NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 | PERKENALAN DI DAPUR

Jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam lebih sedikit ketika Summer meraih tasnya. Ia melangkah dengan gontai sembari menghela napas berkali-kali setelah mematikan seluruh lampu utama, bertemankan sunyi yang melekat di dinding-dinding dingin restoran.

“Aku menunggunya seperti orang bodoh begini,” gumamnya lesu.

Sejak kunjungan terakhir Archilles seminggu yang lalu, pukul dua belas seolah menjadi jam tidak resmi Summer meninggalkan restoran. Ia akan menjadi orang terakhir yang keluar dari sana setelah memastikan seharian itu Archilles memang tidak datang, baik pada jam operasional restoran maupun setelah tutup. Dan hal itu memunculkan banyak spekulasi di kepala Summer.

“Jangan-jangan memang aku yang terlalu percaya diri dan menganggap dia tertarik padaku? Aku memang sudah delusional sejak dulu.” Summer berdecak, mempercepat langkahnya. “Tidak tahulah. Kalaupun dia tidak datang lagi, maka aku yang akan mendatanginya. Pasti akan ada cara dan momentum yang tepat.”

Wajah Archilles yang muncul di benaknya segera Summer enyahkan. Saatnya pulang dan mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Ia berencana akan berendam air hangat sebentar, lalu tidur dengan ditemani lilin aromaterapi.

Namun, kejutan itu baru datang tepat saat Summer mengunci pintu restoran. Sebuah sedan hitam merapat ke sisi pohon cemara yang menjadi penanda lahan parkir Ethereal Blue. Tak lama setelah itu, seorang pria berperawakan tinggi muncul. Sejenak, ia menoleh untuk mempertemukan tatapannya dengan Summer, sebelum akhirnya melangkah mendekat dan mengambil jarak sekitar dua meter.

“Saya terlambat lagi,” ucapnya ringan.

Summer membalasnya dengan tersenyum simpul. “Saya penasaran bagaimana Anda bisa menempati jabatan Anda sekarang jika terus-menerus terlambat, Pak Wali Kota.”

Archilles mengedikkan bahu, tersenyum tipis. “Dan selalu kelaparan tiap kali datang kemari,” katanya. “Barangkali masih ada sisa bahan masakan, saya tidak akan menolak apa pun makanan yang akan Anda diberikan.”

“Apa ini perintah sebagai wali kota?” Summer menaikkan satu alisnya.

“Mana bisa saya menyalahgunakan wewenang demi kepentingan pribadi. Ini hanya permintaan lancang saya sebagai Archilles. Tentu saja Nona Summer selalu bisa menolak. Anda berhak menikmati istirahat yang nyaman di rumah.”

Pria ini pandai merayu dengan cara yang paling halus, sulurnya menyelinap perlahan dan tidak terlalu kentara. Ketika korbannya tersadar, sulur itu sudah melilit tubuhnya, tidak ada jalan untuk membebaskan diri.

Summer menahan decakan ironinya. Manusia memang tidak boleh dinilai melalui tampilan luarnya saja. Siapa yang bisa menduga jika pria dengan kehormatan selangit dan nyaris tidak memiliki cela secara fisik ini ternyata senang bermain-main dalam kegelapan, memakai topeng demi topeng dalam pentas sandiwara yang hanya dihadiri seorang penonton. Summer jadi penasaran bagaimana pertunjukan Archilles akan ditutup, rasa-rasanya akan melegakan jika bukan akhir bahagia. Bagaimanapun, ia jelas bukan orang yang baik.

Angin berembus lembut, mengantarkan petrikor yang menyegarkan setelah dua jam penuh kota dirundung gerimis. Summer sedikit memiringkan kepala, tertawa kecil. “Menjadi seorang wali kota rupanya tidak menjamin perut selalu kenyang.” Ia berhasil membuat Archilles ikut melepas tawa pelan. “Bagaimana dengan spaghetti bolognese?”

“Saya tidak dalam posisi bisa menolak.” Wajah Archilles yang tertimpa selarik lampu depan restoran tampak mengesankan meskipun penampilannya sekarang tidak serapi yang bisa Summer ingat.

Kunci yang belum sempat Summer tarik dari pintu akhirnya ia putar lagi. Keheningan dalam temaram kembali terentang. Sama seperti yang ia lakukan Sabtu malam lalu, malam ini Summer juga menyalakan lampu dan mempersilakan Archilles duduk, sementara ia langsung berderap menuju dapur.

Summer memakai lagi apron yang sebelumnya telah digantung, lantas mengambil bahan-bahan di rak penyimpanan dan daging sapi dari walk-in freezer. Summer baru ingin mencincang bawang bombai, ketika pintu dapur terbuka. Archilles muncul sedetik kemudian, sedikit melongokkan kepalanya ke dapur.

“Oh, ada apa?” tanya Summer sembari mengernyit samar.

Archilles melangkah tenang ke dalam dapur, berhenti di samping Summer. “Rasanya saya menjadi orang yang keterlaluan dengan membiarkan Anda bekerja keras sendirian sementara saya duduk dengan nyaman. Saya ingin membantu.”

Perkataan Archilles itu membuat Summer tertawa dengan suara renyah dan lepas. Beriringan dengan matanya yang menyipit, lesung kecil muncul di bawah matanya. “Saya berterima kasih, tapi Anda tidak perlu melakukannya sejauh ini. Kalau sampai Anda terluka ketika sedang membantu, bisa-bisa nama saya muncul sebagai tajuk utama surat kabar besok pagi.” Ia kemudian menunjuk kursi yang tak jauh darinya. “Anda bisa duduk di sana jika merasa tidak nyaman sendirian di meja pelanggan.”

Alih-alih menuruti Summer, Archilles malah melepas kancing lengan kemejanya, lantas menggulungnya hingga ke siku. “Biar saya yang memotong bawangnya. Saya memiliki pengetahuan dasar memasak.”

Memicing sejenak, mengembuskan napas, Summer akhirnya menyerahkan pisau dan menggeser talenan kayu ke arah Archilles. “Anda bisa memotongnya dulu, baru mencincangnya.”

Archilles mengangguk singkat. Setelah mencuci tangan, wajahnya terlihat serius sekali ketika memotong bawang bombai. Summer memperhatikannya sambil menunggu daging sapi tercincang kasar dalam food processor. Gerakan Archilles kaku dan lambat, Summer curiga pria itu mengukur ketebalan bawang pada setiap potongan agar seragam.

“Ah, Anda melupakan sesuatu.” Summer mengambil sesuatu di lemari kecil pojok ruangan, mengulurkannya pada Archilles. “Ini. Pakaian Anda akan kotor nanti.”

Sebuah apron putih. Archilles menerimanya sembari mengucapkan terima kasih.

“Wah, Anda jadi terlihat seperti brand ambassador produk dapur.” Summer terkekeh sambil mengambil pasta kemasan. “Katakan, Pak Wali Kota, kapan tepatnya Anda terlihat paling berantakan? Pasti akan melegakan melihatnya karena rasa-rasanya Anda selalu terlihat bersinar setiap saat, dalam tampilan apa pun.”

“Archilles.”

Gerakan tangan Summer yang hendak membuka kemasan pasta terhenti ketika nama itu terlontar dari bibir Archilles sendiri dengan nada pelan. Summer menoleh, dan saat itu juga tatapannya langsung berserobok dengan Archilles.

“Panggil saya Archilles saja.” Air muka pria itu masih sangat tenang, namun Summer menangkap perubahan pada sorot matanya. Lebih lembut, lebih bersahabat.

Hening bertaut lebih lama dari yang Summer perkirakan, ia seharusnya bisa menimpali lebih cepat, namun yang ia dapati adalah dirinya yang termangu di tempatnya berdiri.

Ini kemajuan yang bagus—demi Tuhan, sangat bagus. Archilles seperti sedang mengikis tembok pembatas di antara mereka, namun teka-teki akan tujuan pria itu melakukan semua ini masih sangat menghantui Summer. Kekhawatiran sedang menuju ke jurang kematian alih-alih nirwana untuk melanggengkan pembalasan dendam, terasa seperti teror tak berkesudahan.

“Mana bisa saya melakukannya,” Summer merobek lengang, mengibaskan tangan. Tanpa sepengetahuan Archilles, ia meremas pinggiran apronnya. “Nanti kesopanan saya akan dipertanyakan semua orang.”

“Kenapa harus memikirkan pendapat orang lain? Asal yang dipanggil tidak keberatan, saya tidak melihat ada yang salah.”

“Tetap saja ….” Summer menekuk bibirnya hingga membentuk garis, kebimbangan membayang di wajahnya. “Baiklah. Tapi saya hanya bisa memanggil Anda dengan nama jika sedang mengobrol berdua seperti ini. Sebagai gantinya, Anda harus memanggil saya dengan nama juga.”

“Bukan masalah besar.” Archilles memutar tubuhnya ke arah bawang bombai yang belum selesai ia potong. “Berhubung sudah begini, bagaimana jika kita berbicara santai juga?”

“Eh, sepertinya itu akan canggung ….” Summer mengusap tengkuk.

Archilles menoleh dan tersenyum. “Haruskah aku yang memulainya?”

Summer merinding, menyadari betapa berengsek dan berbahayanya Archilles Meridian. Entah sudah ada berapa wanita yang sudah ditaklukkannya dengan pendekatan macam ini. Summer tidak akan terkejut jika suatu saat nanti menemukan berita tentang skandal Archilles dengan banyak wanita. Mirisnya, ia kemungkinan akan menjadi salah satu para wanita itu.

“Baiklah, kurasa ini juga menyenangkan,” kata Summer setelah bersikukuh menutup segala pintu untuk meloloskan diri dari keparat macam Archilles. Ia sudah bertekad akan menghadapi apa pun yang mengadangnya. “Dan aku juga baru menyadari jika kita belum memperkenalkan diri dengan pantas sejak pertama bertemu.” Menatap Archilles lekat-lekat, Summer mengulurkan tangannya di depan pria itu. “Summer Victoria.”

Menyempatkan diri menyeringai, Archilles akhirnya menyambut tangan Summer. “Archilles Meridian.”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!