NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:936
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pagi itu, suasana di kediaman Markus terasa sangat tegang.

Markus mondar-mandir di ruang tamu dengan napas memburu, sementara Sarah duduk di sofa sambil terus memantau pergerakan di media sosial.

"Mas, kamu harus bergerak cepat!" seru Sarah dengan nada mendesak.

"Tim legal Arkatama mulai bergerak di media. Kalau kita tidak membuat narasi duluan bahwa mereka menyekap istri dan calon anakmu, posisi kita akan hancur saat Relia mulai bicara!"

Markus berhenti melangkah, matanya berkilat penuh amarah dan keserakahan.

"Aku sudah menghubungi tiga stasiun televisi dan beberapa portal berita besar. Mereka akan ikut ke mansion Arkatama pagi ini. Aku akan berakting sebagai ayah yang terzalimi. Publik tidak akan peduli pada masa lalu jika mereka melihat seorang suami yang dilarang bertemu istrinya yang sedang hamil!"

Markus masih merasa berada di atas angin. Ia tidak tahu bahwa benih yang ia banggakan sebagai "tiket emas" itu sudah tidak ada lagi.

Sementara itu, di Rumah Sakit Arkatama, suasana jauh lebih tenang namun khidmat.

Dokter telah melakukan pemeriksaan terakhir dan menyatakan kondisi fisik Relia cukup stabil untuk pulang.

"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Ariel sambil membantu Relia mengenakan kardigan rajut yang hangat.

Relia mengangguk pelan. Di tangannya, ia memeluk erat kendi keramik putih yang dibalut kain sutra halus, peristirahatan sementara bagi Bintang Arkatama.

"Aku siap, Mas. Mari kita bawa Bintang pulang," ucap Relia dengan nada suara yang jauh lebih tegar dari sebelumnya.

Ariel membimbing Relia menuju lift khusus. Di lobi bawah, beberapa mobil pengawal sudah bersiaga dengan formasi yang lebih ketat dari biasanya.

Ariel tahu Markus tidak akan tinggal diam, namun ia sudah menyiapkan "hadiah" balasan yang jauh lebih mematikan daripada sekadar teriakan di depan gerbang.

Perjalanan menuju mansion terasa sangat sunyi. Relia terus menatap ke luar jendela, memandangi pepohonan yang berlari menjauh.

Saat mobil mulai memasuki jalanan menanjak menuju mansion, Ariel melihat kerumunan orang dan beberapa mobil dengan logo stasiun televisi di depan gerbang besarnya.

Markus berdiri di depan sana, memegang mikrofon yang disodorkan seorang wartawan, sedang berteriak-teriak dramatis.

"Saya hanya ingin melihat kondisi istri saya! Dia sedang hamil! Dr. Ariel Arkatama menggunakan kekuasaannya untuk memisahkan kami!" teriak Markus dengan wajah yang dibuat-buat sedih.

Relia sedikit gemetar melihat pemandangan itu, namun Ariel segera merangkul bahunya.

"Jangan tutup matamu, Relia. Biarkan mereka melihat bahwa kamu bukan lagi korban yang bisa mereka bungkam," bisik Ariel.

Ariel memerintahkan sopir untuk terus melaju hingga tepat di depan gerbang.

Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan. Mobil Ariel berhenti tepat di tengah kerumunan media, menghalangi jalan mobil Markus.

Ariel turun lebih dulu. Penampilannya yang sangat rapi dan auranya yang dominan seketika membuat para wartawan terdiam.

Kemudian, Ariel berputar ke pintu sebelah dan membantu Relia turun.

Kamera-kamera langsung menyorot ke arah Relia. Markus, yang melihat Relia turun, langsung mencoba menerjang maju.

"Relia! Sayang! Kembalilah padaku! Jangan biarkan dokter ini mencucimu—"

"Berhenti di sana, Markus!" suara Ariel menggelegar, menghentikan langkah Markus seketika.

Relia melangkah maju, berdiri di samping Ariel. Ia memeluk kendi keramik itu di depan dadanya.

Matanya menatap Markus dengan tatapan yang sangat dingin.

Tatapan yang belum pernah Markus lihat sebelumnya.

"Kamu mencari siapa, Markus?" tanya Relia dengan suara yang jelas dan tenang.

"Kamu mencari anakmu'?"

Markus tertegun melihat keberanian Relia. "Ya! Aku punya hak atas anak itu! Kembalilah ke rumah kita, Relia!"

Relia mengangkat kendi di tangannya sedikit lebih tinggi agar terekam oleh semua kamera.

"Dia sudah pergi, Markus. Anak yang kamu klaim sebagai milikmu telah menyerah bahkan sebelum ia melihat dunia. Dia tidak sudi memiliki ayah seorang monster sepertimu," ucap Relia lantang.

Para wartawan mulai berbisik-bisik, kamera melakukan close-up pada wajah Relia yang pucat namun berwibawa.

"Apa maksudmu?!" teriak Markus panik.

"Aku mengalami keguguran karena stres dan trauma hebat akibat penganiayaan yang kamu lakukan selama dua tahun ini!" lanjut Relia.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop besar dari tasnya dan menyerahkannya kepada salah satu wartawan terdekat.

"Di dalam sana ada hasil visum, rekaman medis kuretaseku kemarin, dan beberapa foto luka di punggungku yang kamu buat dengan ikat pinggangmu. Namanya Bintang Arkatama bin Relia. Dia sudah meninggal, dan kamu adalah pembunuhnya."

Wajah Markus mendadak pucat pasi. Ia melihat ke arah kamera-kamera yang kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa jijik, bukan lagi rasa simpati.

Ariel melangkah maju, berdiri tepat di depan Markus yang mulai gemetar.

"Sekarang, pergi dari tanahku sebelum pihak kepolisian yang sudah menunggu di dalam mansion menyeretmu atas pasal penganiayaan berat yang menyebabkan kematian janin."

Markus melihat ke arah gerbang yang kini terbuka lebar, menampakkan beberapa mobil polisi yang sudah bersiaga.

Ia menoleh ke arah Sarah yang bersembunyi di dalam mobil, tampak ketakutan.

Relia tidak lagi menangis. Ia membalikkan badan, berjalan masuk ke dalam gerbang bersama Ariel tanpa menoleh lagi.

Pintu gerbang tertutup rapat, meninggalkan Markus yang kini dikepung oleh wartawan yang menuntut penjelasan atas bukti-bukti visum yang baru saja mereka terima.

Di taman belakang yang asri, di bawah pohon pinus besar, Ariel dan Relia meletakkan Bintang di tempat peristirahatan terakhirnya.

"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Relia," ucap Ariel sambil merangkul istrinya.

Relia menatap gundukan tanah kecil yang ditaburi bunga mawar putih itu.

"Aku bebas, Mas. Bintang memberiku kekuatan untuk bicara, dan sekarang aku benar-benar bebas."

Ariel membimbing Relia untuk duduk di sofa panjang yang menghadap ke arah lembah.

Setelah memastikan istrinya merasa nyaman dengan bantal penyangga di punggungnya, Ariel berdiri di depan Relia dengan tangan yang disembunyikan di balik punggung.

"Sekarang, tutup matamu sebentar, Sayang," bisik Ariel dengan nada penuh rahasia.

Relia tersenyum tipis, rasa penasaran mulai mengusir sisa-sisa kesedihan di wajahnya. Ia memejamkan mata, merasakan aroma parfum kayu cendana dari tubuh Ariel yang menenangkan.

Tak lama kemudian, ia merasakan sesuatu yang tipis dan dingin diletakkan di pangkuannya.

"Buka matamu."

Relia perlahan membuka mata dan tertegun. Di pangkuannya terletak sebuah iPad Pro terbaru dengan Magic Keyboard dan Apple Pencil yang masih mengkilap. Namun, bukan kemewahan benda itu yang membuatnya terkesiap, melainkan tampilan layarnya.

"M-mas, apa ini?" tanya Relia gagap.

"Coba lihat layarnya lebih dekat," jawab Ariel sambil duduk di sampingnya.

Relia memperhatikan layar iPad tersebut. Di sana terbuka sebuah aplikasi khusus kepenulisan profesional.

Di bagian judul proyek tertulis: "Ikat Pinggang yang Putus - The Silent Survivor". Namun, yang paling mengejutkan adalah logo di pojok atas layar: "Arkatama Publishing & Media".

"Mas Ariel, ini..."

"Aku baru saja meresmikan divisi penerbitan baru di bawah Arkatama Group pagi ini," Ariel menggenggam tangan Relia.

"iPad ini adalah 'senjata' baru untukmu. Di dalamnya sudah terpasang kontrak digital eksklusif. Aku ingin novelmu tidak hanya berhenti di platform digital. Aku ingin membukukannya, menerjemahkannya, dan menyuarakannya ke seluruh dunia."

Relia menatap iPad itu dengan tangan gemetar. Ia menyentuh layar sentuhnya, melihat ribuan komentar pembaca yang kini sudah mencapai angka ratusan ribu.

"Aku tidak ingin kamu menulis di laptop lama yang penuh memori buruk itu lagi. Di iPad ini, hanya ada masa depan. Kamu bisa menggambar ilustrasi untuk tiap babmu dengan pensil ini, atau mengetik di mana pun kamu merasa nyaman di taman, di balkon, atau saat kita sedang berlibur nanti," lanjut Ariel.

Relia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.

"Mas, enapa Mas melakukan sejauh ini? Memberiku nama Arkatama untuk Bintang, dan sekarang menjadikanku penulis utama di perusahaanmu?"

Ariel menarik dagu Relia agar mata mereka bertemu.

"Karena dunia perlu tahu bahwa dari luka yang paling dalam sekalipun, bisa lahir karya yang paling indah. iPad ini bukan sekadar alat kerja, Relia. Ini adalah bukti bahwa suaramu adalah aset yang paling berharga bagiku."

Relia memeluk iPad itu di dadanya, lalu beralih memeluk Ariel erat-erat.

"Terima kasih, Mas. Aku janji akan menyelesaikan cerita ini. Bukan lagi sebagai korban, tapi sebagai pemenang."

Relia kemudian mengambil Apple Pencil-nya. Ia mencoba menuliskan satu kalimat di layar putih yang bersih itu.

“Tinta ini adalah darahku yang kini telah mengering, menjadi kata-kata yang takkan pernah bisa mereka hapus lagi.”

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!