Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24
Mesin Aston Martin hitam milik Jay menderu, membelah jalanan malam yang sunyi seperti binatang buas yang dilepaskan dari kandang. Ia menekan pedal gas lebih dalam, secepat detak jantungnya yang berpacu liar di balik dada.
Di kursi samping, sebuah senjata api dan ponselnya tergeletak. Layar ponsel itu dipenuhi panggilan tak terjawab—dari neraka yang bernama Jackman. Ayahnya sendiri.
Beberapa sedan hitam mengawal di depan dan belakang, bergerak dalam formasi rapi, seolah malam itu adalah operasi militer, bukan sekadar perjalanan pulang.
Sementara itu, Drew sudah lebih dulu menyisir jalanan, memastikan setiap sudut aman sebelum Jay melintas. Ia tahu malam ini bukan malam biasa.
Drew hanya akan mengawal sampai gerbang Mansion. Sejak perselisihannya dengan Jackman tempo hari, mustahil baginya diizinkan menginjakkan kaki di dalam Mansion Utama.
Di bagasi mobilnya, senapan laras panjang telah disiapkan—siaga, jika keadaan berubah menjadi lebih buruk dari yang diperkirakan.
Drew menekan pedal gas lebih dalam.
Ia harus tiba lebih dulu.
Karena jika sesuatu terjadi pada Jay malam ini, bukan hanya Jackman yang akan murka—Drew pun tak akan memaafkan dirinya sendiri.
Di sisi lain, pikiran Jay melayang, Jay tahu, melangkah masuk ke Mansion Utama malam ini sama saja dengan masuk ke mulut singa. Namun, demi Anna, ia akan menjinakkan singa itu atau mati mencoba.
Pintu ganda setinggi tiga meter itu terbuka dengan dentuman berat. Jay melangkah masuk dengan langkah tegap, meskipun ia tahu puluhan laras senjata sedang membidiknya dari balik pilar-pilar marmer mansion milik sang ayah.
Di ujung ruangan, Jackman berdiri membelakangi pintu. Asap cerutu mahal mengepul di udara, beradu dengan aroma besi dan dendam.
Jay melangkah dengan angkuh melewati pintu ganda besar yang langsung tertutup rapat di belakangnya. Di dalam ruangan yang luas itu, aroma cerutu yang berat bercampur dengan hawa dingin yang mencekam.
Jackman berdiri di balik meja kerjanya yang masif, membelakangi putranya, menatap keluar jendela ke arah kegelapan malam.
“Anda memanggil saya, Ketua?” Suara Jay terdengar datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun.
Jackman berbalik perlahan. Matanya yang tajam bak elang menatap Jay dengan kilat kemarahan yang tertahan.
Jackman menghempaskan sebuah tablet ke atas meja kayu ek yang kokoh. Dentumannya memecah kesunyian ruangan yang mencekam, memperlihatkan layar yang menampilkan foto-foto Jay saat menyelamatkan seorang gadis di sebuah klub malam.
“Kau menghancurkan pengukuhanmu sendiri. Kau mempermalukan otoritas dan kekuasaanku di hadapan seluruh rekan bisnis serta pejabat tinggi, hanya demi seorang gadis jalanan rendahan,” suara Jackman terdengar berat dan rendah—sebuah peringatan sebelum badai kemarahan benar-benar meledak.
“Dia bukan gadis rendahan, Ayah,” sahut Jay, nada suaranya kian menajam dan penuh penekanan.
“Siapa yang kau panggil Ayah?” geram Jackman dengan tatapan mata yang begitu dingin dan menusuk.
Melalui tatapan itu, dan kalimat yang tidak ingin di panggil “ayah” sang pria tua itu seolah telah menetapkan keputusannya yang mutlak. Saat itu juga, Jackman telah membuang Jay dan menghapus namanya dari daftar kandidat penerus takhta kekuasaannya.
Dan Jay paham arti semua itu. Pada akhirnya ia melangkah keluar dari sangkar ayahnya.
“Kalau begitu, saya tidak butuh pengukuhan formal apa pun hanya untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya memegang kendali atas aset dan kekuasaan Anda,” balas Jay, tak kalah sengit dan penuh tantangan.
“Kau naif!” bentak Jackman sembari menggebrak meja hingga gelas wiski di sampingnya bergetar.
“Takhta ini dibangun di atas reputasi dan kekuatan, bukan dari gairah murahan! Kau telah membiarkan dunia melihat titik lemahmu. Di mata para pesaing kita dan di depan para mafia, gadis itu adalah target, dan kau adalah pemimpin yang tidak stabil.”
Jay maju selangkah, menantang dominasi ayahnya.
“Jika ada yang berani menjadikannya target, aku akan meratakan mereka. Termasuk orang-orang yang ada di mansion ini.”
Mendengar tantangan itu, Jackman tertawa dingin. Tawa yang membuat bulu kuduk siapa pun pasti meremang dengan suara tawa khasnya, yang rendah.
“Kau mengancamku demi seonggok sampah yang bisa kuganti kapan saja? Kau lupa siapa yang memberimu kekuasaan ini, Jay. Jika kau lebih memilih dia daripada menjadi pnenerusku, dan warisan keluarga ini, maka jangan salahkan aku jika aku harus membersihkan kotoran yang kau bawa masuk ke dalam hidupmu.”
“Sentuh dia sedikit saja, dan aku pastikan kau akan kehilangan mahkotamu selamanya,” ancam Jay dengan suara yang nyaris seperti bisikan namun sangat mematikan.
Mata mereka saling menatap tajam, tidak ada yang mau kalah di antara mereka. Masing-masing dari mereka saling menunjukkan taringnya.
Jay menarik napas panjang, mencoba meredam amarahnya demi logika yang lebih tajam. Ia melangkah mendekati meja Jackman, menatap langsung ke netra pria tua itu yang sedingin es.
Ketegangan memanas.
———
Sementara itu, di kamar pribadinya yang mewah, Helena duduk di sofa bersama anak kesayangannya.
Ia baru saja memutuskan panggilan telepon dari orang suruhannya yang sudah berada di posisi.
“Dengarkan itu, Zavier...” bisik Helena sembari mengulas senyum puas.
“Suara benturan antara dua ego yang besar. Jay sedang menggali kuburannya sendiri tepat di hadapan Jackman.”
Zavier memaruh kepalanya di bahu wanita itu dengan bangga. Helena kemudian membelai kepala anaknya dengan kasih sayang.
“Jay akan terlalu sibuk berdebat dengan Ayah, hingga dia tidak akan sadar bahwa saat ini, orang-orang yang mengaku sebagai ‘utusan' ayah sedang menghancurkan dunianya di apartemen itu.”
“Tepat sekali,” sahut Helena, matanya berkilat haus kekuasaan.
“Begitu gadis rendahan itu, menghubunginya dalam keadaan hancur dan ketakutan, Jay akan kehilangan akal sehatnya. Dia akan menyerang Jackman secara membabi buta. Dan di saat itulah, Jackman tidak akan punya pilihan lain selain membunuh putranya sendiri.” Helena mengangkat gelas wine-nya kembali, menyentuhkannya ke bibir dengan gerakan lambat.
“Biarkan cinta naif itu membakar mereka berdua sampai menjadi abu.” Kata Zavier memeluk sang ibu.
“Anak manjaku. Kau akan memiliki semuanya. Dan memang seharusnya milikmu.
———
“Empat tahun, Jay.” suara Jackman pecah, dingin dan rendah.
“Empat tahun aku membiarkanmu bermain dengan obsesi sampahmu itu. Aku biarkan Drew yang tidak pernah ada dalam kamus hidupku membiarkan pengawal yang mengkhianatiku, membiarkanmu mengintai gadis itu seolah dia adalah piala berharga, asalkan kau tetap menjadi anjing pelacakku yang paling tajam dan tidak mempengaruhi semua hal tentang organisasi sebagai penerusku. Aku masih berharap kau akan meninggalkannya ketika kau sudah bosan.”
Jackman menatap anak yang selalu ia pandang sebagai titisannya dengan mata merah karena murka.
“Tapi malam ini, kau mempermalukanku di depan para petinggi sindikat dan organisasi. Kau meninggalkan takhtamu hanya karena seekor kelinci ketakutan? Dia hanyalah seonggok sampah tak berharga!”
“Aku tekankan sekali lagi! Dia bukan sampah!” potong Jay, suaranya tinggi mengikuti suara bariton ayahnya.
“Dan kau tahu kesepakatannya. Aku memberikan kesetiaanku, dan kau menjauhkan tangan kotormu dari Anna. Tapi Zavier bermain api malam ini.”
“Kepergianku sudah ditargetkan. Seseorang memang telah merancang skenario ini agar aku terpaksa meninggalkan aula itu.”
Jackman tidak bergeming, namun rahangnya tampak mengeras.
“Dan aku tahu persis siapa yang paling diuntungkan jika aku menghilang dari daftar penerusmu,” lanjut Jay, suaranya merendah namun penuh tekanan.
Jay menyandarkan kedua tangannya di atas meja, menatap Jackman dengan sorot mata yang menantang.
“Jadi, sebelum kau benar-benar menghapus namaku, tanyakan pada dirimu sendiri: apakah kau ingin takhtamu jatuh ke tangan seorang pengecut yang hanya bisa menang dengan menggunakan sandera, atau kepada seseorang yang tahu bagaimana cara melindungi miliknya?”
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
udh masuk part dar der dorrr