaman pipi.
Rambut ikal wanita itu tergerai, matanya coklat. Ada lesung pipi dan gigi gingsul menghias wajahnya. Bara menatapnya lama.
'Dia berubah sekali... makin... cantik,' batin Bara.
Ia menggeleng pelan dan memalingkan wajah. Seolah menyadarkan diri dari keterangan.
"Halo, Mas Bara. Lama nggak ketemu, " ujar Rasti dengan suara mendayu sambil menyodorkan tangannya. Senyuman manis dengan gigi putih yang berderet rapi.
"Halo, " jawab Bara singkat sambil bersalaman dengannya.
Rasti duduk di samping papanya. Gayanya santun, tapi terlihat manja di dekat sang papa.
"Mas Bara, ASN Pemkot ya? waktu ketemu Puspa, dia cerita banyak soal Mas, " ujar Rasti membuka percakapan.
"Iya, baru jalan tiga tahun. Rasti sekarang sibuk apa? " tanya Bara basa basi.
"Sementara di rumah dulu, mas. Lagi mulai nyusun konsep design. Sudah ada tawaran kerja, tapi masih belum mau terikat."
"Rasti sudah keenakan di rumah, kerjaan cuma sampingan aja buat isi waktu, " sahut Hani menambahkan.
"Memangnya lulusan apa Rasti? "
"Aku lulusan designer Mas, dulu di luar negri kerja di brand pakaian. Rancang pakaian. Sekarang lagi buntu, nggak ada ide. Jadi off dulu."
Obrolan mengalir lancar, sesekali Salim atau Hani menimpali. Menceritakan prestasi Rasti selama kuliah di luar negri. Norma lebih banyak diam mendengarkan, baginya cukup keluarga Rasti yang bekerja saat ini.
"Mba Rasti, ponselnya bunyi di kamar, " ujar ART memutus obrolan mereka.
"Rasti ke kamar dulu ya, Mas. Bu Norma, kapan-kapan ngobrol lagi."
Bara dan Norma mengangguk sambil tersenyum. Rasti pergi kembali ke kamarnya.
"Rasti sebenarnya masih dalam masa pemulihan Bara. Suami dan anaknya baru beberapa bulan lalu meninggal karena kecelakaan. Hidupnya mendadak suram. Dia sering melamun. Waktu kami ajak pulang, yang dia ingat cuma kamu."
DEG
Bara seketika terhenyak. Ia bingung apa maksudnya?
"Kamu mungkin bingung, Rasti itu pernah cerita. Kamu cinta pertamanya saat kalian masih SMA. Karena dia memaksa kuliah design akhirnya kami mengirimnya keluar negri. Dia awalnya minta di sini saja, tapi kami pikir nggak ada salahnya kuliah di kampus bagus sekalian, toh Papanya sanggup membiayai. Ternyata dia memendam perasaannya ke kamu. Akhirnya dia berusaha bangkit dan melupakanmu disana."
"Suaminya sangat mirip dengan mu. Perawakan, karakter dan cerdas. Kami baru sadar ternyata dia benar-benar nggak bisa lupain kamu selama di sana. Takdir mempertemukan dia orang yang mirip denganmu, " tambah Salim.
Bara merasa ada beban di pundaknya. Ada tuntutan memenuhi harapan orang lain.
Bara akui Rasti makin cantik dan berbeda sikapnya saat SMA dulu seperti yang diceritakan Puspa. Tapi, hatinya masih terikat dengan Aira.
"Makanya Bara, kami berharap kamu mau mencoba menjalin hubungan dulu dengan Rasti. Kami tak mendesak segera menikah, kalian bisa pacaran dulu. Kalian sama-sama punya masa lalu, siapa tahu kalian bisa saling mengisi kekosongan itu, " timpal Hani.
"Maaf Bu Hani, saya mengerti situasi Rasti. Tapi, saya sendiri bercerai dengan mantan istri saya bukan karena tidak saling cinta. Saya terpaksa bercerai karena ingin melindunginya."
Norma merasa canggung, karena di sindir putranya sendiri.
"Sebaiknya Rasti mencoba kenal dengan orang lain, Bu. Supaya bisa benar-benar move on dari almarhum suaminya. Kalau dia sama saya, bayang-bayang suaminya terus ada. Dan itu rawan memunculkan konflik dalam rumah tangga."
Salim dan Hani tertegun, mereka saling tatap lalu menghela nafas.
"Kamu betul, Bara. Saya akui itu. Tapi, siapa yang mau dengan janda seperti Rasti? Dia bukan gadis yang punya nilai tinggi lagi. Dan kami tak rela, anak kami dinilai rendah. Kamu juga duda, kalian sangat cocok bila dipasangkan. Saya yakin seiring waktu, kehilangannya bisa tergantikan dengan keberadaan mu dan anak-anak kalian nanti."
Bara terdesak, ia tak bisa mengelak lagi. Ia sudah kehabisan kata-kata.
"Banyak hal yang baru Bara ketahui, pak Salim. Mohon berikan waktu untuk Bara berpikir lagi. Dulu, waktu awal kami ke sini, Bara tak tahu situasi Rasti. Sekarang, Bara mungkin mau mempertimbangkan, " ujar Norma yang sedari tadi banyak diam.
"Benar, kamu bisa pikirkan dulu, Bara. Saya dan istri tak ingin buru-buru mendesakmu. Yang penting alasan kami menawarkan Rasti padamu sudah kamu ketahui. Pertimbangkan lah!"
Bara mengangguk, mereka kemudian pamit pulang.
Sepanjang jalan menuju rumah, tak ada pembicaraan antara ibu dan anak itu. Norma tahu, Bara sedang menimbang tawaran itu.
Sesampainya di rumah, Bara masuk kamar. Puspa yang tengah menonton TV, bingung melihat ekspresi Bara yang begitu tegang. Norma masih di luar mengobrol dengan tetangga yang kebetulan sedang duduk di teras rumah.
"Bu, mas Bara kenapa? " tanya Puspa saat Norma baru masuk ke ruang tengah.
Norma menyeringai. "Sepertinya galau dengan ucapan pak Salim dan bu Hani soal Rasti. "
"Hah?? Mbak Rasti? memangnya kenapa Bu?" tanya Puspa lagi penasaran.
Norma mengulang cerita yang ia dengar dari pak Salim dan bu Hani tadi. Puspa terperangah tak percaya.
"Ooh jadi begitu.. pantas aja mas Bara jadi tegang begitu."
Norma berlalu ke kamarnya, membiarkan Bara berkutat dengan kebimbangannya.