NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: tamat
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen / Tamat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Cahaya pagi baru saja menyusup tipis melalui celah tirai sutra di kamar utama villa. Danau di luar masih diselimuti kabut pagi yang lembut, permukaannya tenang seperti cermin yang belum disentuh. Jam dinding digital di meja samping menunjukkan pukul 05:32. Xiao Han masih tertidur lelap, napasnya teratur dan dalam setelah malam yang panjang dan melelahkan. Tubuhnya terbaring telentang, selimut sutra putih hanya menutupi pinggang ke bawah, meninggalkan dada dan perutnya terpapar udara pagi yang sejuk.

Lin Qing sudah terbangun lebih dulu. Dia duduk di samping tempat tidur, memandang wajah Xiao Han yang damai dengan tatapan yang sulit dibaca, campuran antara kelembutan dan hasrat yang belum padam. Rambutnya masih acak-acakan dari malam sebelumnya, kimono sutra tipis yang dia pakai setelah mandi subuh tergeser sedikit di bahu, memperlihatkan garis leher dan dua gunung nirwana yang naik-turun pelan.

Dia tersenyum kecil, hampir tak terlihat. Tanpa suara, Lin Qing merangkak pelan naik ke tempat tidur, bergerak seperti kucing yang tak ingin membangunkan mangsanya terlalu cepat. Tangannya menyusuri dada Xiao Han dengan lembut, jari-jarinya mengikuti garis otot yang terbentuk dari kerja keras sehari-hari, bukan dari gym mewah. Napasnya hangat menyentuh kulit pria itu saat dia menurunkan kepala.

Selimut bergeser pelan saat Lin Qing menariknya ke bawah. Buah pisang Xiao Han sudah setengah tegang karena mimpi pagi yang samar-samar. Lin Qing tidak ragu. Bibirnya membuka pelan, lalu mengulum ujungnya dengan lembut, lidahnya berputar lambat seperti sedang menikmati sesuatu yang langka. Gerakannya pelan tapi pasti, hangat dan basah, membuat tubuh Xiao Han bereaksi meski pikirannya masih terjebak di alam mimpi.

Xiao Han menggeliat pelan. Matanya masih tertutup, tapi napasnya mulai berubah, lebih cepat, lebih dalam. Sensasi hangat yang menyelimuti buah pisangnya membuatnya mengerang kecil tanpa sadar. Akhirnya kelopak matanya terbuka perlahan, kabur pada awalnya, lalu fokus pada wajah Lin Qing yang sedang menatapnya dari bawah, mata biru gelapnya penuh godaan.

"Pagi…" bisik Lin Qing, suaranya serak dan menggoda, bibirnya masih menyentuh kulit sensitif itu. Dia tidak berhenti, malah semakin dalam, mulutnya menelusuri panjang buah pisang itu dengan ritme yang lambat tapi semakin intens.

Xiao Han menarik napas tajam. Tangannya secara refleks meraih rambut Lin Qing, jari-jarinya menyelip di antara helai hitam yang lembut. "Qing… apa... Akh..."

"Shh," potong Lin Qing pelan, suaranya teredam tapi jelas. "Jangan bicara. Nikmati saja."

Dia melanjutkan, kepalanya naik-turun dengan gerakan yang semakin ritmis. Lidahnya menari di sepanjang sisi, sesekali berhenti di ujung untuk mengisap lembut, membuat Xiao Han melengkungkan punggungnya. Tubuhnya menegang, napasnya terputus-putus. Lin Qing menggunakan tangannya untuk membantu, jari-jarinya memijat pelan di bagian bawah, sementara mulutnya tetap bekerja dengan penuh perhatian.

Xiao Han tidak bisa menahan lama. Sensasi pagi yang masih segar, ditambah kehangatan mulut Lin Qing yang tak kenal ampun, membuatnya mencapai puncak dengan cepat. Tubuhnya menegang keras, nama Lin Qing keluar dari bibirnya dalam desahan panjang yang teredam. Lin Qing tidak menarik diri, dia menelan semuanya dengan tenang, lalu menjilat bibirnya pelan sambil menatap mata Xiao Han yang masih berkabut.

Setelah beberapa detik hening, Lin Qing naik ke atas, berbaring di sampingnya dan memeluk pinggang Xiao Han dari samping. Kepalanya bersandar di dada pria itu.

"Pagi yang bagus untuk memulai hari," katanya sambil tersenyum kecil, jarinya menggambar lingkaran kecil di perut Xiao Han.

Xiao Han masih terengah-engah. Dia menatap langit-langit kamar, mencoba mengatur napas. "Kamu... selalu begini?"

"Tidak," jawab Lin Qing jujur. "Hanya sama kamu."

Xiao Han diam. Perasaan campur aduk kembali muncul, lega, puas, tapi juga rasa bersalah yang semakin dalam. Dia ingat pesan-pesan dari Xiao Mei yang belum dibalas, ingat ibunya yang mungkin sudah bangun dan menunggu.

Lin Qing seolah membaca pikirannya. Dia mencium pipi Xiao Han pelan.

"Mandi dulu. Sarapan sudah siap di balkon. Setelah itu... kamu boleh pulang. Tapi ingat, aku sudah transfer 25 juta tadi malam. Dan kalau kamu mau, akhir pekan depan aku ingin kamu di sini lagi. Lebih lama."

Xiao Han mengangguk pelan, tapi matanya menatap ke arah danau yang mulai cerah di luar. Pagi yang seharusnya indah terasa seperti pengingat: setiap kenikmatan yang dia dapatkan dari Lin Qing datang dengan harga yang semakin mahal, bukan hanya uang, tapi juga potongan-potongan dari hidupnya yang sebenarnya.

Saat dia bangun menuju kamar mandi, ponselnya bergetar lagi di lantai. Layar menyala menunjukkan nama "Xiao Mei" dengan pesan terbaru:

"Kak, Ibu tanya kamu di mana semalam. Aku bilang kerja lembur. Pulang ya hari ini…"

Xiao Han menutup mata sejenak, air panas dari shower mulai mengalir. Tapi rasa dingin di dadanya tidak hilang.

1
Sulis Tiana
cewek nya juga bego laki begitu bukan di tinggalin malah dimaafin terus ...dy juga nikmatin kali...wlw dy nilang itu demi keluarga ttep salah lah caranya...ciwok kok gak gentle bgt
APRILAH
mwehehe
Sulis Tiana
bodoh terlalu bodoh laki2 plin plan kenapa enggak jujur aja sam huang linger atau rina kalo lu pacarnya huang linger aneh bgt sih...
Eeng
sampe tamat y thor can....
Eeng
lanjuut kn thor....
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!