Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Murahan vs pemain
Bab 26
Pelayanan puskes dimulai satu jam lagi, tapi sudah banyak pasien datang dan mendaftar. Asoka dan wahid berbincang mengenai meningkatkan pelayanan puskes, sambil berdiri mengawasi situasi.
Lisa sudah berada di meja kerjanya, menyiapkan peralatan skrining dan membuka data pasien yang sudah mendaftar. Pandangan Asoka mengarah pada Lisa, sesekali merotasi ke arah lain.
Marina baru tiba, raut wajahnya secerah matahari di siang hari mendapati Asoka di sana. Langkah kaki dengan heelsnya begitu membahana.
“Selamat pagi dokter Asoka, Pak Wahid.”
“Pagi, dokter Marina,” sahut Wahid dan Asoka hanya mengangguk saja.
“Pada ngumpul,lagi bahas apa ini?”
“Kedatangan Dokter Asoka dan timnya, cukup membantu saya. Pelayanan puskes semakin efektif dan saran dari dokter Asoka terkait pelayanan akan saya pertimbangkan untuk pengajuan ke pusat.”
“Wah, saran apa? Kenapa saya nggak diajak diskusi,” seru Marina. “Boleh-lah kita rapat pak, duduk bersama atau kalau perlu adakan raker ke mana gitu. Menginap dua atau tiga hari.”
Lisa berada tidak jauh, hanya berjarak tiga meter. Mendengar jelas apa yang dikatakan Marina. Ingin terbahak sebenarnya, mungkin kalau Rama mendengar akan bilang kalau si Marimar itu beg0. Jelas-jelas mereka bekerja di bidang pelayanan dan berada di garda terdepan. Malah mengusulkan raker sampai berhari-hari.
“Kalau kita raker jauh sampai tiga hari, yang layani pasien siapa dong,” cetus Wahid dengan senyum kecut.
“Ya tutup dulu aja pak, kasih pengumuman di depan atau adakan family gathering. Kayaknya seru deh.”
Sumpah Lisa sampai ingin terbahak mendengar itu. sepertinya niat sekali untuk dekati Asoka. Pandangan Lisa beralih pada seorang wanita menggendong balita yang baru saja datang.
“Asep, sudah sehat ya.” Lisa menghampiri istri dan anak Ujang, pekikannya mendapatkan perhatian dari kedua dokter dan pimpinan puskes.
“Ish, apaan sih, norak,” gumam Marina.
Lisa menghampiri Asep dan meraih ke dalam gendongannya. “Mau kontr0l ya?”
“Iya teh.”
“Ya udah, Asep sama aku dulu, ibunya Asep antri daftar ya.”
Asoka pamit untuk menghampiri Asep, padahal menghindar dari Marina dan ingin menghampiri Lisa. Semakin dilihat semakin menggemaskan dan selalu menarik perhatiannya. Sungguh bekerja bersama gadis itu membuat fokus dan konsentrasinya kadang buyar.
“Asep,” panggil Asoka. Tangannya menyentuh dahi bocah itu, memeriksa secara tidak langsung.
“Halo, dokter Oka. Aku udah sehat ya, jangan kasih obat yang pahit lagi,” seru Lisa dengan suara berubah seperti anak kecil.
Interaksi tersebut menjadi perhatian para pasien yang menunggu mulainya pelayanan juga Wahid yang tersenyum. Hanya Marina saja yang terlihat tidak suka bahkan wajahnya sinis melihat interaksi itu.
“Lucu ya dok, mana mont0k.”
“Hm.” Asoka tersenyum karena Lisa tampak keibuan menggendong bocah itu dengan perasaan tulus dan rasa sayang. Calon istri dan ibu yang luar biasa. Sepertinya rasa yang dia miliki untuk gadis itu tidak salah. “Mau buat juga yang kayak gini,” lirih Asoka sampai Lisa membulatkan matanya.
“Dokter ih, nanti didengar yang lain. Mulai mesum ya,” ucap Lisa tidak kalah lirih.
“Dokter, mani cocok pisan sareng Neng Lisa. Jiga keluarga cemara,” ucap salah satu pasien mengomentari Asoka dan Lisa bersama Asep putra Ujang. (Dokter, cocok sekali dengan Mbak Lisa. Seperti keluarga cemara.)
“Iya kah Bu. Aku udah pantes punya anak ya.”
“Suami heula atuh teh, karak gaduh anak.” (Suami dulu dong mbak, baru punya anak).
Asoka tertawa. "Dengar itu, cari suami dulu baru punya anak. Aku sudah pas sebagai suami, tinggal bikin anak," seru Asoka membuat Lisa mencebik.
***
Seperti dugaan Asoka, hari ini Cecep datang ke puskes. Meski datang saat pelayanan sudah berakhir. Wahid menyambut pria yang menjabat sebagai kepala desa itu, begitu pun dengan Marina. Bersikap seolah tidak ada sesuatu diantara mereka.
“Gimana Pak Wahid, aman pelayanan hari ini?”
“Aman pak kades. Alhamdulilah semenjak tim dokter Asoka datang, puskes sangat terbantu.”
Cecep tersenyum sambil mengangguk. Suasana puskes sudah mulai sepi, pandangannya meneliti seolah mencari seseorang.
“Ini pada kemana, kok sepi?”
“Dokter Asoka masih di ruangan, yang lain sepertinya di belakang. Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Wahid.
“Oh, tidak apa. Saya ke belakang ya, mau lihat situasi di belakang.”
Wahid bersiap mengantar Cecep berkeliling, tapi ditolak. Merasa kedatangannya bukan sedang sidak.
“Biar saya yang temani ke belakang, mari Pak Kades,” ujar Marina. “Pak Wahid bukannya ada undangan rapat dengan pak Camat ya?”
“Nah, bapak urus rapat saja. Saya hanya ingin silaturahmi dengan tim yang lain bukan mau sidak atuh."
Cecep dan Marina menuju belakang. Saat berjalan di koridor menuju belakang, dimana ada ruang tindakan melahirkan juga beberapa kamar rawat inap. Marina menghentikan langkahnya dirasa cukup aman untuk bicara dengan Cecep.
“Sebentar, pak!”
“Ck, apalagi. Saya mau ke belakang, nggak perlu diantar kamu.”
“Kapan bapak bergerak untuk pisahkan Lisa dari Asoka?”
Cecep mendengus kesal, dia tidak tahu dan tidak peduli ada urusan apa Asoka dengan Lisa. Niatnya hanya ingin mendekati dan mendapatkan Lisa dengan caranya, bukan karena dorongan dan desakan Marina.
“Bukan urusan kamu, Marina.”
“Ya, tapi kapan,” ujar Marina menahan geram. “Saya nggak mau ya melayani n4fsu bapak lagi, luapkan saja sama Lisa dan Asoka biar jadi urusan saya. Caranya ya pisahkan mereka berdua.”
“Saya urus dengan cara saya sendiri, kamu urus saya masalah kamu.” Cecep meninggalkan Marina.
“Ish, Pak, tunggu. Ck, kenapa sih. Susah amat diajak kerja sama.”
***
Asoka membereskan meja lalu melepas jas putih dan menggantungnya. Mencuci tangan karena sudah berinteraksi dengan banyak pasien. Membuka ponsel yang sejak pagi tidak dia buka. Ada banyak pesan di grup dan beberapa chat pribadi.
Keluar dari ruangannya, mendapati Wahid baru saja pergi. Membuka room chat Lisa dan mengetik pesan di sana.
...Lisa Kanaya❤️...
^^^Di mana, yang?^^^
Menunggu balasan sambil membalas pesan lainnya.
...Lisa Kanaya❤️...
^^^Di mana, yang?^^^
Di belakang.
Di belakang yang dimaksud Lisa, nurse stasiun di area kamar rawat inap. Menjadi tempat nongkrong dan berbincang para nakes di saat waktu istirahat ketika tidak ada pasien.
Berniat mengajak Lisa makan di luar, Asoka melangkah ke belakang. Berbelok di koridor, terkejut ada Marina dan Cecep di sana. Gegas berbalik dan menunggu sampai kedua orang itu pergi.
Malas berinteraksi dengan Marina, tapi bukannya pergi malah terdengar perbincangan keduanya. Tidak ingin ikut campur, tapi mendengar sesuatu yang tidak pernah dia duga bahkan namanya dan Lisa sempat disebut. Asoka sampai menajamkan pendengaran agar informasi yang dia dapatkan dalam versi lengkap.
Dahinya sampai mengernyit dan hati mendadak panas serta emosi. Marina ingin berkolaborasi menjauhkan dirinya dengan Lisa. Bahaya, pikirnya. Dasar buaya, ternyata Cecep memang menargetkan Lisa.
“Cocok sekali mereka. Yang satu murahan, yang satu pemain.”
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur