Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jambak saja rambut nya
Setelah melewati ketegangan di gerbang kampus, Rea berjalan terburu-buru menuju kelasnya. Pikirannya masih melayang pada kejadian tadi, membuatnya tidak fokus memperhatikan jalan.
Bruk!
Kaki Rea tersangkut undakan tangga kecil di koridor. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan secara refleks ia memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya lantai marmer. Namun, bukannya lantai, ia justru menabrak sesuatu yang empuk namun kokoh.
"Eh! Hati-hati!" Sebuah tangan sigap menangkap kedua bahu Rea, menahan tubuh mungil itu agar tidak terjatuh.
Rea mendongak dengan wajah panik. "Aduhh... maaf! Maaf, Pak!"
Ternyata orang yang ditabraknya adalah Pak Vian. Dosen muda itu tersenyum ramah, matanya menatap Rea dengan pandangan yang sulit diartikan. "Rea? Kamu tidak apa-apa? Sepertinya kamu sedang melamun ya?"
Rea segera berdiri tegak dan merapikan bajunya yang sedikit berantakan. Wajahnya memerah karena malu. "Maaf sekali, Pak Vian. Tadi saya kurang memperhatikan jalan."
"Tidak apa-apa. Kebetulan sekali, saya juga mau menuju ke kelasmu. Mari jalan bersama," ajak Vian dengan nada yang sangat sopan, namun tangannya sempat mengusap pundak Rea sekilas untuk memastikan gadis itu benar-benar stabil.
Tanpa mereka sadari, di parkiran kampus, Galen masih berada di dalam mobilnya. Ia melihat pemandangan itu melalui layar monitor yang terhubung dengan kamera pengawas kampus. Rahang Galen mengeras, dan tangannya mencengkeram kemudi mobil hingga buku-buku jarinya memutih.
"Vian..." desis Galen dengan nada yang sangat berbahaya.
"Tuan," Leon berbisik dari kursi depan, "Apakah Anda ingin saya memberikan 'peringatan' pada Pak Vian?"
Galen terdiam sejenak, matanya yang tajam bak predator terus memperhatikan Vian yang kini berjalan bersisian dengan Rea menuju kelas Tata Boga. "Belum saatnya, Leon. Dia teman lama saya. Tapi jika tangannya menyentuh Rea lebih dari itu... saya sendiri yang akan mematahkan jarinya."
Di dalam gedung, Rea merasa canggung berjalan di samping dosen yang menjadi idola kampus itu. Ia merasa banyak pasang mata mahasiswi lain yang menatapnya iri, namun Pak Vian justru terus mengajaknya mengobrol dengan sangat ramah, seolah-olah mereka sudah akrab sejak lama .
"Lihat anak baru itu, ngeselin banget. Kita harus kasih pelajaran sih, sok-sokan banget dia deketin Pak Vian," bisik salah satu mahasiswi bernama Siska sambil melirik sinis ke arah Rea . Teman-temannya mengangguk setuju, merasa iri melihat Rea yang tampak begitu akrab dengan dosen idola mereka di tahun ini .
Rea yang tidak tahu apa-apa hanya menunduk canggung sambil terus berjalan menuju kelas Tata Boga . Ia tidak menyadari bahwa kepolosannya justru mengundang "hama" baru di kampus .
Sementara itu, Galen yang masih memantau dari dalam mobil SUV hitamnya melihat pergerakan mahasiswi-mahasiswi tersebut melalui sistem keamanan kampus . Tatapannya menjadi sangat dingin .
"Leon," panggil Galen tanpa mengalihkan pandangan dari monitor . "Awasi gadis-gadis yang berkumpul di dekat tangga itu. Jika mereka berani menyentuh seujung kuku Rea, pastikan mereka dikeluarkan dari kampus ini sebelum matahari terbenam."
"Baik, Tuan," sahut Leon yang sudah bersiap dengan ponselnya untuk menghubungi pihak rektorat
Rea merasa perutnya sedikit mulas, mungkin karena ketegangan di gerbang tadi. Ia meminta izin kepada Pak Vian untuk ke toilet sebentar. Rea berjalan sendirian menyusuri koridor menuju toilet yang sepi di ujung lantai dua.
Di dalam toilet, Siska dan dua temannya sudah menunggu di balik bilik. Mereka membawa dua ember penuh air kotor sisa pel yang dicampur dengan tepung sisa praktik agar lengket dan bau.
"Satu... dua... tiga!"
BYUURRRRR!
Air kotor yang dingin dan berbau busuk itu mengguyur seluruh tubuh Rea tepat saat ia baru saja keluar dari bilik. Dress kuning pemberian Galen yang sangat disayangi Rea kini basah kuyup dan kotor oleh cairan keruh yang lengket.
"Hahaha! Ups, maaf ya anak baru! Toiletnya licin sih, jadi airnya tumpah," ejek Siska sambil melempar ember kosong itu ke lantai hingga menimbulkan suara dentuman keras.
Teman Siska tertawa terbahak-bahak. "Lihat deh, wajahnya jadi kayak adonan gagal! Makanya, jangan sok cantik dan jangan coba-coba gatal sama Pak Vian!"
Rea berdiri mematung. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dingin, tapi karena amarah yang mulai memuncak. Ia teringat bagaimana dulu Kaela menyiksanya dan ia hanya bisa diam. Tapi sekarang, ia adalah istri Galen Alonso. Ia teringat ucapan Galen pagi tadi: "Ingat Bunny, tidak ada satu pun manusia yang boleh membuatmu menunduk."
Rea mengusap air kotor dari wajahnya dengan kasar. Matanya yang biasanya lembut kini menatap Siska dengan tajam.
"Kalian pikir ini lucu?" suara Rea terdengar rendah dan bergetar, jauh dari kesan polos yang biasanya.
"Lho, berani jawab?" Siska hendak mendorong bahu Rea, tapi dengan cepat Rea menangkap pergelangan tangan Siska dan memutarnya dengan tenaga yang tak terduga—hasil sering melihat Galen berlatih di rumah.
"Aduh! Lepasin! Berani ya kamu!" pekik Siska kesakitan.
"Aku sudah cukup sabar selama ini dengan orang-orang seperti kalian," desis Rea. Ia mengambil ember kosong di lantai dan dengan gerakan kilat menyambar kerah baju Siska. "Sekarang, kalian yang harus merasakan bagaimana rasanya dipermalukan."
Rea mendorong Siska hingga jatuh terduduk di lantai toilet yang becek, lalu Rea mengambil selang air pembersih dan menyiram balik Siska dan teman-temannya tanpa ampun.
"Aaaaa! Berhenti! Rea, stop!" teriak mereka panik.
"Keluar! Sebelum aku panggil keamanan!" bentak Rea.
Siska dan gengnya lari tunggang langgang keluar dari toilet dalam keadaan basah kuyup. Setelah mereka pergi,
Rea berdiri tegak di depan cermin toilet, mencoba membersihkan sisa tepung di lengannya dengan tisu. Meskipun dress kuningnya basah kuyup, ia tidak menangis tersedu-sedu. Ia hanya merasa kesal karena hari pertamanya dikacaukan oleh orang-orang tidak dewasa.
Saat Rea hendak keluar untuk mencari bantuan, pintu toilet terbuka. Galen masuk dengan langkah lebar, wajahnya datar namun matanya memancarkan amarah yang tertahan. Ia melihat kondisi istrinya dari atas sampai bawah.
"Mas Galen? Kenapa bisa masuk ke sini?" tanya Rea heran. Ia tidak ingin terlihat lemah. "Tadi ada sedikit masalah dengan beberapa mahasiswi, tapi Rea sudah membalas mereka."
Galen tidak menjawab. Ia melepas jas hitamnya dan memakaikannya ke bahu Rea untuk menutupi pakaiannya yang basah. "Ayo pulang," ucap Galen singkat.
"Tapi Mas, kelas Pak Vian belum selesai. Rea harus izin dulu," tolak Rea, ia tidak ingin lari dari tanggung jawab kuliahnya begitu saja.
Galen menghela napas, ia menghargai kemauan Rea untuk tetap profesional. "Leon sudah mengurus izinmu. Sekarang ikut Mas. Kamu bisa masuk angin kalau terus memakai baju basah ini."
Tanpa banyak bicara lagi, Galen merangkul bahu Rea dengan protektif dan menuntunnya keluar. Di koridor, mereka berpapasan dengan Siska dan gengnya yang sedang dimarahi oleh pihak keamanan kampus. Siska mencoba menatap tajam pada Rea, tapi begitu matanya bertemu dengan tatapan dingin Galen, ia langsung menunduk ketakutan.
Rea berjalan melewati mereka dengan tenang, tanpa perlu mengeluarkan kata-kata makian. Ia merasa cukup puas karena sudah menyiram mereka tadi.
Sesampainya di mobil, Galen memberikan botol air hangat pada Rea. "Lain kali, jika mereka mengganggumu lagi, tidak perlu membalas sendiri. Cukup beri tahu Mas," gumam Galen sambil menyalakan mesin.
"Rea bisa urus sendiri kalau cuma siram-siraman air, Mas. Mas Galen tidak perlu khawatir berlebihan," sahut Rea santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang sudah disiapkan Leon.
Galen hanya menyeringai tipis. Ia suka keberanian Rea yang mulai muncul, tapi di sisi lain, ia sudah menyiapkan 'hukuman' yang jauh lebih berat bagi mahasiswi-mahasiswi itu di balik layar, tanpa harus melibatkan Rea lagi.
Galen mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan satunya menggenggam erat tangan Rea yang masih terasa dingin. Ia melirik istrinya yang sibuk merapikan rambut basahnya dengan raut wajah yang kini tampak lebih tenang.
"Lain kali jangan hanya kamu balas dengan siraman, sayang," ucap Galen tiba-tiba, suaranya rendah namun terdengar sangat serius. "Kalau mereka berani menyentuhmu lagi, kamu jambak saja rambutnya. Jangan biarkan mereka merasa menang."
Rea sontak menoleh ke arah Galen dengan mata membulat. "Ya ampun, Mas Galen! Kok diajarkan begitu sih? Rea kan ke kampus mau belajar, bukan mau jadi jagoan pasar."
Galen menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang terlihat berbahaya namun menawan di saat yang sama. "Belajar itu perlu, tapi mempertahankan harga diri itu wajib. Di dunia ini, Bunny, orang tidak akan berhenti mengganggumu kalau kamu hanya diam atau membalas setengah-setengah."
"Tapi kan Rea sudah siram pakai air pel tadi, Mas. Itu sudah cukup memalukan buat mereka," sahut Rea sambil mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit geli dengan saran suaminya yang "brutal".
"Bagi saya, itu belum cukup," desis Galen pelan, hampir tidak terdengar. Dalam hatinya, ia sudah memastikan bahwa Siska dan kawan-kawannya tidak akan pernah berani menginjakkan kaki di kampus itu lagi mulai besok.
Sesampainya di mansion, Galen tidak membiarkan Rea berjalan sendiri. Meski Rea memprotes bahwa ia hanya basah dan tidak lumpuh, Galen tetap mengangkat tubuh mungil itu masuk ke dalam rumah.
"Mas! Malu dilihat Pak Leon dan Bik Sumi!" bisik Rea sambil menyembunyikan wajahnya di dada Galen.
"Biarkan saja. Mereka harus tahu kalau Nyonya mereka sedang butuh perhatian ekstra," jawab Galen santai. Ia membawa Rea langsung ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat.
Sambil menunggu air siap, Galen berdiri di depan Rea, membantunya melepas jas yang tersampir di bahu gadis itu. "Sekarang mandi, lalu istirahat. Mas tidak mau kamu jatuh sakit hanya karena ulah serangga-serangga kampus itu."
Rea hanya bisa mengangguk pasrah. Di balik sikap posesif dan saran-saran aneh suaminya, ia merasa sangat beruntung. Di tahun ini, di mana dunia terasa semakin keras, ia memiliki Galen yang selalu siap menjadi tamengnya—meskipun tamengnya terkadang menyuruhnya untuk menjambak orang.