Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Paket Tak Bernama dan Rumah Boneka
Pagi itu, setelah petualangan melelahkan di Pasar Bubrah, Alya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sudah dia tunda berhari-hari: Pulang ke rumah orang tuanya.
Bukan untuk menetap. Hatinya sudah tertambat di Warung Tengah Malam. Tapi notifikasi di ponselnya yang menumpuk—pesan-pesan dari ibunya yang memohon, menangis, dan meminta maaf—membuat hati kecil Alya terusik. Seburuk apapun hubungan mereka, itu tetap ibunya.
Seno sedang menyeduh kopi di dapur saat Alya pamit.
"Pak, saya mau nengok rumah sebentar. Ambil baju ganti sekalian ngecek keadaan Mama."
Seno menatap Alya lama. Dia meletakkan cangkir kopinya.
Dia tidak melarang. Dia tahu Alya butuh penyelesaian (closure).
Seno mengambil sebuah rantang susun kecil dari lemari.
"Bawa... bekal," kata Seno.
"Isinya apa, Pak?"
"Lemper Ayam," jawab Seno. "Ketan itu... lengket. Simbol... perekat hubungan. Dan ayamnya... saya bumbui dengan doa tolak bala. Kalau ada yang aneh di rumahmu... makan ini. Atau suapkan ke orang itu."
Alya menerima rantang itu. "Siap, Pak. Gulo nggak usah ikut ya. Nanti Mama histeris ada monyet di sofa."
Gulo yang sedang makan pisang di atas meja hanya mendengus, lalu memunggungi Alya. Ngambek lagi.
Rumah orang tua Alya berada di perumahan elite cluster modern. Dindingnya putih bersih, pagarnya tinggi, dan udaranya diatur oleh AC sentral. Sangat kontras dengan rumah Joglo Seno yang terbuka dan menyatu dengan alam.
Saat Alya turun dari ojek online di depan pagar, dia merasakan hawa dingin yang tidak wajar. Bukan dingin AC, tapi dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Langit di atas perumahan itu tampak sedikit lebih kelabu dibanding wilayah lain.
Alya membuka pagar. Tidak dikunci.
Dia mengetuk pintu depan.
"Ma? Alya pulang."
Pintu terbuka.
Ibunya berdiri di sana. Dandanannya rapi, rambut disanggul modern, memakai baju rumah yang mahal.
Wajahnya tersenyum. Senyum yang lebar. Terlalu lebar.
"Alya!" seru ibunya dengan nada riang yang aneh. "Akhirnya pulang, Sayang! Mama kangen sekali! Ayo masuk, ayo!"
Ibunya menarik tangan Alya. Cengkeramannya kuat dan kaku. Tangan ibunya dingin, sedingin es batu.
Alya ditarik masuk ke ruang tamu.
Di sofa, Ayah tirinya duduk tegak kaku sambil memegang koran. Dia tidak menoleh, matanya menatap lurus ke depan seolah koran itu adalah benda paling menarik di dunia, padahal korannya terbalik.
"Pa, lihat siapa yang datang! Alya pulang!" seru Mama.
Ayah tirinya menoleh lambat-lambat. Gerakannya patah-patah seperti robot yang kurang pelumas.
"Oh... Alya. Bagus. Bagus."
Suaranya datar. Tanpa emosi. Padahal biasanya pria ini akan langsung membentak atau menyindir Alya.
"Kalian... sehat?" tanya Alya mundur selangkah. Insting Asisten Dukun-nya menyala. Ada yang salah. Sangat salah.
"Sehat! Kami sehat sekali!" Mama tertawa melengking. "Kami sudah berubah, Al. Kami sadar kami salah. Sekarang kami keluarga bahagia. Lihat, Mama sudah masakkan makanan kesukaanmu."
Mama menunjuk ke meja makan.
Di sana tersaji hidangan mewah: Ayam bakar, sayur sop, perkedel.
Tampilannya sempurna seperti foto majalah kuliner.
Tapi hidung Alya—yang sudah terlatih mencium bau amis hantu dan bau murni masakan Seno—mencium bau lain.
Di balik aroma bumbu ayam bakar itu, tercium bau Tanah Kuburan dan Bunga Kamboja.
"Ayo makan, Sayang. Habiskan. Supaya kamu betah di rumah," desak Mama, mendorong Alya duduk di kursi.
Alya menatap makanan itu. Matanya yang tajam (efek latihan batin) melihat sesuatu yang menjijikkan.
Ayam bakar itu bukan ayam. Itu adalah bangkai tikus gosong.
Sayur sop itu kuahnya berwarna hitam pekat.
Nasi putihnya bergerak-gerak... itu nasi yang penuh belatung.
"Ma..." suara Alya bergetar. "Ini apa?"
"Makanan, Sayang. Masakan Mama. Enak lho. Mbah Suro yang kasih resepnya."
DEG.
Nama itu.
Alya langsung berdiri, menepis piring di depannya.
PRANG!
Piring pecah. Bangkai tikus dan belatung berserakan di lantai marmer yang mahal.
"Mbah Suro?" desis Alya. "Kalian... kalian diapain sama dia?"
Senyum di wajah Mama menghilang seketika. Wajahnya berubah datar, tanpa ekspresi. Matanya melotot kosong.
"Mbah Suro orang baik," kata Mama dan Papa tirinya serempak, seperti paduan suara zombi. "Dia membersihkan rumah ini. Dia bilang, Alya harus pulang. Alya harus tinggal di sini. Selamanya."
Mereka berdua berdiri serentak.
Di sudut ruang tamu, Alya baru menyadari ada sebuah benda asing.
Sebuah kotak kayu jati berukir naga, diletakkan di atas meja kecil.
Di samping kotak itu, ada sebuah Boneka Jerami yang mengenakan baju bekas Alya (baju yang dia tinggalkan saat kabur).
Boneka itu... bergerak.
Kepala boneka itu menoleh ke arah Alya.
Dari dalam boneka itu, terdengar suara Mbah Suro yang menggema via perantara gaib.
"Selamat datang di rumah barumu, Nduk. Bagaimana? Orang tuamu sudah kubikin 'nurut', kan? Tidak ada lagi yang marahin kamu. Mereka boneka yang sempurna."
Alya mengepalkan tangan. Marah.
Mbah Suro tidak hanya menyantet fisiknya, tapi sekarang dia merusak keluarganya. Dia menjadikan orang tua Alya sebagai sandera mental.
"Keluar dari kepala mereka, Dukun Gila!" teriak Alya.
Mama dan Papa tirinya bergerak mendekat.
"Jangan pergi, Alya... Jangan pergi..."
Mereka hendak menangkap Alya. Tangan mereka terulur kaku seperti hantu Jiangshi.
Alya teringat bekal dari Seno.
Lemper Ayam.
Suapkan ke orang itu.
Alya membuka rantang dengan cepat. Dia mengambil dua bungkus lemper yang terbungkus daun pisang.
Dia membuka bungkusnya. Aroma ketan dan daging ayam suwir yang dimasak dengan doa tolak bala langsung menyeruak, melawan bau amis di ruangan itu.
"Maaf ya, Ma. Maaf ya, Om. Ini demi kebaikan kalian."
Alya tidak lari. Dia maju.
Saat Mamanya hendak mencengkeram lehernya, Alya menunduk, lalu menyodorkan lemper itu paksa ke mulut ibunya.
"Makan ini!"
HMPHH!
Ibunya kaget. Rasa lemper itu masuk ke mulutnya.
Energi murni dari masakan Seno bereaksi dengan energi gendam Mbah Suro.
UHUK! HOEK!
Ibunya terbatuk hebat. Dari mulutnya keluar asap hitam pekat. Dia memuntahkan cairan hitam yang berbau busuk.
Tubuhnya lemas, dia jatuh terduduk di lantai, pingsan.
Sekarang giliran Papa tirinya.
Pria itu lebih kuat. Dia berhasil menangkap lengan Alya.
"Alya... harus... tinggal..."
Alya menginjak kaki bapak tirinya sekuat tenaga.
"Nggak sudi!"
Saat cengkeramannya melonggar, Alya menyumpalkan lemper kedua ke mulut pria itu.
Reaksi yang sama terjadi. Papa tirinya kejang sebentar, memuntahkan cairan hitam, lalu ambruk pingsan di samping istrinya.
"Kurang ajar!" suara Mbah Suro dari boneka jerami terdengar murka. "Kau berani melawan 'Gendam Sukma' dengan jajan pasar?!"
Alya berbalik menghadap boneka itu.
Dia mengambil sisa lemper terakhir di rantang.
Tapi dia tidak memakannya.
Dia mengambil Garam Kasar yang selalu dia bawa di saku kargo-nya.
Dia menaburkan garam itu ke atas lemper, lalu melemparkan lemper asin itu tepat ke arah boneka jerami.
BUK!
Lemper itu mengenai dada boneka.
DUAR!
Boneka itu meledak terbakar. Api biru melahap jerami dan kain baju bekas Alya.
Suara teriakan Mbah Suro terputus. Koneksi gaib hancur.
Alya berdiri di tengah ruang tamu yang berantakan, dikelilingi orang tua yang pingsan dan bau asap.
Dia mengatur napasnya yang memburu.
Dia selamat. Tapi rumah ini... rumah ini sudah ternoda.
Alya memeriksa denyut nadi ibunya. Normal. Mereka hanya pingsan karena syok pengeluaran energi negatif. Saat bangun nanti, mereka mungkin tidak akan ingat apa-apa, atau hanya ingat mimpi buruk.
Alya mengambil secarik kertas dan pulpen.
Dia menulis pesan singkat, lalu menempelkannya di kulkas.
Ma, Pa. Alya pulang sebentar. Maaf rumah berantakan. Jangan makan makanan yang dikasih orang asing lagi. Alya aman di tempat kerja Alya. Jangan cari Alya dulu sampai Alya yang datang sendiri.
- Alya -
Alya mengemasi beberapa baju gantinya ke dalam tas ransel.
Dia tidak bisa tinggal di sini. Rumah ini tidak aman selama Mbah Suro masih mengincar mereka. Kehadiran Alya di sini justru membahayakan nyawa orang tuanya.
Alya berjalan keluar, menutup pintu rapat-rapat. Dia menaburkan sisa garam di ambang pintu sebagai pagar darurat.
Saat dia berjalan menjauh dari rumah, Alya menatap langit.
Mbah Suro sudah melewati batas.
Ini bukan lagi soal mempertahankan warung. Ini personal.
"Tunggu aja, Mbah," gumam Alya sambil menyetop ojek. "Besok gue yang gantian kirim paket ke kantor lu."
Di kejauhan, di atas atap rumah tetangga, seekor burung gagak hitam terbang menjauh, membawa kabar kegagalan itu kepada tuannya.
Perang baru saja meningkat statusnya dari "Sengketa Lahan" menjadi "Vendetta Pribadi".
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
kukira ini semua akhir dari perjuangan seno.
kukira sang koki melepas nyawa😭.
damai setelah sekian purnama memendam pergolakan hidup dari ribuan kenangan dan janji yang ingin dia tepati.
satu janji sdh terbayar ..
di sisa kekuatan pada tubuh renta, bahagia di dapat , tak apa ,tak ada kata terlambat.
tetep semangat pak seno, ajari alya tentang hidup, kejam dunia bisa di lawan dengan kekuatan cinta dan keluarga.
damai...lanjutkan usaha warung nya.
semoga malam ini bukan malam terakhir buat hidangan
Bangun imajinasi ,hancurkan penhalang dan calon pencuri bubur abadi.
tanpa dendam ,haru biru menyendok makanan ajaib ,campuran dari langit dan samudera .
seperti mereka menyatu dalam kasih lembut.
cinta sekali seumur hidup.
happy valentine thor
Gulo si pemanis alami 🐵🐒
Pak Seno, chef dua dunia 👨🍳👨🍳
makin seru petualangan kalian 🥳🥳🥳
Dan jangan pernah bersinggungan lagi dengan yang ghoib, berat dan menyiksa.
pasrahkan semua ke hadapan yang Maha Kuasa.
menjalani hidup di jalur yang sudah di garis kan .
percaya lah kebahagiaan akan menemani sampai ujung usiamu.
di akhir hayat di tempat tidur yang hangat ,didampingi putri angkatmu dan keluarga ajaibmu : Gulo
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS