Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
Gedung Airborne Group tampak berkilau di bawah terik matahari Jakarta, namun di dalam koridor lantai eksekutif, suasana terasa mencekam. Arga berjalan dengan langkah yang dipaksakan teguh, meski di dalam dadanya, detak jantungnya berdegup seperti genderang perang.
Memo yang ia terima sore itu bukan sekadar instruksi kerja, itu adalah sebuah perintah yang tak bisa ditolak. Siska memanggilnya kembali. Dan kali ini, matahari sudah mulai tenggelam, menyisakan cahaya remang-remang di area kantor yang mulai sepi.
Arga berhenti di depan pintu jati besar itu. Ia merapikan jasnya, menarik napas panjang, dan mencoba memikirkan wajah Nabila sebagai pelindung mentalnya. Hanya urusan pekerjaan, Arga. Ingat itu, bisiknya dalam hati. Ia mengetuk pintu dan masuk tanpa menunggu jawaban lama.
Ruangan Siska kini bermandikan cahaya lampu temaram. Aroma parfum musk yang tajam kembali menyerbu indra penciumannya. Siska tidak sedang duduk di balik meja. Ia berdiri di dekat bar pribadi di sudut ruangan, sedang menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal.
"Kau tepat waktu, Arga. Aku selalu menyukai kedisiplinanmu," ucap Siska tanpa menoleh. Ia mengenakan gaun malam tanpa lengan berwarna hitam yang menonjolkan kulit bahunya yang putih porselen.
"Ada instruksi tambahan untuk proyek Bali, Bu?" Arga bertanya dengan nada sedatar mungkin. Ia sengaja tetap berdiri di dekat pintu, menjaga jarak yang aman.
Siska berbalik perlahan, membawa dua gelas di tangannya. Ia melangkah mendekati Arga dengan gerakan yang sangat lambat, seolah menikmati setiap inci ketegangan yang terpancar dari tubuh pria itu. Ia menyodorkan salah satu gelas ke arah Arga.
"Minumlah. Ini whisky terbaik. Kau butuh sesuatu untuk menenangkan sarafmu yang kaku itu."
"Terima kasih, tapi saya tidak minum saat masih dalam jam kerja," tolak Arga tegas.
Siska tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan sutra, halus namun dingin. Ia meletakkan gelas itu di atas meja kecil terdekat dan terus melangkah hingga hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter dari dada Arga.
"Jam kerja sudah selesai sepuluh menit yang lalu, Arga. Sekarang, hanya ada kita berdua. Mantan kekasih yang kini dipertemukan oleh takdir yang manis," bisik Siska. Matanya yang gelap menatap tajam ke dalam mata Arga, mencoba mencari celah kerapuhan di sana.
"Kita di sini untuk bicara profesional, Siska. Jika tidak ada yang penting, saya permisi. Istri saya sedang menunggu di rumah."
Mendengar nama Nabila disebut, raut wajah Siska berubah sekejap. Kilat amarah muncul di matanya sebelum kembali tertutup oleh topeng ketenangan yang provokatif.
"Istrimu... Nabila, bukan?" Siska berjalan mengelilingi Arga, tangannya dengan berani menyentuh lengan jas Arga. "Dia cantik, aku akui. Tapi dia... membosankan. Dia seperti air putih, Arga. Menyegarkan, tapi tidak memiliki rasa. Tidak memiliki gairah yang bisa membakar jiwamu."
"Jangan berani-berani menghina istriku!" bentak Arga, suaranya naik satu oktav.
Siska justru tersenyum puas. Ia berhasil memancing emosi Arga. "Kenapa kau begitu marah? Apa karena kau tahu bahwa aku benar? Apa kau mencoba meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau bahagia dengannya, sementara kau masih bisa merasakan getaran di kulitmu setiap kali aku menyentuhmu?"
Siska berhenti tepat di depan Arga, menatap bibirnya. "Kau ingat malam terakhir kita di vila Puncak sebelum aku pergi ke luar negeri? Saat hujan turun sangat deras dan kita bersumpah tidak akan pernah saling melupakan? Kau ingat bagaimana caramu menyentuhku, Arga? Bagaimana kau membisikkan namaku berkali-kali seolah aku adalah satu-satunya alasanmu untuk bernapas?"
"Hentikan, Siska!" Arga membuang muka, namun bayangan malam itu, malam yang paling ia benci sekaligus paling sulit ia hapus, mendadak muncul di kepalanya. Keintiman yang dulu mereka bagi kini terasa seperti racun yang menyebar di nadinya.
"Kau tidak bisa menghapusnya, Arga," Siska berbisik tepat di telinganya. "Tubuh tidak pernah berbohong. Aku tahu kau merindukanku. Kau merindukan api yang kita miliki. Nabila tidak akan pernah bisa memberikan apa yang aku berikan padamu di bawah selimut malam itu. Kau tahu itu jauh di dalam hatimu."
Tangan Siska perlahan merayap naik ke kerah kemeja Arga, jarinya yang dingin menyentuh kulit leher Arga. Arga mematung, seluruh tubuhnya menegang antara keinginan untuk mendorong wanita itu menjauh atau membiarkan dirinya tenggelam dalam nostalgia yang berbahaya.
"Jadilah selingkuhanku, Arga," ucap Siska tanpa ragu. "Aku tidak memintamu mencintaiku. Aku hanya ingin kita menikmati kembali apa yang dulu menjadi milik kita. Sebagai imbalannya, Airborne Group akan berada di bawah kakimu. Kau akan menjadi pria paling berpengaruh di negeri ini."
Arga tersentak seperti baru saja tersengat listrik. Ia mencengkeram pergelangan tangan Siska dan melepaskannya dengan kasar dari lehernya.
"Kau benar-benar gila, Siska! Kau pikir aku bisa dibeli dengan jabatan dan seks?" Arga menatap Siska dengan rasa jijik yang murni. "Kau menghina suamimu sendiri, Pak Roy, yang begitu tulus mencintaimu. Dan kau menghina kehormatan pernikahanku. Aku tidak akan pernah kembali padamu, bahkan jika kau adalah wanita terakhir di bumi!"
Siska terhuyung sedikit karena dorongan Arga, namun ia tidak kehilangan harga dirinya. Ia berdiri tegak, merapikan gaunnya, dan menatap Arga dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan seorang ratu yang baru saja mendeklarasikan hukuman mati.
"Kau akan menyesali kata-katamu, Arga Mandala," desis Siska. "Aku memberikanmu pilihan yang mudah. Tapi jika kau memilih jalan yang sulit, maka aku akan memastikan kau kehilangan segalanya. Kariermu, istrimu, dan namamu. Aku akan membuatmu memohon padaku."
"Silakan coba," tantang Arga. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Perjalanan pulang terasa seperti selamanya bagi Arga. Jakarta yang macet dan bising seolah hilang dari pandangannya. Pikirannya dipenuhi oleh kata-kata Siska yang berbisa. Ia merasa kotor. Ia merasa seolah-olah pengkhianatan sudah terjadi meskipun ia menolak mentah-mentah ajakan Siska.
Sesampainya di depan pintu apartemen, Arga berhenti sejenak. Ia mencoba mengatur napasnya dan menghapus gurat kemarahan di wajahnya. Ia tidak ingin Nabila melihat ada yang salah.
Begitu pintu terbuka, aroma masakan yang lezat menyambutnya. Nabila sedang menata meja makan, mengenakan gaun rumah sederhana yang membuatnya terlihat sangat cantik di mata Arga.
"Mas! Kau sudah pulang! Kau terlambat satu jam dari biasanya," ucap Nabila sambil tersenyum lebar dan menghampiri Arga untuk mencium tangannya.
Arga memeluk Nabila dengan sangat erat, jauh lebih erat dari biasanya. Seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya pegangan di tengah badai yang sangat kuat.
"Ada apa, Mas? Kau baik-baik saja?" Nabila bertanya, merasakan detak jantung Arga yang kencang di dadanya.
"Aku hanya... merindukanmu," bisik Arga, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nabila. Aroma sabun mandi Nabila yang lembut perlahan-lahan mulai mengusir aroma parfum Siska yang sejak tadi seolah melekat di tubuhnya.
"Pekerjaan sangat melelahkan ya hari ini?" Nabila menuntun Arga ke meja makan. "Duduklah. Aku masak ikan asam pedas kesukaanmu. Makanlah, agar stresmu hilang."
Arga duduk, namun setiap suapan makanan terasa hambar di lidahnya. Ia menatap Nabila yang sedang bercerita tentang kegiatannya hari ini, tentang tanaman di balkon yang mulai berbunga, tentang tetangga sebelah yang baru saja melahirkan. Nabila adalah cahaya bagi Arga, namun di luar sana, Siska adalah kegelapan yang siap menelan cahaya itu.
"Mas, kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Nabila bertanya sambil tertawa kecil, pipinya sedikit merona.
"Aku hanya berpikir... betapa beruntungnya aku memilikimu, Nabila. Apapun yang terjadi di masa depan, berjanjilah kau akan tetap percaya padaku."
Nabila terdiam sejenak, senyumnya sedikit memudar melihat kesungguhan di mata Arga. Ia menggenggam tangan Arga di atas meja. "Tentu saja, Mas. Kenapa kau bicara begitu? Apa ada masalah di kantor? Apa Direktur baru itu menyulitkanmu?"
Arga ragu. Bibirnya ingin terbuka dan menceritakan semuanya, tentang siapa Siska sebenarnya dan apa yang baru saja terjadi di ruangannya. Namun, ia melihat binar kebahagiaan di mata Nabila. Ia tidak tega menghancurkan ketenangan itu dengan membawa 'sampah' dari masa lalunya.
"Hanya tekanan pekerjaan biasa, Sayang. Direktur baru memang sangat ambisius, tapi aku bisa menanganinya," bohong Arga.
Nabila menghela napas lega. "Baguslah. Aku selalu berdoa untukmu, Mas. Oh ya, besok ada undangan makan malam dari Pak Roy untuk para manajer inti dan pasangan mereka di rumahnya. Kita harus datang, kan?"
Jantung Arga serasa berhenti. Makan malam di rumah Siska? Dengan Nabila di sana?
"Iya... kita harus datang," jawab Arga lemah. Ia tahu, esok malam ia akan masuk ke dalam sarang ular, dan kali ini, ia membawa orang yang paling ia cintai masuk bersamanya.
Malam itu, saat Nabila sudah tertidur lelap di sampingnya, Arga tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan tatapan mata Siska yang penuh dendam. Undangan makan malam itu bukan sekadar formalitas kantor. Itu adalah undangan berbisa, sebuah jebakan yang disiapkan Siska untuk menunjukkan pada Nabila siapa sebenarnya penguasa di hidup Arga.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰