"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.16. Aku tidak punya jalan, bahkan sampai bertahun - tahun. [RUKMINI]
Hari berganti hari, minggu berganti minggu sudah Rukmini lalui, tiap malam selalu datang "tamu" untuk nya. Dia pun dengan sangat terpaksa tetap melakukan nya, dia hanya libur saat sedang datang bulan saja.
Rukmini kecil yang dulu polos kini sudah benar - benar kehilangan senyum nya.
"Nduk, liat. Koe sudah menghasilkan banyak uang, nduk. Bapak sama ibu berencana mau betulkan rumah, ganti genteng sama bilik nya." Ucap ibunya Rukmini, dia menunjukan uang hasil Rukmini melayani pria - pria.
"Iyo." Sahut Rukmini singkat.
"Heee, koe kenapa toh? Lagi ndak enak badan?" Tanya ibunya, Rukmini menggeleng.
"Nanti kamar mu juga di betulkan, ganti ranjang yo, supaya lebih nyaman." Ucap ibunya, Rukmini melirik menatap ibunya.
"Uang nya sudah banyak, Mini sudah boleh berhenti kan, bu?" Ucap Rukmini, senyum ibunya langsung hilang.
"Yo jangan berhenti, toh. Nek koe berhenti nanti kita ndak dapat uang lagi, iki saja baru mau betulkan rumah." Ucap ibunya, Rukmini menelan ludah nya.
"Sampe kapan, bu?" Tanya Rukmini, ibunya sejenak diam berpikir.
"Nek nanti ada laki - laki yang tulus mau menikahi koe, koe boleh berhenti." Ucap ibunya, dan pikiran Rukmini langsung tertuju pada Bagus yang sudah tidak pernah dia lihat lagi.
'Bagus.. koe dimana.' Batin Rukmini.
"Wes yo, ibu tak ke pasar dulu. Nanti pulang nya tak bawakan baju baru buat koe sama sepeda." Ucap ibunya, Rukmini hanya diam.
Sekarang lingkungan itu tau bahwa Rukmini menjual diri, orang - orang yang dulu ramah pada Rukmini kini memandang Rukmini sebelah mata. Dia masih sangat muda tapi sudah melakukan hal di luar jangkauan.
Dan lagi, bukan tanpa alasan Rukmini di kucilkan.. itu karena mayoritas laki - laki yang tinggal dekat dengan rumah Rukmini, semuanya sudah pernah tidur dengan Rukmini. Dan mayoritas adalah bapak - bapak yang seumuran dengan bapak Rukmini..
"Ibu ndak ada, bapak ndak ada, nek aku kabur sekarang pasti bisa." Gumam Rukmini, dia berencana kabur lagi.
"Tapi kabur kemana? Ndak ada tempat buat kabur." Niat nya pupus lebih dulu karena dia tidak memiliki tujuan.
"Kalo aku kabur siang hari begini, pasti banyak yang liat. Tapi nek malam hari hutan nya bikin nyasar." Rukmini bangun dari duduk nya dan melihat keluar.
Ternyata di luar ada beberapa pemuda yang sedang menatap kearah rumah nya, Rukmini tau mereka pasti mencarinya..
"Ibu bilang nek ada laki - laki yang tulus mau menikah sama aku, aku bisa berhenti. Mereka mau ndak ya, menikah sama aku." Gumam Rukmini.
Rukmini keluar dari rumah dan berjalan menghampiri para pemuda yang senyum nya sudah merekah.
"Wih, memang pulen badan nya." Rukmini mendengar salah satu dari mereka bicara.
"Kalian cari siapa?" Tanya Rukmini, tiga pemuda tadi saling pandang.
"Cari koe, pengen kawin." Ucap salah satu dari mereka dengan frontal, Rukmini sedikit sedih mendengar nya.
"Nek aku kasih, salah satu dari kalian ada ndak yang mau menikah sama aku?" Tanya Rukmini dengan polos nya.
Ketiga pemuda itu saling pandang, usia mereka dia atas Rukmini, mungkin sekitar 18 sampai 19 tahunan. Senyum mereka kemudian merekah, dan menatap Rukmini.
"Koe ngebet nikah? Bukane tiap malem kenyang sama bapak - bapak kampung?" Ucap salah satu dari mereka lagi, Rukmini hanya bisa menyunggingkan senyum pahit nya.
"Aku juga ndak mau begini, nek salah satu dari kalian ada yang mau menikah sama aku, aku pasti manut. Aku iso masak, aku iso kerja di ladang, cari rumput pakan kambing juga ndak apa - apa." Ucap Rukmini, dia masih belum menyerah meski sudah di hina terang - terangan.
"Heleh, koe tiap malam saja di pake sama bapak - bapak, itu mu pasti sudah ndak enak, sudah longgar" Ucap yang lain, Rukmini menggeleng.
"Ndak kok. Nek ada yang mau menikah sama aku, aku janji ndak minta apapun. Yang penting aku ndak kerja begini lagi." Ucap Rukmini, dan malah di tertawakan.
"Koe kok yo lucu!" Ucap pemuda pemuda tadi sambil masih menertawakan Rukmini.
"Opo buktinya nek koe masih rapet?" Tanya salah satu dari mereka, Rukmini diam sejenak.
"Yo wes lah, aku ndak jadi." Ucap Rukmini lalu dia berbalik dan pergi.
Rukmini masuk kedalam rumah nya, dan ketiga pemuda tadi masih di depan pagar bambu di depan rumah Rukmini masih sambil tertawa menertawakan Rukmini.
Sekarang Rukmini tau, mustahil baginya menemukan seseorang yang mau menikahinya. Apa yang ibunya ucapkan itu hanya harapan kosong bagi Rukmini.
"Yo memang siapa juga yang mau menikah sama perempuan seperti aku." Gumam Rukmini, dia menangis memeluk dirinya di bawah ranjang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
2 TAHUN BERLALU
Tanpa terasa tahun demi tahun pun berlalu, kini Rukmini sudah menginjak usia 15 tahun dan tubuh nya sudah semakin terlihat jauh berbeda dengan tahun - tahun sebelum nya. Dia masih memakai rok dan kaos pendek seperti biasanya, rambut nya juga selalu di urai atas perintah ibunya.
Rukmini membawa pakaian nya di keranjang kotor menuju ke kali, sejak dia terkenal menjadi kupu - kupu malam, Rukmini sangat malu bertemu dengan orang - orang, alhasil dia hanya ke kali saat di sana tidak ada orang.
"Eh, eh, iku Rukmini. Ati - ati jaga bojone kalian, nanti di gaet mbe (sama) Rukmini." Tiba - tiba ada ibu - ibu yang membicarakan Rukmini.
Rukmini mendengar orang menggunjingi nya, ucapan - ucapan itu sudah sangat sering Rukmini dengar. Bagaimanapun memang setiap malam nya ada saja tamu yang datang, dari yang muda sampai yang tua di kamar nya.
"Ndak nyangka yo, dulu ketok (kelihatan) polos ternyata kelakuan nya ndak sepolos muka ne." Ucap yang lain.
"Mari bu." Rukmini tetap menyapa dengan sopan.
"Mari! Mari! Ndak usah sok sopan koe sama aku! Koe sudah merusak rumah tanggaku Rukmini!" Ucap salah satu ibu - ibu, Rukmini tertegun.
"Mbake kasihan lho, bojo sama anak nya malah rebutan Rukmini.. Rukmini ndak pandang bulu, siapa saja di embat." Ucap salah satu dari mereka, Rukmini kembali tertegun.
Rukmini tentu tidak tahu menahu siapa saja tamu - tamu nya selama ini, tugas nya hanya melayani seperti yang ibunya bilang, tentang siapa identitas tamu - tamu nya itu sama sekali tidak penting. Tapi sekarang Rukmini tau, ada anak dan ayah yang bertengkar karena sudah menjadi tamu nya.
"Pergi!! Ojo sampe koe tak pateni (bunuh)!" Teriak ibu - ibu itu, Rukmini menunduk merasa bersalah.
"Maaf bu, maaf." Ucap Rukmini, dia pun pergi.
Bagaimanapun itu semua bukan atas keinginan Rukmini, dia sendiri juga terpaksa dan bahkan sampai detik ini dia masih menangis setiap selesai dengan tamu nya.
"Kenapa ibu ndak pilih - pilih tamu nya. Aku merusak keluarga orang lain.." Gumam Rukmini, kini dia sedang duduk di bebatuan kali.
"Kenapa hidupku jadi begini, kenapa ibu sama bapak tega.." Gumam Rukmini.
Rukmini juga sudah lama tidak bertemu dengan Bagus, Bagus tidak pernah datang mencarinya. Harapan Rukmini satu - satunya adalah Bagus, dia menunggu Bagus datang dan membawa nya pergi.
"Bagus, mungkin sudah lupa sama aku." Gumam Rukmini..
BERSAMBUNG!