NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesengat Matahari atau Kesengat Kadewa

Rea masih mematung di ambang pintu, tangannya gemetar memegang piring pisang goreng yang tadi diberikan Umma. Kalau saja gravitasi tidak berfungsi, mungkin piring itu sudah melayang jatuh ke lantai.

Laki-laki berseragam SMA itu menurunkan ponselnya, lalu tersenyum, sebuah senyum yang sanggup membuat es kutub mencair seketika.

"Eh, hai? Kamu adiknya Pram, ya?" suaranya berat, renyah, dan terdengar begitu bersahabat.

Rea hanya bisa mengerjapkan mata. Aduh, suaranya ganteng juga! batinnya menjerit.

"I-iya..." jawab Rea hampir berbisik.

Mana keberaniannya yang tadi ingin menjambak Pram?

Hilang terbang dibawa angin sore Surabaya?

Laki-laki di hadapan Rea itu tersenyum. Senyum yang begitu manis yang membuat bocah belia itu tak sadar berbicara...

"Mas turun dari langit ya?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Rea, meluncur dengan polosnya yang membuat cowok ganteng di depannya mengerutkan dahinya bingung.

“Turun dari langit?” tanyanya memastikan.

Rea mengangguk mantap memasih belum sadar dengan apa yang ia ucapkan.

“Iya. Soalnya Masnya ganteng... banget.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan polos, “Gak kayak Mas ku… buruk rupa.”

Hening sekejap. Kali ini cukup lama karena Rea baru sadar dengan apa yang barusan ia katakan.

Pipinya langsung panas.

“Eh, maksud aku—” Rea menunduk, suaranya mengecil. “Mas aku gak jelek-jelek banget, sih. Cuma… nyebelin.”

Ya, kalau di banding dengan wajah Kadewa Pram jauh lebih tampan. Hanya saja... Ketutup sifat nyebelinnya aja.

Laki-laki itu terdiam sesaat, mungkin hanya satu sampai dua detik, lalu tertawa kecil. Bukan tawa mengejek, tapi tawa kaget yang terdengar ringan.

“Wah,” katanya sambil tersenyum lagi. “Masmu pasti sering disakitin, ya.”

Saat Rea akan membuka mulutnya untuk meluruskan pembicaraan mereka, tepat saat itu juga pintu kamar mandi di dalam kamar Pram terbuka. Pram keluar hanya dengan mengenakan celana pendek hitam tanpa atasan, rambutnya basah dan handuk yang menyampir di pundak.

"Heh, Rempong! Ngapain kamu di kamar, Mas? Mau maling ya?" tanya Pram tanpa dosa.

Rea yang teringat kemarahannya tadi langsung berbalik dengan mata melotot. "Mas—"

Kalimat Rea tak sempat keluar semua akibat Pram yang tiba-tiba mendekat dengan mata menyipit menatapnya. Seperti ada sesuatu yang aneh di wajahnya.

"Heh, apa sih, Mas?" Tanya Rea yang kontan mundur satu langkah.

Pram mengabaikan pertanyaan adiknya dan membungkukkan tubuhnya tepat di depan wajah Rea, meneliti tanpa dosa.

“Heh,” katanya. “Ini mukamu kenapa? Kesengat matahari apa kesengat tawon?”

Nah, lihat kan.

Ternyata dia mendekat begitu cuma mau meledek Rea, dasar Pramoedya nyebelin!

Ingin sekali Rea berteriak tepat di telinga kakaknya.

Kesengat temenmu!!

Tapi tentu saja Rea tidak mungkin mengatakan itu.

Dan...

Cut!

Tangan Rea maju lebih dulu.

Cubitannya mendarat mulus di perut Pram.

“Akh, apa sih, Re?!” Pram meringis dramatis sambil mundur selangkah. “Kok Mas dicubit?”

Rea melirik sekilas ke arah laki-laki ganteng tadi. Yang sekarang sudah kembali fokus ke ponselnya, seolah kejadian barusan sama sekali tidak menarik perhatiannya.

“Dasar nyebelin,” umpatan Rea keluar kecil, nyaris berbisik. Tentu di tujukan oleh Pram.

“Loh, salahku apa?” Pram mengusap perutnya. “Baru juga selesai mandi, aku udah kamu aniaya.”

“Salah Mas banyak,” sambar Rea ketus. “Panjang daftarnya.”

“Dasar bocah,” Pram mendecak.

“Mas aja yang tega banget sama adiknya, aku chat minta jemput malah disuruh jalan kaki! Jahat banget!" Ucap Rea dengan nadanya mulai naik tapi tetap ditahan.

Pram masih sesekali meringis tapi walaupun begitu ia masih bisa tertawa mengejek, bahkan mencomot pisang goreng yang di bawa adiknya. "Halah, biasanya juga jalan kaki kan? Manja banget. Lagian biar sehat, Dek!"

“Tapi hari ini aku capek, Mas!” Rea membalas cepat. “Gak peka banget sih!”

Walaupun kesal, suara Rea tetap mengecil di akhir kalimat.

Entah kenapa.

Padahal biasanya di depan teman kakaknya yang lain terutama Joshua, dia bisa ngomel tanpa mikir panjang. Bisa teriak. Bisa nyablak.

Tapi sekarang...

Rea sadar ada sepasang telinga lain di kamar itu.

Aneh.

Pram hanya memutar bola mata, malas menanggapi lebih lanjut. Ia lalu duduk di atas ranjang begitu pisang gorengnya tadi habis.

“Kamu ke kamar Mas mau apa?” tanyanya. “Jangan bilang cuma mau mengani—”

“Mas!”

Rea buru-buru mendekat, langsung menutup mulut Pram dengan tangannya sebelum kakaknya itu membocorkan harga diri Rea sebagai perempuan kejam.

Rea itu cuma kasar sama Pramoedya, kakaknya. Dan itu pun khusus. Titik.

Pram menepis tangan itu dengan kesal. “Apa sih, Re?!”

Rea mengabaikan raut kesal kakaknya. Ia menaruh piring berisi pisang goreng di meja samping ranjang, seperti baru ingat tujuan awalnya naik ke atas.

Setelah itu, tanpa sadar, matanya kembali melirik ke arah laki-laki asing itu.

Sekilas saja.

Lalu ia mencondongkan tubuh ke arah Pram dan berbisik, walau bisikannya jelas tidak benar-benar pelan.

“Mas… itu… siapa?”

Pram menoleh ke arah temannya. Laki-laki itu juga ikut melirik, lalu kembali menunduk ke ponselnya, seolah memberi ruang atau sedang menyelesaikan permainannya.

“Temen baru Mas di sekolah,” jawab Pram santai. “Namanya... Kadewa.”

Kadewa.

Nama itu terucap sederhana. Santai. Dari bibir Pram.

Tapi di telinga Rea, rasanya berbeda.

Seperti kata yang tiba-tiba ingin ia simpan baik-baik.

Rea mengangguk pelan, lebih pelan dari yang ia sadari.

“Oh.”

Hanya itu.

Tapi jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat.

Dan Rea belum tahu...

bahwa nama itu akan ia ingat jauh lebih lama dari yang seharusnya.

Kadewa menoleh padanya lagi dan...

Senyum itu muncul. Lagi.

Rea refleks menunduk.

Ya ampun senyumnya...

Kenapa sih senyumnya muncul terus?

Bisa nggak ditahan sebentar?

Rea belum siap kenapa-kenapa.

Laki-laki bernama Kadewa itu tampak sudah menyelesaikan permainan di ponselnya, lalu meletakkan benda pipih itu di meja dan berdiri dari kursi belajar Pram.

Kali ini perhatiannya sepenuhnya mengarah pada kedua kakak-beradik itu.

Begitu berdiri, Rea baru sadar satu hal penting.

Dia tinggi.

Terlalu tinggi.

Bahkan lebih tinggi sedikit dari Pram.

Rea spontan mundur setengah langkah. Dan berhenti karena punggungnya mentok di nakas samping ranjang. Dari jarak sedekat ini Rea dapat mencium aroma parfum maskulin yang segar, campuran antara jeruk dan laut yang langsung menyerbu indra penciuman Rea.

Kadewa lantas mengulurkan tangan dengan santai, tetap tersenyum ramah.

“Kenalin,” katanya. “Aku Kadewa. Temen barunya Mas mu yang super menyebalkan itu," Kadewa mengedikkan dagunya ke arah Pram bermaksud menunjuk teman yang baru ia kenal selama dua minggu ini, yang sudah mendelikkan matanya di tempat.

Kadewa terkekeh melihat reaksi Pram tapi ia mengabaikannya dan fokus pada Rea.

"Kamu namanya siapa?” ia lanjut bertanya lagi.

Sesaat Rea menatap tangan itu.

Lalu menatap wajah Kadewa.

Lalu balik lagi ke tangannya.

Otak Rea mendadak ngemblank.

Kenapa harus salaman segala?

Kenapa tangannya harus bagus begitu?

Kenapa dia harus dekat banget?

Dan kenapa napas Rea jadi pendek-pendek begini?

Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu menit penuh, Rea akhirnya menjulurkan tangannya.

Itu pun cuma ujung jari.

Seperti orang yang sedang menyentuh suatu benda panas.

Kadewa terdiam sebentar, lalu terkekeh kecil. Bukan mengejek. Tapi lebih ke geli.

“Rea. Nama aku... Rea," jawabnya lirih memperkenalkan diri sambil buru-buru menarik tangannya kembali dan menyembunyikannya di belakang punggung.

Suaranya begitu kecil. Kecil banget.

"Rea. Nama yang cantik," ucap Kadewa memuji.

"Itu pisang goreng buat aku ya?" Kadewa mengambil sepotong pisang goreng yang ada di atas nakas samping ranjang Kadewa, lalu mengedipkan sebelah matanya. "Makasih ya, Rea cantik."

DUARR!

Rea merasa ada kembang api yang meledak di dalam kepalanya.

Rea tidak salah dengarkan?

Dia bilang kalau Rea cantik?

Baru ketemu lima menit dia bilang Rea cantik?!

"I-iya," jawab Rea dengan suara yang lebih kecil dari yang sebelumnya membuat Kadewa segera menelan pisang goreng di mulutnya lalu sedikit membungkuk agar sejajar dengan adik Pram itu. “Suaranya kemana?”

Rea langsung kaku.

“Kayaknya tadi aku denger kamu ngomel-ngomel ke Pram loh,” lanjutnya santai. “Sekarang kok suaranya malah makin pelan?”

Oh.

Ternyata dia dengar.

Wajah Rea langsung panas. Rasanya sampai ke telinga.

“E… e… itu kan beda…” gumamnya tak jelas.

Pram yang sudah rebahan di ranjang langsung nyeletuk, “Dia emang gitu, Wa. Kalau ke aku cerewet, tapi ke orang lain jadi pemalu sok imut. Hwueek.” Tidak lupa ia juga pura-pura muntah, pura-pura jijik hanya untuk bisa membuat Rea meledekan.

Dan...

See.

“MAS PRAM!?” Rea memelototkan mata.

Rea terpancing.

Kalau tidak ada Kadewa di sini, Pram pasti sudah ia jewer.

Serius deh!

Kadewa hanya tertawa, menyaksikan itu.

"Apa? Mamang iya," Pram menambahkan dengan santainya. “Kamu kalau sama orang tuh sok imut, padahal aslinya..."

“PRAMOEDYA!”

“Mak Lampir.”

Dan...

Bugh!

"Mas Pram nyemeblin! Nih rasain nih!!"

Apa itu image?

Apa itu pencitraan?

Apa itu Harga diri perempuan?

Semua itu lenyap begitu saja kalau sudah berurusan dengan Pramoedya si biang kerok.

Rea memukul-mukul tubuh kakaknya tanpa aturan. Pram tentu membalas, tapi dengan pukulan setengah tenaga atau lebih ke nahan bocah ngamuk.

“Pramoedya jelek! Nyebelin! Kembaran Hulk!” teriak Rea.

“Rempong! Rea gigi ompong! Sok imut!” balas Pram cepat.

“Aku nggak ompong, Mas!”

“Rea ompong!”

Heh. Bener-bener, deh, Pram ini.

Rea mencoba memukul lagi, tapi Pram cekatan menghindar. “Wlek, nggak kena,” ejeknya sambil menjulurkan lidah.

Sebelum Rea benar-benar berubah jadi monster kecil, Kadewa yang memang sejak tadi berdiri di dekat keduanya dan refleks menarik tangan Rea pelan.

“Rea, sini. Nih, makan goreng pisangnya aja. Jangan dipikirin yang itu.” Ia menunjuk Pram yang masih berjoget-joget mengejek adiknya di sudut kamar.

Sentuhan itu membuat Rea langsung berhenti.

Seketika.

Seperti Kadewa baru saja menekan tombol off dalam diri Rea.

Gadis kecil itu menerima pisang goreng dari tangan Kadewa, lalu ajaibnya, wajahnya langsung berubah. Merah. Diam. Kalem.

Bahkan makannya pun di gigit kecil-kecil.

Kembali menjadi pemalu lagi.

Rea menggigit pisang goreng pelan sambil melirik Pram dengan sebal, tapi tetap jaga sikap karena ada Kadewa.

Sayangnya…

Pram… ya tetap Pram.

Tanpa dosa, dia mendekat lalu menarik sebelah rambut kepang dua Rea.

Sedikit.

Cuma nyolek.

Dan hasilnya?

“Aaaakh! UMMAAA!”

Rea menjerit sambil mundur dramatis, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar, ekspresinya seperti habis dizalimi seisi dunia.

Padahal jambakannya juga seupil.

Dasar drama queen.

Kadewa sampai bengong. Kedua laki-laki itu saling menatap.

Pram tentu panik, Kadewa jelas bingung.

“Gak kuapa-apain! Sumpah! Cuma narik dikit. Dikit banget!” Pram membela diri, jujur dan putus asa. Ia bahkan sampai angkat tangan.

Tapi Rea justru makin kencang nangisnya.

“UMMAAA… MAS PRAM JAMBAK AKUU!!”

“Heh!” Pram langsung mendelik, merasa difitnah.

Dan kemudian…

“PRAMOEDYA!!! BISA NGGAK SIH JANGAN USILIN ADIKMU?” Teriakan Umma menggema sampai genteng rumah.

Tentu itu membuat tangis Rea makin menjadi, makin kenceng lagi, seolah sedang audisi sinetron. “UMMAAA… MAS PRAM…”

“Berhenti, Re. Ya ampun. Nanti Umma naik!” Pram yang panik tentu berusaha mencoba mendiamkan adiknya. Jangan sampai Umma naik.

Bisa-bisa yang biasanya mayat yang ummanya teteli nanti berganti dirinya.

Ummanya serem kalau ngamuk soalnya.

Tapi sayang di sayang, suara langkah kaki cepat yang menapaki anak tangga kayu itu sudah terdengar.

Pram tentu langsung pucat. Rea langsung mundur. Dan seperti prosedur resmi yang sudah mereka jalani seumur hidup, Rea otomatis sembunyi di balik tubuh Kadewa, masih dengan efek dramatisnya.

Tak lama kemudian, Umma muncul di ambang pintu dengan napas sedikit terengah.

“Apa lagi ini?” tatapannya menyapu keduanya. “Pram! Kamu apain adikmu?! Kok sampai nangis begitu?”

“Mas Pram jambak rambut Rea, Umma…”

Laporan Rea meluncur sempurna seperti surat resmi.

Dan…

Jeweran Umma langsung mendarat di telinga Pram.

“Aduh! Umma! Sumpah cuma sedikit, cuma—Aduh!”

Pram diseret keluar kamar tanpa ampun, sambil tetap berusaha membela diri.

"Aduh. Cuma sedikit Umma, Rea aja yang drama!"

"Sedikit kamu bilang?! Adikmu sampai nangis begitu kamu bilang sedikit?! Gak malu apa kamu ya sama Kadewa. Benar-benar ya Pram!!"

Hukuman langsung di jatuhi untuk Pram sore itu.

Ya, cowok nyebelin itu di suruh mengangkat jemuran oleh Umma Hasnah.

Rasain.

Kadewa menatap punggung Pram yang diseret Umma dengan ekspresi antara kasihan dan sangat ingin tertawa.

Sementara...

Rea?

Begitu suara langkah kaki Umma dan Pram menghilang di tangga, tangis Rea langsung…

Berhenti.

Hilang. Len-yap.

Secepat keran air yang ditutup.

Ia mengusap pipinya sekali, memastikan tidak ada air mata tersisa, lalu menurunkan bahunya yang sejak tadi tegang berlebihan.

Hah.

Sukses.

Rea melirik ke arah Kadewa yang masih tersenyum di tempatnya.

Entah kenapa senyum itu membuat tengkuknya terasa hangat.

Rea berdehem kecil.

Lalu ikut tersenyum.

Senyum manis. Kalem. Versi adik baik-baik yang baru saja dizalimi.

“Mas Pram emang gitu,” katanya ringan, seolah tidak baru saja melakukan drama kelas nasional. “Suka jahil.”

Ia melangkah menjauh dari balik punggung Kadewa, berdiri di dekat meja sambil merapikan kepangan rambutnya yang di tarik Pram tadi, pura-pura biasa saja.

Kadewa menoleh, menatap wajah Rea beberapa detik.

Lalu duduk di ranjang Pram dengan santai.

“Dramanya luar biasa, ya,” katanya ringan, seperti orang yang baru selesai nonton sinetron sore. “Aku hampir ikut kebawa suasana loh.”

Rea langsung menggeleng cepat.

“Itu… bukan drama...” bantahnya pelan, matanya menunduk ke lantai.

Padahal tidak.

Itu strategi.

Dan cukup sukses.

Kadewa mengangguk pelan. “Hmm.”

Tidak ada komentar tambahan.

Tapi matanya berbicara lain.

Iya. Kebetulan yang terencana rapi.

Level juara umum sekecamatan.

Rea makin salah tingkah.

Ia memutar-mutar ujung kepangan rambutnya, menahan senyum kecil yang nyaris lolos.

Aduh.

Kenapa sih Mas ini nggak bilang apa-apa, tapi bikin rasanya kayak ketahuan semuanya?

Hening sebentar menyelimuti kamar Pram.

Rea masih berdiri di dekat nakas, sambil beralih mengigit kecil-kecil sisa pisang goreng yang Kadewa berikan tadi dengan otak yang kembali kosong. Kosong total. Semua isinya cuma satu nama.

Kadewa.

Kadewa memecah keheningan lebih dulu.

“Kamu kelas berapa, Re?” tanyanya santai, nada suara ramah khasnya.

Rea refleks menegakkan tubuhnya.

“K-kelas satu,” jawabnya cepat. Lalu buru-buru menambahkan, “SMP.”

Kadewa terkekeh kecil. “Iya, aku tahu, kan kamu pakai baju putih biru, bukan putih merah.”

Pipinya Rea langsung panas.

“Ah, y-ya.”

Bodoh.

Kenapa sih harus dijelasin padahal sudah jelas juga.

“Kamu sekolah di mana?” lanjut Kadewa.

Rea menyebutkan nama sekolahnya, suaranya pelan tapi jelas. Ia menatap lantai lagi, takut kalau terlalu lama menatap wajah Kadewa, jantungnya bakal keburu lompat keluar.

Kadewa mengangguk-angguk.

“Oh, dekat sini, ya.”

“Iya,” jawab Rea singkat.

Hening lagi.

Rea menggigit pisang gorengnya kecil. Otaknya berisik, tapi mulutnya kosong. Ingin ngomong sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Suasana hening sejenak.

Hanya ada suara halus pendingan ruangan dan suara Pram merintih di lantai bawah.

“Aduh Ummaaa… pelan-pelan napa… Aduh jemuran banyak banget… Gak nyuci berapa hari sih ini Umma...”

Lalu hening lagi.

Sampai akhirnya Kadewa menoleh ke arah Rea. Memanggilnya.

“Rea…”

Suara Kadewa begitu lembut dan kenapa harus bikin deg-degan segala sih?

“Hm?” Rea reflek menjawab dengan mulut masih mengunyah pisang.

Kadewa tersenyum, senyum yang sempat membuat Rea kehilangan seluruh software dalam otaknya beberapa menit lalu.

“Makasih, ya,” katanya. “Tadi… lucu.”

Rea menoleh, bingung. “Apa yang lucu?”

“Kamu,” jawab Kadewa santai.

Dan seketika...

Dunia berhenti.

Rea membeku.

Pisang yang tinggal sedikit lagi di tangannya ikut membeku.

Otaknya hang.

Jantungnya? Sudah mau resign dari tubuh.

“L-lu-lu—” Rea bahkan tidak bisa menyelesaikan satu kata.

Kadewa hanya terkekeh, lalu bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu saat ia berhenti dan menoleh sedikit.

“Oh iya,” katanya ringan. “Kalau Pram nggak jemput kamu pulang lagi, bilang ke aku aja. Aku jemputin.”

Ceklek!

Pintu kamar mandi itu pun tertutup.

1

2

3

AAAAAAAAAAAAAAAA!!!

Teriakan itu meledak di dalam kepala Rea.

Di luar?

Ia masih berdiri bengong, dengan pisang goreng kecil di tangan yang naasnya kini jatuh kelantai, wajahnya merah total.

Beberapa detik kemudian, Pram muncul dari balik pintu, keringetan, masih membawa setengah ikat jemuran di pundak yang tentunya itu adalah celana dalam milik Pram sendiri yang sudah pasti Umma suruh untuk di lipat sendiri.

Wajahnya kusut.

“Re,” katanya ngos-ngosan. “Kok kamu diem disini—”

Rea menunjuk wajah Pram dengan dramatis.

“MAS!!!

“Apa lagi?!”

“JANGAN PERNAH USILIN AKU LAGI!!!”

Pram hanya mendelik, bingung.

Ni anak kenapa sih?

Belum sempat Pram bertanya lagi, Rea sudah menutup pintu kamar Pram keras-keras lalu lari masuk ke kamarnya sendiri yang tepat di sebelah. Pintu ditutup dengan bunyi...

BRAK!

Sampai Pram terlonjak.

“Kenapa sih wong edan itu?!” gerutu Pram sambil geleng-geleng.

Sementara Rea di dalam kamarnya sendiri sudah bersandar pada pintu sambil menahan teriakan kemenangan di dadanya.

Ia berlari ke meja belajarnya, melempar tas sembarangan, lalu menarik salah satu laci. Dan mengambil sebuah buku kecil berwarna putih dengan gambar kelinci dan kucing di sampulnya.

Buku diary.

Rea duduk, membuka halaman pertama yang memang masih kosong karena buku itu baru di belikan Umma kemarin.

Tangannya sempat berhenti.

Lalu mulai menulis tanggalnya di bagian sudut buku itu.

Hari ini panas banget.

TAPI BUKAN ITU YANG PENTING.

Ia menekan pulpen agak keras.

Hari ini ada temen baru Mas Pram dari sekolah barunya. Namanya KADEWA.

GANTENG.

GANTENG BANGET...

KAYAK MALAIKAT YANG TURUN DARI LANGIT.

Rea berhenti, berpikir. Lalu menambahkan kecil di sampingnya.

(Walaupun masih ganteng Mas Pram sedikit.)

Ia lalu menggambar.

Sesuatu di bawah tulisan itu.

Gambar seseorang yang tengah duduk di atas kursi sambil memegang ponsel.

Di bawah gambar itu, ia menulis.

Ini Kadewa.

(Versi aku. Aslinya lebih ganteng lagi.)

Rea menatap hasilnya, lalu menutup buku itu cepat-cepat sambil memeluknya ke dada.

Pipinya panas.

Dadanya berdebar.

Dan tanpa ia sadari...

Hari itu, satu nama resmi menetap di hidupnya.

Kadewa.

1
Esti 523
bha ha ha ha ya ampun aq baca sambil guling2 ngakak bgt
Ghiffari Zaka
kok aq senyum2 sendiri ya bacanya??🤭🤭🤭 laaaah AQ jadi baper malahan,duh mas paus gombalnya buat AQ ikut cengar cengir padahal siapa. yg di gombali 🤭🤭🤭.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
mey
makasih thor untuk upnya🥰🥰 I❤️U sekebon mawar🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
falea sezi
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
falea sezi
murahan
falea sezi
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
falea sezi
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
falea sezi
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
falea sezi
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!