SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. SEMUA TAHU
Ruangan kerja Theo yang biasanya rapi, sunyi, dan terasa dingin oleh dominasi kaca serta logam, kini berubah seperti ruang interogasi dadakan.
Bukan karena lampu yang lebih terang.
Bukan karena pintu yang tertutup rapat.
Melainkan karena semua mata tertuju pada dua orang yang duduk berdampingan di sofa panjang berwarna abu gelap di sudut ruangan itu.
Theo Morelli.
Dan Celina Dawson.
Mereka duduk dengan jarak yang, menurut Theo, sudah cukup sopan.
Namun menurut tiga orang yang duduk di hadapan mereka ... jarak itu sama sekali tidak masuk akal.
Aiden berdiri dengan tangan terlipat di depan dada.
Lucy berdiri di sisi kiri, ponsel sudah di tangan, jari-jarinya gelisah seolah siap menekan satu nama kontak tertentu.
Leo bersandar santai di sisi kanan, wajahnya datar, terlalu datar, seperti seseorang yang sedang mengamati adegan menarik.
"Baik," kata Aiden akhirnya, suaranya tenang ... terlalu tenang.
Nada yang biasanya hanya muncul ketika ia sedang menahan kesal.
"Sekarang jelaskan," pinta Aiden yang terdengar seperti perintah.
Theo menghela napas panjang.
Celina duduk tegak, kedua tangannya rapi di atas paha. Terlalu rapi. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja tertangkap dalam situasi yang menurut orang lain sangat mencurigakan.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan," kata Theo dingin pada teman baiknya itu.
Aiden menatapnya lama. Lalu menoleh ke Celina.
"Dan kau?" tanya Aiden, suaranya sedikit melunak, tapi tetap mengandung tekanan. "Apa kau juga tidak punya penjelasan?"
Celina membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sebelum ia sempat berbicara ...
"Sejak kapan?" potong Aiden.
Theo menoleh cepat. "Sejak kapan apa?"
"Sejak kapan kalian memiliki hubungan?" tanya Aiden lurus, tanpa basa-basi.
Kalimat itu jatuh seperti palu.
"Aiden," Theo menggeram. "Jangan mulai."
Namun Aiden tidak bergeming. Tatapannya kini tajam, fokus sepenuhnya pada Theo. Bukan tatapan rekan kerja. Bukan tatapan teman.
Melainkan tatapan bagai seorang ayah yang menangkap basah anaknya sedang melakukan sesuatu di balik pintu tertutup.
"Jadi ini alasannya. Kenapa kau selalu memanggil Celina ke ruanganmu?" lanjut Aiden.
Theo berdiri setengah dari sofa. "Cukup."
"Pantas saja sejak pertama kau tertarik dengannya, jadi karena sebenarnya kalian sudah ada hubungan. Dan soal kekacauan waktu itu hanya alasanmu agar kau dan Celina bisa dekat," hipotesis Aiden.
Theo meraih satu bantal sofa dan tanpa peringatan melemparkannya ke arah Aiden.
"BERHENTI MEMBUAT KEADAAN JADI SALAH PAHAM!" seru Theo.
Bantal itu mengenai bahu Aiden dan jatuh ke lantai.
Ruangan hening sepersekian detik.
"Dan kau, Little Sister," Theo menunjuk Lucy dengan tajam. "Letakkan ponsel itu."
Lucy berkedip. "Aku belum-"
"Letakkan," ulang Theo. "Kau terlihat seperti akan menelepon Mama kapan saja."
Lucy mendengus. "Kalau situasinya memang perlu-"
"Tidak perlu!" sergah Theo. "Tidak ada yang perlu dilaporkan!"
Aiden menghela napas tajam. "Theo, sikapmu justru membuat semuanya terlihat mencurigakan."
"Oh, sekarang aku tersangka?" Theo tertawa miring.
"Di ruang kerjaku sendiri?"
Lucy menyela cepat, "Theo, kau memegang wajahnya."
"Itu refleks!" bantah Theo.
"Refleks, tapi kau memegang wajahnya seperi kau akan mencium pengantin di altar?!" seru Aiden.
"Benar itu. Kau bahkan tidak mengatakan apa pun soal kau ada hubungan dengan perempuan padahal Mama sangat ingin melihat kau berinteraksi dengan perempuan karena kau selalu fokus kerja saja," komentar Lucy.
"Aku tidak melakukan apa pun. Dia-"
Theo terdiam. Menyadari hampir saja ia mengatakan terlalu banyak.
Celina menunduk sedikit, pura-pura merapikan ujung bajunya. Wajah sedikit memerah mendengar kegaduhan yang membawa namanya dalan kesalahan pahaman ini.
Dan perang mulut itu berlanjut.
Aiden menekan.
Lucy memprovokasi.
Theo membalas dengan nada sarkastik.
Dan di tengah kekacauan itu ...
Leo bergerak.
Ia mengambil tisu dari meja kecil, lalu mendekat ke Celina dengan langkah santai. Duduk di sisi sofa yang sama, tapi tidak terlalu dekat.
"Ini," kata Leo sambil menyodorkan tisu.
Celina menoleh, sedikit terkejut. "Oh, terima kasih."
Leo mengangkat jarinya, menunjuk ke wajah Celina, lebih tepatnya ke pipinya.
"Make up-mu berantakan," kata Leo ringan.
Celina membeku.
Refleks, tangannya menyentuh wajah sendiri.
Freckles.
Riasan yang selama ini menjadi bagian dari penyamarannya.
"Tenang," kata Leo sambil tersenyum kecil. "Aku tahu itu palsu."
Celina menatapnya, matanya membesar. "Kau tahu?"
"Lucy yang awalnya tahu lebih tepatnya," jawab Leo singkat, lalu melirik ke arah kembarannya yang masih sibuk beradu argumen dengan Theo.
Celina menoleh ke arah Lucy.
Leo terkekeh pelan. "Sepertinya dia menyadarinya waktu merawatmu. Saat kau ditampar asisten keuangan itu," lanjut Leo.
Ah, saat di ruang kesehatan, kah? batin Celina.
"Lucy mengoceh sepanjang malam," ujar Leo.
Celina bisa membayangkan itu dengan sangat jelas.
"Dia bingung," lanjut Leo, masih dengan nada santainya, "kenapa seseorang yang jelas-jelas cantik justru membuat wajahnya terlihat ... yah-"
"Tidak menarik," potong Celina pelan.
Leo tersenyum sopan. "Kurang lebih begitu."
Celina menghela napas panjang. "Aku tidak tahu akan ada yang menyadarinya."
"Tidak banyak yang bisa," jawab Leo jujur. "Kecuali orang-orang yang memang terbiasa memperhatikan detail."
Celina melirik ke arah Theo, yang masih sibuk berdebat dengan Aiden.
"Justru kakakmu. Dia yang paling menakutkan," kata Celina teringat bagaimana Theo menyudutkannya sebelum ini.
Leo tertawa kecil. "Karena dia langsung tahu?"
Celina mengangguk. "Hanya dengan melihat."
"Itu Theo," kata Leo ringan. "Sejak dulu dia selalu jeli."
"Terlalu jeli," komentar Celina.
Leo menatap Celina lebih serius.
"Nasihat kecil," lanjut Leo. "Lebih baik jangan berbohong padanya terlalu jauh. Dia sangat pandai menilai orang," tambah Leo.
Saat itu Celina mengerti.
Bukan karena Theo curiga.
Bukan karena Theo mencurigainya sejak awal.
Melainkan karena Theo ... melihat Celina.
"Curang!" Suara Lucy memecah suasana.
Semua menoleh.
Lucy menunjuk Leo dengan dramatis. "Curang! Leo sudah dekat duluan dengan Celina!"
Leo mengangkat bahu. "Aku hanya bersikap sopan ketika sebagian orang di ruangan ini sibuk beradu mulut."
Celina gelagapan, langsung berdiri setengah. "A-aku seharusnya kembali bekerja. Aku hanya office girl, tidak pantas berlama-lama di sini."
Kalimat itu menggantung ketika keheningan terjadi sebelum akhirnya ....
Semua orang tertawa.
Bahkan Aiden.
Bahkan Theo, yang berusaha menahan tapi gagal.
Celina berdiri kaku. "A-ada yang salah?"
Aiden menggeleng sambil tersenyum. "Tidak ada satu pun orang di ruangan ini, yang percaya kau hanya seorang office girl," katanya.
Celina semakin bingung.
Theo menyandarkan punggungnya, menatap Celina dengan senyum lebar yang jarang ia tunjukkan.
"Kau sudah menunjukkannya sejak tadi. Bahkan dari cara kau duduk," tunjuk Theo.
Celina spontan mengubah posisi duduknya. Lebih santai. Lebih ... biasa.
Namun hasilnya tetap sama.
Lucy mendekat, duduk di samping Celina.
"Kau dari kalangan atas, ya?" tanya Lucy ringan tapi tajam. "Kenapa memilih jadi office girl?"
Celina refleks menoleh ke Theo.
Theo menggeleng pelan.
Isyarat yang sangat jelas: jangan beritahu apa pun.
Celina menelan ludah.
Lalu berpikir cepat dan ... mengarang.
"Aku kabur dari rumah," kata Celina tiba-tiba.
Semua terdiam.
"Karena menolak dijodohkan," lanjut Celina dengan ekspresi datar. "Aku butuh pekerjaan. Dan Morelli Corporation adalah satu-satunya tempat yang menerimaku tanpa banyak bertanya."
Theo menutup mulutnya dengan tangan, bahunya bergetar, menahan tawa karena Celina bisa selugu itu dalam berbohong.
Lucy menatap Celina lekat-lekat. "Itu ... terdengar seperti cerita novel, cukup menyedihkan."
"Itu memang karangan," gumam Theo pelan tanpa didengar yang lain, terus menahan tawa.
Lucy lalu bertanya lagi, "Lalu kenapa menyamar?"
Celina menarik napas. "Karena aku punya pengalaman buruk dengan wajahku."
"Pengalaman apa?" Lucy mendesak.
Celina terdiam sejenak. Lalu menjawab jujur. "Terlalu menarik perhatian. Terutama pria."
Semua membeku.
"Sejauh mana menarik perhatiannya?" tanya Aiden hati-hati.
"Stalker," jawab Celina singkat.
Keheningan jatuh.
Bahkan Theo terdiam.
Dan entah kenapa ... Theo tahu.
Itu bukan karangan.
Namun sebelum ada yang sempat menanggapi ...
Suara nyaring terdengar mengejutkan mereka semua di ruangan itu.
Alarm kebakaran berbunyi.
Nyaring. Mendadak. Mengguncang seluruh lantai.
Lampu darurat menyala.
Suara panik mulai terdengar dari luar ruangan.
Semua orang berdiri serentak.
"Evakuasi!" suara dari pengeras terdengar samar.
Theo menatap Celina.
Celina menatap Theo.
Mereka tidak tahu di tengah kekacauan itu ada hal besar yang terjadi ....
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️