Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26: Penyatuan Tiga Penjuru
Udara panas yang lembap dan aroma tanah basah menyambut kedatangan armada Elara di pesisir Kepulauan Naga Selatan. Setelah meninggalkan Valtaria yang dipenuhi uap dan logam, pemandangan hutan hujan tropis yang rimbun dengan pepohonan raksasa setinggi ratusan meter terasa sangat kontras. Di sinilah berdiam Suku Draken, kelompok pejuang liar yang konon memiliki darah naga kuno di pembuluh darah mereka.
Mereka tidak mengenal takhta perak atau meriam uap. Di Selatan, hanya kekuatan murni yang diakui.
"Jangan sekali-kali menghunus pedangmu jika tidak berniat membunuh, Alaric," Elara memperingatkan saat mereka turun dari perahu kecil menuju tepi hutan. "Bagi mereka, pedang yang ditarik adalah undangan untuk pesta darah."
Alaric mengangguk, namun tatapannya tetap tajam mengawasi pepohonan. "Mereka sudah mengawasi kita sejak kita memasuki teluk. Aku bisa merasakan getaran di udara."
Ujian Sang Ratu Hutan
Baru beberapa langkah memasuki hutan, tanah di bawah mereka bergetar. Dari balik pepohonan raksasa, muncul para pejuang Draken dengan kulit yang ditutupi sisik halus dan mata yang vertikal seperti reptil. Di tengah mereka berdiri seorang wanita jangkung dengan rambut merah membara dan tombak yang terbuat dari tulang naga. Dialah Ratu Xylia, pemimpin tertinggi Suku Selatan.
"Empress dari Barat dan Serigala dari Utara," Xylia meludah ke tanah. "Mengapa kalian membawa bau besi dan sihir busuk ke tanah suci kami?"
"Kami membawa peringatan, Xylia," Elara melangkah maju tanpa senjata. "Bayangan dari Zandaria telah bangkit. Jika mereka mencapai pantai ini, hutanmu akan layu dan naga-nagamu akan menjadi budak kegelapan."
Xylia tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan batu. "Zandaria adalah dongeng untuk menakuti anak-anak. Kami hanya percaya pada apa yang bisa kami kalahkan. Jika kau ingin kami bertarung di sampingmu, kau harus membuktikan bahwa kau bukan hanya wanita yang bersembunyi di balik mahkota."
Xylia melemparkan sebuah tantangan kuno: Duel Jiwa. Elara harus menghadapi inkarnasi roh naga di dalam gua suci tanpa bantuan Alaric atau sihir luarnya.
Di Dalam Gua Kehampaan
Di dalam gua yang gelap dan bercahaya biru, Elara berhadapan dengan proyeksi energinya sendiri yang berbentuk naga bayangan raksasa. Naga itu bukan musuh fisik; ia adalah personifikasi dari rasa takut dan dendam Elara yang masih tersisa.
“Kau kembali hanya untuk berkuasa,” suara naga itu bergema di kepala Elara. “Kau tidak berbeda dengan mereka yang kau hancurkan.”
Elara berlutut, merasakan tekanan mental yang luar biasa. Ia teringat kembali pada kematian pertamanya—rasa sakit saat diracuni oleh Julian dan Isabella. Namun, ia juga teringat pada Alaric yang menunggunya di luar, dan rakyat yang kini bergantung padanya.
"Aku kembali bukan untuk menjadi tiran!" teriak Elara, matanya kini memancarkan cahaya perak murni. "Aku kembali untuk memastikan tidak ada lagi jiwa yang dikhianati seperti diriku! Jika aku harus menjadi monster untuk melindungi mereka, maka biarlah!"
Elara melepaskan seluruh energi pemurniannya, bukan untuk menyerang, melainkan untuk memeluk bayangan itu. Cahaya perak menelan kegelapan, dan naga itu berubah menjadi aliran energi murni yang masuk ke dalam tubuh Elara, memberikan tanda sisik perak kecil di lehernya.
Aliansi Tiga Penjuru
Saat Elara keluar dari gua, Xylia berlutut di hadapannya. Para pejuang Draken mengikuti jejak pemimpin mereka. "Kau telah menundukkan roh naga kami. Darahmu kini diakui oleh hutan ini. Suku Draken akan menjadi sayapmu."
Dengan bergabungnya Selatan, Elara kini memiliki tiga kekuatan besar:
Aurora (Barat): Sihir pemurnian dan pusat komando.
Valtaria (Timur): Teknologi mesin dan Meriam Ignis.
Draken (Selatan): Pasukan udara (penunggang naga) dan kekuatan fisik yang tak tertandingi.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah kilatan cahaya hitam pekat jatuh dari langit ke tengah laut, menciptakan tsunami kecil yang menghantam dermaga. Dari balik kabut laut, sebuah kapal hitam tanpa awak muncul, membawa pesan terakhir dari Zandaria.
Di atas dek kapal tersebut, terdapat kepala dari para utusan yang Elara kirim ke Kerajaan Utara sebelumnya. Di dahi mereka terukir satu kata: "DATANG."
Garis Pertahanan Terakhir
"Mereka sudah di sini," bisik Alaric, merangkul bahu Elara yang gemetar. "Bukan enam bulan... mereka mempercepat gerakannya."
Elara menatap ke arah laut luas, ke arah horison yang kini berubah menjadi kelabu gelap. "Kumpulkan semua pemimpin. Kita tidak akan menunggu mereka di pantai. Kita akan menemui mereka di tengah samudera, di tempat di mana segel pertama kali pecah."
Elara mengambil peta besar dunia dan merobeknya, menyisakan hanya titik di mana mereka akan bertempur. "Ini bukan lagi tentang balas dendamku. Ini adalah perang untuk eksistensi manusia. Biarkan Zandaria tahu, bahwa matahari yang mereka coba padamkan... akan membakar mereka hingga menjadi abu."
Malam itu, Naga-naga Selatan terbang menuju Utara, kapal-kapal besi Timur berlayar menuju Barat, dan ksatria-ksatria Aurora bersiap untuk pengorbanan terakhir. Elara Lane berdiri di puncak tertinggi dermaga, memegang bendera persatuan yang baru: Matahari, Serigala, dan Naga.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔