Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34. Rubah Ekor Sembilan
Lia Zen terbelalak. “Jadi… mungkinkah Lyra…”
“Tidak ada bukti,” potong Kaisar lembut. “Itulah sebabnya aku bertanya pada Lyra.”
Ray Zen membuka matanya. Tatapannya dalam. “Dan jawabannya… sudah dipastikan Ayah,” katanya pelan.
Mendengar itu, semua menoleh pada Ray Zen.
“Lyra berbohong. Sorot matanya menunjukkan jika ia sangat kenal dengan Lylis,” lanjut Ray Zen. “Namun ia menyangkalnya.”
Kaisar menatap putranya sejenak. “Kau juga merasakannya, Ray?”
Ray Zen tersenyum tipis. “Ya, Ayah. Lyra pasti ada hubungannya dengan Lylis.”
Mei Ling menghela napas perlahan. “Jika benar ia memiliki hubungan dengan Lylis…” Ia tidak melanjutkan.
Karena semua mengerti. Masa lalu yang belum selesai… bisa kembali.
Lia Zen memandang mereka satu per satu. “Apakah Lylis… mungkin masih hidup?”
Pertanyaan polos itu menggantung di udara.
Kaisar tidak menjawab. Namun dalam hatinya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—Sebuah kemungkinan yang telah lama ia kubur… kembali menyala.
...#####...
Pagi di Istana Kekaisaran Awan Putih datang dengan tenang, diselimuti cahaya keemasan matahari yang perlahan naik di ufuk timur.
Kabut tipis menggantung di atas taman-taman luas istana, melayang seperti tirai transparan yang enggan pergi. Burung-burung yang bersarang di pepohonan berkicau lembut, menciptakan harmoni alami yang menenangkan jiwa.
Hari itu, istana tampak seperti biasa.
Namun bagi dua orang, Ren Zen dan Lyra, hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Di gerbang utama istana, Ren Zen berdiri dengan jubah sederhana berwarna biru gelap. Rambut hitamnya terikat rapi di belakang, sementara pedang merahnya tergantung tenang di pinggangnya, sengaja ia keluarkan dari cincin penyimpanannya.
Ia tampak santai, namun matanya awas—kebiasaan yang terbentuk dari perjalanan panjang dan pengalaman bertahan hidup di dunia luar.
Beberapa langkah di depannya, Lyra berdiri dengan tangan di belakang punggung. Rambut ungunya berkilau diterpa cahaya pagi, dan matanya yang tajam kini dipenuhi rasa ingin tahu.
Ia berbalik dan tersenyum.
“Kemana kita akan pergi hari ini?” tanyanya.
“Tentu saja berkeliling ibu kota. Apa kau sudah pikun.” jawab Ren Zen.
Lyra menghela napas pelan, matanya menyapu sekeliling. “Aku tahu itu Ren,” katanya lirih. “Tapi bukanlah ibukota ini sangat luas.”
Ren Zen tersenyum tipis. “Sudahlah, lebih baik kau diam dan ikuti saja aku.”
Lyra menoleh padanya. “Baiklah pahlawan kecil,” ucap Lyra dengan senyum manjanya. "Seperti biasa kemanapun kau pergi, aku akan mengikutimu."
Ren Zen terdiam sejenak.
Ia kembali teringat tingkah aneh Lyra semalam. Dengan ekspresi Lyra yang telah kembali seperti biasa ini, hatinya pun menjadi lebih tenang.
“Baiklah, ayo kita berangkat.”
Lyra memperhatikannya sebentar, lalu terkekeh kecil. "Apa kau mengkhawatirkanku Ren?"
Ren Zen tidak menjawab.
"Terimakasih, Ren.” Lanjut Lyra, "Tapi, kau tidak perlu khawatir, aku akan terus baik-baik saja."
Ren Zen hanya tersenyum tipis. “Baguslah kalau begitu.”
Mereka pun berjalan berdampingan, meninggalkan gerbang istana dan memasuki jalan-jalan ibu kota yang mulai ramai.
...#####...
Jauh di atas mereka, di balkon sebuah paviliun istana yang tinggi dan sunyi, tiga sosok berdiri mengamati.
Ray Zen, Bai Hu dan Bear.
Mereka berdiri tanpa suara, memandang dua sosok yang semakin menjauh di kejauhan.
Ray Zen bersandar santai pada pagar balkon, tangannya terlipat di dada. Senyum tipis menghiasi wajahnya—senyum khas yang hanya muncul ketika ia menemukan sesuatu yang menarik.
Bai Hu meliriknya. Ia mengenal senyum itu. Senyum seorang pemburu yang menemukan mangsa… atau seorang raja yang melihat bidak baru di papan catur.
“Pangeran,” kata Bai Hu pelan, “apa ada sesuatu yang menarik dari gadis itu?”
Bear yang berdiri di sisi lain ikut menoleh.
Ray Zen tidak langsung menjawab. Ia tetap memandang Lyra yang berjalan di samping Ren Zen. Angin pagi meniup lembut rambutnya.
Matanya menyipit sedikit. “Ya, Paman.” jawabnya akhirnya.
Satu kata. Namun cukup untuk membuat Bai Hu dan Bear menjadi serius.
Ray Zen melanjutkan, suaranya tenang. “Selain karena Lyra memiliki hubungan dengan Lylis.., Lyra juga bukan wanita biasa.”
Bear mengernyit. “Apa maksud Tuan?”
Ray Zen tersenyum tipis. “Di dalam tubuh Lyra,” katanya pelan, “tersegel salah satu dari Tujuh Binatang Dewa.”
Hening. Angin seolah berhenti berhembus. Bai Hu dan Bear membeku.
“A… apa?” gumam Bear.
Bai Hu menatap Ray Zen tajam. “Pangeran… maksudmu…”
Ray Zen akhirnya mengalihkan pandangannya pada mereka. “Rubah Ekor Sembilan, Paman. Didalam tubuh Lyra tersegel kekuatan Binatang Dewa 'Rubah Ekor Sembilan'".
Dunia seolah berhenti.
Mata Bear membelalak lebar.
Bai Hu yang biasanya tenang pun tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Mengapa tidak, Binatang Dewa adalah binatang yang memiliki kekuatan setara dengan Dewa itu sendiri. Bisa dibilang, Binatang Dewa adalah Dewanya para binatang. Dan didunia mereka ini, hanya terdapat Tujuh Entitas yang layak disebut sebagai Binatang Dewa, salah satunya adalah Rubah Ekor Sembilan yang baru saja Ray Zen sebutkan.
“Rubah… Ekor Sembilan?” ulang Bai Hu perlahan.
Ray Zen mengangguk. “Benar Paman.”
Bear tanpa sadar mundur selangkah. “Itu… itu mustahil…”
Ray Zen tersenyum tipis. “Tidak ada yang mustahil, Bear” Ia kembali memandang Lyra di kejauhan. “Segel itu sangat kuat. Namun… Sepertinya dia telah berhasil menguasai sebagian kekuatannya.”
Bear menelan ludah. “Seberapa besar tuan…?”
Ray Zen menjawab tanpa ragu. “Sekitar dua puluh persen.”
Bear tersedak napasnya. “Dua puluh persen?!”
Bai Hu juga terdiam. Ia tahu apa arti angka itu.
Bahkan satu persen kekuatan Binatang Dewa sudah cukup untuk menghancurkan satu kota kecil. Dua puluh persen… Itu sudah berada di luar batas pemahaman manusia biasa.
“Jika dia menggunakan kekuatan itu sepenuhnya,” lanjut Ray Zen tenang, “kekuatannya mungkin sudah melampaui ranah Legend.”
(Maksud 'Kekuatan sepenuhnya' disini, yaitu kekuatan yang telah berhasil Lyra kuasai, yaitu sebesar dua puluh persen tadi. Bukan secara keseluruhannya).
Bear mengepalkan tangannya. Matanya bersinar penuh semangat. “Menarik…” gumamnya. "Pantas saja ia selalu tenang, meskipun berada di lingkungan Istana."
Bai Hu melirik Bear, lalu kembali menatap Ray Zen. "Pangeran,” katanya serius, “apakah dia berbahaya bagi kekaisaran?”
Itu pertanyaan penting.
Ray Zen terdiam sejenak. Lalu ia menggeleng pelan. “Untuk saat ini… tidak.”
Bear dan Bai Hu memperhatikan setiap kata.
“Dia memang datang ke sini dengan tujuan tertentu,” lanjut Ray Zen. “Dan dia sengaja memilih Ren Zen sebagai temannya.”
Bai Hu menyipitkan mata. “Jadi… dia memiliki rencana.”
Ray Zen tidak menyangkal. “Ya. Dan perlu kalian ketahui, selain kekuatan yang tersegel di dalam tubuhnya, Lyra juga mempunyai sosok 'Kakek Tua' lain yang selalu memberikan arahan padanya. Kakek tua itu seperti pelindung sekaligus guru dari Lyra.”
Hening.
Bai Hu dan Bear saling pandang tak percaya.
“Tapi, Kalian tidak perlu khawatir,” lanjut Ray Zen, suaranya tetap tenang, “jika dia benar-benar menjadi ancaman…” Ia tersenyum tipis. “…aku sendiri yang akan menghentikannya.”
Nada suaranya ringan. Namun Bai Hu dan Bear tahu. Itu bukan ancaman kosong. Itu adalah kepastian.
Bear tertawa pelan. “Wanita itu benar-benar menarik.”
Bai Hu menghela napas.
Sementara Ray Zen tetap memandang ke kejauhan. Matanya dalam. Seolah melihat sesuatu yang bahkan belum terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........
........Selamat Membaca........
........Lanjut Terusss........
lanjutkan dgn semangat bintang d langit,thor
lanjut dgn smngat bintang d langit,thor
reader yg setia masih menanti update yg terbaru