NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Hulu barat Desa Asih pagi itu dipenuhi suara gemericik air yang terhambat oleh tumpukan tanah dan dedaunan busuk. Sinar matahari mencoba menembus sela-sela daun jati, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas permukaan air. Mika sudah berlutut di pinggir saluran irigasi, tangannya yang mungil sudah terbungkus sarung tangan karet yang kini tak lagi terlihat warnanya karena tertutup lumpur hitam pekat.

Di sampingnya, Alvaro berdiri dengan gagah, sesekali menggunakan linggis untuk menyingkirkan batu-batu besar yang menghalangi aliran. Kemeja dinas cokelatnya yang tadi rapi, kini sudah digulung sampai ke siku, memperlihatkan urat-urat di lengan bawahnya yang menonjol setiap kali ia mengerahkan tenaga.

Mika sesekali melirik ke arah Alvaro. Wajah pria itu sangat serius, alisnya bertaut, benar-benar mencerminkan sosok pemimpin yang sedang menjalankan tugas negara. Namun, bagi Mika, wajah serius itu justru terlihat sangat menantang untuk dikerjai. Apalagi setelah "serangan" lima detik di bawah pohon jati tadi.

"Enak aja dia bisa tenang begitu setelah bikin jantung gue mau copot," batin Mika.

Mika meraup segumpal lumpur yang sangat lembek dan hitam dari dasar saluran. Ia memutarnya sebentar di telapak tangan, memastikan teksturnya "sempurna".

"Al... sini deh!" panggil Mika dengan nada suara yang dibuat seolah-olah ia menemukan sesuatu yang teknis dan penting.

Alvaro berhenti mengungkit batu. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan atasnya, lalu menoleh. "Apa? Ada sumbatan yang nggak bisa lepas?"

Alvaro melangkah mendekat, membungkukkan badannya sedikit untuk melihat apa yang sedang ditunjuk Mika di dalam air. Di saat itulah, Mika beraksi secepat kilat.

PLAK!

Dengan gerakan yang sangat luwes, Mika meletakkan telapak tangannya yang penuh lumpur tepat di pipi kanan Alvaro, lalu menariknya sedikit hingga meninggalkan bekas garis hitam memanjang dari tulang pipi sampai ke rahang pria itu.

Mika langsung melompat berdiri, melepaskan sarung tangan karetnya yang kotor dan melemparkannya ke atas rumput.

"Haha! Lucu banget lagi Pak Kades yang terhormat!" tawa Mika pecah. Suara tawanya yang renyah menggema di keheningan hutan jati. Melihat wajah Alvaro yang kaget dengan noda lumpur di wajahnya yang biasanya bersih dan berwibawa benar-benar merupakan pemandangan komedi terbaik bagi Mika.

Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Mika langsung memutar tubuhnya. "Byee!" serunya sambil melambaikan tangan dengan jahil, lalu berlari sekencang mungkin menyusuri jalan setapak di pinggir saluran irigasi.

Alvaro terpaku selama tiga detik. Ia menyentuh pipinya, merasakan tekstur lumpur yang dingin dan basah. Ia melihat telapak tangannya sendiri yang kini menghitam. Bukannya marah, sebuah senyuman predator muncul di wajahnya. Matanya berkilat, rasa kompetitifnya sebagai mantan atlet lari saat SMA mendadak bangkit.

"Mikayla! Jangan harap kamu bisa lolos!" teriak Alvaro dengan suara berat yang menggelegar.

Alvaro meletakkan linggisnya begitu saja dan mulai mengejar. Langkah kakinya yang panjang dan kuat membuatnya mampu memangkas jarak dengan cepat. Mika menoleh ke belakang dan membelalak saat melihat "singa" itu sudah berada hanya beberapa meter di belakangnya.

"Aaaaa! Jangan ngejar! Bapak nggak boleh ninggalin tugas!" teriak Mika sambil tertawa terbahak-bahak, napasnya mulai tersengal.

Mika mencoba bermanuver, melompati akar pohon jati yang melintang, namun Alvaro jauh lebih lincah. Di sebuah tikungan jalan setapak yang agak menurun, Alvaro berhasil menyambar pinggang Mika dari belakang.

"Kena kamu," bisik Alvaro sambil mengangkat tubuh Mika dari tanah.

"Lepasin! Al, ampun! Hahaha, lepasin!" Mika meronta, kakinya menendang-nendang udara, namun pelukan Alvaro di pinggangnya sangat kokoh.

Alvaro memutar tubuh Mika agar menghadapnya. Kini mereka berdiri di antara pepohonan yang rimbun, jauh dari pandangan warga. Napas keduanya memburu, saling bersahutan di udara pagi yang mulai menghangat.

Alvaro masih memegang pinggang Mika, sementara Mika menyandarkan tangannya di bahu Alvaro untuk menjaga keseimbangan. Wajah mereka sangat dekat, dan noda lumpur di pipi Alvaro justru membuatnya terlihat lebih... nakal.

"Kamu pikir saya akan membiarkan wajah saya kotor sendirian?" tanya Alvaro dengan nada mengancam yang dibuat-buat.

"Tadi itu kan... biar Bapak kelihatan lebih menyatu dengan alam! Aduh, Al, jangan!" Mika mencoba menjauhkan wajahnya saat Alvaro mulai mendekat.

Alvaro sengaja menggosokkan pipinya yang terkena lumpur ke pipi Mika yang bersih. "Sekarang kita serasi. Sama-sama kotor."

"Iiiiih! Al! Kotor tau!" Mika protes, tapi ia tidak bisa berhenti tertawa. Pipinya kini juga ikut ternoda lumpur hitam.

Tawa mereka perlahan mereda, menyisakan keheningan yang kembali menjadi intens. Alvaro menatap mata Mika yang berbinar karena sisa tawa. Ia mengulurkan tangannya yang masih bersih, mengusap ujung hidung Mika yang mungil.

"Kamu ini benar-benar ya... tidak ada takut-takutnya sama Kepala Desa," gumam Alvaro.

"Buat apa takut? Pak Kadesnya aja bisa diajak main lumpur begini," balas Mika pelan.

Alvaro menarik Mika lebih dekat, hingga dahi mereka bersentuhan. "Dengar, Mikayla. Setelah proyek irigasi ini selesai, saya mau mengajak kamu ke suatu tempat. Bukan untuk kerja, bukan untuk sosialisasi."

"Ke mana?"

"Ke rumah Ibu saya di kota seberang. Saya mau mengenalkan 'singa' kecil yang sudah berani mengotori wajah anak sulungnya ini," ucap Alvaro serius.

Mika tertegun. Mengenalkan ke orang tua? Itu berarti langkah yang jauh lebih serius dari sekadar kencan rahasia di pinggir sungai. "Al... Bapak serius?"

"Saya selalu serius kalau itu menyangkut kamu," jawab Alvaro. Ia mengecup dahi Mika yang kini juga sudah terkena noda lumpur, sebuah ciuman yang terasa begitu tulus dan melindungi.

"Ehem!"

Suara dehem keras dari arah jalan setapak membuat mereka berdua tersentak dan langsung menjaga jarak. Di sana berdiri Mbah Darmo dengan cangkul di bahunya, menatap mereka dengan tatapan menyelidik di balik kacamata tuanya.

"Anu... Pak Kades, itu di hilir airnya sudah mulai lancar, tapi pipanya ada yang bocor sedikit," ucap Mbah Darmo dengan nada datar, seolah-olah ia tidak baru saja memergoki pemimpin desanya sedang bermesraan di balik pohon.

Mika langsung pura-pura sibuk membetulkan kunciran rambutnya, sementara Alvaro berdehem dan merapikan kemejanya yang berantakan.

"Oh, iya Mbah. Saya segera ke sana," jawab Alvaro dengan suara yang kembali berwibawa, meski noda lumpur di pipinya membuat penampilannya sangat tidak sinkron dengan nada bicaranya.

Mbah Darmo mengangguk, lalu berbalik sambil bergumam pelan yang masih bisa terdengar, "Anak muda zaman sekarang... main lumpurnya kok ya sampai ke pipi-pipi."

Mika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu yang luar biasa, sementara Alvaro hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Tuh kan! Ketauan kan!" bisik Mika kesal.

"Salah kamu sendiri yang mulai," balas Alvaro sambil menarik tangan Mika agar kembali berjalan bersamanya menuju hilir. "Ayo, Neng Mikayla. Tugas negara menanti, dan kali ini, tolong tangannya dijaga agar tidak 'jahil' lagi kalau ada warga."

Mika menjulurkan lidahnya ke arah Alvaro, namun ia tetap menggenggam tangan pria itu erat-erat sepanjang jalan setapak, menikmati setiap detik sisa petualangan mereka di Desa Asih yang penuh dengan kejutan.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!