Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Bayangan di Foto Lama
Tangan Aluna gemetar.
Layar ponselnya terasa semakin berat.
Foto itu jelas. Terlalu jelas untuk disebut rekayasa biasa.
Lokasi proyek Sentral Park.
Pagar seng biru.
Lampu sorot malam.
Ambulans di kejauhan.
Dan di sisi kiri gambar—
Seorang wanita berdiri membelakangi kamera.
Rambut panjang terurai.
Blus krem.
Postur tubuh yang sangat ia kenal.
Itu dirinya.
Atau seseorang yang sangat mirip dengannya.
“Aluna?”
Suara Arkan terdengar jauh.
Lampu kamera masih menyilaukan.
Wartawan masih berteriak.
Namun dunia Aluna terasa sunyi.
“Kenapa wajahmu pucat?” tanya Arkan lagi, kini lebih dekat.
Ia menoleh perlahan, menunjukkan layar ponselnya.
Arkan membeku.
“Apa ini?”
“Aku… tidak pernah ke sana,” bisik Aluna.
Arkan menatap foto itu lebih lama.
Wajahnya berubah.
Bukan marah.
Bukan panik.
Melainkan menghitung.
“Siapa yang mengirimnya?”
“Nomor tak dikenal.”
Arkan segera menariknya menjauh dari kerumunan wartawan.
Kevin dan Surya mengikuti.
Mereka masuk kembali ke dalam rumah lama.
Pintu ditutup.
Keributan media masih terdengar samar dari luar.
“Perlihatkan,” kata Kevin.
Aluna menyerahkan ponselnya.
Kevin memperbesar gambar.
“Resolusi tinggi,” gumamnya. “Bukan hasil edit kasar.”
Surya menyipitkan mata.
“Waktu pengambilan?”
Aluna memperbesar metadata.
Tanggal.
Jam.
Lima tahun lalu.
Tepat malam kecelakaan itu.
Arkan menoleh padanya perlahan.
“Aluna… kau benar-benar tidak pernah ke sana?”
Ia menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak. Aku bersumpah.”
Ia menutup mata sejenak, mencoba mengingat.
Lima tahun lalu…
Ia masih bekerja sebagai staf administrasi kecil.
Hidup sederhana.
Tidak punya alasan mendekati proyek sebesar itu.
“Kau sedang apa malam itu?” tanya Arkan pelan.
“Aku…” Ia mengernyit. “Aku di rumah sakit.”
“Rumah sakit?”
“Ayahku sempat mengeluh pusing. Aku menemaninya cek.”
Semua terdiam.
“Jam berapa?” tanya Kevin.
Aluna menggeleng.
“Aku tidak ingat pasti.”
Surya melipat tangan.
“Memori manusia mudah dimanipulasi.”
“Jangan mulai teori gila,” potong Kevin.
“Tapi foto itu nyata,” balas Surya.
Arkan berdiri di tengah ruangan, pikirannya berputar cepat.
“Kalau ini jebakan,” katanya akhirnya, “maka targetnya bukan hanya perusahaan.”
Semua menatapnya.
“Targetnya adalah kita.”
⸻
Malam semakin larut.
Media perlahan pergi ketika tidak ada pernyataan tambahan.
Rumah kembali sunyi.
Namun ketegangan tidak mereda.
Arkan membawa Aluna ke ruang kerja lama ayahnya.
“Kita perlu tenang,” katanya lembut.
Aluna duduk perlahan.
Tangannya masih dingin.
“Arkan… bagaimana kalau aku memang pernah ke sana?”
“Tidak mungkin.”
“Tapi aku tidak ingat seluruh detail hidupku lima tahun lalu.”
Ia menatapnya dengan panik tersembunyi.
“Bagaimana kalau ada sesuatu yang terjadi… dan aku menekannya?”
Arkan berlutut di depannya.
“Dengarkan aku. Seseorang ingin membuatmu meragukan dirimu sendiri.”
“Tapi kenapa aku?”
“Karena kau adalah titik terlemahku.”
Jawaban itu jujur.
Dan menyakitkan.
Aluna menunduk.
Air mata akhirnya jatuh.
“Kalau aku terlibat dalam kematian Ayahku sendiri tanpa sadar…”
Arkan langsung memegang wajahnya.
“Kau tidak mungkin melukainya.”
“Bagaimana kau bisa yakin?”
“Karena aku mengenalmu.”
Hening.
Namun di luar keyakinan itu, keraguan kecil mulai tumbuh di sudut pikirannya.
⸻
Sementara itu, di ruang tamu—
Kevin dan Surya berbicara pelan.
“Ini bukan permainan Pak Wijaya lagi,” kata Kevin serius.
Surya mengangguk.
“Dia tidak akan melibatkan wanita itu.”
“Jadi siapa?”
Surya terdiam.
Lalu berkata pelan, “Seseorang yang tahu bahwa memori bisa dihancurkan.”
Kevin menoleh tajam.
“Kau mencurigai apa?”
Surya tidak menjawab langsung.
“Kau ingat kebakaran kecil di gudang proyek tiga hari sebelum kecelakaan?”
Kevin mengangguk pelan.
“Ada satu korban luka ringan malam itu.”
“Siapa?”
“Seorang wanita. Tapi identitasnya tidak pernah dipublikasikan.”
Kevin membeku.
“Jangan bilang…”
Surya menatapnya dalam.
“Ada kemungkinan Aluna pernah berada di lokasi itu sebelum kecelakaan.”
⸻
Arkan kembali ke ruang tamu bersama Aluna.
“Kita akan periksa rekam medis malam itu,” katanya tegas. “Jika kau di rumah sakit, pasti ada data.”
Kevin langsung mengangguk.
“Saya bisa akses database lama.”
“Lakukan.”
Beberapa menit kemudian, Kevin membuka laptopnya.
Ia memasukkan nama lengkap Aluna.
Mencari tanggal lima tahun lalu.
Hasil muncul.
Rekam kunjungan rumah sakit.
Tanggal sesuai.
Jam masuk: 18.42.
Jam keluar: 20.05.
Arkan menghela napas lega.
“Kecelakaan terjadi pukul 22.30,” katanya.
Aluna memejamkan mata, sedikit tenang.
“Jadi aku tidak mungkin di proyek.”
Kevin mengangguk.
“Terlalu jauh jaraknya.”
Namun Surya belum terlihat puas.
“Kecuali…”
Semua menoleh padanya.
“Kecuali ada dua lokasi.”
Keheningan kembali turun.
“Apa maksudmu?” tanya Arkan.
Surya berdiri perlahan.
“Proyek Sentral Park memiliki gudang penyimpanan material sementara di sisi timur kota. Tidak jauh dari rumah sakit tempat Aluna berada.”
Darah Aluna terasa dingin.
“Dan kebakaran kecil itu terjadi di gudang,” lanjut Surya.
Kevin cepat mengetik sesuatu.
“Gudang terbakar pukul 21.10,” gumamnya.
Semua terdiam.
Rumah sakit selesai pukul 20.05.
Gudang hanya dua puluh menit dari sana.
Aluna merasa napasnya hilang.
“Aku… tidak ingat.”
Arkan menatapnya dalam.
“Kau mungkin hanya lewat.”
“Atau mungkin terlibat,” bisik suara kecil di kepalanya.
Tiba-tiba ponsel Kevin berdering.
Ia mengangkatnya.
Wajahnya berubah pucat.
“Ya?”
Hening.
“Apa?”
Ia berdiri.
“Apa maksud Anda, file itu hilang?!”
Semua menoleh.
Kevin menutup telepon perlahan.
“Rekam CCTV rumah sakit malam itu… baru saja dihapus.”
Udara terasa membeku.
“Baru saja?” ulang Arkan.
“Lima belas menit lalu.”
Aluna menutup mulutnya.
Itu berarti—
Seseorang sedang mengawasi mereka secara real time.
Surya menghela napas berat.
“Permainan ini lebih dalam dari yang kita kira.”
Arkan meraih ponsel Aluna lagi.
Nomor tak dikenal itu masih aktif.
Ia mengetik cepat:
Siapa kau?
Beberapa detik.
Balasan datang.
Orang yang tahu siapa dia sebenarnya.
Arkan menggenggam ponsel lebih erat.
Apa maksudmu?
Balasan berikutnya membuat darah mereka membeku.
Aluna tidak pernah hanya seorang staf administrasi.
Semua menatap layar itu.
Aluna menggeleng pelan.
“Itu bohong.”
Namun jantungnya berdetak terlalu keras untuk sekadar kebohongan.
Pesan terakhir masuk.
Jika kau ingin tahu kebenaran tentang malam itu… tanyakan padanya tentang bekas luka di pergelangan tangan kirinya.
Aluna membeku.
Arkan menoleh perlahan.
“Bekas luka?”
Aluna refleks memegang pergelangan tangan kirinya.
Di sana—
Ada bekas luka tipis memanjang.
Ia selalu mengira itu akibat pecahan kaca saat remaja.
“Aluna…” suara Arkan nyaris berbisik.
Ia mengangkat lengan itu perlahan.
Bekas luka itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu.
Surya menatapnya tajam.
“Itu bukan luka pecahan kaca.”
“Lalu apa?” bisik Aluna.
Kevin menjawab pelan.
“Itu luka bakar ringan akibat ledakan kecil.”
Dunia terasa runtuh untuk kedua kalinya.
Aluna teringat samar-samar bau asap.
Suara ledakan kecil.
Seseorang menariknya menjauh.
Teriakan.
Lalu kosong.
“Kenapa aku tidak ingat?” suaranya pecah.
Arkan memeluknya erat.
“Kita akan cari tahu.”
Namun di sudut ruangan, ayah Arkan—yang masih berdiri diam sejak tadi—akhirnya berbicara.
“Aku tahu kenapa.”
Semua menoleh.
Tatapannya kini bukan dingin.
Melainkan penuh perhitungan.
“Karena seseorang menghapusnya dari hidupmu.”
“Siapa?” tanya Arkan tajam.
Pria itu menatap Aluna.
“Orang yang paling kau percaya malam itu.”
Ruangan kembali sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
Aluna merasa bukan hanya masa lalunya yang diragukan.
Melainkan identitasnya sendiri.
Siapa dirinya sebenarnya?
Dan kenapa ia berada begitu dekat dengan proyek itu sebelum tragedi terjadi?
Di luar rumah, angin malam berhembus lebih kencang.
Dan di dalam ruangan—
Semua mulai menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada kematian.
Kebenaran.
END BAB 11 🔥