NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Ketenangan Yang Mengalir

Rabu siang di kantor Hasyim Group berjalan dengan ritme yang sibuk namun teratur. Suara dering telepon, ketikan keyboard, dan langkah kaki pegawai yang berlalu-lalang menjadi musik latar di lantai dua gedung itu.

Di dalam ruangan direktur utama yang kedap suara, atmosfer terasa jauh lebih tenang. Hannah Humaira duduk di sofa kulit favoritnya sofa yang kini seolah menjadi tempat amannya setiap kali berkunjung ke "dunia" suaminya.

Hari ini, Hannah datang lagi atas ajakan Akbar. "Nanti siang makan di luar yuk, sekalian kamu temenin Mas review desain di kantor," begitu bujuk Akbar tadi pagi. Hannah yang sedang libur kuliah tentu saja mengiyakan dengan hati berbunga-bunga.

"Dek, Mas ke ruangan Pak Haryo sebentar ya," ucap Akbar sambil merapikan gulungan kertas desain besar di meja kerjanya. "Ada masalah teknis di pondasi yang harus didiskusikan langsung. Paling sepuluh menit. Kamu tunggu sebentar ya?"

Hannah mendongak dari ponselnya, tersenyum manis. "Iya, Mas. Hannah tunggu di sini."

"Jangan kemana-mana. Kalau haus, ambil aja di kulkas mini," pesan Akbar sambil mengacak pelan puncak kepala istrinya, lalu berjalan keluar ruangan.

Pintu tertutup. Hening kembali menyelimuti ruangan besar itu.

Hannah menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kerja suaminya. Foto pernikahan mereka kini terpajang kecil di meja kerja Akbar—sebuah perubahan kecil yang membuat hati Hannah hangat.

Baru sekitar tiga menit Akbar pergi, pintu ruangan diketuk pelan.

Tok. Tok.

Hannah menegakkan punggungnya. Ia merapikan gamisnya sedikit, bersiap menyambut siapapun yang masuk.

"Masuk," sahut Hannah dengan suara lembut namun cukup terdengar.

Pintu terbuka.

Tubuh Hannah menegang sedikit saat melihat siapa yang datang.

Annisa.

Wanita itu berdiri di ambang pintu. Tidak membawa berkas, tidak membawa map. Ia berdiri dengan tangan saling meremas di depan tubuhnya, gestur yang menunjukkan kegugupan yang nyata. Wajahnya tidak sepercaya diri biasanya.

Annisa melihat bahwa ruangan itu kosong, hanya ada Hannah. Sepertinya ia memang menunggu momen ini. Momen di mana ia bisa bicara empat mata dengan istri bosnya.

"Permisi... Dek Hannah," sapa Annisa pelan. Senyumnya tipis dan terlihat canggung. "Boleh saya masuk sebentar? Maaf kalau mengganggu."

Hannah merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ingatan tentang Nasi Liwet dan rasa sakit hatinya kembali berbayang. Namun, Hannah ingat pesan Umi untuk selalu memuliakan tamu dan bersikap santun. Ia menahan gejolak perasaannya.

Hannah mengangguk sopan, berusaha bersikap ramah meski hatinya waspada.

"Silakan, Mbak Annisa," jawab Hannah. "Tapi Mas Akbar lagi ke ruangan Pak Haryo. Mungkin sebentar lagi kembali."

"Saya tahu," Annisa melangkah masuk, lalu berhenti di dekat sofa, menjaga jarak sopan. Ia tidak berani duduk sebelum dipersilakan. "Justru saya ingin bicara sama Dek Hannah, bukan sama Pak Akbar."

Hannah terdiam sejenak, lalu memberi isyarat tangan. "Duduk dulu, Mbak."

"Terima kasih, tapi saya berdiri saja," tolak Annisa halus. Ia menarik napas panjang, menatap Hannah dengan sorot mata penuh penyesalan.

"Saya... saya mau minta maaf soal kejadian hari Jumat kemarin," ucap Annisa to the point, suaranya sedikit bergetar.

Hannah terpaku. Ia tidak menyangka Annisa akan seberani ini mengakui kesalahannya langsung di hadapannya.

"Minta maaf soal apa, Mbak?" tanya Hannah pelan, ingin memastikan arah pembicaraan ini.

"Soal Nasi Liwet," lanjut Annisa, menundukkan pandangannya sedikit karena malu. "Saya benar-benar tidak tahu kalau hari itu Dek Hannah mau datang bawa bekal. Sumpah, Dek. Kalau saya tahu, saya nggak akan lancang bawain makanan buat Pak Akbar."

Annisa meremas jemarinya. "Pak Akbar sudah menegur saya. Beliau bilang beliau hanya mau makan masakan istrinya. Dari situ saya sadar, saya sudah melampaui batas dan tidak peka. Saya sadar tindakan saya itu pasti bikin Dek Hannah sakit hati. Saya minta maaf ya, Dek. Tolong jangan simpan dendam sama saya. Saya murni hanya ingin berbagi syukuran, tidak ada niat lain."

Mendengar permintaan maaf yang tulus dan panjang lebar itu, hati Hannah yang tadinya membeku perlahan melunak. Ia melihat Annisa bukan sebagai musuh yang angkuh, tapi sebagai wanita biasa yang melakukan kesalahan dan berani bertanggung jawab.

Rasa kesal di hati Hannah memang masih ada itu manusiawi tapi ia memilih untuk merespons dengan akhlak yang baik. Ia tidak ingin memperpanjang masalah atau bersikap sinis yang justru akan merendahkan harga dirinya sendiri.

Hannah tersenyum tipis, kali ini senyum yang lebih tulus, meski masih ada gurat kesedihan di matanya.

"Iya, Mbak Annisa," jawab Hannah lembut. "Jujur, saya memang sempat sedih waktu itu. Rasanya... kaget saja lihat Mas Akbar makan masakan orang lain pas saya sudah masak."

Hannah jeda sejenak, mengambil napas.

"Tapi saya menghargai keberanian Mbak Annisa buat minta maaf langsung ke saya. Nggak apa-apa, Mbak. Saya maafkan. Lagipula Mas Akbar bilang masakan Mbak memang enak."

Annisa mendongak kaget mendengar respon Hannah yang begitu tenang dan tidak menyudutkan. Ia mengira Hannah akan marah atau menyindirnya.

"Terima kasih banyak, Dek Hannah. Dek Hannah baik sekali," ucap Annisa lega. "Saya janji nggak akan bawain makanan lagi. Saya tahu sekarang itu hak eksklusif Dek Hannah."

Hannah tersenyum simpul, wajahnya sedikit merona mendengar kata 'hak eksklusif'. "Iya, Mbak. Mas Akbar itu lidahnya memang manja, maunya masakan rumah terus. Jadi biar itu jadi tugas saya saja."

Kalimat itu diucapkan Hannah dengan nada rendah hati, bukan pamer. Seolah ia sedang menceritakan kebiasaan suaminya, bukan sedang menandai wilayah kekuasaan. Namun efeknya bagi Annisa justru lebih kuat. Ketenangan Hannah menunjukkan bahwa posisinya sebagai istri sangat aman dan tidak tergoyahkan.

"Baik, Dek. Saya mengerti," Annisa mengangguk hormat.

Suasana canggung itu perlahan mencair. Tidak ada drama, tidak ada adu mulut. Hanya dua wanita dewasa yang menyelesaikan kesalahpahaman dengan adab.

"Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat siang, Dek Hannah," pamit Annisa, merasa urusannya sudah selesai.

"Siang, Mbak."

Annisa berbalik dan berjalan menuju pintu.

Tepat saat Annisa memegang gagang pintu, pintu itu terbuka dari luar.

Akbar berdiri di sana, memegang gulungan kertas. Ia kaget melihat Annisa ada di dalam ruangannya bersama Hannah. Wajah Akbar langsung berubah waspada. Insting protektifnya menyala seketika.

Ia menatap Annisa tajam, lalu beralih cepat ke Hannah yang duduk di sofa, mengecek apakah istrinya terlihat sedih atau menangis.

"Ada apa ini?" tanya Akbar dengan suara berat. "Kenapa kamu di ruangan saya pas saya nggak ada, Nis?"

Annisa tampak gugup. "Eh, anu Pak... saya cuma..."

Melihat situasi menegang, Hannah segera berdiri. Ia tidak ingin suaminya salah paham dan memarahi Annisa yang sudah berniat baik.

Hannah berjalan menghampiri Akbar, lalu menyentuh lengan suaminya dengan lembut untuk menenangkannya.

"Mbak Annisa cuma mampir sebentar kok, Mas," jelas Hannah dengan suara tenang. "Tadi Mbak Annisa minta maaf soal kejadian bekal kemarin. Kita cuma ngobrol biasa aja."

Akbar menatap Hannah, mencari kebohongan di mata istrinya. Namun ia hanya menemukan keteduhan.

"Dia nggak bikin kamu kesal?" bisik Akbar pelan.

Hannah menggeleng sambil tersenyum. "Enggak, Mas. Mbak Annisa sopan kok. Udah selesai masalahnya."

Akbar menghela napas lega. Ia menatap Annisa yang masih berdiri kaku di dekat pintu.

"Ya sudah kalau istri saya bilang begitu," ucap Akbar tegas namun tidak lagi marah. "Terima kasih sudah beritikad baik, Nis. Silakan kembali bekerja."

"Iya, Pak. Terima kasih. Permisi Bu... eh, Dek Hannah," Annisa mengangguk cepat lalu keluar ruangan, menutup pintu pelan.

Sepeninggal Annisa, Akbar meletakkan gulungan kertasnya di meja, lalu berbalik menghadap Hannah sepenuhnya. Ia meraih kedua tangan istrinya.

"Kamu beneran nggak apa-apa? Mas kaget pas buka pintu ada dia," tanya Akbar, masih sedikit khawatir.

Hannah menatap mata suaminya. Rasa kesal di hatinya perlahan menguap, digantikan rasa syukur. Ia bersyukur memiliki suami yang begitu peduli, dan ia bersyukur diberi hati yang bisa memaafkan meski sulit.

"Hannah nggak apa-apa, Mas," jawab Hannah tulus. "Malah Hannah lega. Ternyata Mbak Annisa orangnya baik, dia mau ngakuin salah. Hannah jadi... jadi nggak terlalu insecure lagi mikirin dia."

Akbar tersenyum bangga. Ia mengusap pipi Hannah dengan ibu jarinya.

"Istri Mas ini memang hatinya luas banget ya," puji Akbar. "Mas bangga sama kamu. Kamu nggak cuma cantik wajahnya, tapi juga cantik akhlaknya."

Pipi Hannah merona merah dipuji seperti itu. Ia menunduk malu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

"Mas Akbar jangan muji terus... Hannah malu," cicitnya pelan.

Akbar tertawa renyah, memeluk istrinya erat. "Biarin. Memang faktanya begitu. Yuk, kita makan siang? Mas udah laper banget. Kali ini mau makan apa? Nasi Liwet?"

Hannah langsung mencubit pinggang Akbar pelan. "Mas Akbar ih! Ngeledek ya?"

"Aduh, ampun! Becanda," Akbar tertawa sambil meringis, lalu menggandeng tangan Hannah. "Ayo, kita cari cumi asin yang paling enak se-Jakarta."

Siang itu, Hannah berjalan keluar dari kantor Hasyim Group bukan dengan kesombongan pemenang, melainkan dengan ketenangan seorang wanita yang tahu harga dirinya. Ia tidak perlu bersikap angkuh untuk diakui. Cukup dengan kelembutan dan kesabaran, ia telah membuktikan bahwa ia layak mendampingi Akbar.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!