Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMA SANG PERMAISURI
Keheningan yang diciptakan oleh dentingan Guqin itu bukan sekadar sunyi; itu adalah kekosongan absolut. Debu yang tadi beterbangan akibat ledakan arena terpaku di udara. Kobaran api di kejauhan membeku seperti kristal oranye yang tajam. Bahkan napas Xuelan yang tertahan dan detak jantung Guru Lin seolah-olah ditarik paksa dari aliran waktu.
Feng berdiri sendirian di tengah dunia yang mati suri ini. Tubuhnya yang baru saja menyerap energi Han Shuo masih berdenyut panas, namun suhu di sekitarnya mendadak turun hingga titik beku.
Wanita di depannya melangkah maju. Setiap gerakannya meninggalkan jejak cahaya emas redup di tanah yang retak. Wajahnya—identik dengan Lin Xuelan—menatap Feng dengan kedalaman yang bisa menelan seluruh samudra takdir.
"Siapa kau?" suara Feng serak. Ia mencoba memanggil Kitab Hukum Karma, namun buku itu hanya bergetar di balik jubahnya, seolah-olah takut menampakkan diri di depan wanita ini.
“Feng... menjauhlah...” suara Yue Er di dalam batinnya terdengar sangat tipis, hampir seperti bisikan orang yang sedang sekarat. “Dia adalah... Penjaga Catatan Asal. Jika dia memetik senar kedua, jiwamu yang sekarang akan terhapus oleh jiwamu yang sepuluh ribu tahun lalu.”
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyakitkan daripada luka tebasan pedang. "Aku adalah Yan Ling, atau setidaknya, sisa-sisa gema dari wanita yang kau sebut istri sebelum kau memutuskan untuk menjadi 'Bendahara Surga'. Lin Xuelan yang kau lindungi itu? Dia hanyalah wadah kosong yang kubentuk dari debu memoriku agar aku bisa mengawasimu di garis waktu ini."
Feng merasakan dunianya runtuh. Ia menoleh ke arah Xuelan yang mematung di sampingnya. "Wadah kosong? Tidak... dia punya perasaan, dia punya ingatan tentang masa depan..."
"Ingatan yang kuberikan padanya," Yan Ling memetik senar kedua.
TRING!
Gelombang suara transparan menyapu tubuh Xuelan. Seketika, cahaya di mata Xuelan meredup, dan tubuhnya perlahan mulai memudar, berubah menjadi jutaan kelopak bunga teratai putih yang terbang tertiup angin yang tak terlihat.
"XUELAN!" Feng melompat untuk menangkapnya, namun tangannya hanya melewati ribuan kelopak bunga itu.
Kemarahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya meledak di dada Feng. Ia tidak lagi peduli pada keseimbangan atau karma. Ia hanya ingin menghancurkan wanita di depannya.
"KEMBALIKAN DIA!" raung Feng.
Ia menghantamkan tinjunya ke arah Yan Ling. Energi emas dan hitam dari tubuhnya menyatu, membentuk cakar naga raksasa yang bisa merobek dimensi. Namun, Yan Ling hanya mengangkat satu tangannya. Cakar energi itu seketika hancur menjadi debu cahaya sebelum menyentuhnya.
"Kau marah karena kehilangan sebuah bayangan, Tian Feng?" Yan Ling menatapnya dengan mata emas yang dingin. "Lalu bagaimana denganku? Sepuluh ribu tahun aku menunggumu di gerbang reinkarnasi, sementara kau sibuk bermain dengan angka dan hutang di Menara Penagihan. Kau mengkhianati perjanjian kita demi sebuah buku bersampul giok."
Yan Ling memetik senar ketiga. Kali ini, dunia yang membeku mulai retak. Bukan waktu yang berjalan mundur, melainkan ruang yang terkoyak.
Feng melihat kilasan memori yang bukan miliknya. Ia melihat dirinya mengenakan jubah kebesaran seorang kaisar langit, berdiri di atas jembatan pelangi bersama Yan Ling. Ia melihat dirinya menyerahkan sebuah gulungan perkamen—kontrak pertama yang pernah dibuat di alam semesta—kepada sosok bayangan raksasa demi menyelamatkan Yan Ling dari kutukan abadi.
"Kau meminjam nyawaku dari Surga, Feng," bisik Yan Ling, kini ia berdiri tepat di depan Feng, aroma melatinya sangat kuat hingga membuat kepala Feng pening. "Dan sekarang, Surga datang untuk menagih bunganya. Harga untuk nyawaku yang kau pinjam dulu adalah... seluruh keberadaanmu saat ini."
Feng jatuh berlutut. Beban memori itu terlalu berat untuk raga mudanya. Meridiannya mulai retak kembali, memuntahkan energi yang baru saja ia serap dari Han Shuo.
“Gunakan liontinnya, Feng!” Yue Er berteriak dengan sisa kekuatannya. “Jangan biarkan dia mengambil otoritasmu! Jika kau menyerah sekarang, seluruh dunia ini akan terhapus karena kau adalah jangkar terakhirnya!”
Feng mencengkeram Liontin Giok di dadanya hingga jemarinya berdarah. Ia menatap Yan Ling dari balik helaian rambut peraknya.
"Jika aku berhutang padamu sepuluh ribu tahun lalu..." Feng berdiri perlahan, tubuhnya memancarkan aura hitam yang pekat, aura yang berasal dari kegelapan Makam Dewa. "Maka aku akan membayar hutang itu sekarang. Tapi aku tidak akan memberikan jiwaku. Aku akan memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga bagi Surga."
"Apa yang bisa kau berikan, Bendahara?" tanya Yan Ling sinis.
"Kematianku yang abadi," jawab Feng.
Feng menusukkan jarinya sendiri ke arah jantungnya, tepat ke pusat Liontin Giok yang tertanam di kulitnya.
CRAAAKK!
Liontin itu hancur berkeping-keping, namun kali ini tidak ada energi yang keluar. Sebaliknya, liontin itu mulai menghisap segala sesuatu di sekitarnya. Cahaya, suara, bahkan emosi Yan Ling mulai tersedot ke dalam lubang hitam di dada Feng.
"Apa yang kau lakukan?! Kau mencoba menghancurkan reinkarnasi?!" Yan Ling panik. Ia mencoba memetik instrumennya, namun senar-senarnya putus satu per satu.
"Aku sedang melakukan 'Kebangkrutan Total'," desis Feng. Darah emas mengalir dari matanya. "Jika aku tidak ada, maka hutangmu tidak punya penagih. Dan jika tidak ada penagih, maka kau bebas, Yan Ling. Itulah bayaranku untukmu."
"Tidak! Bukan ini yang aku inginkan!" Yan Ling menjatuhkan Guqin-nya dan mencoba memeluk Feng, namun tubuh Feng sudah menjadi pusaran kehampaan yang mengerikan.
Dunia di sekitar mereka mulai runtuh sejati. Langit Puncak Awan Putih pecah berkeping-keping, memperlihatkan kekosongan di baliknya. Murid-murid sekte, Mu Yun, dan tentara Istana Karma semuanya tersedot ke dalam ketiadaan.
Namun, di tengah kehampaan itu, sebuah tangan kecil yang hangat tiba-tiba memegang tangan Feng.
Bukan Yan Ling. Bukan Yue Er.
Itu adalah Lin Xuelan.
Ia muncul kembali dari jutaan kelopak bunga teratai, namun kali ini matanya tidak lagi kosong. Cahaya di matanya adalah cahaya manusia yang penuh dengan emosi, bukan sekadar memori buatan.
"Feng... berhenti," bisik Xuelan. "Aku bukan wadah kosong. Aku adalah pilihan yang kau buat di masa depan yang kau hapus. Aku adalah sisa-sisa cinta yang kau simpan di dalam Kitab Karma-mu sendiri."
Feng tertegun. Pusaran di dadanya melambat. "Xuelan?"
"Jangan hancurkan dirimu untuk membayar masa lalu yang bahkan bukan milikmu yang sekarang," Xuelan memeluknya erat, mengabaikan energi korosif yang mulai membakar kulitnya. "Biarkan masa lalu itu mati bersama Yan Ling. Kita akan membuat hutang baru... di masa depan yang akan kita bangun sendiri."
Yan Ling, yang melihat pemandangan itu, perlahan mulai memudar. Senyum sedih muncul di wajahnya. "Jadi... kau memilih bayangan yang kau cintai sekarang daripada kebenaran yang kau miliki dulu? Baiklah, Tian Feng. Aku akan melepaskan klaimku. Tapi ingat... Surga tidak akan pernah lupa."
Yan Ling menghilang sepenuhnya menjadi cahaya putih yang menyilaukan.
Feng terbangun di tengah reruntuhan gerbang belakang sekte. Keheningan absolut telah hilang, digantikan oleh suara api yang berderak dan teriakan di kejauhan. Waktu kembali berjalan.
Xuelan terbaring di sampingnya, pingsan namun masih bernapas. Guru Lin masih mematung di tempat yang sama, seolah-olah hanya satu detik yang berlalu baginya.
Feng melihat ke dadanya. Liontin Giok itu hilang. Sebagai gantinya, terdapat sebuah tato berbentuk teratai hitam yang dikelilingi rantai emas.
Ia tidak lagi memiliki sistem karma yang memberinya instruksi. Ia tidak lagi memiliki bimbingan dari Yue Er—yang tampaknya ikut tertidur jauh di dalam jiwanya akibat benturan tadi.
Namun, ia merasakan kekuatan yang murni. Kekuatan yang bukan pinjaman, bukan hutang, melainkan miliknya sendiri yang ia tempa melalui pengorbanan barusan.
Kepala Sekte Mu Yun dan pria bertopeng dari Istana Karma mendarat di depan mereka, wajah mereka penuh kebingungan melihat fenomena yang baru saja terjadi.
"Apa yang kau lakukan, Nak?" Mu Yun gemetar. "Di mana Yan Ling? Di mana harta karun klan kami?!"
Feng berdiri perlahan, memanggul Xuelan di bahunya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tongkat kayu Guru Lin. Ia menatap mereka dengan tatapan yang sangat tenang.
"Harta kalian sudah aku sita untuk membayar kerusakan yang kalian buat," ucap Feng. "Dan mulai detik ini... Puncak Awan Putih tidak lagi memiliki Kepala Sekte."
Feng menghentakkan kakinya, dan seluruh gunung itu bergetar hebat. Jalan setapak menuju dermaga rahasia terbuka di bawah kaki mereka.
"Lari, Guru!" teriak Feng.
Namun, saat mereka mulai berlari, Feng menyadari satu hal. Di cakrawala, ribuan kapal terbang berwarna hitam dengan lambang Istana Karma yang asli—bukan sekadar utusan—mulai menutupi matahari.
Perang besar yang seharusnya terjadi bertahun-tahun kemudian, kini benar-benar pecah hari ini.