NovelToon NovelToon
Tanda Huruf 'S' & Misteri Kayu Ilegal

Tanda Huruf 'S' & Misteri Kayu Ilegal

Status: tamat
Genre:Misteri / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.

Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.

Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 (thirty)

Lift baja itu turun dengan kecepatan yang stabil, namun bagi Ratna, setiap detiknya terasa seperti beban berton-ton yang menekan pundaknya. Lampu indikator lantai di atas pintu lift tidak menunjukkan angka, melainkan simbol-simbol kimia dan rangkaian saraf yang berkedip biru dingin. Di dalam ruang sempit itu, aroma ozon dan pembersih lantai rumah sakit menyeruak, menghapus bau hutan jati dan keringat yang sejak tadi melekat di tubuhnya.

Ratna menatap pantulan dirinya di dinding krom lift. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan gaun merahnya kini hanyalah kain kotor yang menempel di tubuh yang lelah. Namun, matanya mata Sang Jenderal tetap berkilat tajam. Ia meraba saku rahasianya, memastikan flash drive perak dari Ki Ageng masih ada di sana. Itulah satu-satunya "granat" yang ia miliki untuk menghancurkan tempat ini jika segalanya gagal.

Ting.

Pintu lift terbuka.

Ratna melangkah keluar ke sebuah ruangan yang sangat luas, sebuah aula bawah tanah yang disebut sebagai The Nest. Lantainya terbuat dari marmer hitam yang mengkilap hingga bisa memantulkan cahaya lampu neon putih di langit-langit yang sangat tinggi. Di sepanjang dinding, terdapat tabung-tabung silinder kaca raksasa berisi cairan hijau kental. Di dalam setiap tabung, sesosok wanita mengapung tanpa busana, dengan selang-selang terhubung ke tulang belakang mereka.

Semuanya memiliki wajah yang sama. Wajah Siska.

"Selamat datang di masa depan, Jenderal," sebuah suara bergema dari sistem pengeras suara tersembunyi. Bukan suara mekanis, melainkan suara lembut yang penuh dengan nada kemenangan.

Di ujung aula, di atas sebuah podium yang dikelilingi oleh layar monitor raksasa, berdiri sosok wanita yang sangat akrab. Dia mengenakan setelan jas putih yang rapi, tanpa noda sedikit pun. Rambutnya disanggul sempurna. Dia adalah Siska—atau setidaknya, dia adalah Siska Prime, prototipe asli yang menjadi otak dari seluruh operasi ini.

"Di mana Ibu dan Bagas?" tanya Ratna, suaranya tetap tenang meski hatinya bergejolak.

Siska Prime menjentikkan jarinya. Sebuah layar raksasa di belakangnya menyala, menampilkan ruangan putih tempat Sarah dan Bagas ditahan. Mereka tampak tertidur, kemungkinan besar karena pengaruh gas penenang.

"Mereka aman, selama kau kooperatif," ujar Siska Prime sambil melangkah turun dari podium. "Kau tahu, Ratna... aku sudah lama mengamatimu. Sejak kau bangkit dari meja otopsi di Jakarta. Aku terpesona. Bagaimana mungkin sebuah jiwa dari masa lalu bisa menempati wadah yang begitu lemah dan mengubahnya menjadi mesin perang?"

Ratna mencoba melangkah maju, namun tiba-tiba lantai di bawah kakinya memancarkan cahaya merah. Sebuah medan elektromagnetik berkekuatan tinggi aktif seketika. Tubuh Ratna mendadak kaku, otot-ototnya terkunci oleh arus listrik frekuensi rendah yang mengganggu sistem sarafnya. Ia jatuh berlutut, mengerang menahan sakit yang luar biasa.

"Jangan memaksakan diri," Siska Prime mendekat, menatap Ratna dengan rasa ingin tahu yang dingin. "Medan ini dirancang khusus untuk mengacaukan 'frekuensi' jiwamu. Kami menyebutnya The Soul Cage."

Dua kloning berseragam taktis muncul dari bayang-bayang, menyeret Ratna menuju sebuah kursi medis di tengah ruangan. Mereka mengikat tangan dan kakinya dengan sabuk logam yang sangat kuat. Ratna mencoba melawan, namun setiap gerakan ototnya justru memicu sengatan listrik yang lebih besar dari kursi tersebut.

"Kau pikir kau bebas karena bantuan Selina?" Siska Prime tertawa, suara tawa yang hampa. "Selina adalah adikku yang malang. Dia pikir dia sedang bermain catur denganmu sebagai pionnya. Dia tidak sadar bahwa aku membiarkannya membantumu hanya agar kau sampai ke sini dengan data yang lebih lengkap. Kau adalah 'update' yang aku butuhkan untuk versi 1.0."

Siska Prime memberi isyarat kepada seorang teknisi yang mengenakan masker. Sebuah perangkat helm perak diturunkan dari langit-langit, dipasang dengan paksa ke kepala Ratna. Puluhan jarum mikro menusuk kulit kepalanya, mencari jalur saraf menuju otak.

"Aaaarrghh!" Ratna berteriak saat gelombang data mulai dipaksa masuk ke dalam kesadarannya.

Di layar monitor, ribuan gambar mulai muncul dengan kecepatan tinggi. Kenangan Ratna sebagai jenderal di medan perang masa lalu bercampur dengan memori detektif Ratna di masa sekarang. Peta strategi, teknik beladiri, taktik gerilya, hingga perasaan cintanya pada Sarah dan Bagas semuanya sedang disedot keluar secara digital.

"Proses ekstraksi memori: 15%," lapor sang teknisi.

Ratna merasa otaknya seolah sedang diaduk oleh pisau panas. Di tengah rasa sakit itu, ia mencoba fokus pada latihan meditasi militer kuno yang pernah ia pelajari. Ia mencoba membangun "benteng pikiran", menyembunyikan bagian paling krusial dari strateginya di balik lapisan rasa sakit.

"Kau sangat kuat, Jenderal," Siska Prime mengamati grafik gelombang otak Ratna yang tidak stabil. "Bahkan di bawah tekanan seperti ini, kau masih mencoba melawan. Tapi kau harus tahu... semakin kau melawan, semakin banyak kerusakan yang akan diderita oleh otak biologismu. Jika kau tidak menyerah, kau akan berakhir sebagai cangkang kosong seperti mereka yang ada di dalam tabung itu."

Tiba-tiba, lampu di laboratorium itu berkedip. Suara statis terdengar di telinga Siska Prime.

"Kakak... kau selalu saja terburu-buru," suara Selina terdengar melalui jalur komunikasi pribadi Siska.

Siska Prime mengerutkan kening. "Selina? Bagaimana kau bisa meretas jalur ini?"

"Aku tidak meretasnya. Aku yang membangunnya, ingat? Kau mungkin punya tentara, tapi aku punya kuncinya. Ratna bukan milikmu. Dia adalah subjek uji coba yang aku asah untuk tujuanku sendiri."

Ratna, di tengah kesadarannya yang mulai memudar, mendengar percakapan itu. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: dia benar-benar berada di tengah-tengah perseteruan dua monster yang berebut untuk memilikinya. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar berpihak padanya.

"Ekstraksi memori: 40%," teknisi itu kembali melapor.

Wajah Ratna mulai membiru. Napasnya tersengal-sengal. Di dalam kepalanya, ia mulai melihat bayangan dirinya yang lama sang Jenderal pria berdiri di tengah padang rumput yang luas.

"Jangan menyerah, Jenderal," bayangan itu berbisik. "Seorang jenderal tidak akan kalah di dalam penjara. Cari celahnya. Gunakan kelemahan mereka."

Ratna menyadari bahwa mesin ekstraksi ini bekerja dua arah. Jika mereka menyedot datanya, berarti ada jalur data yang terbuka dari server pusat menuju otaknya. Dengan sisa kekuatan mentalnya, ia tidak lagi mencoba menahan data yang keluar. Sebaliknya, ia membiarkan datanya mengalir deras, namun ia menyelipkan "virus" pikiran sebuah algoritma taktik yang salah ke dalam aliran tersebut.

Di saat yang sama, ia mengirimkan sinyal mental kepada Hendra melalui chip yang masih tertanam di lehernya, sebuah sinyal darurat yang berarti:

AKTIFKAN PROTOKOL PEMICU.

Di luar gedung, Teguh yang sedang menunggu di dalam kegelapan melihat sebuah drone kecil milik Hendra terbang menuju pemancar satelit di atap pabrik.

"Ada yang salah!" teriak teknisi itu. "Data yang masuk terkontaminasi! Pola taktiknya berubah menjadi kacau!"

Siska Prime mendekati kursi Ratna, wajahnya penuh amarah. "Apa yang kau lakukan, Jenderal?!"

Ratna tersenyum lemah, darah mengalir dari hidungnya. "Seorang... jenderal... tidak pernah memberikan... peta yang benar... kepada musuh."

Brak!

Tiba-tiba, pintu laboratorium meledak. Bukan oleh Teguh, melainkan oleh ledakan dari dalam sistem. Selina telah mengaktifkan protokol sabotase jarak jauh. Alarm merah menyala di seluruh ruangan.

"Maaf, Kakak," suara Selina terdengar sangat dingin. "Jika aku tidak bisa memiliki Ratna, maka kau juga tidak boleh memilikinya."

Siska Prime berteriak marah, memerintahkan pasukannya untuk mengamankan data yang tersisa. Namun, proses ekstraksi yang terputus secara paksa menciptakan kejutan balik listrik yang menghantam otak Ratna.

Ratna terkulai lemas di kursi. Dunianya menjadi hitam. Hal terakhir yang ia dengar adalah suara langkah kaki yang mendekat dan suara Siska Prime yang berteriak memerintahkan untuk memindahkan subjek ke sektor karantina terdalam.

Sang Jenderal akhirnya takluk, terbelenggu di jantung sarang musuh. Namun, di tangannya yang terkepal erat, ia masih memegang kunci yang belum sempat mereka temukan. Perang sesungguhnya baru saja dimulai di dalam kegelapan total.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sungguh akhir yg sangat indah😭😭 pada akhirnya, Ratna bisa kembali pulang dan bisa berkumpul dengan orang² terkasihnya😭😭
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini thor🤧
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: awww sama sama🥰 aku juga gk mw sad ending🤧🤧🤧
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Tahun 2035,dan aku masih kepikiran: Hendra, teguh, Ares, tidak beristri😭😭

Makasih Othor untuk ceritanya yang setiap bab selalu bikin degdegan, tegang dan tertawa pastinya...
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: auuu terimakasih 🥰🥰🥰
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Halahhh, jangan kasih bakso tuh si hendra, guhh
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣🤣🤣 biar kelaparan 🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Aku kemarin2 nunggu mbah Mansyur, aku kira dia udah isthettttt🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: masih kok masih hidup
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Othorrrr/Curse/ masa bahas bakso jam segini, aku jadi ngiler/Scream/
makasih buat double upnya thor/Kiss/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: iya🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Au ahh aku mewek😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: yg sanar sabar🤣🤧
total 1 replies
yosh—
👍👍👍👍👍
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
booom apa Ratna atau jendral ikut meledak mati 😱🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
serius gw ikut ketawa gara gara gerutuan Ares sama kolonel Baskoro 🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Halahhh pak Tua😭😭🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan eh🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Ya lagiann warna ungu banget ya Res, bikin sakit mata🤣😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: nah iya thu😐🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
yang penting bukan dugong
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: buhahahhaha🤣🤣🤣
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
biar kalian ada kerjaan
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: jangan keras keras atuh🤣
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
suka2 dia lah mau warna apa juga 🤨
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: 😱 asal jangan pink anu ehhh🏃🏃🏃
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Hehh sempet²nya pak tua satu ini/Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: mmg dasar mata makanna😐🤣
total 1 replies
Rembulan menangis
aku fikir ending nya si ratna dan teguh bisa mnagkap para pnjilat dan pnjahat dan mmasukkan k pnjara sesuai hukum krn judul nya kan tntg kayu ilegal
gk taunya jdi crita kyak film robot²
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/Kan itu juga termasuk berhasil, bu jenderal
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣🤣🤣 betul itu betul
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Halahhh, aku pun rindu sama aksi kalian berdua, Guh. maksudku pak Pol
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ratna tidak benar² pergi, ia masih tetap ada diantara kalian. Melindungi dan melihat kalian dari kejauhan🤧
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: jadi hantu di satelit
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ntun kenapa sih, kok gak ada notif ini up🤧
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Malahan tadi sempet gak bisa komen
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!