"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Cahaya matahari pagi Kota Medan yang mulai menyengat menembus tirai tipis di ruang VVIP Rumah Sakit Columbia Asia. Aroma obat-obatan yang tajam kini kalah oleh wangi kopi premium dan sarapan mewah dari hotel bintang lima yang sengaja dipesan untuk hari terakhir kepulangan sang penguasa Skyline Group.
Garvi Darwin duduk bersandar di ranjangnya. Meskipun kepalanya masih dibalut perban tipis, karismanya tetap memancar—intimidatif sekaligus mempesona. Di hadapannya, Alsava Emily Claretta duduk dengan punggung tegak, mengupas buah pir dengan gerakan yang sangat presisi dan tenang.
Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar. Di bawah meja, jemari kaki Sava meringkuk kaku. Sejak tadi, ia menyadari satu hal: Garvi tidak menyentuh makanannya sama sekali. Pria itu justru "memakan" sosok Sava dengan tatapannya. Sepasang mata elang itu tidak lepas dari gerak-gerik Sava, mengikuti setiap hela napasnya, seolah-olah wanita di hadapannya adalah objek paling menarik di dunia—atau mungkin, mangsa yang sedang ia pelajari.
Sava meletakkan pisau buahnya dengan denting pelan. Ia tidak tahan lagi.
"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?" tanya Sava tanpa menatap balik. "Apakah ada yang salah dengan penampilanku? Atau buahnya kurang manis?"
Garvi tidak segera menjawab. Ia malah terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di ruangan yang sunyi itu.
"Tidak ada yang salah, Ave. Justru semuanya terasa terlalu sempurna sampai aku merasa berdosa jika harus berkedip."
Garvi mengulurkan tangannya, menyentuh pergelangan tangan Sava yang dingin, lalu membelainya lembut dengan ibu jarinya.
"Kenapa kau selalu bersikap dingin padaku? Bahkan setelah semua yang kita lalui beberapa hari ini, kau tetap membangun tembok yang begitu tinggi. Kenapa, Ave?"
Pertanyaan itu laksana palu godam yang menghantam perisai kaca milik Sava. Ia terdiam. Pandangannya mengabur, bukan karena air mata, melainkan karena terjebak dalam pusaran memori yang selama ini ia kunci rapat di dasar hatinya.
Ingatan Sava melayang jauh ke belakang. Ke masa di mana ia masih menjadi gadis remaja berusia 19 tahun yang ceria di salah satu sekolah elit di Medan. Jarak usia 8 tahun di antara mereka membuat Garvi selalu terlihat seperti bintang yang tak terjangkau. Bagi Sava remaja, Garvi adalah segalanya—cinta monyetnya, heronya, sekaligus tunangan yang ia puja dalam diam sejak perjodohan keluarga mereka diresmikan.
Namun, realita tidak pernah seindah drama televisi.
Sava ingat betul malam di pesta ulang tahun Garvi yang ke-27. Ia datang dengan gaun tercantik, membawa kado yang ia siapkan berbulan-bulan. Namun, ia justru mendapati Garvi sedang memegang gelas whiskey, dikelilingi wanita-wanita cantik, dan tertawa meremehkan saat seorang temannya bertanya tentang Sava.
"Sava? Dia hanya adik kecil yang manis, titipan kakekku," suara Garvi saat itu terdengar begitu tajam di telinga Sava yang bersembunyi di balik pilar. "Tidak akan ada cinta di antara kami. Pernikahan itu hanya kontrak bisnis. Aku tidak bisa mencintai anak kecil yang masih bau krayon."
Kata-kata itu membunuh sisi ceria dalam diri Sava. Dan puncaknya adalah malam pernikahan mereka empat tahun lalu. Tidak ada resepsi megah di Grand Ballroom JW Marriott yang diketahui publik. Yang ada hanya akad tertutup dan dingin.
"Ingat, Ave," bisik Garvi di malam pertama mereka, tanpa ada kehangatan di matanya. "Di luar sana, kita adalah CEO dan COO. Jangan pernah tunjukkan pada siapa pun bahwa kita terikat. Aku butuh kebebasanku, dan kau butuh posisi itu. Jangan berharap lebih, karena ini hanya bisnis."
Sejak malam itu, Sava bersumpah. Jika Garvi ingin ia menjadi rekan bisnis yang profesional, maka ia akan menjadi yang paling dingin di antara semuanya. Ia menjadikan sikap dinginnya sebagai tameng baja agar hatinya tidak hancur setiap kali melihat berita Garvi bersama wanita lain di koran-koran gosip Medan.
Sentuhan hangat di pipinya membuat Sava tersentak dari lamunan pahitnya. Ia mengerjap, menyadari bahwa Garvi sudah memajukan tubuhnya, menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan—khawatir sekaligus posesif.
"Ave? Kau melamun?" tanya Garvi lembut.
Sava segera menjauhkan wajahnya, merapikan rambut brunette curly-nya yang sebenarnya sudah rapi.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya... memikirkan laporan bulanan Skyline yang harus kutanda tangani siang nanti."
Garvi menyipitkan mata. Manipulator ulung seperti dirinya tentu tahu bahwa Sava sedang berbohong.
"Benarkah? Karena kau terlihat seperti baru saja melihat hantu."
"Aku memang sudah seperti ini sejak dulu, Mas. Tegas dan fokus," ujar Sava kembali ke mode COO-nya.
Garvi terkekeh lagi, kali ini dengan nada yang sedikit mengejek. "Benarkah? Seingatku, dulu ada seorang gadis kecil yang selalu mengekor di belakangku dengan tawa yang sangat berisik. Gadis yang matanya selalu berbinar setiap kali aku memberinya cokelat. Kemana perginya dia?"
Sava tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tidak mencapai mata. "Mungkin dia sudah mati, Mas. Waktu kecil dan dewasa tentu berbeda. Sekarang aku sudah tahu mana yang realita dan mana yang sekadar fantasi masa kecil."
Garvi tertegun sejenak mendengarnya. Ia merasakan ada sindiran tajam di balik kalimat tenang istrinya. Ia lalu meraih tangan Sava lagi, kali ini menggenggamnya kuat, seolah takut Sava akan melarikan diri dari ruangan itu.
"Iya, kau benar," bisik Garvi, suaranya kembali dalam dan berwibawa. "Sekarang kau sudah dewasa. Sangat dewasa. Bahkan sekarang kau sudah berdiri sejajar denganku di Skyline. Bahkan terkadang, aku merasa kau jauh lebih kuat dariku."
Garvi mencondongkan wajahnya, mendekat ke telinga Sava hingga napasnya terasa hangat di kulit leher wanita itu.
"Tapi kau harus ingat satu hal, Miss Sava. Sejajar bukan berarti kau bisa pergi menjauh. Di kantor kau memang COO-ku, tapi di sini... di rumah... kau tetap Ave-ku. Milikku seutuhnya."
Sava merasakan bulu kuduknya meremang. Perasaan posesif Garvi yang tiba-tiba muncul setelah kecelakaan ini sungguh membuatnya waspada. Apakah ini efek samping amnesianya? Ataukah ini bagian dari rencana manipulasi baru?
**
Tap. Tap. Tap.
Suara derap langkah kaki yang berat, teratur, dan penuh wibawa terdengar dari lorong rumah sakit. Suara itu semakin mendekat, diikuti oleh heningnya suasana di sekitar yang seolah memberi jalan bagi sosok yang akan datang.
Pintu kamar terbuka dengan satu sentakan tegas. Seorang pria tegap mengenakan setelan jas hitam membukakan pintu, berdiri tegak seperti prajurit yang menyambut panglimanya.
Lalu, sosok itu muncul.
Seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang tersisir rapi ke belakang. Ia mengenakan setelan jas wol premium berwarna abu-abu tua. Di tangan kanannya, ia memegang tongkat kayu hitam dengan kepala singa dari emas murni. Tatapannya tajam, sedingin es, namun memancarkan kekuasaan yang absolut.
Tuan Besar Alfonso Darwin. Sang Singa Tua, penguasa tertinggi keluarga Darwin yang selama ini berada di London, kini berdiri di jantung Kota Medan.
"Kakek Alfonso?" Sava bergumam pelan, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
Sava segera berdiri dari kursi, merapikan pakaiannya, lalu membungkuk hormat.
"Kakek... kapan Kakek sampai di Indonesia? Kenapa tidak memberi kabar agar kami bisa menjemput di Kualanamu?"
Mata Alfonso yang tadi setajam silet mendadak melembut saat mendarat pada sosok Sava. Ia melangkah maju, membiarkan tongkatnya beradu dengan lantai marmer dengan suara tuk-tuk yang berwibawa.
"Alsava," suara Alfonso berat namun penuh kasih. Ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Sava dengan lembut. Sebuah perlakuan istimewa yang hanya diberikan kepada cucu kesayangannya.
"Cucuku yang cantik. Kau pasti sangat lelah mengurus perusahaan dan... bocah nakal ini."
Sava hanya bisa tersenyum sopan. "Ini sudah menjadi tanggung jawab Sava, Kek."
Suasana hangat itu berubah drastis saat Alfonso mengalihkan perhatiannya pada Garvi yang masih terduduk di ranjang dengan wajah kaget.
"Dan kau, Garvi," desis Alfonso.
"Kek, aku baru saja bangun dari maut, jangan menatapku seolah—"
PLAK!
Tanpa aba-aba, Alfonso melayangkan tangannya—bukan pukulan keras yang mematikan, melainkan sebuah 'tamparan' di dahi Garvi yang tidak diperban. Suara tepukan itu menggema di ruangan yang sunyi.
"Aww! Kakek! Apa yang Kakek lakukan?!" pekik Garvi, tangannya langsung memegang dahinya yang memerah. Wajahnya yang rupawan bak dewa Yunani itu kini meringis kesakitan.
"Kakek tidak tahu kalau kepalaku baru saja dijahit? Bagaimana kalau aku mati konyol karena pukulan Kakek?"
"Mati konyol?" Alfonso mendengus sinis, berdiri tegak sambil menumpukan kedua tangannya di atas tongkat emasnya. "Kau hampir membuat Skyline Group gempar karena kecerobohanmu bermain mobil di tengah malam! Kau membiarkan istrimu bekerja sendirian menghadapi media sementara kau enak-enakan tidur di sini?"
"Kek, aku koma! Aku tidak sengaja tidur!" Garvi membela diri dengan wajah kesal, menatap kakeknya dengan pandangan tidak terima. Hanya di depan Alfonso, sosok Garvi yang manipulatif dan dingin bisa berubah menjadi cucu yang suka membantah.
"Aku tidak peduli," ucap Alfonso mutlak. Ia melirik jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya. "Pakai bajumu. Pagi ini juga kau pulang. Aku tidak ingin melihat cucu pertamaku terlihat lemah di ranjang putih ini. Kau punya banyak kekacauan yang harus dibereskan di kantor."
Garvi mendengus, namun ia tidak berani membantah lagi. Ia tahu, perintah Alfonso adalah hukum.
Sava yang melihat interaksi itu hanya bisa menahan tawa kecil. Ia segera mengambil tas berisi pakaian ganti Garvi yang sudah ia siapkan sejak pagi.
"Sini, Mas Garvi. Biar aku bantu," ucap Sava lembut.
Sava mendekati ranjang, membantu Garvi melepaskan kancing kemeja pasiennya. Karena tangan kiri Garvi masih sedikit lemas, Sava harus bekerja ekstra hati-hati. Jarak mereka begitu dekat. Begitu dekat hingga Sava bisa mencium aroma musk khas tubuh Garvi yang bercampur dengan bau obat.
Garvi menatap wajah Sava yang fokus mengancingkan kemeja hitam miliknya. Ia sengaja menggerakkan tangannya untuk menyentuh pinggang Sava, menarik wanita itu sedikit lebih dekat hingga tubuh semampai Sava bersentuhan dengan lututnya.
"Ave, kau dengar Kakek tadi? Dia bilang aku beruntung memilikimu," bisik Garvi, sengaja merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh Alfonso yang sedang berbicara dengan bodyguard di depan pintu.
Sava tidak menjawab, jemarinya terus bergerak gesit mengancingkan pakaian Garvi. "Mas Garvi, diamlah. Kakek sedang memperhatikan kita."
"Biarkan saja dia melihat betapa serasinya kita," sahut Garvi dengan nada posesif yang mulai muncul kembali.
***
mereka ini saling cinta mati tp saling menyakiti.... 😁😂🤭
pada gengsian mau bilang ilopeyu