NovelToon NovelToon
Pengantin Tawanan

Pengantin Tawanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Duniahiburan / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.

Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.

Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.

Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.

Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.

Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???

Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???

Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah

Malam itu untuk pertama kalinya Nia ikut pergi menginap di kediaman orangtuanya.

Ternyata tempatnya berada di lantai teratas dari kafe milik mami Oca yang tidak jauh dengan kawasan Fantasia.

Veron sempat mengantar Nia sebelum ia kembali ke markas. Sepaniang perjalanan lelaki itu hanya memeluk Nia tanpa memedulikan orang di sekitarnya, termasuk sang ibu.

Nampaknya mafia itu memang sengaia ingin menunjukkan kalau Jenia adalah miliknya.

Tidak ada satu orangpun yang berani bicara atau sekedar berbincang satu sama lain.

Kehadiran Veron di tengah-tengah mereka membuat situasi menjadi canggung.

Padahal jarak antara Fantasia dan kafe mami Oca tidak terlalu jauh, namun rasanya mereka tak kunjung sampai seperti melewati puluhan kilo meter lamanya.

Sementara sejak tadi Nia terus termenung entah apa yang ia pikirkan. Antara masih tidak percaya dan terlalu senang lantaran ia telah bertemu dengan bunya.

Tanpa sadar gadis itu kembali menitikkan air mata dalam pelukan Veron, membuat sang mafia merasa khawatır.

"Ada apa Nia...?? Kenapa kau menangis lagi sayang...??" ucapnya nampak cemas.

"Aku tidak apa-apa..." sahutnya terenyum kecil.

"Lalu kenapa kau menangis sayang...?? Katakan apa yang telah menganggumu dan siapa orangnya yang berani membuat kesayanganku bersedih hah...??”

“Kau ingat kan Nia, aku tidak akan segan meledakkan kepala para penjahat yang ingin melukaimu…??!!” Ucapaya sambil melirik tajam ke arah mami Oca, membuat wanita tersebut seketika menelan saliva dan nampak ketakutan.

Pasalnya ia sangat paham siapa dan bagaimana sifat Veron.

Bos mafia itu memang tidak suka berianji, namun dia juga tidak pernah main-main dengan ucapannya.

Awal mengenal Veron, mami Oca melihatnya sebagai anak laki-laki pada umumnya. Sampai suatu hari ada kejadian dimana kediaman Tuan Roy kedatangan penyusup yang mengincar keluarganya.

Mami Oca yang tidak tahu apa-apa saat itu hanya bisa diam dan bersembunyi, sambil mengintip dari balik pintu saat keributan teriadi.

Sementara Veron yang sudah terlatih pun ikut turun tangan menyerang dan menewaskan musuh-musuanya tanpa ampun.

Padahal saat itu usianya belum genap sepuluh tahun, namun dengan gampanguya anak itu mengalahkan lawan yang jauh lebih besar darinya.

Keterampilannya dalam menggunakan senjata tajam memang tidak perlu diragukan lagi.

Bahkan hampir setiap hari Roy Vedrick melatih cucunya menggunakan senjata dengan mata tertutup.

Dia punya paras yang sangat tampan, sorot mata yang tajam, serta insting yang sangat peka.

Tapi siapa sangka dibalik ketampanan itu terdapat jiwa pembunuh yang mengalir dalam darahnya.

Karena terlahir dari keluarga yang punya banyak musuh, jadi sejak kecil mental Veron memang sudah dilatih untuk bisa melindungi dirinya dari berbagai macam serangan dan ancaman yang bisa terjadi kapan saja.

Karena dia adalah penerus tunggal dari kakeknya, maka otomatis siapapun yang bermusub dengan Roy Vedrick, pasti akan menjadi musuhnya juga.

Kejadian hari itu membuat sudut pandang Rosalina terhadap Veron pun berubah. Baginya Veron merupakan wujud lain dari kekejaman kakeknya.

Hanya saja jiwa iblisnya terbungkus rapi oleh ketampanan parasnya yang menawan.

Dia punya kekuasaan dan kemampuan yang tidak dimiliki oleh banyak orang.

Itu sebabnya mami Oca yakin untuk meminta bantuan Veron agar bisa menyelamatkan dan melindungi putrinya, meski ada harga yang harus dia bayar.

Seorang ibu yang menyelamatkan anaknya dari penipu kelas kakap, tapi dengan penuh kesadaran menyerahkannya pada seorang pembunuh.

Meskipun idenya terkesan gila, namun sepertinya insting seorang ibu memang tidak pernah salah.

Dan malam itu mami Oca dibuat tercengang saat pertama kali melihat interaksi antara Veron dengan Jenia secara langsung.

Sorot mata dan perhatiannya terhadap Nia begitu lembut dan hangat. Dia benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda dari biasanya.

Lelaki itu nampak khawatir dengan keadaan Nia, namun lagı-lagi Nia hanya tersenyum dan menggeleng pelan.

Gadis itu menenangkan Veron dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

"Aku tidak apa-apa Veron, hanya saja aku terlalu bahagia..." ungkapnya memeluk sang mafia.

"Ingat..!! Jangan keluyuran kemana-mana tanpa seizinku...!! Dan kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk hubungi aku...!!" ucapnya saat mereka tiba di kediaman mami Oca.

"Hmmm...." Balas gadis itu mengangguk pelan.

Namun Veron masih memeluknya, seolah ia tidak rela jika Nia berada jauh darinya.

Kemudian satu ciuman panjang mendarat di bibir Nia tanpa peduli dengan keberadaan mami Oca, membuat sang anak nampak merona menahan malu.

"Ehem, aku hanya akan meminjamkan mu sebentar meski dia adalah ibumu. Karena sekarang kau adalah milikku Nia...!!" ucapnya lantang sambil melirik tajam ke arah mami Oca.

Setelah lelaki itu pergi, barulah Rosalina kembali mendekat dan berinteraksi dengan putrinya.

"Maaf ya sayang, tempat tinggal ibu kecil dan sangat sederhana..." ucapnya merang kul Nia.

"Tidak apa-apa Bu, menurutku tempat ini adalah tempat teryaman yang pernah kudatangi, sebab di tempat ini rasa rinduku bisa terobati..." sahutnya berkaca-kaca.

Mendengar itu lagi-lagi Rosalina merasa bersalah. Dia sangat bersyukur akhirnya Nia bisa memaatkan dan menerimanya meski sudah ditinggalkan selama puluhan tahun.

Wanita itu sengaja tinggal di sebuah tempat yang sempit dan sederhana, karena menurutnya itu adalah satu-satunya tempat tinggal yang paling pantas untuk orang sepertinya.

Di tempat itulah Rosalina menghukum diri dan merenungi perbuatannya.

Meski hartanya sudah lebih dari cukup, namun dia merasa tidak pantas hidup bahagia sementara anaknya harus berjuang sendirian di Luar sana.

Bahkan di kamarnya hanya terdapat satu alas tidur berukuran kecil dan tipis yang menjadi tempat mami Oca beristirahat ketika pulang.

Penampilannya yang selalu nampak glamour dan modis hanya berlaku pada saat jam kerja, selebihnya Rosalina mengurung diri sambil menahan rindu dalam kesunyian.

Dia tidak pernah berhenti mendoakan putrinya sekalipun hidupnya sudah berlumur dosa.

Tiada hari baginya tanpa memikirkan bagaimana Nasib Jenia. karena dari kabar yang ia dengar, gadis malang itu selalu bekerja keras demi menggapai cita-citanya.

Nia tetap gigih mencari uang tambahan meski bibi Maya sudah memberinya sejumlah uang dari sang ibu.

Ditengah malam yang semakin larut, sepasang ibu dan anak itu tidur bersama setelah sekian lama.

Sejujurnya masih ada banyak hal yang membuat Nia penasaran, namun ia lebih memilih diam sambil melepas rindu disamping ibunya.

"Apa kalian benar-benar pacaran...??" tanya Rosalina penasaran dengan hubungan putrinya.

"Maaf bu..." gumamnya pelan.

"Kenapa minta maaf sayang...?? Harusnya Ibu yang minta maaf karena telah menyerahkanmu padanya. Ibu hanya ingin memastikan, karena sepertinya dia memang menyukaimu….”

"Bukan hanya Veron bu, tapi aku pun juga sangat menyukainya..." sahutnya jujur.

Seketika wajahnya kembali merona saat mengutarakan isi hatinya di hadapan sang ibu.

"Memangnya kau tidak takut padanya..??"

"Tidak Bu, justru aku merasa aman dan nyaman berada di dekatnya..." jawab Nia meyakinkan.

Meski awalnya lelaki itu pernah membuatuya takut, namun seiring berjalannya waktu ia mengenal sosok Veron perlahan rasa takutnya mulai berkurang.

Sikapnya yang hangat dan penuh perhatian membuat Nia sadar akan perasaannya.

Nyatanya sanga mafia itu tidak seburuk yang ia kira. Bukan karena Veron pernah membantunya ataupun rela tertembak demi dirinya, melainkan jauh sebelum itu terjadi.

Mendengar jawaban itu, Rosalina hanya tersenyum dan mengangguk paham.

Nampaknya kini putrinya sudah benar-benar dewasa.

Dia bukan anak kecil lagi seperti dulu. Nia berusaha tumbuh dengan baik meski tanpa seorang ibu di sampingnya.

"Nia, maafkan ibu ya, kalau pekerjaan ibu membuatmu malu..." ucap wanita itu merasa bersalah.

"Ibu ini bicara apa...?? Aku tidak pernah berpikir seperti itu bu, sejujurnya aku marah karena kau telah meninggalkanku...!!"

"Mau seperti apapun pekerjaan Ibu, aku tetap sangat bangga memiliki Ibu sepertimu. Jadi mulai sekarang jangan pernah tinggalkan aku lagi, sebab ibu adalah rumah ternyaman untukku pulang..."

"Laki-laki yang dulu menyakitimu juga telah tiada, jadi tolong jangan pernah pergi lagi dengan alasan арарun…!!”

Karena sejatinya seorang anak akan merasa baik-baik saja selama ada ibu disisinya. Namun sebaliknya, jika sosok itu tiada, maka sama saja mereka telah kehilangan dunianya.

…………………………………………………………………………………

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!