NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Kesabaran Yang Tak Terucap

Minggu pagi ini, langit Jakarta cerah berawan, seolah merestui rencana Hannah. Setelah sekian lama disibukkan dengan tugas kuliah dan drama adaptasi pernikahan yang menguras emosi, hari ini Hannah mendapatkan izin dari Akbar untuk menghadiri reuni kecil sekaligus pengajian bulanan alumni pondok pesantrennya yang diadakan di Masjid Istiqlal.

"Nanti pulangnya kabari Mas ya, biar Mas jemput di lobi Al-Fattah," pesan Akbar saat menurunkan Hannah di gerbang masjid. Mobil SUV-nya berhenti rapi di pinggir jalan.

"Iya, Mas. Mas hati-hati ya di rumah. Jangan lupa makan siang," jawab Hannah sambil meraih tangan suaminya, lalu mencium punggung tangan itu dengan takzim.

"Siap, Istriku. Hati-hati ya," Akbar tersenyum teduh, lalu mengusap puncak kepala Hannah yang tertutup khimar.

Hanya itu. Usapan di kepala.

Selama tiga bulan menikah, itulah kontak fisik "paling intim" yang dilakukan Akbar. Cium tangan, usap kepala, atau paling jauh, kecupan singkat di kening saat hendak tidur atau berangkat kerja. Tidak lebih.

Mobil Akbar perlahan melaju meninggalkan pelataran masjid. Hannah menatap kepergian mobil itu dengan perasaan hangat, namun juga datar. Ia merasa pernikahannya sangat tenang, sangat sopan, seperti hubungan persahabatan yang direstui agama.

Hannah melangkah masuk ke area masjid. Di sudut serambi, Aminah, sahabat sekamarnya dulu, sudah melambai antusias.

"Ukhti Hannah!"

Mereka berpelukan erat. Reuni itu berlangsung hangat. Ada sekitar sepuluh orang teman seangkatannya yang hadir. Obrolan mengalir dari nostalgia masa mondok hingga kehidupan sekarang.

Setelah sesi temu kangen, mereka duduk melingkar dengan rapi untuk mendengarkan tausiyah yang dibawakan oleh Ustadzah Halimah, guru senior mereka.

Tema kajian hari ini adalah "Membangun Surga di Rumah Tangga".

Awalnya, Hannah mendengarkan dengan santai. Ia merasa sudah menjadi istri yang cukup baik. Ia melayani makan minum Akbar, ia menjaga kebersihan rumah, dan ia patuh pada izin suami.

Namun, suasana hati Hannah berubah drastis saat Ustadzah Halimah masuk ke poin inti tentang Haquz Zauj (Hak Suami), khususnya mengenai nafkah batin.

Suara Ustadzah yang lembut namun tegas menggema, menusuk ke dalam relung hati Hannah.

"Para istri yang dirahmati Allah," ucap Ustadzah Halimah. "Seringkali kita lupa, bahwa di balik ketegaran seorang suami, ada kebutuhan fitrah yang harus dipenuhi. Pernikahan adalah benteng bagi mereka."

Hannah menegakkan punggungnya.

"Rasulullah SAW bersabda tentang besarnya hak suami. Dan salah satu hak yang paling krusial adalah hak atas tubuh istrinya. Ini bukan hal tabu, Ukhti. Ini adalah ibadah."

Ustadzah Halimah melanjutkan dengan kalimat yang membuat dada Hannah sesak.

"Jangan sampai kita menjadi istri yang dzalim. Mungkin suami kita diam. Mungkin suami kita sabar. Mungkin suami kita tidak meminta karena dia menjaga perasaan kita, atau karena dia malu. Tapi ketahuilah, menahan hak suami tanpa udzur syar'i, membiarkan suami memendam hasratnya sendirian sementara istri yang halal ada di sampingnya tapi bersikap acuh, itu adalah dosa."

Deg.

Wajah Hannah memucat.

"Seorang suami yang sholeh," lanjut Ustadzah, "Mungkin tidak akan memaksa. Dia akan menahan diri sekuat tenaga demi menghormati istrinya. Tapi bayangkan, betapa berat perjuangannya di luar sana menjaga pandangan, dan saat pulang, ia harus kembali 'berpuasa' karena istrinya tidak peka atau tidak menawarkan diri."

Air mata Hannah menetes jatuh ke karpet masjid.

Kalimat itu bukan sekadar teori baginya. Itu adalah cerminan nyata dari tiga bulan pernikahannya bersama Akbar.

Hannah teringat Akbar.

Selama sembilan puluh hari mereka tidur satu ranjang. Dan selama itu pula, Akbar tidak pernah meminta.

Akbar tidak pernah mencoba menyentuhnya lebih jauh. Akbar tidak pernah memaksakan kehendaknya. Akbar memperlakukan Hannah dengan sangat hati-hati, seolah Hannah adalah barang pecah belah yang akan hancur jika disentuh terlalu erat.

Hannah selama ini berpikir: Ah, Mas Akbar nggak minta kok. Berarti dia nggak butuh. Atau mungkin dia emang orangnya dingin.

Hannah merasa aman dengan pikiran itu. Ia merasa nyaman karena tidak perlu melayani "kewajiban berat" itu. Ia berlindung di balik fakta bahwa ini adalah pernikahan perjodohan, jadi wajar jika semuanya berjalan lambat.

Tapi hari ini, Hannah sadar bahwa pikirannya itu naif dan egois.

Akbar adalah laki-laki normal, sehat, dan dewasa. Mustahil dia tidak memiliki hasrat kepada istrinya sendiri.

Alasan Akbar tidak pernah meminta bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia menghormati Hannah.

Akbar tahu mereka dijodohkan. Akbar tahu Hannah masih muda, masih kuliah, dan mungkin masih kaget dengan status barunya. Karena itulah Akbar menahan dirinya mati-matian. Dia memendam keinginannya sendiri demi kenyamanan Hannah. Dia menunggu Hannah siap tanpa pernah memberikan kode atau tekanan sedikitpun.

Ya Allah, Mas Akbar... batin Hannah terisak pelan.

Hannah membayangkan betapa beratnya posisi Akbar. Pulang kerja capek, tidur di samping istri yang sah, mencium aroma tubuh istri, tapi harus menahan diri untuk tidak menyentuh karena takut istrinya merasa dipaksa.

Hannah merasa tertampar. Ia merasa menjadi istri yang sangat tidak peka. Ia membiarkan suaminya berjuang sendirian menjaga kesuciannya, sementara Hannah tidur nyenyak di sampingnya tanpa rasa bersalah.

"Suami yang tidak meminta haknya karena memuliakan istrinya, itu adalah suami ahli surga," tutup Ustadzah Halimah. "Tapi istri yang membiarkan hal itu terjadi terus-menerus tanpa sadar diri, harus segera bertaubat dan memperbaiki pelayanannya."

Kajian selesai menjelang ashar. Hannah bangkit dengan kaki lemas dan mata sembab.

Sore harinya, mobil Akbar sudah menunggu di lobi masjid.

Hannah masuk ke dalam mobil dengan gerakan lambat. Ia duduk di samping Akbar, mencium aroma musk yang selalu menenangkan itu.

Akbar menoleh, tersenyum cerah seperti biasa. Tidak ada gurat kekecewaan, tidak ada tuntutan. Hanya ketulusan.

"Gimana pengajiannya? Seru?" tanya Akbar riang. "Ketemu siapa aja?"

Hannah tidak menjawab. Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat. Wajah pria yang selama tiga bulan ini menahan egonya. Wajah pria yang tidak pernah menggunakan "kartu suami" untuk memaksanya melayani.

"Dek Hannah? Kok diem?" Akbar menyentuh pipi Hannah dengan punggung tangannya, memastikan suhu tubuh istrinya. "Sakit?"

Sentuhan itu lembut sekali. Penuh kehati-hatian.

Hannah meraih tangan Akbar yang ada di pipinya, menggenggamnya erat, lalu mencium telapak tangan suaminya yang kasar karena sering ke proyek.

"Mas..." suara Hannah bergetar.

"Ya, Dek?"

"Mas Akbar... kenapa Mas nggak pernah minta?" tanya Hannah tiba-tiba.

Akbar mengerutkan kening, bingung. "Minta apa?"

"Minta... hak Mas," Hannah menunduk, wajahnya memerah padam, tapi ia harus menanyakannya. "Kita udah nikah tiga bulan. Tapi Mas nggak pernah... Mas nggak pernah nyentuh Hannah lebih dari ini. Mas nggak pernah minta hubungan suami istri."

Suasana mobil hening seketika. Akbar terdiam. Senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi teduh namun serius.

Akbar menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya sedikit menghadap Hannah.

"Karena Mas tahu bagaimana kita memulainya, Dek," jawab Akbar jujur. "Kita menikah karena perjodohan. Mas tahu kamu kaget. Mas tahu kamu butuh waktu buat adaptasi jadi seorang istri."

Akbar menatap mata Hannah dalam-dalam.

"Mas nggak mau kamu merasa pernikahan ini adalah penjara di mana tubuh kamu dieksploitasi atas nama kewajiban. Mas mau kamu merasa aman dulu. Mas mau, kalaupun hal itu terjadi, itu karena kamu juga menginginkannya, bukan karena takut dosa atau takut sama Mas."

"Mas rela nunggu?" tanya Hannah, air matanya menetes lagi.

"Mas rela," jawab Akbar mantap. "Kehormatan dan kenyamanan kamu lebih penting buat Mas daripada sekadar kepuasan fisik. Mas bisa tahan, Dek. Mas udah biasa puasa senin-kamis," candanya sedikit untuk mencairkan suasana, meski matanya menyiratkan kesungguhan.

Jawaban itu meruntuhkan pertahanan Hannah.

Ia menangis bukan karena sedih, tapi karena haru. Ia menikahi pria yang begitu mulia. Pria yang rela "lapar" asal istrinya tidak merasa terpaksa "memasak".

"Maafin Hannah, Mas..." isak Hannah. "Hannah nggak peka. Hannah pikir Mas nggak mau... Hannah pikir Mas nggak tertarik sama Hannah."

Akbar tertawa kecil, lalu mengusap kepala Hannah. "Mana mungkin Mas nggak tertarik sama istri secantik kamu? Mas ini laki-laki normal, Humaira. Tiap malam juga Mas perang batin. Tapi rasa sayang Mas ke kamu lebih besar daripada nafsu Mas."

Sore itu, di dalam mobil yang melaju membelah Jakarta, Hannah membuat keputusan besar.

Ia tidak ingin lagi membiarkan Akbar "perang batin" sendirian. Ia sudah mendengar ilmunya, dan kini ia melihat buktinya kesabaran Akbar yang tanpa batas.

Hannah menghapus air matanya. Ia menatap jalanan di depan dengan pandangan baru. Pandangan seorang wanita yang siap memberikan dirinya secara utuh, bukan karena paksaan, tapi sebagai bentuk syukur dan cinta kepada imam yang telah memuliakannya.

Nanti malam, janji Hannah dalam hati. Nanti malam aku tidak akan membiarkan Mas Akbar tidur dengan menahan diri lagi.

1
Khairanur
bagus..saya suka alur ceritanya...lanjut thor❤️
Ayusha
cinta sehidup semati udah biasa, cinta sehidup sesurga itu yang luar biasa 😍
Ayusha
hebat Annisa
Ayusha
ini yang selalu Ummahat tuntut buat para suami😄
Ayusha
wanita dengan segala prasangka nya😄
Ayusha
beraaatt mas Akbar.. yang belum Halal si Annisa sudah berani mencintai dalam diam, yang sudah halal masih harus berhati-hati dalam menjaga hati. 🤭
Ayusha
makanya Allah melarang "jangan dekati zina" termasuk zina mata dan zina hati, zina hati ini yg paling berat untuk di jauhi.
gapapa Annisa, yakinlah bahwa wanita baik untuk laki2 yg baik pula. jd tetap jaga hati hanya untuk sang Maha pemilik hati, agar hatimu tetap terjaga dari kekecewaan.😍
Ayusha
justru cinta karena landasan takwa kepada Allah ini lah yg paling kuat Hanna, mungkin dg kamu sadar akan kewajiban seorang istri kpd suami itu akan lebih mempererat tali pernikahan itu sendiri. jd jangan cuma minta dimengerti, seorang istri pun harus bisa mengerti akan suami. 👍
Ayusha
/Drool/
Ayusha
kenapa tulisan bagus, romansa tanpa melanggar syariat begini malahh sedikit yg like ya.
tetep semangat buat othor, jangan berhenti ditengah jalan yah 👍
Ayusha
begitulah wanita, jika melihat wanita lain yg dirasa lebih dari pada dia rasa insecure hadir sendiri /Shhh/
melda melta
kok lama update nya
Juwitha Arianty Ibrahim
up lagi dong, doble up klo. bisa, penasaran banget sma kelanjutan nyaw/Smile//Smile/
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!