NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita nenek Darma

Seperti janji Clara pada Wulan dan yang lain, sore itu ia bergegas merapikan pekerjaannya di toko buku Pak Ardi agar bisa tepat waktu pergi ke rumah sakit. Ia menata ulang buku-buku yang sedikit berantakan, menghitung kas dengan teliti, lalu menyerahkan catatan penjualan pada Bu Jasmine yang berdiri di balik meja.

“Nak Clara, kenapa buru-buru? Hari ini mau pergi sama cowok yang kemarin itu lagi?” tanya Bu Jasmine dengan nada penasaran yang tak bisa disembunyikan.

“Oh, Kak Natan? Enggak, Bu. Clara sudah ada janji sama teman kuliah,” jawab Clara sambil merapikan uang di laci kasir.

“Si Thalia?” tanya Bu Jasmine lagi.

Clara menggeleng kecil. “Bukan, Bu. Ini teman tugas Clara.”

Bu Jasmine mengangguk-angguk. Clara hanya tersenyum tipis, Ia menutup laci kasir, menggantungkan kemoceng ke tempatnya, lalu memastikan semua sudah rapi sebelum beranjak.

Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar toko.

“Bu, Clara pamit ya.”

“Iya, hati-hati pulangnya. Jangan kemalaman,” sahut Bu Jasmine.

Clara mengangguk, menyampirkan tasnya ke bahu, lalu bergegas keluar. Di tepi jalan, mobil Wulan sudah terparkir dengan Rio di kursi kemudi dan Adit serta Zita di bangku belakang. Wulan menurunkan kaca jendela sambil melambai.

“Cepet banget lo, gue kira masih beres-beres,” serunya.

Clara tersenyum dan membuka pintu mobil. “Udah beres. Yuk sebelum keburu malam.”

Mobil itu pun melaju meninggalkan deretan ruko, membawa mereka menuju rumah sakit, tempat Clara ingin melihat langsung bagaimana racun dan penawar bekerja bukan hanya di atas kertas, tapi di kehidupan nyata.

Kini mereka telah sampai di sebuah yayasan rumah sakit besar di Jakarta Selatan. Gedungnya menjulang tinggi, kaca-kacanya memantulkan cahaya senja yang mulai turun perlahan.

“Kita sudah punya izin buat cari bahan di sini?” tanya Clara setelah beberapa detik memperhatikan bangunan megah itu.

“Tenang aja, Clar. Om gue pemilik rumah sakit ini,” ucap Rio santai.

Clara mengangguk paham. Bukan hal mengejutkan lagi baginya bahwa sebagian besar mahasiswa di Universitas Jakarta memang berasal dari keluarga berada, kecuali mereka yang masuk lewat jalur beasiswa seperti dirinya.

Sebelum turun dari mobil, mereka membahas pembagian tugas dan siapa saja yang akan diwawancarai. Setelah semuanya siap dengan alat tulis dan perekam suara, mereka berjalan memasuki area teras rumah sakit.

“Mau keperluan dengan siapa, Tuan Rio? Biar saya antar,” tanya seorang security dengan sopan.

Sebelumnya, om nya rio sudah memberitahukan perihal kedatangan keponakannya kepada manager rumah sakit yang diteruskan ke security.

“Tidak perlu, nanti kami cari sendiri,” sahut Rio tenang.

“Baik, Tuan. Kalau begitu silakan pakai kartu ini.”

Security itu menyerahkan lima kartu tamu VVIP. Mereka menggantungkannya di leher agar mudah dikenali staf dan karyawan rumah sakit.

Kelompok Wulan dan Adit menuju ruangan farmasi untuk mewawancarai petugas tentang penggunaan dosis yang tepat dan efek samping jika terjadi pemakaian berlebihan. Sementara Clara, Rio, dan Zita telah meminta izin kepada dokter jaga untuk mengobservasi beberapa ruang rawat inap.

Didampingi seorang suster, mereka menyusuri lorong-lorong putih yang beraroma antiseptik. Mereka melihat ruang rawat anak, seorang balita menangis keras menolak minum obat karena pahit. Di ruang dewasa, seorang pasien terbaring dengan selang infus dan monitor jantung yang berbunyi pelan. Pemandangan itu mengiris hati Clara.

Suster juga menjelaskan beberapa kasus overdosis obat dan bagaimana penanganannya. Clara mencatat dengan saksama, bukan hanya fakta medisnya, tapi juga ekspresi keluarga pasien yang menunggu dengan cemas.

Setelah dirasa cukup, mereka pamit.

“Terima kasih, Suster, atas bantuannya. Ini ada sedikit untuk makan malam,” ucap Zita sambil menyerahkan amplop kecil.

Suster melirik ke arah Rio seolah meminta konfirmasi. Rio mengangguk kecil.

“Maaf ya, Suster, sudah mengganggu waktunya,” tambah Clara dengan senyum tulus.

Dalam hati Clara bergumam, Ternyata aku nggak salah pilih teman. Mereka baik dan menghargai waktu orang lain.

Kayaknya Wulan sama Adit juga sudah selesai,” ucap Zita setelah membaca pesan masuk.

Kruk.

Suara perut Clara tiba-tiba berbunyi cukup keras di lorong yang mulai sepi.

Zita dan Rio langsung menoleh, lalu tertawa lepas.

“Astaga, kamu lapar, Clar?” tanya Zita.

“Kenapa nggak bilang dari tadi? kan bisa makan dulu,” tambah Rio, masih menahan tawa.

“Aku sempat merinding, loh. Kirain suara apa,” celetuk Zita.

Clara ikut tertawa kecil, telinganya memerah karena malu. “Maaf…”

“Abis ini kita langsung makan. Kami juga belum makan. Sekalian kita kelarin tugasnya,” ujar Rio.

“Iya, parah banget ya Pak Seno ngasih waktu cuma tiga hari. Beneran dosen killer,” protes Zita.

Saat mereka masih bercanda, langkah Clara tiba-tiba terhenti.

Zita dan Rio menoleh bersamaan. “Ada apa?”

“Kalian dengar suara tangisan?” tanya Clara pelan, menajamkan pendengarannya.

Rio dan Zita saling pandang, bulu kuduk mereka meremang.

“Yang bener lah, Clar. Lorong ini kosong,” ucap Zita dengan suara menurun.

Clara berjalan pelan ke arah suara itu, diikuti Zita dan Rio yang ragu-ragu. Mereka berbelok ke lorong lain yang lebih sepi. Lampu di ujung lorong sedikit redup.

Clara mengintip dari balik dinding. Zita mencengkeram lengan Rio.

“Rumah sakit om kamu nggak berhantu kan, Rio?” bisik Zita.

“Mana ada rumah sakit nggak berhantu,” jawab Rio setengah bercanda, meski wajahnya ikut tegang.

“Aku coba ke sana deh,” ucap Clara.

Rio langsung menahan pergelangan tangannya. “Kalau beneran hantu gimana?”

“Kalo manusia gimana?” Clara balik bertanya tenang.

Rio terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang. “Gue aja yang ke situ.”

Ia melangkah lebih dulu, meski langkahnya jelas tak seberani ucapannya. Saat mereka mendekat, terlihat seorang perempuan tua duduk sendirian di kursi tunggu, wajahnya tertunduk, bahunya berguncang pelan karena menangis.

Nek, ada apa?” tanya Clara sambil berjongkok di hadapan perempuan tua itu.

Nenek itu membuka wajahnya yang basah oleh air mata. Matanya merah dan sembab. Ia menatap Clara dengan tatapan kosong yang menyimpan kelelahan panjang.

Dengan sigap clara membuka tasnya dan menyerahkan sebotol air.

“Minum dulu, Nek, biar lebih tenang,” ucap Clara lembut.

Dengan tangan keriput yang gemetar, nenek itu menerima botol tersebut dan meneguk sedikit air. Napasnya masih tersengal. Clara lalu duduk di samping kirinya, mengusap pelan punggung yang mulai membungkuk itu, berusaha menenangkan tanpa banyak kata. Zita ikut duduk di sisi kanan, sementara Rio berdiri bersandar di dinding lorong, wajahnya tak lagi santai seperti tadi.

“Sudah agak tenang, Nek?” tanya Clara pelan.

Nenek itu hanya mengangguk kecil.

“Maaf kalau kami lancang… kalau boleh tahu, kenapa Nenek menangis sendirian di sini?” tanya Zita hati-hati.

Perempuan tua itu mengusap wajahnya lagi.

“Katanya kalau minum itu dia kuat kerja, Nak… sekarang malah tidak bangun,” ucapnya terisak.

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan dingin.

Clara terdiam. Ia sudah terbiasa mendengar cerita-cerita getir dari kehidupan menengah ke bawah. Tapi Rio dan Zita berbeda. Wajah keduanya menegang. Untuk pertama kalinya mereka melihat kenyataan tanpa filter.

“Nek… boleh kami lihat anaknya?” tanya Zita pelan sambil menggenggam tangan tua itu.

Nenek mengangguk dan berdiri perlahan. Mereka mengikutinya menuju ruang ICU. Di balik kaca tebal, seorang pria paruh baya terbaring dengan selang dan monitor yang berbunyi pelan.

Nenek itu kembali menangis saat melihatnya.

“Dia sudah jadi anak terhebat… hanya karena ingin membelikan saya rumah di lingkungan yang bersih, dia rela lembur setiap hari,” katanya dengan suara patah. “Katanya malu lihat saya tinggal di tempat kumuh.”

Clara menelan ludah. Hatinya sesak, tapi ia tahu ia harus tetap tenang.

“Seandainya saja saya sudah tidak ada… mungkin dia tidak akan begini,” lanjut nenek itu. “Saya sudah tua… tapi yang terbaring tak berdaya malah dia.”

“Nek, jangan bilang begitu,” ucap Clara lembut namun tegas. “Kalau anak Nenek dengar, dia pasti sedih. Banyak orangtua di luar sana yang tak pernah merasakan kasih sayang di usia senja. Nenek sangat dicintai. Itu bukan suatu kesalahan.”

Rio menatap pria di balik kaca itu lebih lama dari yang seharusnya. Zita terdiam, bibirnya bergetar menahan tangis.

“Tuhan tidak pernah memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya,” lanjut Clara pelan. “Kita doakan saja… semoga beliau segera sadar.”

Nenek itu tersenyum tipis, meski air matanya belum sepenuhnya berhenti.

“Terimakasih sudah menenangkan saya nak, panggil saja saya nenek Darma,” ucapnya kemudian. “Anak saya usia nya empat puluh lima tahun. Dia tidak pernah mau menikah… katanya ingin merawat saya. Hidup kami pas-pasan. Dia kerja di pabrik garmen. Gajinya tidak seberapa.”

Clara mendengarkan dengan saksama.

“Lalu dia bilang ingin membelikan saya rumah… rumah yang layak, bukan yang seperti sekarang. Sejak itu dia kerja lebih keras. Siang di pabrik, malam jadi maskot boneka di toko es krim. Hampir tidak pernah istirahat.”

Nenek Darma menunduk.

“Awalnya cuma minum obat penambah stamina… katanya supaya kuat. Kadang minum pil biar tidak ngantuk. Kadang obat tidur supaya bisa tidur cepat sebelum kerja lagi. lalu ia tak bangun lagi… dokter bilang overdosis.”

Rio menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, istilah “biaya rawat” tidak terdengar seperti angka, tapi seperti vonis.

“Tabungan yang dia kumpulkan habis untuk biaya rumah sakit,” lanjut Nenek Darma lirih. “Dan sekarang… mereka bilang kalau tidak bisa bayar lagi, harus dipulangkan.”

Lorong ICU terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Clara menatap pria itu sekali lagi. Racun tidak selalu berbentuk serbuk putih atau jarum. Kadang racun itu bernama ambisi. Kadang bernama kemiskinan yang memaksa seseorang meminum apa pun demi bertahan.

Dan penawar… belum tentu selalu tersedia.

Di sampingnya, Rio menunduk, pikirannya bergejolak. Zita menggenggam tasnya erat-erat.

Dalam pikrian mereka, hidup tidak terlihat seperti perlombaan menjadi paling sukses. Hidup terlihat seperti perjuangan untuk sekadar bertahan.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!