Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Bukan Urusanmu
Bab 27
“Masa sih?” Lisa menatap heran Yuli dan Rama. Posisi mereka sangat aneh. Rama duduk di kursi plastik, Beni berjongkok. Sedangkan Lisa dan Yuli berdiri, sibuk bergibah ke sana kemari. Sapri sedang rapi-rapi agar besok tidak banyak yang harus dia kerjakan.
“Heran gue, lo kalau diajak ngobrol suka tulalit. Tapi dokter Oka kok seneng banget sama lo, ketawa-ketawa kalau kalian ngobrol.”
“Namanya juga cinta, ya begitu.” Lisa terkekeh bangga menanggapi Rama.
“Heh, ada yang datang.” Beni bicara lirih, pandangannya menunduk sedang yang lain menatap kearah datangnya Cecep diikuti Marina.
“Ish, malas banget deh,” gumam Lisa.
“Siang akang dan teteh, wah seru amat diskusinya. Gimana, ada masalah di puskes?” tanya Cecep begitu antusias saat melihat ada Lisa.
“Nggak ada kok, pak. Aman semuanya.” Berharap Cecep segera pergi, Yuli menandaskan semuanya baik-baik saja malah tidak baik karena dia hadir.
Pandangan Cecep begitu tertuju pada Lisa, seolah menelisik dan menel4njangi. Sangat membuat risih dan tidak nyaman.
“Teh Lisa, apa kabar? Kemarin saya kemari tidak lihat teh Lisa.”
“Oh, baik Pak Kades,” sahutnya dengan senyum terpaksa.
Marina berdiri sambil bersedekap, menatap sinis pada Lisa. Apa yang dilihat Asoka dari perempuan ini, pikirnya. Tidak berkelas, bahkan penampilannya biasa saja. Ia bahkan menarik ujung bibir membentuk senyum tipis membayangkan Lisa melakukan apa yang sering dia lakukan bersama Cecep. Asoka tidak akan mau lagi dengan Lisa, menjadi peluang besar untuknya mendekat. Percaya diri dengan pesonanya bisa mendapatkan seorang Asoka Harsa.
“Katanya teh Lisa mau menikah ya?”
“Hah?” Lisa menatap Yuli dan Rama, sempat heran karena Yuli mengedipkan mata. seolah mengatakan, jawab saja iya. Meski ragu, Lisa pun mengangguk. “Iya, pak. Saya memang mau menikah.”
“Sama siapa?” Marina langsung menyala.
“Pacar saya dok, masa pacar orang.”
“Pacar kamu siapa, dia atau dia.” Marina menunjuk Beni dan Rama.
Cecep berdecak karena Marina menyela percakapannya.
“Bukan dok, Lisa itu adik saya,” jelas Rama lalu berdiri menuju meja nurse station. “Kalian pulang sana, istirahat. Gue jaga dulu bentar sambil tunggu dokter Agus datang.”
Lisa dan Yuli mengiyakan titah Rama.
“Loh, mau kemana? Saya mau ajak makan siang nih. Mau ya.”
“Waduh maaf pak, saya nggak bisa. Ada janji sama pacar saya,” seru Yuli. “Bareng Lisa dan pacarnya juga,” tutur Yuli lagi. “Malah ngajak bapak kost untuk mengawasi kita.”
Beni yang sejak tadi diam mendengarkan, mendadak ingin terbahak. Sudah pasti bapak kost yang dimaksud Yuli ya dirinya. Kacau juga si Yuli ini, batin Beni.
“Kalian itu kalau diajak sama orang harusnya ikut untuk menghargai, Pak Cecep ini kepala desa loh. Atasan kita di sini.”
Entah ada masalah hidup apa, sejak tadi Marina selalu sewot menyalahkan Rama CS.
“Ya nggak gitu dok, atasan kami yang ada di rumah sakit pusat dan di sini atasan kita Pak Wahid. Puskes itu di bawah kecamatan bukan desa,” tutur Rama menjelaskan agar dokter gigi di depannya ini tidak bolot.
“Sudah atuh, jangan berdebat. Teh Yuli, nomor teh Lisa yang kemarin kayaknya salah. Saya hubungi kok nyambung ke damkar.”
Lagi-lagi Beni ingin terbahak, tapi ia tahan semoga tidak keluar lewat lub4ng belakang bersama angin busuk.
“Ini nomornya bukan?” Cecep menyodorkan layar ponsel ke hadapan Lisa.
“Hm, kayaknya iya. Saya tidak begitu hafal karena tidak pernah menghubungi diri sendiri.”
“Coba atuh miss call ke ponsel saya.”
Lisa meraba kantong seragamnya. “Wah, hp saya nggak dibawa.” Padahal ponselnya ada di saku celana.
Asoka menghampiri perkumpulan absurd itu, menyapa sang Kades.
“Kalian masih di sini?” tanya Asoka pada Lisa dan Yuli.
“Eh iya, ayo Yul. Kita udah telat.” Kebetulan Yuli memang sudah memakai tasnya siap untuk pulang. “Permisi semuanya, kami duluan.”
“EH, the Lisa. Tunggu dulu.”
Namun, Cecep tidak bisa mengejar karena Asoka menahannya dengan alasan ada banyak hal yang akan dibicarakan mengenai kesehatan masyarakat desa Singajaya.
***
“Asoka. Aku boleh panggil nama ‘kan? Kayaknya kita seumuran,” seru Marina.
Cecep baru saja pergi setelah rencananya gagal mengajak Lisa dan tertahan oleh Asoka membicarakan hal yang bisa dibaca dari hasil sensus penduduk.
“Kamu serius pacaran dengan Lisa?”
Dahi Asoka berkerut, Marina mulai tidak tau batasan. “Tidak ada alasan untuk tidak serius.”
“Kalian tidak cocok, terlalu mencolok perbedaan diantara kalian.”
“Tidak cocok?” tanya Asoka.
“Hm. Biasanya dokter itu sama dokter lagi. Nggak keren amat jalan sama perawat. Apalagi kamu akan jadi dokter spesialis. Aku lihat Pak Kades itu tertarik dengan Lisa.”
“Wajar dan itu hak Pak Cecep. Lisa tidak bisa melarang perasaan yang bukan dia ciptakan. Selama dia setia, aku tidak peduli dan hubungan kami baik-baik saja.”
Marina mendekat dan menatap sekitar, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. Tangannya terulur menyentuh lengan Asoka.
“Sudah menjadi rahasia umum kalau Pak Cecep itu mata keranjang, banyak wanita menjadi korbannya. Setiap perempuan yang dia dekati dan menjadi target pasti akan didapat. Lisa hanya menunggu waktu saja, kamu harus percaya aku.” Pegangan tangan Marina semakin erat.
Asoka menarik tangannya agar terlepas.
“Termasuk kamu?”
“Hah?”
“Termasuk kamu yang menjadi korban Pak Cecep?”
“Aku … ya nggak lah. Mana mungkin aku jadi korban dia.” Marina merotasi bola matanya seolah menghindar dari tatapan Asoka yang mengintimidasi. Meski tidak bicara banyak dan nada datar, tapi cukup tepat dan menikam.
“Saya harap kita tidak ada masalah agar hubungan kerja tetap profesional. Lisa biar menjadi urusan saya. Masalah pak cecep suka atau tidak pada Lisa, juga bukan urusan kamu. Jangan jadikan Lisa alasan untuk kamu lepas dari jerat Pak Cecep,” tutur Asoka membuat Marina terkejut bahkan sampai salah tingkah.
“Maksud kamu … apa?”
Alih-alih menjawab, Asoka pergi. Marina mengejarnya, bahkan interaksi itu disaksikan Ujang.
“Apa maksud kamu? Mana ada aku ada hubungan dengan Pak Cecep, dengar dari mana? Ini fitnah.”
“Ya sudah kalau tidak ada hubungan.”
“Asoka!” teriak Marina sambil menghentakkan kakinya, Asoka pergi begitu saja mengabaikannya. “Ck, dari mana dia tahu.”