"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: SANGKAR EMAS YANG DINGIN
Hening.
Itu hal pertama yang menyambut kesadaran Ghea. Tapi bukan hening yang damai, melainkan jenis kesunyian yang menindih paru-paru, seolah udara di ruangan itu berubah jadi beban berat yang harus dihirup paksa.
Ghea mencoba membuka mata, tapi kelopak matanya terasa seperti dilem. Berat sekali. Begitu berhasil terbuka sedikit, kepalanya langsung berdenyut hebat. Rasanya seakan ada ribuan jarum yang menusuk saraf otaknya secara bersamaan.
"Nnggghhhh..." sebuah rintihan parau keluar dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah.
Ghea mengerjap berkali-kali. Hal pertama yang tertangkap matanya adalah langit-langit kamar dengan ukiran gypsum mewah dan sebuah lampu kristal megah yang menggantung diam di sana. Cahaya matahari menyeruak masuk melalui celah gorden beludru abu-abu, terasa menyilaukan bagi matanya yang baru saja terbangun.
Tubuhnya terasa remuk. Saat Ghea mencoba bangkit, rasa pening yang luar biasa justru menghantam, membuatnya terhempas kembali ke tumpukan bantal sutra yang empuk. " Ah.. Sial! Kepalaku!" bathinnya. Tangannya terangkat menyentuh kepala, meraba lilitan kasar kain kasa yang membungkus keningnya.
Siapa aku? Di mana ini?
Dua pertanyaan itu muncul di benaknya, namun tak ada jawaban. Semuanya kosong. Seolah seluruh kisah hidup yang pernah ia lalui habis terhapus begitu saja. Ghea mencoba mengingat nama, wajah orang tua, atau sekadar warna kesukaan, tapi nihil. Hanya rasa sakit yang terus berdenyut-denyut.
Cklek.
Suara pintu terbuka membuat Ghea tersentak. Ia menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria masuk dengan langkah tenang. Tubuhnya tinggi, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan emas yang berkilau mahal di pergelangan tangannya.
Ghea terpaku. Wajah pria itu memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan mata hitam yang terlihat begitu dalam. Tatapan yang sebenarnya bisa membuat siapa pun tenggelam, namun entah kenapa membuat Ghea merasa gelisah.
Pria itu membawa nampan berisi semangkuk bubur yang mengepul dan segelas air putih. Melihat Ghea sudah sadar, langkahnya yang tadinya santai berubah jadi agak terburu-buru.
"Ghea? Sayang, kamu sudah bangun?"
Suaranya rendah, lembut, dengan nada bariton yang terdengar menenangkan. Pria itu duduk di tepi ranjang, menaruh nampan di nakas, lalu segera meraih tangan Ghea. Tangannya terasa dingin, namun genggamannya sangat erat. Seolah ia takut Ghea akan menghilang jika dilepaskan.
"Si... siapa kamu?" suara Ghea parau, nyaris hilang di tenggorokan.
Pria itu terdiam sejenak. Sorot matanya menunjukkan kesedihan yang sekilas, namun segera tertutup oleh senyuman tipis yang manis.
"Ini aku, Adrian. Tunanganmu, Sayang," ucapnya lembut sembari mengelus punggung tangan Ghea dengan ibu jarinya.
"Kamu mengalami kecelakaan mobil yang hebat, Ghea. Dokter bilang ada benturan di kepalamu yang bikin kamu amnesia retrograde. Tapi kamu nggak perlu takut. Ada aku di sini. Aku nggak akan membiarkan apa pun menyakitimu lagi."
Tunangan? Kata itu terasa asing di telinga Ghea. Ia menatap wajah tampan Adrian, tipe pria yang mungkin dipuja banyak wanita. Tapi anehnya, saat tangan kekar itu menyentuh kulitnya, ada semacam alarm di kepala Ghea yang berbunyi nyaring. Ghea ragu, benarkah pria ini tunangannya?
"Aku... aku nggak ingat apa-apa," bisik Ghea pelan. Matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi dengan ingatannya sendiri.
Tangan Adrian bergerak, menyelipkan helaian rambut Ghea ke belakang telinga. "Kamu nggak perlu ingat dunia luar yang jahat itu. Kamu cukup ingat aku saja. Di villa ini kamu aman. Cuma ada aku dan kamu di sini."
Adrian kemudian menyuapi Ghea dengan penuh kesabaran. Gerakannya pelan dan hati-hati. Ghea hanya diam, mencoba memproses setiap cerita Adrian tentang bagaimana mereka bertemu dan rencana pernikahan mereka bulan depan.
Namun, di tengah cerita itu, Ghea merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah paha kirinya, di balik selimut. Sesuatu yang keras dan kecil. Sambil tetap berpura-pura menyimak, tangan kiri Ghea bergerak pelan meraba benda tersebut.
Bentuknya pipih, dingin, dan kaku. Ghea terus meraba, merasakan sudut-sudut tajam yang membentuk pola bintang.
Lencana? bathinnya.
"Kamu terlihat pucat, Sayang. Istirahat lagi ya," ucap Adrian dengan nada manis. Ia mengecup kening Ghea cukup lama—sebuah kecupan yang terasa seperti stempel kepemilikan.
"Aku harus urus pekerjaan di bawah. Bi Inah akan datang untuk mengganti perbanmu."
Adrian beranjak, tapi sebelum pergi, ia memberikan satu tatapan yang sulit diartikan. Tatapan memuja, namun terasa gelap dan mengintai. Begitu ia keluar, terdengar suara yang membuat jantung Ghea mencelos.
Klik.
Pintu dikunci dari luar. Kenapa seorang tunangan harus mengunci pintu kamar?
Dengan sisa tenaganya, Ghea menyibak selimut dan mengambil benda itu. Matanya membelalak. Itu adalah lencana kepolisian yang sudah retak dengan bercak darah kering di sudutnya. Di baliknya terukir sebuah nama: Ghea Zanna - Unit Jatanras.
Ghea gemetar hebat. Jika ia seorang detektif, kenapa Adrian bilang ia hanya warga sipil yang sedang berlibur?
Ia memaksa kakinya yang lemas untuk berjalan ke jendela. Saat menyibak gorden abu-abu itu, Ghea tertegun. Di luar bukan tempat liburan yang indah, melainkan hutan pinus lebat yang dikepung pagar kawat tinggi dengan kamera pengawas di mana-mana.
Ini bukan villa pemulihan. Ini penjara mewah.
Tiba-tiba, suara langkah kaki kembali mendekat. Ghea buru-buru menyembunyikan lencana itu di bawah bantal dan pura-pura tidur. Pintu terbuka, tapi kali ini bukan langkah Adrian.
"Aku tahu kamu sudah bangun, Detektif..."
Suara itu berupa bisikan wanita yang gemetar. Ghea membuka matanya sedikit dan melihat Bi Inah, si pelayan tua, berdiri di sana dengan wajah pucat pasi dengan pakaiannya yang begitu lusuh. Saat pelayan tua itu membungkuk untuk mengganti perban, Bi Inah membisikkan sesuatu yang membuat darah Ghea membeku.
"Jangan percaya padanya. Dia bukan tunanganmu. Dia pria yang kamu buru selama ini."
Ghea tersentak, namun pintu kembali terbuka lebar sebelum ia sempat bertanya. Adrian berdiri di sana dengan senyum yang tidak lagi mencapai matanya. Di tangannya, ia memegang pisau kecil pengupas buah.
"Bi Inah, bukankah sudah kukatakan jangan mengajak tunanganku bicara terlalu banyak?"
Ghea melihatnya—kilatan kegilaan di mata Adrian. Ia sadar, amnesia ini adalah jebakan, dan ia baru saja terbangun tepat di pelukan monster yang seharusnya ia tangkap.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....