NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Ombak besar terus menghantam, namun Gladis seolah mendapatkan kekuatan super yang lahir dari rasa takut kehilangan.

Dengan napas yang tersengal dan otot lengan yang mulai kaku karena kedinginan, ia terus menyeret tubuh Arkan yang tak sadarkan diri menuju sebuah bayangan hitam di cakrawala.

Gladis melihat bayangan pulau dan segera ia mengayuh kakinya ke pulau terpencil sambil menyeret tubuh suaminya.

Begitu kakinya menyentuh pasir pantai yang kasar, Gladis mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya untuk menarik Arkan menjauh dari jangkauan air laut.

Ia jatuh tersungkur di samping suaminya, terengah-engah dengan dada yang terasa terbakar.

"Arkan, bangun. Sayang..." bisiknya parau.

Dalam remang cahaya bulan yang sesekali tertutup awan badai, Gladis memeriksa kondisi Arkan.

Jantung Gladis nyaris berhenti saat melihat kaki suaminya.

Luka robek yang sangat dalam menghiasi paha hingga betis Arkan tanya mungkin terkena baling-baling kapal atau karang tajam saat ia terjatuh tadi.

Darah segar terus mengalir, tersapu air laut yang asin.

Tanpa membuang waktu, Gladis meraih pinggiran gaun pesta emasnya yang mewah.

Gaun yang beberapa jam lalu menjadi simbol kebahagiaan mereka.

Dengan sentakan kuat, ia menyobek kain sutra mahal itu menjadi beberapa helai panjang.

Kemudian dengan tangan gemetar Gladis melilitkan kain itu dengan sangat kencang ke luka Arkan untuk menghentikan pendarahan.

"Tahan, Arkan. Aku mohon bertahanlah," isak Gladis sambil menekan luka tersebut.

Arkan melenguh pelan, matanya sedikit terbuka namun tampak kosong.

Kesadarannya masih sangat tipis karena kehilangan banyak darah dan suhu tubuh yang menurun drastis (hipotermia).

Gladis kemudian memeluk tubuh Arkan dengan erat dan mencoba menyalurkan kehangatan dari tubuhnya sendiri di tengah angin malam pulau yang menusuk.

Ia menatap ke arah laut luas, berharap ada keajaiban atau tim penyelamat dari kapal yang bisa menemukan mereka. Namun di pulau terpencil ini, hanya ada mereka berdua dan suara deburan ombak yang mencekam.

Gladis yang kelelahan langsung tertidur di samping tubuh suaminya.

Sampai keesokan paginya dimana matahari yang terik menyengat kulit, perlahan membangunkan Gladis dari tidur singkatnya yang penuh kegelisahan.

Ia terbangun dengan posisi masih memeluk tubuh Arkan di atas pasir pantai yang kini terasa panas.

Pakaiannya yang semalam basah kuyup, kini mulai mengering dan terasa kaku karena air garam.

"Arkan..." bisik Gladis pelan, suaranya parau.

Arkan mengerang kecil dengan kelopak matanya yang berat perlahan terbuka, berkedip berkali-kali melawan silau matahari.

Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Gladis yang kotor oleh pasir dan rambut yang berantakan, namun menatapnya dengan binar kelegaan yang luar biasa.

"Gladis? Kita di mana?" tanya Arkan dengan suara serak.

Ia mencoba mengingat kejadian semalam, mulai dari badai, sabotase mesin, dan sensasi jatuh ke dalam kegelapan laut.

Arkan mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk, namun saat ia bertumpu pada kaki kanannya, sebuah rasa sakit yang luar biasa menusuk hingga ke saraf kepalanya.

"AARGGGHHH!" Arkan mengerang keras, wajahnya seketika pucat pasi dan keringat dingin bercucuran.

"Jangan bergerak! Jangan digerakkan dulu, Arkan!" seru Gladis panik, langsung memegang bahu suaminya agar kembali berbaring.

"Kakimu terluka parah. Tadi malam aku sudah membalutnya, tapi lukanya sangat dalam."

Arkan menunduk dan melihat kakinya yang terluka parah.

Gaun pesta emas Gladis yang indah kini hanya tersisa potongan-potongan kain yang melilit kakinya, penuh dengan noda darah yang mengering.

Ia tertegun, menatap kain itu lalu menatap istrinya.

"Kamu terjun ke laut untukku?" bisik Arkan tak percaya. "Kamu menyelamatkanku, Gladis?"

Gladis tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk sambil menahan tangis yang kembali ingin pecah.

Ia merasa sangat kecil di pulau luas ini, namun ia tahu ia harus kuat demi pria yang selama ini menjadi pelindungnya.

Arkan meraih tangan Gladis, mengecup telapak tangannya yang lecet dengan penuh perasaan.

"Maafkan aku, sayang. Seharusnya aku yang melindungimu, bukan malah membuatmu terdampar di tempat seperti ini."

"Berhenti minta maaf," potong Gladis tegas sambil menyeka air matanya.

"Kita harus bertahan hidup sampai Gerald menemukan kita. Sekarang, aku harus mencari air minum untukmu. Kamu sudah kehilangan banyak darah."

"Mencari air minum dimana? Kita di pulau terpencil, Gla."

Gladis bangkit dan tersenyum tipis ke arah suaminya.

"Aku akan mengambil kelapa disana, dan kamu disini saja." jawab Gladis.

Arkan mengangguk kecil dan hanya bisa bersandar di batang pohon tumbang, menatap istrinya dengan rasa takjub yang tak terlukiskan.

Di matanya, Gladis bukan lagi gadis kota yang manja atau mahasiswi yang harus selalu ia awasi.

Di pulau ini, Gladis berubah menjadi sosok pejuang.

Gladis merobek bagian bawah gaun emasnya hingga setinggi paha, memberikan ruang gerak bagi kakinya agar lebih leluasa.

Tanpa alas kaki, ia mendekati pohon kelapa yang condong ke arah laut.

Dengan ketangkasan yang luar biasa, ia memanjat pohon itu, memetik dua buah kelapa, dan menjatuhkannya ke pasir.

Tak berhenti di situ, Gladis mengambil sepotong kayu tajam dan berjalan ke arah air laut yang jernih di pinggir karang.

Ia berenang dengan tenang, matanya mengintai di sela-sela terumbu. Dan hanya dalam waktu singkat, ia kembali ke darat dengan dua ekor ikan kerapu yang masih segar di tangannya.

"Aku akan bakarkan ikan ini untukmu. Maaf ya, Sayang, di sini tidak ada minyak atau bumbu," ucap Gladis sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang tegang.

Arkan mengernyitkan keningnya dan bingung bagaimana cara Gladis akan memasaknya.

"Bagaimana kamu mau membakarnya tanpa pemantik?"

Gladis tidak menjawab sambil mengumpulkan ranting kering dan mencari dua buah batu pipih yang mengandung mineral tertentu.

Ia berjongkok di pasir, menggesekkan kedua batu itu dengan ritme yang cepat dan konsisten di atas tumpukan daun kering.

Tik... tik... fush!

Percikan api muncul, dan dalam sekejap, asap mengepul diikuti api yang mulai menjilat ranting-ranting kecil.

Gladis meniupnya pelan hingga api membesar.

"Kamu..." Arkan menggelengkan kepala, bibirnya menyunggingkan senyum bangga yang tulus.

"Kamu benar-benar penuh kejutan, Gladis. Di mana kamu belajar semua ini?"

"Ibu yang mengajariku saat kami dulu sering berkemah di hutan dekat desa," jawab Gladis sambil menusuk ikan dengan ranting kayu.

"Dulu aku pikir itu hanya permainan, ternyata sekarang menyelamatkan nyawa kita."

Arkan menatap Gladis yang sedang fokus membakar ikan di depan api unggun.

Cahaya api menari-nari di wajahnya yang kotor, namun bagi Arkan, Gladis belum pernah terlihat secantik ini.

Sisi pemberani istrinya ini membuat rasa cintanya tumbuh berkali-kali lipat lebih besar.

"Waktunya kamu makan dulu," ucap Gladis sambil menyuapkan daging ikan bakar yang putih bersih kepada suaminya setelah memastikan tidak ada tulang.

Arkan mengunyah pelan, menatap laut yang kini tenang seolah tidak pernah terjadi badai besar semalam.

"Terima kasih, Sayang. Begitu kita keluar dari sini, aku akan memberikan dunia untukmu. Tapi sekarang, aku sadar jika duniamu ternyata jauh lebih luas dari duniaku."

Gladis tersenyum tipis dan kembali menyuapi suaminya.

Sementara itu di atas kapal Ocean Empress yang masih sedikit oleng akibat sisa badai, suasana di anjungan terasa sangat mencekam.

Gerald berdiri di depan peta digital dengan wajah yang sangat tegang.

Ia tidak tidur sedetik pun sejak insiden jatuhnya Arkan dan Gladis ke laut.

"Sudah ada tanda-tanda dari tim SAR udara?" tanya Gerald dengan suara parau kepada petugas komunikasi.

"Belum, Sir. Radius pencarian sudah diperluas hingga 50 mil laut dari titik jatuhnya Kapten, namun ombak semalam membuat perhitungan arus menjadi sangat sulit," jawab petugas itu dengan nada putus asa.

Gerald memukul meja navigasi dengan keras. "Cari lagi! Gunakan semua satelit yang bisa kita akses! Kapten Arkan dan Nyonya Gladis harus ditemukan. Kapal ini tidak akan bergerak pulang tanpa mereka!"

Gerald kemudian mengambil radio satelit dan menghubungi pusat komando perusahaan Arkan di daratan.

Ia meminta bantuan tambahan berupa helikopter pribadi dan tim penyelam profesional.

"Ini Gerald. Saya meminta otorisasi darurat. Kerahkan tiga helikopter penyelamat tercepat dari pangkalan terdekat ke koordinat terakhir Ocean Empress. Kita kehilangan pemilik perusahaan dan istrinya. Lakukan apa pun, biaya bukan masalah!"

Sementara itu, di dek bawah, Vita sedang duduk lemas sambil terus berdoa.

Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menahan Gladis semalam.

Dokter Sarah mencoba menenangkan para penumpang yang masih trauma, namun matanya sendiri terus menatap ke arah laut lepas dengan cemas.

Gita dan para penumpang lainnya yang sebelumnya menghina Gladis, kini hanya bisa terdiam membisu.

Mereka merasa malu dan takut, menyadari bahwa gadis yang mereka sebut "simpanan" itu justru memiliki keberanian yang jauh melampaui siapapun di kapal ini karena rela mati demi suaminya.

Disisi lain Alex sedang bersembunyi di kamarnya dalam kondisi ketakutan.

Ia tidak menyangka sabotase yang ia lakukan akan berakhir dengan hilangnya Arkan dan Gladis. Kini, jika mereka ditemukan selamat dan ia terbukti bersalah.

Maka ia tahu bahwa Arkan tidak akan hanya mengusirnya, tapi akan menghancurkan hidupnya selamanya.

"Mereka harus mati, mereka tidak boleh kembali ke kapal ini," gumam Alex dengan tangan gemetar, berharap samudra menelan rahasianya selamanya.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Gladys 😄 cocok jadi pasangan hidup Arkan
Ita Putri
seruuuu
lanjut💪💪
Ariany Sudjana
bagus Gladys kamu harus tegas, jangan biarkan pelakor murahan seperti Angela merusak rumah tangga kamu dengan Arkan
Ariany Sudjana
sedih lihat perjuangan Gladys sampai segitunya demi menyelamatkan suami tercinta
Ariany Sudjana
ini kenap sih ada pelakor datang? Gladys yang berjuang menyelamatkan Arkan di pulau, malah dipeluk pelakor, dan orang tua Arkan juga diam, jangan-jangan Arkan sudah dijodohkan dengan perempuan ga jelas itu
Ariany Sudjana
Suka dengan karakter Gladys, tidak peduli dengan semua halangan, dia hadapi demi menyelamatkan suami tercinta, walaupun awalnya mereka berdua menikah karena terpaksa
Ariany Sudjana
Alex harus dihukum berat, jangan biarkan dia lolos
Ariany Sudjana
semoga Arkan dan Gladys lekas ditemukan dengan kondisi selamat dan sehat. semangat juang Gladys luar biasa, tidak ada sosok manja, semua dilakukan demi keselamatan suami tercinta
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa diselamatkan dan bisa sadar kembali dan kembali sehat, jangan tinggalkan Gladys
Ariany Sudjana
bagus Arkan, jangan biarkan Gladys hancur karena omongan julid dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
tetap waspada yah Arkan dan Gladys, jangan biarkan Alex atau siapapun menghancurkan rumah tangga kamu kalian
Ita Putri
sweet banget gk sih mereka berdua 🥰
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Gladys sudah tahu kejadian sebenarnya, dan jangan pernah meragukan suami kamu untuk melindungi kamu Gladys
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Gladys kamu jangan bodoh, jangan mudah emosi, Arkan itu kapten kapal, dan dia harus menjaga wibawanya di depan seluruh penumpang. dan lagi, jangan karena kamu istrinya, Arkan harus percaya begitu saja, tidak seperti itu. bukti paling kuat CCTV, dan jika bukti itu keluar, nama kamu bisa dibersihkan. ingat Gladys, Alex dan antek-anteknya ada di sekeliling kamu, segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan kamu dan Arkan
Ariany Sudjana
bukannya seram Gladys, tapi itu cara Arkan untuk melindungi kamu selaku istrinya
Ita Putri
alur cerita seru gk bertele tele
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ita Putri
semangatnya outhor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!