Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Kabut Merapi dan Transaksi Uang Daun
Gunung Merapi berdiri gagah membelah langit malam, puncaknya yang selalu mengeluarkan asap tipis terlihat samar di balik selimut awan. Bagi para pendaki, gunung ini adalah tantangan fisik. Namun bagi mereka yang "mengerti", lereng Merapi adalah salah satu pusat peradaban gaib terbesar di tanah Jawa.
Motor tua Seno menderu berat menanjak jalan aspal yang semakin sempit dan curam di kawasan Kinahrejo. Udara di sini dingin menusuk, membuat uap napas terlihat jelas setiap kali dihembuskan.
Alya memeluk pinggang Seno erat-erat. Matanya terpejam rapat.
Sepanjang perjalanan, halusinasi akibat santet Akar Mimang semakin menjadi-jadi. Pohon-pohon pinus di pinggir jalan terlihat seperti raksasa kurus yang melambaikan tangan ingin menculik mereka. Batu-batu besar di tikungan tampak seperti kepala yang menggelinding.
"Jangan... jangan lihat..." gumam Alya, mensugesti dirinya sendiri.
Seno menepuk tangan Alya yang melingkar di perutnya.
"Su... dah... sampai," katanya dengan suara bariton serak.
Mereka berhenti di ujung jalan aspal, di batas hutan di mana kendaraan tidak bisa naik lagi. Di sana hanya ada pos penjagaan tua yang kosong dan gelap.
Seno turun, lalu mengeluarkan bungkusan dari tas samping motornya. Isinya adalah daun-daun nangka kering yang sudah dia pilih khusus.
Uang Daun. Mata uang yang berlaku di pasar yang akan mereka tuju.
"Kita jalan kaki?" tanya Alya sambil menggigil. Bahunya yang terkena santet terasa panas membara, kontras dengan udara dingin gunung.
Seno mengangguk. Dia memberi isyarat pada Gulo.
Gulo melompat turun, lalu berlari di depan sebagai penunjuk jalan. Di habitat aslinya (hutan), Gulo menjadi jauh lebih lincah dan berwibawa. Dia mengendus udara, memastikan jalur aman dari "petugas keamanan" gaib Merapi yang galak.
Mereka mendaki jalan setapak berbatu selama dua puluh menit. Kabut turun sangat tebal, jarak pandang hanya dua meter.
Anehnya, semakin tinggi mereka mendaki, semakin ramai suara yang terdengar.
Bukan suara angin.
Melainkan suara hiruk-pikuk. Suara tawar-menawar, suara gamelan, suara orang tertawa, dan suara denting logam.
Seperti ada pasar malam di tengah hutan mati.
"Pak, itu suara apa?" bisik Alya.
Seno menaruh jari telunjuk di bibirnya. Sstt.
JANGAN BICARA SEMBARANGAN. JANGAN MENYEBUT NAMA ASLI. JANGAN MENATAP MATA MEREKA.
Seno menggandeng tangan Alya.
Mereka menembus dinding kabut terakhir.
Dan pemandangan di depan mata membuat Alya lupa bernapas.
Pasar Bubrah.
Di tanah lapang bebatuan vulkanik yang luas itu, ratusan—mungkin ribuan—sosok sedang beraktivitas.
Ada tenda-tenda yang terbuat dari kain kafan lusuh atau kulit binatang. Obor-obor api biru dan hijau menerangi lapak-lapak dagangan.
Para pedagangnya... beragam.
Ada wanita cantik yang punggungnya berlubang (Sundel Bolong) sedang menjajakan sate gagak.
Ada makhluk tinggi besar berbulu (Genderuwo) yang menjual bongkahan emas mentah.
Ada nenek-nenek berwajah rata yang menjual jamu dari darah ular.
Dan para pembelinya juga sama anehnya. Ada pocong yang melompat-lompat memilih kain baru, ada tuyul yang berlarian membawa mainan tulang.
"Gila..." desis Alya pelan. "Ini mall-nya hantu."
Seno menarik tangan Alya, membawanya masuk ke kerumunan.
Setiap kali mereka berpapasan dengan makhluk, makhluk itu akan menoleh, mengendus bau "manusia hidup" yang lezat dari Alya.
Tapi begitu mereka melihat Seno—dan aura Koki Legendaris yang memancar darinya—mereka mundur segan.
Seorang pedagang (wujudnya kepala terbang dengan usus terurai—Kuyang) melayang mendekat.
"Mas Koki... cari daging segar? Saya punya hati perjaka yang baru mati kecelakaan..." tawarnya sambil menyeringai.
Seno menggeleng sopan tanpa bicara. Dia memberikan selembar daun nangka kering.
Kuyang itu menerimanya dengan senang hati. Di mata Kuyang, daun itu terlihat seperti lembaran uang kertas kuno bernilai tinggi.
"Terima kasih, Mas. Monggo lewat."
Mereka terus berjalan membelah pasar, menuju ke bagian paling pojok, di dekat sebuah batu besar yang menyerupai altar.
Di sana, terdapat sebuah gubuk reot yang atapnya dari ijuk hitam. Di depannya tergantung papan nama dari tulang paha:
MBAH BENGUK - SPESIALIS BEDAH JIWA & TUKANG URUT NASIB.
Seno mengetuk tiang gubuk itu tiga kali.
"Masuk..." suara dari dalam terdengar berat dan malas.
Mereka masuk.
Interior gubuk itu penuh dengan toples-toples berisi hal-hal mengerikan: mata ikan raksasa, jari manusia yang diawetkan, dan janin makhluk mitos.
Di tengah ruangan, duduk seorang kakek tua yang kulitnya bersisik seperti kulit katak purba. Matanya menonjol keluar, dan dia sedang merokok dengan pipa cangklong yang asapnya berwarna ungu.
Mbah Benguk. Tabib siluman katak yang legendaris.
Mbah Benguk melihat Seno. Matanya yang besar berkedip satu kali secara horizontal (seperti reptil).
"Oalah... Seno. Sudah lama tidak mampir. Terakhir kali kau ke sini, kau masih bisu dan dikejar-kejar Penagih. Sekarang auramu beda. Sudah lunas hutangmu?"
"Sudah... Mbah," jawab Seno dengan suara seraknya.
Mbah Benguk tertawa. "Bisa bicara juga akhirnya. Suaramu jelek. Lebih enak waktu bisu."
Tabib tua itu kemudian menatap Alya. Dia menyipitkan mata.
"Dan kau bawa pasien. Hm... baunya busuk. Bau santet pesanan."
Mbah Benguk melompat turun dari kursinya (gerakannya benar-benar melompat seperti katak). Dia mendekati Alya, mengendus bahunya.
Dia menyentuh noda hitam di bahu Alya dengan ujung jarinya yang lengket.
"Aw!" Alya meringis.
"Akar Mimang," diagnosa Mbah Benguk cepat. "Jenis yang agresif. Ini kiriman dukun aliran hitam dari Selatan. Si Suro Gendeng itu ya?"
Alya mengangguk. "Bisa sembuh nggak, Mbah?"
Mbah Benguk kembali ke kursinya, menghisap pipanya.
"Bisa. Tapi sakit. Akar ini sudah masuk ke otot. Harus dicabut paksa. Kalau tidak, tiga hari lagi kau akan jadi pohon. Secara harfiah. Kakimu akan jadi akar, badanmu jadi batang, dan jiwamu terperangkap di dalamnya selamanya."
Alya merinding membayangkannya. "Tolong cabut, Mbah. Saya bayar. Pak Seno bawa uang daun banyak."
Mbah Benguk mendengus. "Aku tidak butuh daun. Gudangku sudah penuh daun. Aku butuh bayaran lain."
Tabib itu menatap Seno dengan mata berbinar licik.
"Seno... kau tahu kan aku ini pecinta kuliner? Sudah seratus tahun lidahku gatal ingin makan satu masakan khusus. Tapi tidak ada koki di pasar ini yang becus bikinnya."
"Masakan... apa?" tanya Seno.
"Pepes Ikan Mas Sisik Emas," jawab Mbah Benguk, air liurnya menetes sedikit. "Tapi bukan ikan mas biasa. Ikan Mas yang hidup di kawah kawah Merapi. Ikan yang tahan panas lahar."
Seno tampak berpikir.
"Ikannya... ada?"
"Ada. Aku punya satu ekor di akuarium belakang. Tapi kalau dimasak sembarangan, dagingnya jadi racun. Hanya Koki dengan 'Api Batin' yang bisa mengolahnya menjadi obat awet muda."
Mbah Benguk menatap Alya, lalu Seno.
"Masakkan itu untukku malam ini. Kalau enak, gadis ini kusembuhkan. Kalau tidak enak... gadis ini kujadikan hiasan taman."
Seno menoleh ke Alya.
Alya mengangguk mantap, meski wajahnya pucat. "Masakin, Pak. Kasih dia Pepes paling enak sedunia."
Seno mengangguk setuju.
"Siapkan... dapur."
Mbah Benguk bertepuk tangan girang.
"Asyiiik! Akhirnya makan enak!"
Dia membawa mereka ke belakang gubuk.
Di sana ada dapur terbuka yang menghadap langsung ke jurang gelap. Dan ada sebuah akuarium batu berisi seekor Ikan Mas sebesar lengan orang dewasa.
Sisiknya benar-benar terbuat dari emas murni, dan matanya menyala seperti bara api. Air di dalam akuarium itu mendidih meletup-letup.
Ikan Mas Lahar.
Seno menyingsingkan lengan bajunya.
Ini tantangan baru. Memasak bahan yang suhunya 1000 derajat Celcius.
Seno menatap Alya.
"Alya... tolong... bumbu."
Alya siap dengan sisa tenaganya.
"Siap, Chef. Bumbu apa? Kunyit? Jahe?"
Seno menggeleng.
"Bumbu... dingin. Daun mint... timun suri... dan air mata... embun."
Perang melawan santet ditunda sejenak. Sekarang, mereka harus memenangkan perut si Tabib Katak.
Di tengah pasar hantu yang bising, aroma masakan Seno akan kembali diuji.
Namun, di tengah kesibukan itu, Alya melihat sesuatu di kerumunan pasar di bawah sana.
Sosok yang tidak asing.
Seorang pria berjas hitam necis, memakai kacamata hitam di malam hari.
Jaka.
Jaka sedang berbicara dengan pedagang senjata (Genderuwo). Dia menyerahkan koper berisi uang merah (uang darah).
Jaka sedang belanja. Belanja pasukan baru.
"Pak," bisik Alya. "Jaka ada di sini."
Seno menoleh sekilas, matanya menyipit tajam.
Ternyata Ordo Penagih Janji juga sedang menyusun kekuatan ulang. Dan Pasar Bubrah adalah tempat pertemuan semua kepentingan jahat.
Malam ini akan panjang.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.