Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden kamar utama yang mewah, menyinari wajah Fharell yang masih terlelap dengan posisi memeluk guling. Malam tadi adalah malam yang panjang bagi Fharell, bukan hanya karena urusan bisnis dengan keluarga Smith yang menyita energi, tapi juga karena sesi diskusi intim dengan Paroline yang baru berakhir saat fajar hampir menyingsing.
Namun, ketenangan tidurnya terusik oleh sebuah beban kecil yang tiba-tiba mendarat di atas perutnya. Bugh!
"Wek upp Papa... Papa halus banun! Mama bilang Papa teyat!"
Fharell mengerang pelan, matanya masih terpejam rapat. Suara cempreng nan menggemaskan itu sangat ia kenali. Itu adalah Andreas Sunny, yang bentar lagi berusia tiga tahun, tapi publik taunya dia sudah berusia 3 tahun, dan bicaranya mulai mengalir deras, meski banyak huruf yang masih tertukar dan logatnya khas balita.
Sunny kini sudah berada di atas dada Fharell, kedua tangan kecilnya menepuk-nepuk pipi papanya dengan semangat. "Papa... ayo Papa! Tata Mama, Papa halus banun tata mama!"
Fharell menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan nyawanya. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang kecil Sunny, lalu menarik bocah itu ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di leher Sunny yang beraroma sabun bayi dan bedak.
"Nanti dulu, Sayang... Papa masih ingin tidur sebentar lagi. Lima menit saja," gumam Fharell dengan suara bariton yang khas orang bangun tidur.
Sunny tidak menyerah. Ia menggoyangkan bahu Fharell dengan sekuat tenaga kecilnya. "No! No lima menit! Tudah Papa banun... nanti Mama ceyewet! Mama tudah masak-masak di bawah. Papa mau di-omaya Mama?"
Fharell terkekeh pelan mendengar kata yang keluar dari mulut mungil putranya. Ia membuka satu matanya, menatap wajah Sunny yang sangat dekat. Benar kata Paroline, semakin besar, Andreas semakin terlihat seperti dirinya. Tatapan mata yang jahil itu, cara dia mengerucutkan bibir saat protes, itu benar-benar Fharell Desmon versi mini.
"Memangnya Mama bilang apa kalau Papa tidak bangun?" tanya Fharell, mulai meladeni obrolan pagi putranya.
Sunny memasang wajah serius, ia meniru gaya Paroline yang berkacak pinggang, meskipun tangannya masih memegang mobil mainan. "Mama bilang... 'Sunny, banunin Papa! Kalau Papa no banun, Papa no dapat jatah makan tian!' Gitu Papa!"
Fharell tertawa lepas, ia langsung menarik Sunny hingga mereka berguling di atas ranjang yang luas itu. "Oh, jadi ancamannya soal makanan ya? Mama memang pintar mencari kelemahan Papa."
Fharell akhirnya bangkit dari tempat tidur. Hari itu ia memiliki jadwal kuliah yang cukup padat di kampus. Meskipun ia sudah mulai memegang kendali di perusahaan keluarganya, Fharell tetap berkomitmen menyelesaikan pendidikannya tepat waktu, sebuah pembuktian pada Tuan Benedicta bahwa ia bukan sekadar berondong yang hanya mengandalkan kekayaan orang tua.
Sambil menggendong Sunny di satu pundaknya, Fharell melangkah menuju kamar mandi. "Ayo Jagoan, kita mandi bersama. Papa harus ke kampus hari ini."
"Kampus itu apa Papa? Tempat main?" tanya Sunny sambil memainkan rambut Fharell yang berantakan.
"Kampus itu tempat Papa belajar, biar Papa makin pintar, biar bisa belikan Sunny dinosaurus yang lebih besar lagi," jawab Fharell sambil mendudukkan Sunny di atas wastafel sementara ia mencuci muka.
Sunny manggut-manggut dengan wajah sok tahu. "Oke Papa. Belajal yang pintal ya. Jangan nakal tata Mama."
"Siapa yang nakal? Papa ini anak baik, Sunny," balas Fharell sambil menyapukan busa pencukur di dagunya.
"Tapi Mama bilang Papa suka gigit-gigit Mama kalau malam. Itu nakal Papa! Kayak dinosaurus!" cetus Sunny dengan polosnya.
Fharell hampir saja menyayat dagunya sendiri mendengar kejujuran luar biasa dari putranya itu. Wajahnya langsung memerah. Aduh, Paroline... kita harus lebih hati-hati kalau bicara di depan anak ini, batin Fharell sambil berdehem canggung.
Setelah mandi dan berpakaian rapi dengan kaos polo dan celana jeans yang membuatnya terlihat sangat segar, lebih mirip mahasiswa populer daripada seorang ayah, Fharell turun ke ruang makan dengan Sunny yang mengekor di belakangnya sambil membawa tas ransel kecil berisi mainan.
Di sana, Paroline sudah menunggu dengan kemeja putih yang lengannya digulung, sedang menata piring. Ia tersenyum melihat dua pria kesayangannya sudah rapi.
"Akhirnya bangun juga Sang Pangeran Tidur," goda Paroline, ia mendekat dan memberikan kecupan singkat di bibir Fharell. "Sunny hebat ya bisa membangunkan Papa."
"Hewat don Mama! Papa tadi mau tidul telus, tapi Sunny bilang Mama nanti celewet," lapor Sunny dengan bangga.
Paroline tertawa sambil melirik Fharell. "Oh, jadi aku sekarang dijuluki Mama Cerewet?"
Fharell hanya mengangkat bahu sambil nyengir, ia duduk di kursi makan dan mulai menyantap roti panggang buatan istrinya. "Anak tidak pernah bohong, Sayang. Kau memang mulai sedikit cerewet sejak kita punya rumah sendiri."
"Cerewet karena aku sayang kalian berdua," balas Paro sambil mengacak rambut Sunny.
Suasana sarapan itu terasa begitu hangat. Fharell tidak banyak bicara, ia lebih banyak memperhatikan bagaimana Sunny berusaha makan sereal sendiri dengan sendok plastiknya, sesekali belepotan di sekitar mulutnya. Fharell dengan telaten menyeka mulut Sunny dengan tisu, gerakannya begitu luwes dan penuh kasih.
Saat jam menunjukkan pukul delapan, Fharell berpamitan untuk berangkat ke kampus. Ia mengambil tas punggungnya dan kunci mobil.
Sunny berlari menuju pintu depan, mencoba memeluk kaki panjang papanya. "Papa... jangan lama-lama di kampus! Nanti main bola sama Sunny!"
Fharell berlutut, mensejajarkan tingginya dengan putra kecilnya. Ia mencium dahi Sunny dengan lama. "Iya Jagoan. Papa janji. Sore nanti kita main bola di taman belakang. Oke?"
"Oke! Janji Papa!" Sunny mengacungkan jari kelingkingnya yang mungil.
Fharell kemudian berdiri dan menatap Paroline. "Aku berangkat ya. Jaga diri baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, atau kalau si brengsek Danesha itu muncul lagi, langsung telepon aku. Aku akan langsung pulang secepat kilat."
Paroline tersenyum, mengusap rahang Fharell yang kini bersih dari jambang. "Tenang saja, Rell. Danesha tidak akan berani macam-macam. Fokuslah pada kuliahmu hari ini."
Fharell memberikan ciuman perpisahan yang manis pada istrinya, lalu melambaikan tangan pada Sunny yang masih berdiri di depan pintu. Saat Fharell berjalan menuju mobilnya, ia sempat mendengar Sunny berteriak dari ambang pintu.
"Papa! Belajal yang pintal! Jangan titip absen tata Mama!"
Fharell tertawa keras sambil masuk ke mobilnya. Astaga, Paroline benar-benar mengajarkan anak ini segala hal tentang kehidupan kampusku, pikirnya geli.
Di balik kemudi, Fharell merasa hidupnya sudah sangat lengkap. Celoteh tidak jelas dari Sunny di pagi hari adalah bahan bakar terbaiknya untuk menghadapi dunia luar. Biarpun di kampus ia harus berhadapan dengan teori-teori sulit, atau di kantor ia harus bertarung dengan strategi bisnis keluarga Smith, ia tahu bahwa ada rumah yang selalu menantinya dengan cinta dan tawa bocah kecil yang semakin hari semakin mirip dengannya itu.
Bagi Fharell, menjadi Papa muda bukan hanya tentang tanggung jawab, tapi tentang petualangan setiap harinya. Dan hari itu, ia berangkat dengan senyum yang tidak hilang-hilang dari wajahnya, memikirkan janji main bola dengan fotokopi nya sore nanti.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰