NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kapan Kamu Akan Menikah?

Cahaya matahari pagi menembus jendela, menyinari meja makan yang tertata rapi. Aroma kopi hangat dan roti gandum memenuhi ruangan.

"Jadi kapan kamu akan menikah, Dim?" Tanya pak Bandi pada anaknya--Dimas, seorang pria matang, berperawakan tinggi dengan wajahnya yang manis.

"Nantilah, Yah. Lagi pula umurku juga belum tua-tua amat." Jawab pemuda itu yang terlihat santai menikmati sarapannya. Sementara ayahnya terus saja memperhatikan tiap suap yang masuk ke mulutnya.

"Kamu memang belum tua, tapi Ayah sama Ibu?"

Deg!

Jantung pemuda bernama lengkap Dimas Aksara itu seketika berdetak mendengar ucapan ayahnya.

"Ayah dan Ibu sangat ingin melihat kamu menikah. Dan juga, kami sangat ingin menimang cucu."

Dimas bergegas menghabiskan sarapannya, dan kemudian menyeruput kopi. Ia sangat ingin segera meninggalkan meja makan itu untuk mengakhiri pertanyaan yang hampir setiap hari ia dengar.

"Bagaimana kalau ayah dan ibu di panggil Tuhan sebelum menyaksikan kamu menikah dan punya anak?" Kali ini ucapan pak Bandi berhasil membuat gemetar tangan Dimas. Apalagi Ayahnya itu sangat terlihat serius dengan ucapannya.

"Aku sudah selesai sarapan. Aku berangkat dulu." Ucap Dimas yang bangkit dari kursinya. Ia menyalami tangan pak Bandi, dan juga tangan ibunya--bu Ais yang baru saja hendak duduk.

"Kok buru-buru sekali, Dim?" Tanya bu Ais heran.

"Tidak apa-apa, Bu. Takut terlambat, kerjaan kantor hari ini banyak."

"Aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Pamit Dimas, yang hanya bisa di pandangi ayah dan ibunya.

" Waalaikumsalam." Jawab bu Ais kemudian.

"Selalu saja menghindar. Ayah belum selesai bicara." Ucap pak Bandi terlihat kesal.

*

Bu Ais duduk di sebelah pak Bandi. Mengusap pelan punggung suaminya itu.

"Sabar, Ayah..." Ucap bu Ais menenangkan.

"Ya bagaimana, Bu? Dimas itu sudah dua puluh delapan tahun. Ayah saja sudah ubanan seperti ini. Sudah tua renta. Ayah sudah sangat ingin menimang cucu. Tapi anak itu masyaaAllah sekali. Tidak ada tanda-tanda dia akan menikah. Jangankan menikah, lihat dia pacaran saja tidak pernah."

"Bagus, kan? Tidak pacaran ya tidak ada potensi merusak anak orang."

"Ah, Ibu. Selalu saja membela anak itu."

"Yang sabar, Ayah. Nanti kalau sudah ketemu jodoh ya pasti akan menikah. Jangan selalu ngotot gitu. Kasian Dimas."

"Anak itu, entah apa yang ada dipikirannya. Padahal anak seusia dia sudah pada menikah dan punya anak."

"Jangan selalu berpatokan pada umur yang berapa, Ayah. Pernikahan itu bukan suatu hal yang mudah. Butuh kesiapan untuk semua itu."

"Ibu selalu memanjakan anak itu."

"Sabar... nanti juga pasti menikah."

"Ibu seharusnya membantu Ayah membujuk Dimas."

Bu Ais hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.

Pak Bandi kembali melanjutkan sarapannya, begitu juga bu Ais, beliau menyantap roti yang sudah di kasih selai sebelumnya.

*****

Dimas Aksara--pria dua puluh delapan tahun yang sudah mapan tapi masih betah sendiri.

Berkali-kali ia mengusap wajahnya. Ucapan ayahnya tadi pagi berhasil membuatnya galau seharian ini. Komputer menjadi saksi betapa tidak fokusnya ia hari ini.

"Dikira menikah segampang itu, apa?" Gumam Dimas, yang jelas sekali raut wajah kesalnya.

*

"Hoi, Bro! Diem bae! Makan dulu, gih! Dari tadi gua nampak lu gak ada istirahat." Ucap seseorang menepuk bahu Dimas. Dia adalah Tony, rekan kantor Dimas yang sudah sangat akrab denganya.

"Gak, ah, Ton. Gak nafsu makan gua." Jawab Dimas lesu.

"Kenapa, lu? Ada masalah?" Tony menggeser kursi yang ada di belakangnya dan duduk di sebelah Dimas.

"Biasa, Bokap gua."

"Nyuruh nikah lagi?"

"Apalagi kalau bukan itu? Tiap hari gua di tanya kapan nikah kapan nikah kapan nikah? Ampe pusing kepala gua, anjir!"

"Yaudah nikah aja."

"Taek! Gua belom mau! Gua masih betah sendiri."

"Dari pada lu di tanya mulu."

"Iya. Mana bokap gua bahas-bahas meninggal segala. Sumpah! Gak tega gua. Dilema rasanya." Dimas memijat kening.

"Lu coba cari cewek, gih. Kenalan, kalo di rada fiks lu ajakin kawin, lah."

"Anjir! Di kira segampang itu."

"Ya mau gimana? Lu pacaran gak mau. Lu mah aneh."

"Tau, lah! Pusing gua."

"Tapi lu masih normal kan, Bro?"

"Gila-gila! Lu kira gua kaum pelangi?"

Tony tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Dimas yang terlihat kesal.

"Gua mah gak bisa bantu kalo soal cewek, Bro. Boro-boro punya kenalan cewek, HP gua tiap hari di sidak sama bini gua. Gua pulang kerja telat seribu panggilan masuk." Ucap Tony yang kali ini gantian Dimas yang menertawakannya.

"Ya begitulah, kalau sudah menikah. Kita pun harus siap dengan segala tanggung jawabnya." Sambung Tony yang membuat Dimas kembali termenung.

***

Disela pekerjaanya, pikiran Dimas melayang-layang, teringat peristiwa silam. Saat itu dirinya masih mengenakan seragam putih abu-abu yang tampak coretan dimana-mana, karena mereka baru saja selesai merayakan kelulusan pendidikan masa SMA.

Dimas bersama seorang gadis yang juga memakai seragam yang sama berserta coretan juga. Mereka sedang duduk di bangku dibawah pohon tepi danau.

"Janji tetap setia?" Tanya gadis itu yang bernama Sarah, sambil mengacungkan jari kelingkingnya dengan mata berbinar.

"Aku janji." Balas Dimas sambil memegang kepala gadis itu.

"Gak terasa ya, cepet banget rasanya waktu berlalu. Udah lulus aja kita. Perasaan baru aja kita kenal dan pacaran." Ucap Sarah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.

"Kamu senang?" Tanya Dimas.

"Ya, aku senang karena kenal kamu, Dim."

Sarah menatap mata Dimas, "Aku tau ini berat buat kita, tapi kalo kita komitmen sampai waktu itu tiba, kita pasti akan bersama lagi. Kita hanya perlu berteman dengan waktu. Dan membiasakan diri dengan jarak."

Dimas mendengus. Kemudian menarik nafas panjang "Aku akan menanti waktu itu, Sar. Aku janji bakal setia, terus... jadi cowo yang mapan biar suatu saat pas kita udah ketemu, aku udah siap."

Sarah membalas perkataan Dimas dengan senyum. Ia tau, cowok yang ada di depannya itu adalah cowok yang selalu mengusahakannya dalam segala hal. Tapi, tidak untuk perihal yang satu ini, Sarah harus meninggalkan Indonesia beserta keluarganya ke Amerika. Dan akan melanjutkan kuliah disana. Dengan terpaksa ia dan Dimas pun harus berpisah.

"Aku percaya sama kamu, Dim."

Janji memang gampang terucap.

Awal LDR komunikasi mereka masih sangat lancar, dan selalu saling mengabari satu sama lain. Sarah selalu menceritakan kesehariannya disana. Bertemu orang-orang baru. Ketempat-tempat baru yang tentu Dimas pun excited mendengarkan.

Tapi semakin lama, komunikasi itu semakin sedikit dengan alasan Sarah sibuk kuliah. Walaupun Dimas selalu menyempatkan waktu untuk Sarah, tapi gadis itu seperti sengaja menghindar, dengan berbagai macam alasan.

*

"Kamu berubah..." Ucap Dimas di dalam panggilan teleponnya dengan Sarah.

"Engga kok. Perasaan kamu aja. Gak ada yang berubah dari aku, Dim."

"Ya, semoga aja."

"Em."

"Gimana kuliahnya hari ini?" Tanya Dimas yang belum mendapatkan jawaban, sayup-sayup ia mendengar di seberang sana Sarah sedang berbicara dengan Mama-nya--bu Laras.

"Itu Dion nungguin kamu di depan."

"Iya? Udah lama?"

"Baru aja datang."

"Yaudah, bilangin Dion tunggu ya, Ma. Aku siap-siap dulu."

Sarah kembali ke telepon,

"Siapa?" Tanya Dimas

"Temen kuliah."

"Oh," Dimas hanya menjawab singkat, ia berusaha menepis pikiran yang tidak-tidak.

"Yasudah, aku pergi dulu, ya. Nanti telpon lagi." Ucap Sarah.

"Iya, hati-hati. Jaga diri kamu."

Kata-kata manis, komitmen, janji, harapan, perlahan sirna karena Sarah seperti sengaja menghindari Dimas. Dan perlahan... gadis itu sudah tidak pernah mengabari, walaupun beberapa kali Dimas menghubungi selalu saja tidak ada jawaban. Terakhir, bu Laras mengabari, Sarah dan Dion akan bertunangan dalam waktu dekat.

Hati Dimas seketika hancur berkeping-keping. Kisah cintanya yang indah semasa SMA berakhir semenyedihkan ini.

Dalam lamunan, Dimas hanya mampu mengenang kenangannya bersama Sarah.

***

"Jarak bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang membuat cinta kita semakin kuat. Kita akan membuktikan bahwa cinta sejati bisa mengalahkan segalanya."

"Ah! Itu semua omong kosong!"

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!