Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 kegelisahan yang tumbuh
# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
## BAB 6: Kegelisahan yang Tumbuh
Minggu pagi. Alek terbangun dengan kepala pusing. Semalam dia hampir tidak tidur. Pikirannya penuh dengan kejadian Sabtu kemarin—bakti sosial, percakapan dengan Khansa, nenek tua yang hidup sendirian, anak-anak kecil yang senang.
Dan kata-kata itu. Kata-kata yang terus berputar di kepalanya.
*"Hati Mas masih hidup. Masih bisa diselamatkan."*
Alek bangun, berjalan ke cermin. Wajahnya kusam. Mata sembab. Rambut acak-acakan.
"Diselamatkan dari apa?" gumamnya pada bayangannya sendiri.
Tapi dia tidak punya jawaban.
***
Di meja makan, ayahnya sudah duduk membaca Alkitab sambil sarapan. Ibunya menyiapkan roti panggang. Suasana dingin seperti biasa.
"Alek, hari ini kamu ke gereja kan?" tanya ibunya.
"Nggak."
Ayahnya menatap tajam. "Kenapa tidak?"
"Males."
"Males? Kamu itu anak pendeta, Alek. Jemaat melihat kamu."
"Gue nggak peduli."
BRAK!
Ayahnya membanting sendok ke meja. "Sampai kapan kamu mau seperti ini? Berontak, melawan, memalukan nama keluarga!"
Alek menatap ayahnya dingin. "Kapan terakhir kali Bapak peduli sama gue? Bukan sebagai anak pendeta. Tapi sebagai anak Bapak?"
Pendeta Daniel tersentak. "Apa maksudmu?"
"Bapak lebih peduli jemaat. Lebih peduli gereja. Gue? Cuma boneka yang harus nurut biar keluarga pendeta keliatan sempurna."
"Alek—"
"Forget it." Alek berdiri, mengambil jaket. "Gue pergi."
"Kamu mau kemana?!"
"Entahlah. Yang jelas bukan gereja."
Alek keluar rumah, meninggalkan ayahnya yang terdiam dengan wajah merah menahan amarah.
***
Alek mengendarai motornya tanpa tujuan. Jalanan Bandung pagi itu cukup sepi. Angin sejuk menerpa wajahnya, tapi tidak membuat hatinya lebih tenang.
Tanpa sadar, motornya melaju ke arah yang familiar. Pesantren Al-Hikmah.
Dia berhenti di seberang jalan, menatap tembok putih tinggi itu. Gerbang tertutup. Tidak ada siapa-siapa.
"Dia ada di dalam sana," gumamnya. "Tapi... gue ngapain kesini?"
Alek menatap lama. Lalu dia teringat sesuatu. Sesuatu yang sudah lama dia kubur dalam-dalam.
***
**FLASHBACK - 5 Tahun Lalu**
Alek masih kelas 1 SMP. Dia dan David—sahabat karibnya sejak SD—sedang duduk di taman dekat gereja.
"Lex, lo ngerasa nggak sih... bokap kita lebih sayang jemaat daripada kita?" tanya David sambil melempar kerikil.
Alek mengangguk. "Gue ngerasa. Bokap gue dari pagi sampe malem di gereja mulu. Di rumah cuma buat tidur."
"Sama. Bokap gue juga gitu. Dia lebih kenal masalah jemaat daripada masalah gue."
Mereka terdiam.
"Makanya gue pengen keluar dari bayang-bayang 'anak pendeta'," kata David. "Gue pengen punya identitas sendiri."
"Caranya gimana?"
David menyeringai. "Ikut geng motor. Jadi kita nggak cuma dikenal sebagai anak pendeta. Tapi sebagai... kita sendiri."
Alek ragu. "Bahaya nggak sih?"
"Santai. Cuma nongkrong doang kok."
Tapi ternyata bukan cuma nongkrong.
Setahun kemudian, David tewas dalam tawuran antar geng. Kena sabetan celurit di leher. Mati di tempat.
Alek yang saat itu ada di lokasi, melihat semuanya. Melihat David tergeletak. Melihat darah mengalir. Melihat matanya yang kosong.
"David! DAVID!" teriak Alek sambil mengguncang tubuh sahabatnya.
Tapi David sudah pergi.
Sejak hari itu, Alek berubah. Dia tidak keluar dari geng—malah makin dalam. Makin brutal. Makin agresif.
"Kalau gue lemah, gue bakal mati kayak David," pikirnya waktu itu.
Ironi. Dia masuk geng karena David. Dan dia tetap di geng karena kematian David.
**END FLASHBACK**
***
Alek tersadar dari lamunannya. Matanya basah—tapi bukan menangis. Hanya... kenangan yang menyakitkan.
"David..." bisiknya pelan.
Hapenya berdering. Dimas.
"Lex, lo dimana? Hari ini ada rapat penting. Scorpions udah mulai gerilya lagi. Dateng sekarang ke markas."
Alek menghela napas. "Oke, Bang. Gue ke sana."
***
Di markas Venom Crew, semua anggota sudah berkumpul. Suasana tegang. Dimas berdiri di depan, wajahnya serius.
"Anak-anak, gue dapat info. Scorpions mau nyerang wilayah kita Jumat malam besok. Kali ini mereka bawa anak dari Jakarta—geng Black Skull. Jumlah mereka dua kali lipat dari kita."
Semua terdiam.
"Kita harus siap. Kalau kita kalah, wilayah kita diambil. Kehormatan kita diinjak-injak," lanjut Dimas.
Kevin, anggota yang paling agresif, langsung berdiri. "Gue siap, Bang! Kita hajar mereka!"
"Bagus semangat lo, Kev. Tapi kita harus punya strategi."
Dimas menatap Alek. "Lex, lo kan otak kita. Lo punya rencana?"
Semua mata tertuju pada Alek. Biasanya, Alek yang paling jago bikin strategi tawuran. Tapi kali ini... dia diam saja.
"Lex?" panggil Dimas lagi.
"Gue... gue lagi mikir, Bang."
"Mikir apaan? Lo kenapa akhir-akhir ini kok aneh?"
Kevin nyeletuk. "Jangan-jangan lo udah pengecut, Lex? Takut sama Black Skull?"
Alek menatap Kevin tajam. "Jaga omongan lo."
"Terus kenapa lo diem aja? Dulu lo paling semangat kalau ada tawuran!"
"Kevin, cukup," potong Dimas. "Lex, gue serius. Lo kenapa?"
Alek terdiam lama. Di dalam hatinya berkecamuk. Dia ingat David yang mati karena tawuran. Dia ingat nenek tua yang hidup sendirian. Dia ingat kata-kata Khansa: *"Nggak ada yang terlalu jauh. Pintunya selalu terbuka."*
"Gue... capek, Bang," jawab Alek pelan.
"Capek apaan?"
"Capek berantem mulu. Capek luka mulu. Buat apa sih?"
Hening total.
Dimas menatap Alek dengan tatapan tidak percaya. "Lo... lo serius ngomong gitu?"
"Gue serius."
Kevin berdiri, mukanya merah. "Dasar pengecut! Lo udah lemah! Geng ini nggak butuh orang lemah kayak lo!"
BRAK!
Alek berdiri, menatap Kevin dengan tatapan membunuh. "Gue bukan pengecut. Gue cuma... mulai berpikir."
"Berpikir apaan? Kita ini geng, Lex! Kita hidup buat kehormatan!"
"Kehormatan?" Alek tertawa miris. "David mati buat 'kehormatan' itu. Terus apa yang kita dapat? Dia tetep mati. Kita tetep berantem. Sampai kapan?"
Dimas menghampiri Alek, menatapnya dalam. "Lex, gue ngerti lo masih trauma sama David. Tapi ini beda. Ini soal wilayah kita. Soal nama Venom Crew."
"Dan berapa lagi yang harus mati buat itu?"
"Nggak ada yang bakal mati kalau kita menang."
"Tapi gimana kalau kita kalah?"
Dimas terdiam.
"Gue ikut Jumat malam," kata Alek akhirnya. "Tapi ini terakhir kalinya."
"Apa?"
"Setelah ini... gue keluar dari Venom Crew."
JLEB.
Semua terkejut. Keluar dari geng? Itu sama saja dengan pengkhianatan.
Kevin langsung marah. "Lo pengkhianat, Alek! Pengecut!"
"Terserah lo mau bilang apa. Tapi gue udah muak sama hidup kayak gini."
Dimas menatap Alek lama. "Lo yakin?"
"Gue yakin."
"Oke. Tapi lo harus tetep ikut Jumat malam. Setelah itu... lo bebas."
Alek mengangguk. "Deal."
***
Jumat malam tiba. Kawasan Cicadas gelap. Lampu jalan redup. Dua puluh anggota Venom Crew berdiri di satu sisi jalan. Di seberang, tiga puluh anggota Scorpions dan Black Skull berbaris dengan senjata—tongkat baseball, rantai, bahkan ada yang bawa celurit.
Alek berdiri di barisan depan. Jantungnya berdebar—tapi bukan karena takut. Karena... dia tidak yakin dengan apa yang dia lakukan.
"Ini terakhir," gumamnya pada diri sendiri. "Setelah ini, gue keluar."
Angga, ketua Scorpions, melangkah maju. "Venom Crew! Malam ini kalian akan tahu siapa yang berkuasa di sini!"
Dimas balas melangkah. "Coba aja kalau berani!"
"SERANG!"
Tawuran pecah.
Alek bergerak otomatis. Tubuhnya sudah terlatih—menghindar, memukul, menyerang. Tapi hatinya tidak ada di sana. Dia bergerak tanpa semangat.
Seorang anggota Black Skull menyerangnya dengan rantai. Alek menghindari, lalu membalas dengan pukulan telak ke perut. Lawannya terjatuh.
Tapi tiba-tiba, dari belakang, seseorang menghantam kepala Alek dengan tongkat baseball.
BUGH!
Alek terjatuh. Pandangannya berkunang-kunang. Darah mengalir dari pelipis.
"ALEK!" teriak Dimas.
Dimas langsung berlari, menendang penyerang Alek. Lalu membantunya berdiri.
"Lo gak apa-apa?"
"Gue... gue baik," jawab Alek sambil memegang kepalanya.
"Lo kenapa sih, Lex?! Lo tuh lambat! Nggak fokus! Lo mau mati apa?!"
Alek tidak menjawab. Karena mungkin... sebagian dari dirinya memang sudah mati. Mati secara perlahan sejak David pergi. Mati secara perlahan dalam kehidupan yang tidak bermakna ini.
Tawuran berlangsung hampir setengah jam. Akhirnya, polisi datang. Semua bubar.
Venom Crew menang—secara teknis. Tapi dengan harga yang mahal. Lima orang luka parah. Termasuk Alek.
***
Malam itu, Alek pulang dengan tubuh penuh luka. Wajahnya lebam. Bibirnya pecah. Kaos hitamnya robek dan berlumuran darah.
Dia masuk kamar diam-diam, tidak mau ketahuan orang tuanya.
Di kamar mandi, dia berdiri di depan cermin. Menatap wajahnya yang rusak.
Darah mengering di sudut bibir. Mata sembab. Bekas pukulan di pipi.
"Ini hidup yang gue cari?" tanyanya pada bayangannya sendiri.
Tidak ada jawaban.
Dia teringat wajah nenek tua yang tersenyum saat terima sembako. Teringat anak-anak kecil yang senang dapat makanan. Teringat Khansa yang dengan lembut memegang tangan nenek, memberikan harapan.
Lalu dia melihat dirinya sekarang. Penuh luka. Penuh darah. Hasil dari... apa? Kehormatan geng? Harga diri palsu?
"Apa gue hidup cuma buat ini?" bisiknya pelan. "Berantem. Luka. Balas dendam. Terus... sampai kapan?"
Dia teringat David. Sahabatnya yang mati sia-sia.
"David mati buat ini. Dan gue... mau mati buat hal yang sama?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ada yang bisa jawab. Bahkan dirinya sendiri.
Alek menutup mata. Di pikirannya muncul wajah Khansa. Mata yang teduh. Suara yang lembut.
*"Nggak ada yang terlalu jauh, Mas. Pintunya selalu terbuka."*
"Pintu apa?" bisik Alek. "Pintu kemana?"
Dia membuka mata. Menatap cermin lagi.
Dan untuk pertama kalinya, dia merasa... jijik dengan dirinya sendiri.
Jijik dengan kehidupan yang dia jalani.
Jijik dengan kekosongan yang dia rasakan.
"Gue harus berubah," tekadnya pelan. "Tapi... gimana caranya?"
***
Keesokan harinya, Sabtu pagi, hapenya berbunyi. Notifikasi dari grup sekolah.
"INFO: Minggu depan ada lagi kegiatan bersama Pesantren Al-Hikmah. Kali ini kunjungan ke Panti Asuhan. Yang kemarin ikut bakti sosial, diharapkan ikut lagi. Pendaftaran dibuka Senin."
Alek menatap layar hapenya lama.
Ini kesempatan. Kesempatan untuk ketemu Khansa lagi. Kesempatan untuk... apa? Ngobrol? Nanya tentang Islam? Atau sekadar... mencari ketenangan yang dia rasakan waktu itu?
"Gue harus ikut," putusnya.
Tapi di sisi lain, dia tahu—kalau dia makin sering ikut kegiatan kayak gini, Dimas akan curiga. Geng akan menjauh. Mungkin... dia akan benar-benar sendirian.
"Tapi mungkin... sendirian lebih baik daripada hidup kayak gini," pikirnya.
Alek berbaring di kasur. Menatap langit-langit kamar.
Di dalam hatinya, ada pertarungan. Antara masa lalu dan masa depan. Antara kegelapan dan cahaya. Antara David yang sudah pergi dan Khansa yang entah kenapa terasa seperti... harapan.
"Ya Tuhan... atau Allah... atau siapa pun yang ada di luar sana," bisiknya—tidak jelas ini doa atau sekadar keluhan. "Gue bingung. Gue nggak tau harus gimana. Tapi... tolong. Kasih gue jalan."
Dan di luar jendela, langit Bandung pagi itu cerah. Matahari bersinar terang.
Seperti menjawab doanya.
Seperti mengatakan: *Ada jalan. Tinggal kamu mau jalan atau tidak.*
***
**Bersambung ke Bab 7...**
*Kadang, perubahan dimulai bukan dari jawaban yang jelas. Tapi dari pertanyaan yang tepat: "Apa ini hidup yang aku cari?"*
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg