𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 30
𝐻𝒶𝓅𝓅𝓎 𝓇𝑒𝒶𝒹𝒾𝓃𝑔!
Hujan cukup intens di medio November. Saat ini pun masih cukup deras mengguyur sebagian wilayah Seoul. Langit terlalu baik menumpahkannya sebagai berkah, tapi tidak untuk sebagian yang masih aktif bergerak di luar ruang.
Bunyi ban berdecit, mesin mereda, Shin turun segera setelah men-standart motor yang dikendarainya di tepi jalanan sepi. Helmet dilepas sebelum kemudian berlari ke sebuah arah.
Tidak peduli kuyup. Dia melihatnya―pemandangan tidak senonoh yang menjurus pada hal-hal kotor berbau angkara.
Kendati belum pasti, dia bisa memastikan tak salah terka. Firasat telah memperkaya pengetahuannya dengan pengalaman yang mungkin tidak terhitung jumlah.
Teriakan itu samar, diperburuk deru hujan yang semakin membuat redaman. Tidak akan bisa merebut perhatian orang-orang yang mungkin sedang meringkuk terbenam di kasur mereka. Tapi Shin bukan hanya mendengar secara acak, dia dipanggil.
“TOLOOONG! TOLONG AKU!”
Sosok seorang gadis digotong paksa tiga orang pria, satu lainnya menuntun dengan senter menyorot ke depan, memimpin jalan. Total empat jumlah kepala pria. Mereka menuju sebuah rumah dua lantai terbengkalai yang terkenal dihuni banyak penunggu 'tak kasat mata.
Tetesan basah hujan dari mantel-mantel menimpa lantai saat mereka sampai di teras dengan debu dan dedaunan menghamparinya.
“Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku?! Kalian akan mati!”
“DIAM!!!”
Meskipun berulang menyombongkan diri tentang siapa keluarganya, tak urung, gadis itu tetap menangis dan putus asa. Berontak terus dicoba, meski kenyataan mungkin akan lebih sakit dan keras dari teriakannya.
“Aku tidak mau!” Raungannya menggema seiring langkah-langkah sampai di bagian dalam bangunan.
Pemikiran buruk sudah kusut dalam kepala, tentang apa yang akan menimpa selanjutnya. Dia tidak bisa pasrah. Memikirkan bagaimana masa depan dibangun tersusun, akan sangat menjijikkan jika dirinya berakhir nahas di tempat sebusuk ini.
Saat keputusasaan kian membelit, langkah orang-orang gila yang menggotongnya ini terhenti.
Dia melengak, dan langsung bisa melihat.
Di pertengahan tangga, sesosok tinggi berdiri menjulang, membentuk siluet hitam karena kegelapan menyelimuti. Udara mendadak beku seiring keresahan menyergap hati mereka. Keredap kilat membentuk cahaya singkat yang semakin menekan paranoia.
Senter bergerak dari orang yang memimpin langkah, menyorot dari bawah sampai ke atas.
“Si-siapa kau?”
Tiga orang yang menggotong si gadis mundur gemetar, jelas mengira sosok itu adalah hantu, mungkin penunggu rumah.
Gadis itu pun sama takutnya, tapi tak bisa banyak bergerak.
Saat cahaya senter lurus menembak wajah sosok yang tinggi itu, mereka melihat senyuman lebar dengan gigi berbaris rapi. “Hai, mau berbagi gadis itu denganku?”
“Andwae!” ―Tidak! Gadis itu menggeleng-geleng. “Turunkan aku! Aku mau pergiii!” Dia berontak lagi, tapi mereka tetap menahan.
“Serahkan dia padaku,” kata sosok itu lagi. Suaranya bariton rendah, agak seram kedengarannya.
Tapi mereka segera sadar bahwa dia bukanlah hantu. Mungkin orang gila atau tunawisma yang tinggal di tempat yang saat ini mereka pijak.
“Jangan harap, Keparat! Mati saja, kaaau!!!”
DRAP DRAP!
DUAK!
“Ugh!”
Mau bagaimana lagi, posisinya tidak menguntungkan, saat si pembawa senter ini naik untuk menyerang, satu tendangan sudah mendahuluinya dari atas, mengempasnya mundur hingga terlentang. Dia mengerang, terganggu tulang punggungnya.
Saat akan bangkit kembali, sosok tinggi seram yang tak lain adalah Shin itu sudah lebih dulu turun dan menciptakan pukulan lain di bagian perutnya hingga terkapar, berakhir seperti bayi dalam kandungan―meringkuk memegangi perut sambil mengerang-erang.
Ketiga pria pembopong gadis terentak mundur saat tatapan Shin tiba-tiba berpindah pada mereka. Insting menyelamatkan diri membuat mereka secara impulsif menurunkan gadis hasil culikan ke dasar lantai.
Gadis itu tersentak sebelum kemudian merangkak perlahan untuk menjauh lalu kabur.
Shin meliriknya sekilas sebelum kemudian mengganjarkan jurusnya pada manusia sisa berjumlah tiga kepala.
Kurang setengah menit terhitung, ketiganya sudah terkapar. Shin sebagai pemenang absolut, pandangannya laju berlari pada si gadis yang sudah keluar dengan kaki pincang. Segera menyusulnya untuk memberikan pertolongan sebagai tugas terakhir.
“Hey! Tunggu!”
Gadis itu menyeret langkahnya lebih cepat setelah mendengar seruan Wang Shin. Tidak ingin menyahut karena pikirannya hanya melarikan diri. Dia takut, berpikir pria yang selintas seperti penyelamat itu malah lebih jahat dari empat orang yang sebelumnya.
Bagus! Kewaspadaannya cukup tinggi.
Tapi menilik kekuatan, sebaiknya menyerah saja. Karena Shin tidak akan membiarkannya.
Greb!
“Jangan sentuh aku!” teriak gadis itu, meronta-ronta saat Shin berhasil meraih tubuhnya, lalu menaikkannya dalam gendongan. “Hey! Kubilang―”
“Jangan berontak! Kakimu perlu diobati! Setelah itu baru kuantar pulang.”
Ng ...?
“Pulang?”
“Kau tidak ingin?”
“Te-tentu saja!”
“Karena itu diam dan biarkan aku membawamu dengan tenang. Jangan bergeliat-geliut seperti ulat.”
Sekejap gadis itu bungkam dan berhenti memukul-mukul. Kata-kata Shin membuatnya melemah pasrah. Tumbuh sedikit kepercayaan bahwa sosok ini bukan bagian kejahatan malam yang mengganggunya sekian saat berlalu.
Mungkin dia benar-benar datang jadi pahlawan.
“Si-siapa kau sebenarnya? Kenapa ada di rumah itu?”
“Bukan siapa-siapa! Hanya kebetulan lewat dan melihatmu diseret-seret. Aku masuk lebih dulu melalui jendela di samping kanan," jelas Shin. “Bagaimana?”
“I-iya. Masuk akal.”
Sekilas senyuman Shin sebagai tanggapan, menggetarkan sedikit dinding jantungnya.
Seiring perasaan itu, takutnya pun perlahan padam, berganti keberanian sampai leluasa mengalungkan lengan di leher lelaki itu, lelaki yang sekarang sedang membawanya menjauh dari tempat yang bisa saja merenggut nyawa.
Di tengah pergerakan, gadis itu memainkan tatapan. Menyapu wajah basah yang hanya sejarak jengkal dari pipinya.
Pria ini ... matanya tak jelas, bersembunyi di balik untaian acak rambut depannya, tapi dia bisa melihat bahkan di suasana setemaram ini. Hidung angkuh, garis rahang dan bibirnya... tergaris apik dan nampak indah. Bahkan tubuh yang saat ini merengkuhnya dalam gendongan, keras dan kokoh.
Memikirkan itu pipinya jadi memerah, tapi dia tak ingin berpaling.
“Uh ... aku Kim Jena, kau ... siapa?”
Pengakuan dan pertanyaan itu bertepatan dia diturunkan dari gendongan.
Berakhir di tempat motor Shin terparkir.
Shin menatapnya sejajar setelah gadis itu menegak sambil berjingkat karena kaki yang tidak normal. “Shin,” akunya singkat. Kemudian berbalik pada motornya, meraih helmet untuk kemudian membalutkan ke kepala.
“Shin? Maksudmu namamu Shin?”
“Kenapa? Bukankah itu cocok menjadi nama pahlawan?”
Gadis bernama Jena itu terendap. Pria itu sarkas, tapi entah malah menjadi semakin menarik dirasakannya.
“Kau mau kemana?” tanyanya terkejut kala melihat Shin menunggang kuda besinya, sudah menyalakan mesin.
“Naiklah!”
“A-apa?!"
“Cepat sebelum mereka berhasil mengejar! Aku tidak ada waktu menunggumu banyak berpikir!”
“O― ... baiklah!”
Setelah Kim Jena duduk di boncengan, Shin memperingatkan, “Pegangan yang kuat! Jangan sampai tubuhmu terbang terbawa angin!”
“I-iya!”
Greb!
Mesin meraung menyusul motor melejit cepat.
――
Di dalam rumah gelap yang terbengkalai, empat orang penculik bersamaan keluar dengan wajah-wajah sedikit kesal.
“Sial! Kenapa dia harus memukul sungguhan?! Perutku sampai kebas begini.”
“Benar! Wajahku juga."
“Bukankah aktingnya terlalu total hanya untuk berperan di hadapan seorang gadis?”
Anehnya, si pembawa senter malah nampak baik-baik saja dan malah tersenyum menanggapi kicau teman-temannya. “Tenang, pembayaran kalian sudah termasuk biaya rumah sakit.” ―Lee Jay.