NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

BAB 22

JEMBATAN MUDA

​Singapura di malam hari adalah labirin cahaya, dan bagi Adrian Aratama, setiap labirin pasti memiliki pintu keluar. Jika pintu utama menuju hati Aisha dijaga ketat oleh prinsip dan cadar, maka Adrian memutuskan untuk mencari "pintu samping". Dan pintu itu bernama Fikri.

​Setelah insiden cemburu buta yang memalukan di restoran tadi siang, Adrian menyadari satu hal strategis: Fikri bukan sekadar pengawal, dia adalah filter informasi. Jika Adrian ingin memenangkan peperangan melawan Ustadz Salman yang sudah memiliki "jalur hijau" dari sang ayah, ia harus memiliki sekutu di dalam benteng keluarga Humaira.

​"Sarah, batalkan reservasi makan malamku dengan dewan direksi Marina Bay," ucap Adrian saat mereka berjalan melintasi lobi hotel yang megah.

​"Tapi Pak, mereka sudah menunggu untuk membahas fase kedua—"

​"Katakan aku ada urusan darurat mengenai 'investasi jangka panjang'. Dan tolong cari tahu di mana adik Aisha berada sekarang."

​Sepuluh menit kemudian, Adrian menemukan Fikri sedang duduk sendirian di Digital Art Canvas yang terletak di The Shoppes. Pemuda itu tampak asyik mensketsa sesuatu di tablet grafisnya, sementara Aisha sedang beristirahat di kamar hotel karena kelelahan.

​Adrian mengatur napasnya. Ia menanggalkan jasnya, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia ingin tampak seperti "pria biasa", meski jam tangan dan sepatunya tetap memancarkan aura miliarder.

​"Boleh aku duduk di sini?" tanya Adrian, suaranya dibuat seramah mungkin.

​Fikri mendongak, matanya membelalak sedikit. "Eh, Pak Adrian? Oh, silakan, Pak. Silakan."

​Adrian duduk di bangku kayu minimalis di samping Fikri. Ia melirik layar tablet pemuda itu. "Desain karakter? Garis-garismu sangat dinamis. Kau punya bakat di komposisi visual."

​Fikri tersenyum malu-malu. "Hanya hobi, Pak. Tidak sehebat Kak Aisha yang bisa membangun gedung sungguhan. Saya cuma membangun dunia khayalan."

​"Dunia khayalan terkadang lebih jujur daripada dunia nyata, Fikri," sahut Adrian filosofis. Ia diam sejenak, membiarkan suasana mencair. "Maaf soal tadi siang. Aku... aku sedang sangat tertekan dengan urusan proyek, jadi aku agak sensitif terhadap orang asing di sekitar timku."

​"Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti. Kak Aisha memang sering bilang kalau Pak Adrian itu orangnya... disiplin tinggi," jawab Fikri, memilih kata yang aman untuk menyebut 'pemarah'.

​Adrian terkekeh. "Disiplin tinggi, ya? Itu cara halus untuk bilang aku menyebalkan. Katakan padaku, Fikri... apa lagi yang Kakakmu ceritakan tentang aku di rumah?"

​Fikri tampak ragu sejenak, namun keramahan Adrian yang tidak biasa ini membuatnya merasa nyaman. "Kak Aisha jarang bicara tentang orang, Pak. Tapi akhir-akhir ini, dia lebih sering menyebut nama Bapak dalam doa setelah sholatnya. Eh... maksud saya, dia mendoakan agar proyeknya lancar dan pimpinannya diberi hidayah. Itu standar Kak Aisha, sih."

​Hati Adrian bergetar mendengar kata 'doa'. "Hidayah, ya? Dia memang sangat gigih ingin mengubahku."

​"Bukan mengubah, Pak. Kak Aisha itu tipenya tidak suka melihat sesuatu yang 'patah'. Dia melihat Bapak seperti gedung yang megah tapi... apa ya istilahnya... sistem sirkulasi udaranya mampet? Terasa sesak di dalam."

​Adrian tertegun. Analogi itu sangat akurat. "Dia benar. Dan aku butuh bantuan untuk memperbaiki sirkulasi itu." Adrian mencondongkan tubuh, suaranya merendah. "Fikri, aku ingin jujur padamu. Aku sangat mengagumi kakakmu. Lebih dari sekadar arsitek."

​Fikri menghentikan gerakan penanya. Ia menatap Adrian dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi dewasa. "Saya tahu, Pak. Tatapan Bapak di bandara tadi tidak bisa berbohong. Tapi Bapak tahu kan, posisi Kak Aisha sekarang?"

​"Tentang Ustadz Salman?"

​Fikri mengangguk lesu. "Ayah sangat menyukai Salman. Dia dianggap sebagai 'obat' untuk masa lalu keluarga kami yang pahit. Ayah dulu adalah pengusaha sukses, Pak. Tapi dikhianati oleh rekan bisnisnya sendiri hingga jatuh miskin dan stroke. Sejak itu, Ayah benci dunia korporat yang kotor. Dia ingin Kak Aisha menikah dengan orang agama agar hidupnya tenang."

​Adrian merasakan dentuman di kepalanya. Dikhianati rekan bisnis. Ia merasa harus menggali lebih dalam. "Siapa rekan bisnis itu? Apa kau tahu namanya?"

​"Saya masih kecil waktu itu, Pak. Tapi Ayah selalu menyebut satu nama: 'Aratama'. Tunggu..." Fikri tiba-tiba membeku, matanya menatap Adrian dengan ngeri. "Aratama Group... itu perusahaan Bapak?"

​Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Adrian merasakan keringat dingin di tengkuknya. Ia baru saja menyadari bahwa ia mungkin sedang jatuh cinta pada putri dari orang yang ayahnya—atau kakeknya—hancurkan di masa lalu. Inilah alasan mengapa ayah Aisha begitu membencinya tanpa mengenalnya.

​"Aku... aku harus memeriksa sejarah perusahaanku, Fikri," suara Adrian bergetar. "Tapi dengarkan aku. Jika itu benar terjadi, itu bukan perbuatanku. Aku ingin memperbaiki segalanya."

​Fikri tampak bingung dan takut. "Pak, kalau Ayah tahu Kak Aisha bekerja untuk orang yang menghancurkannya, Ayah akan memintanya berhenti detik ini juga."

​"Itulah sebabnya aku butuh bantuanmu, Fikri," Adrian memegang bahu Fikri, kali ini dengan urgensi yang nyata. "Jangan beritahu siapa pun dulu. Biar aku yang mencari kebenarannya. Aku ingin menebus kesalahan masa lalu itu, tapi aku juga ingin mendapatkan kesempatan untuk membahagiakan kakakmu."

​Fikri menatap tangan Adrian di bahunya. "Kenapa Bapak begitu terobsesi pada Kak Aisha? Bapak punya segalanya. Bapak bisa dapat wanita mana saja di Singapura ini."

​"Karena hanya kakakmu yang melihatku bukan sebagai 'Pak Adrian sang CEO', tapi sebagai pria yang butuh diperbaiki," jawab Adrian tulus. "Dia satu-satunya orang yang tidak bisa kubeli, dan itu membuatku menyadari bahwa dia adalah satu-satunya yang kubutuhkan."

​Fikri menghela napas panjang. Sebagai anak muda yang tumbuh di era modern, ia merasa kasihan pada kakaknya yang selalu mengutamakan bakti daripada keinginan hati. "Kak Aisha sebenarnya tidak mencintai Salman, Pak. Dia menghormatinya, ya. Tapi mencintai? Saya tidak pernah melihat matanya berbinar seperti saat dia sedang berdebat dengan Bapak lewat telepon."

​Harapan muncul kembali di hati Adrian. "Benarkah?"

​"Iya. Tapi di keluarga kami, restu Ayah adalah hukum Tuhan. Jika Bapak ingin restu itu, Bapak harus menjadi lebih dari sekadar kaya. Bapak harus bisa meruntuhkan kebencian Ayah pada masa lalu."

​Adrian mengangguk mantap. "Aku akan melakukannya. Apa pun taruhannya."

​Adrian kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama pribadi, namun di belakangnya ia menuliskan nomor telepon rahasianya. "Gunakan ini jika kau butuh sesuatu, atau jika ada perkembangan tentang Salman di rumah. Anggap aku sebagai kakakmu juga, Fikri. Aku akan mendukung kuliahmu, kariermu, apa pun... bukan sebagai sogokan, tapi sebagai jembatan."

​Fikri menerima kartu itu. "Saya tidak janji bisa membantu banyak, Pak. Tapi saya juga ingin melihat Kak Aisha bahagia dengan pilihannya sendiri, bukan karena terpaksa."

​Pertemuan itu berakhir dengan sebuah kesepakatan diam-diam. Adrian kembali ke kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia segera menelepon tim riset arsip perusahaannya di Jakarta.

​"Cari semua data mitra bisnis Aratama Group tiga puluh tahun yang lalu. Cari nama 'Humaira' atau 'Zulkifli'. Aku mau laporannya besok pagi!"

​Malam itu, Adrian tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon hotelnya, menatap ke arah kamar Aisha yang lampunya sudah padam. Ia menyadari bahwa ia bukan hanya sedang mengejar cinta, tapi sedang menggali kuburan masa lalu yang mungkin akan meledak di mukanya.

​Namun, ia merasa lebih bersemangat daripada saat ia memenangkan tender triliunan rupiah. Ia telah menemukan "sekutu", ia telah menemukan "kunci" rahasia, dan ia telah menemukan alasan baru untuk berjuang.

​"Jika namaku adalah alasan ayahmu hancur, Aisha," bisik Adrian pada angin malam Singapura, "maka namaku juga yang akan menjadi alasan ayahmu kembali tegak. Aku akan membangun kembali apa yang telah dihancurkan oleh keluargaku, termasuk hatimu."

​Adrian menyadari bahwa perjalanannya di Singapura ini telah berubah dari sekadar studi banding menjadi misi penyelamatan. Dan dengan Fikri di sisinya, ia merasa memiliki peluang—sekecil apa pun itu—untuk meruntuhkan tembok yang dibangun oleh rasa sakit masa lalu.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!