Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. AYAH..!!!
Malam di hotel mewah itu merayap menuju pukul dua pagi. Keheningan di dalam kamar VIP terasa begitu menindas, lebih berat daripada kebisingan gala di bawah tadi. Keyla sudah menanggalkan gaun biru dongker yang menyesakkan itu, menghapus riasan tebal yang menyembunyikan wajah aslinya, dan berganti mengenakan setelan piyama satin berwarna krem serta jaket rajut untuk menghalau dinginnya AC.
Namun, rasa kantuk tak kunjung datang. Pikirannya terus berputar pada tatapan hancur Dipta sebelum meninggalkan kamar tadi. Kalimat "Kau terlalu cantik untuk pria sepertiku" terus terngiang, menciptakan lubang aneh di ulu hatinya. Keyla tidak mengerti mengapa ia merasa gelisah; seharusnya ia senang karena monster itu memberinya ruang untuk bernapas, tapi nuraninya berkata ada sesuatu yang salah.
"Dia belum kembali..." bisik Keyla pada kegelapan kamar.
Akhirnya, karena rasa cemas yang mengalahkan ego, Keyla memutuskan untuk keluar. Ia melangkah perlahan menyusuri lorong sunyi lantai VIP menuju area bar privat yang biasanya digunakan para petinggi untuk pembicaraan rahasia di luar jam acara.
Saat mendekati area bar yang remang-remang, Keyla mendengar suara bariton yang sangat ia kenali—suara Dipta. Namun, nada suaranya tidak seperti biasanya. Tidak ada otoritas di sana, yang ada hanyalah kebencian yang mengental dan luka yang menganga.
"Kenapa kau berani menginjakkan kaki di sini? Aku sudah memberimu cukup uang untuk membusuk di luar negeri, Haris," desis Dipta.
Keyla membeku di balik pilar marmer besar. Jantungnya berdegup kencang saat ia mengintip. Di sana, duduk di kursi bar tinggi, Dipta sedang menggenggam gelas wiski dengan tangan yang gemetar hebat. Dan di hadapannya, berdiri seorang pria berambut putih dengan setelan jas navy yang sangat rapi—pria yang ditemui Keyla di kampus tempo hari.
Pria itu, Haris Mahendra, menatap Dipta dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara penyesalan dan harga diri yang masih tegak.
"Aku tidak butuh uangmu, Dipta. Aku hanya ingin melihat putraku memperkenalkan istrinya pada dunia. Berita tentang 'Nyonya Mahendra' baru tersebar cepat di kalangan kolega lama," ujar Haris tenang.
"Putra?" Dipta tertawa sumbang, sebuah suara yang menyakitkan untuk didengar. "Putramu sudah mati saat kau membiarkan Ibu menangis hingga kehilangan akal sehatnya karena wanita simpananmu itu. Kau bukan ayahku. Kau hanyalah orang asing yang memiliki nama belakang yang sama denganku."
Keyla menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mulai menggenang. Jadi pria bijaksana yang ia temui di kampus, pria yang memberinya nasihat tentang "sangkar", adalah ayah kandung Dipta? Pria yang paling dibenci oleh suaminya?
"Dipta, dengarkan aku—"
"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu, Ayah!" bentak Dipta, menekan kata terakhir dengan penuh penghinaan. "Pergi dari sini sebelum aku memerintahkan keamanan untuk menyeretmu keluar seperti sampah!"
Karena terlalu terkejut mendengarkan konfrontasi itu, tangan Keyla yang gemetar tanpa sengaja menyenggol sebuah gelas kristal kosong yang terletak di atas meja konsol di dekat pilar.
Prang!
Suara pecahan kaca itu membelah kesunyian bar seperti ledakan.
Seketika, kedua pria itu menoleh serentak. Mata tajam Dipta dan mata bijaksana Haris kini tertuju pada satu titik: Keyla yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.
Dipta adalah yang pertama bereaksi. Wajahnya berubah dari amarah menjadi keterkejutan yang murni. "Keyla? Apa yang kau lakukan di sini?"
Namun, sebelum Dipta sempat melangkah, Haris Mahendra justru sudah bergerak lebih cepat. Wajah pria tua itu berubah cerah, sebuah senyuman tulus merekah di bibirnya yang tadinya kaku.
"Keyla?" puji Haris dengan nada yang penuh kehangatan. "Gadis kecil dari kampus? Kita bertemu lagi!"
Haris menghampiri Keyla dengan langkah ringan, mengabaikan tatapan mematikan dari Dipta. Ia meraih tangan Keyla yang dingin dan menggenggamnya dengan lembut, persis seperti pertemuan mereka sebelumnya.
"Jadi... takdir memang bekerja dengan cara yang luar biasa," ujar Haris sambil menatap Keyla dengan binar bahagia. "Dipta, apakah ini gadis yang kau perkenalkan sebagai istrimu tadi? Gadis baik yang menolongku saat aku tersesat di universitas?"
Keyla hanya bisa berdiri kaku, lidahnya terasa kelu. "Pa... Pak Haris?"
Dipta berdiri dari kursi bar, langkahnya berat saat ia menghampiri mereka berdua. Ia menarik lengan Keyla, menyentakkannya agar menjauh dari sentuhan Haris, dan memposisikan tubuhnya di depan Keyla seolah sedang melindunginya dari monster yang paling berbahaya.
"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" tanya Dipta, suaranya mengandung ancaman yang nyata. Matanya menyapu wajah Keyla, mencari kebohongan. "Kau menolongnya? Kapan? Di mana?"
"Beberapa hari yang lalu, di kampus, Dipta..." jawab Keyla lirih, suaranya hampir hilang. "Aku tidak tahu kalau beliau adalah... ayahmu. Beliau tersesat mencari ruang rektorat, dan aku hanya menunjukkan jalannya."
Dipta menoleh pada Haris, matanya berkilat penuh kecurigaan. "Kau mendekatinya dengan sengaja, kan? Kau menggunakan istriku untuk merangkak kembali ke hidupku?"
Haris menggeleng pelan, wajahnya tampak sedih melihat reaksi putranya. "Tidak, Dipta. Itu murni ketidaksengajaan. Aku bahkan tidak tahu namanya sampai ia menyebutnya tadi di selasar. Gadis ini... dia memiliki hati yang sangat langka. Dia bicara padaku dengan rasa hormat, bukan karena namaku, tapi karena dia manusia yang baik."
Haris kembali menatap Keyla, mengabaikan ketegangan yang memuncak. "Keyla, aku senang sekali ternyata kau adalah bagian dari keluarga ini. Dipta mungkin pria yang keras, tapi aku harap kau bisa menjadi cahaya yang tidak pernah bisa kuberikan padanya."
"Diam!" bentak Dipta. Ia mencengkeram bahu Keyla dengan sangat erat, hampir menyakitkan. "Jangan bicara seolah-olah kau mengenalnya. Jangan bicara seolah-olah kau punya hak untuk memberinya restu!"
Suasana menjadi sangat panas. Dipta tampak seperti bom waktu yang siap meledak. Keyla bisa merasakan tubuh Dipta yang bergetar hebat di sampingnya. Amarah, rasa malu, dan trauma masa lalu semuanya bercampur jadi satu.
"Dipta, tolong... tenanglah," bisik Keyla, memberanikan diri menyentuh lengan Dipta yang menegang.
"Tenang?" Dipta menepis tangan Keyla. "Kau bicara dengan pria ini? Kau tersenyum padanya di saat aku menghabiskan seluruh hidupku untuk menghapus jejaknya dari muka bumi ini?"
"Aku tidak tahu, Dipta! Aku benar-benar tidak tahu siapa dia!" seru Keyla, air matanya kini benar-benar jatuh.
Haris menarik napas panjang, ia memperbaiki letak jasnya. "Dipta, cukup. Jangan tumpahkan kemarahanmu padanya. Dia tidak bersalah. Jika ada yang harus kau benci, itu aku. Bukan gadis suci ini."
Haris melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahu Dipta, namun Dipta mundur dengan tatapan jijik.
"Jangan sentuh aku," desis Dipta. "Pergi sekarang. Sebelum aku benar-benar melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal telah kembali ke kota ini."
Haris terdiam lama, menatap putranya dengan kepedihan yang mendalam, lalu beralih pada Keyla. "Keyla... jaga dirimu. Dan tolong, jaga dia. Dia hanya pria yang terlalu takut untuk mencintai karena ia takut akan dikhianati seperti ibunya."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Haris Mahendra berbalik dan berjalan menjauh menyusuri lorong VIP yang panjang, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya.
Begitu sosok Haris menghilang, Dipta langsung berbalik menghadap Keyla. Ia mencengkeram kedua bahu Keyla dan menekannya ke pilar marmer. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci, matanya memerah karena amarah dan air mata yang ia tahan.
"Kenapa, Keyla? Dari jutaan orang di kota ini, kenapa harus dia yang kau temui?" tanya Dipta dengan suara serak.
"Aku tidak sengaja, Dipta! Aku hanya mahasiswi yang mencoba membantu orang tua! Demi Tuhan, aku tidak tahu itu ayahmu!" tangis Keyla pecah. "Kenapa kau selalu menganggap semua hal sebagai konspirasi untuk menyakitimu?"
Dipta melepaskan cengkeramannya dan memukul pilar di samping kepala Keyla dengan tinjunya. BUM! Suara hantaman itu membuat Keyla terlonjak.
"Karena setiap kali aku mulai merasa bisa memilikimu, masa lalu selalu datang untuk merenggutnya!" teriak Dipta. "Ayahku adalah pria yang paling licik di dunia. Dia menghancurkan ibuku dengan kebaikannya yang palsu, persis seperti yang dia lakukan padamu di kampus! Kau terpesona padanya, kan? Kau pikir dia pria tua yang bijaksana? Kau pikir dia lebih baik dariku?"
Keyla menatap Dipta dengan rasa iba yang mendalam. Ia melihat seorang pria dewasa yang sangat berkuasa, namun di dalamnya hanyalah seorang anak kecil yang hancur berkeping-keping.
"Dipta... dia tidak melakukan apa-apa padaku," bisik Keyla. Ia memberanikan diri untuk memeluk pinggang Dipta, menyandarkan kepalanya di dada pria itu yang naik turun dengan cepat. "Dia hanya bicara sebentar. Tidak ada yang berubah. Aku tetap di sini. Aku tetap istrimu."
Dipta terdiam. Tubuhnya yang tadinya kaku seperti baja, perlahan mulai mereda. Ia menyandarkan dahinya di bahu Keyla, membiarkan napasnya yang memburu berangsur tenang di leher gadis itu.
"Jangan pernah bicara dengannya lagi," gumam Dipta parau, terdengar seperti sebuah permohonan daripada perintah. "Jangan pernah biarkan dia masuk ke pikiranmu. Aku tidak sanggup jika kau mulai membandingkan aku dengannya."
Keyla tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mempererat pelukannya. Malam itu, di bar yang sepi dan dingin, Keyla menyadari satu hal: musuh terbesar Dipta bukanlah Rendy atau ayahnya, melainkan bayang-bayang ketakutannya sendiri. Dan entah mengapa, Keyla merasa bahwa misinya sekarang bukan lagi sekadar melarikan diri, melainkan menghadapi kegelapan yang ada di dalam diri pria yang membelinya ini.
***
Bersambung...
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu