Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Ada Kesepakatan
"Cukup Firman!" tegas Jiya tidak ingin mendengarkan pernyataan ku.
"Kamu jangan menuduhku berdasarkan semua dugaan kamu. Hanya berspekulasi buruk kepadaku dan padahal kamu tidak tahu jika apa yang aku lakukan semua hanya demi....."
"Demi keegoisan kamu sendiri!" tegas Firman memotong kalimat Jiya.
"Aku tidak egois!" tegas Jiya memberontak.
"Jika kamu tidak egois, maka kamu akan bersedia melayaniku sekarang!" tegas Firman secara baik-baik meminta haknya sebagai suami.
"Kenapa? Kamu masih beralasan dengan semua drama kamu, kamu masih mengatakan bahwa kamu tidak bisa melakukannya karena kamu dipenuhi dengan trauma, semua hanya omong kosong. Semua hanya akal-akalan kamu saja dan memang kamu tidak memiliki niat untuk melayani suami kamu!" tegas Firman.
"Kamu enak berbicara dan kamu tidak tahu bagaimana menjadi aku. Aku tidak harus menjelaskan kepada kamu dan tidak harus memperlihatkan kepada kamu bagaimana aku trauma menghadapi semua ini. Percuma aku bicara panjang lebar kepadamu dan di matamu aku adalah wanita yang tetap salah dan tidak akan pernah sama seperti Aluna!" tegas Jiya dengan mengusap air matanya yang sudah jatuh.
"Aku benar-benar capek dengan pernikahan ini!" ucap Jiya kemudian langsung pergi dari hadapan Firman.
"Arhggg!" umpat Firman mengusap wajahnya kasar sampai ke rambutnya.
Ini yang membuat Firman selalu kalah dari Jiya, pertengkaran mereka terjadi bukan pertama kali, tetapi Jiya sangat pintar membalikan keadaan sehingga Firman seolah-olah menjadi penjahat yang sebenarnya.
*****
Aluna baru saja keluar dari kamar mandi dan terlihat duduk di pinggir ranjang. Aluna melihat di sekelilingnya dan tidak menemukan Ravindra.
"Kemana dia?" batin Aluna.
Aluna berdiri dari tempat duduknya, kakinya melangkah mendekati meja yang terdapat di dekat televisi. Aluna tampak memeriksa kamar tersebut.
"Astaga usia sudah setua itu dan masih saja mengoleksi miniatur pesawat seperti," gumam Aluna mendengus dengan tersenyum miring.
Bagaimana tidak! Aluna melihat salah satu lemari dengan pintu kaca dan di dalamnya terdapat banyak sekali miniatur pesawat. Aluna merasa lucu jika seorang atasan yang terlihat begitu dingin ternyata memiliki koleksi unik seperti itu.
Aluna menarik nafas dan membalikkan tubuhnya.
"Aaaaa!" Aluna berteriak kaget ketika Ravindra sudah berdiri di belakang.
Tubuh kecil Aluna hampir saja tersungkur ke belakang dan untung saja lengan kokoh Ravindra langsung menahan pinggang tersebut.
Posisi tubuh itu tampak kayang dengan jarak wajah keduanya berdekatan, nafas naik turun saling menerpa satu sama lain dengan tatapan mata bertemu. Aluna kesulitan menelan ludah melihat secara jelas dan dekat bagaimana atasannya itu.
"Jadi sungguh ini pria yang aku tinggalkan? Bagaimana mungkin waktu itu aku begitu bucin pada laki-laki pengkhianat itu sampai meninggalkan pernikahan, orang yang aku tinggalkan ternyata memiliki wajah yang sempurna seperti ini," batin Aluna harus mengakui jika suaminya itu benar-benar tampan.
"Saat aku bertemu dengannya yang pertama kali di Bandara. Wajahnya benar-benar sangat menyedihkan, dan sekarang ketika dia sudah menjadi istriku, kenapa wanita ini setiap hari semakin membuatku kesal," batin Ravindra.
Dalam lamunan keduanya akhirnya Aluna dan Ravindra sama-sama tersadar dan Ravindra menegakkan posisi berdiri Aluna.
"Apa kau pikir ini hutan teriak-teriak dengan suara cempreng seperti itu!' ucap Ravindra memberi teguran kepada istrinya itu.
"Ya, kamu tiba-tiba muncul di belakangku, jadi bagaimana mungkin aku tidak kaget," jawab Aluna.
"Apa kau pikir aku setan sampai membuatmu teriak seperti itu?" tanya Ravindra.
"Hampir mirip," gumam Aluna dengan pelan namun Ravindra dapat mendengarnya.
"Kau mengatakan apa barusan!" tanya Ravindra.
"Tidak! Aku tidak mengatakan apapun," jawabnya mengelak.
"Jangan biasakan berbisik-bisik seperti itu. Awas saja jika sekali lagi aku mendengarmu berbicara mengenai tentang dirimu, maka urusan kita akan semakin panjang!" tegas Ravindra.
Aluna tidak merespon dan terserah saja mau peraturan seperti apa yang dilakukan suaminya.
"Baru menikah, sudah membuat ulah," gumam Ravindra berlalu dari hadapan Aluna.
"Hey tunggu!" Aluna menahan tangan suaminya itu membuat Ravindra tidak jadi pergi dan matanya langsung tertuju ke arah tangan tersebut. Aluna mengerti kemudian langsung menurunkan tangannya dengan cepat.
"Maaf aku tidak bermaksud melakukannya," ucap Aluna.
"Ada apa?" tanya Ravindra.
"Hmmm, kita berdua sudah menikah suka dan tidak suka kita sudah menjadi pasangan suami istri. Lalu bagaimana dengan pekerjaanku dan posisiku di kantor? Apa aku akan tetap bekerja?" tanya Aluna secara hati-hati menanyakan hal penting tersebut kepada Ravindra.
"Jadi menurutmu ketika kau sudah menjadi istriku dan kau akan mendapat jabatan yang lebih tinggi di kantor?" tanya Ravindra dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Astagfirullah...., aku padahal tidak menanyakan hal itu dan aku hanya menanyakan apakah aku akan bekerja atau tidak, kenapa langsung berpikiran buruk seperti itu," sahut Aluna
"Jangan kau pikir aku atasannya dan kau tidak akan bekerja. Urusan di rumah ini dan pernikahan kita tidak berkaitan dengan kantor. Kau akan tetap pada posisimu dan juga sopan santunmu kepada atasan, aku dan kau jika di kantor bukanlah pasangan suami istri,"
"Jangan bermimpi jika aku akan membuatmu mendapatkan perlakuan spesial di kantor karena sudah menikah denganku. Tidak akan ada bedanya dan aku juga tidak ingin orang-orang kantor mengetahui bahwa kita sudah menikah. Kau tetap karyawan dan aku tetap atasan, dan urusan kita tetap memiliki batasan!" tegas Ravindra.
"Isss, siapa juga yang ingin membicarakan kepada orang-orang bahwa aku menjadi istrinya. Aku juga pasti tidak akan tenang bekerja dengan orang-orang akan berpikiran buruk kepadaku, kenapa orang di hadapan ku ini begitu percaya diri sekali," batin Aluna terlihat menaikkan ujung bibirnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau memikirkan sesuatu? Atau jangan-jangan kau sedang mengumpat tentang diriku di hatimu?" tebak Ravindra.
"Tidak!" Aluna menggelengkan kepala dengan cepat.
"Baguslah! aku sudah menjawab apa yang kau tanyakan dan aku berharap kau tetap profesional di kantor, jangan bertingkah dan aku bisa memecatmu dan jika kau sudah tidak bekerja di perusahaan lagi, aku juga akan menirukan untuk bekerja lagi. Jangan bermimpi setelah menikah denganku dan maka kau akan bersantai-santai!" tegas Ravindra
"Astaga. Ini yang diinginkan Abi untuk menjadi suamiku, lihatlah bagaimana dia menginginkan istrinya bekerja setelah menikah. Padahal Abi menikahkanku dengannya agar aku tidak bekerja lagi. Baguslah, paling tidak meski sudah menikah dan aku masih bisa tetap mengejar karir," batin Aluna jelas tidak mempermasalahkan peraturan dari Ravindra.
"Kau tidur di ranjang!" tegas Ravindra.
"Aku?" tanya Aluna menunjuk diri sendiri cukup kaget mendengar perintah dari Ravindra.
"Jangan terlalu percaya diri atau aku kasihan kepadamu karena kau wanita dan tidak pantas untuk tidur di lantai, di sofa atau di manapun. Ini hanya untuk sementara, satu hari aku tidur di ranjang dan hari berikutnya kau tidur di ranjang, kita bergantian!" tegas Ravindra.
"Baiklah, tidak masalah," jawab Aluna.
"Awas saja jika kau membuat kamar ini berantakan dan apalagi berani menyentuh sesuatu yang bukan barangmu!" tegas Ravindra kembali memberi peringatan kepada istrinya itu membuat Aluna hanya menganggukkan kepala.
Ravindra tidak mengatakan apapun lagi dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Aluna. Ravindra mengambil bantal dan juga guling kemudian langsung merebahkan diri di atas sofa karena ini hari pertama istrinya tidur di ranjang.
Bersambung.....