NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: PERTARUNGAN DI ATAP SEKOLAH

#

Jumat sore. Hari terakhir tenggat waktu yang dikasih Edward.

Dyon nggak tidur dua hari. Mikir terus. Ismi nanya kenapa dia murung, tapi Dyon cuma senyum, bilang "nggak apa apa."

Bohong.

Dia nggak apa apa.

Dia... dia harus lindungin Ismi. Apapun caranya.

Jam istirahat terakhir. Dyon kirim pesan ke Edward lewat temen sekelasnya.

"Atap sekolah. Sepulang sekolah. Gue terima tantangan lo."

Beberapa menit kemudian, balesan datang.

"Bagus. Datang sendirian. Kalau lo bawa siapa pun, video langsung tersebar."

Dyon ngepal tangan. Napas dalam.

*Ini satu satunya cara.*

***

Bel pulang bunyi. Anak anak pada keluar kelas, ribut, berisik. Dyon tunggu sampai sekolah agak sepi. Ismi udah pulang duluan, dijemput sopir kayak biasa.

Andra sama Leonardo nanya kenapa Dyon nggak pulang bareng. "Ada urusan bentar," jawab Dyon singkat.

Mereka curiga, tapi Dyon maksa mereka pulang duluan.

Sekolah mulai sepi. Cuma ada beberapa guru yang masih di ruang guru. Satpam di pos depan.

Dyon naik tangga. Ke lantai tiga. Terus ke tangga kecil yang menuju atap. Pintu atap biasanya dikunci, tapi hari ini... terbuka.

Edward.

Dia udah di sana.

Atap sekolah luas, lantai semen kasar. Ada tanki air besar di pojok. Pagar pembatas setinggi pinggang, kalau jatuh dari sini... langsung tiga lantai ke bawah.

Angin kencang. Langit mendung, kayaknya mau hujan lagi.

Edward berdiri di tengah atap. Tangan di saku celana. Senyum... senyum yang bikin Dyon pengen muntah.

"Kamu datang," kata Edward. "Bagus. Gue kira kamu bakal kabur lagi kayak pengecut."

"Gue nggak akan kabur," Dyon jalan mendekat. Jarak lima meter. "Gue di sini buat selesaikan ini. Selamanya."

Edward ketawa. "Selamanya? Kamu yakin? Kamu... kamu pikir kamu bisa menang lawan gue?"

"Gue nggak tau," Dyon jujur. "Tapi gue akan coba."

"Oke," Edward ngeluarin sesuatu dari saku jaket. "Tapi sebelum kita mulai... gue mau kasih tau peraturannya."

Benda itu... pisau lipat. Panjang, tajam, mengkilat kena cahaya sore.

Jantung Dyon berhenti sedetik.

"Lo... lo bawa senjata?" Dyon mundur satu langkah.

"Iya," Edward mainin pisau di tangan. "Kenapa? Lo takut? Mau kabur sekarang?"

"Ini... ini nggak adil!" Dyon teriak. "Lo bilang laki ke laki! Adu fisik! Bukan... bukan pake senjata!"

"Hidup itu nggak adil, Sampah," Edward nyengir. "Dan gue... gue nggak peduli adil atau nggak. Gue cuma mau menang."

Edward maju. Cepat.

Pisau diarahin ke perut Dyon.

Dyon menghindar, reflex, loncat ke samping. Pisau nyaris nusuk perutnya, cuma selisih beberapa senti.

"GILA LO!" Dyon teriak.

Edward nyerang lagi. Kali ini lebih cepat. Pisau diarahin ke leher.

Dyon nunduk, pisau lewat di atas kepala. Terus dia tendang kaki Edward, kena betis.

Edward jatuh, tapi langsung bangkit lagi. Marah.

"KAMU... KAMU BERANI NGELAWAN GUE?!" Edward teriak, mata melotot. "GUE AKAN BUNUH KAMU!"

Dia nyerang lagi. Tusuk tusuk random. Nggak teratur. Kayak orang kesetanan.

Dyon menghindar terus. Mundur mundur. Sampai punggungnya nempel di pagar pembatas atap.

Buntu.

Edward senyum, jalan mendekat. "Mau kemana lagi, Sampah? Udah nggak ada jalan keluar."

Dyon ngeliatin sekeliling. Cari apa aja yang bisa dipake. Matanya nemu... pipa besi di pojok atap. Pipa bekas yang kayaknya buat sesuatu.

Edward tusuk lagi.

Dyon guling ke samping, cepat. Pisau nancep di pagar besi, bunyi kletek keras.

Dyon lari ke pojok, ambil pipa besi. Panjangnya sekitar satu meter, berat, dingin.

"Sekarang adil," kata Dyon, napas ngos ngosan. "Lo punya pisau. Gue punya pipa."

Edward cabut pisau dari pagar. "Bagus. Sekarang kita bisa mulai beneran."

Mereka saling tatap. Angin bertiup kencang. Langit makin gelap.

Edward maju duluan.

Tusuk ke dada Dyon.

Dyon pukul pisau pakai pipa, kena, pisau terpental ke samping tapi nggak lepas dari tangan Edward.

Dyon pukul lagi, kali ini ke tangan Edward yang pegang pisau.

Kena.

Edward teriak kesakitan. Pisau jatuh, bunyi kletek di lantai semen.

Dyon tendang pisau, jauh, sampe ke pojok atap.

"Sekarang kita imbang," kata Dyon.

Edward ngeliatin tangannya yang merah, bengkak. Terus... dia ketawa. Ketawa keras, kayak orang gila.

"IMBANG? KAMU PIKIR KITA IMBANG?!" Edward berlari, ngejar Dyon.

Tinju keras ke muka Dyon.

Kena pipi kiri. Dyon terhuyung, hampir jatuh.

Edward nggak kasih jeda. Tinju lagi, ke perut.

Dyon terlipat, napas sesak.

Edward tendang rusuk Dyon yang dulu pernah patah.

"AAAKH!" Dyon jatuh, pegang rusuk. Sakit luar biasa.

"INGET NGGAK?!" Edward teriak sambil nendang lagi. "INGET NGGAK WAKTU GUE NYIKSA KAMU DI GUDANG?! WAKTU GUE PATAHIN RUSUK KAMU?! SEKARANG GUE MAU PATAHIN LAGI!"

Tendangan keras lagi. Dyon ngerasa tulang rusuknya retak lagi. Nyeri nyut nyutan.

Tapi...

Dia inget.

Inget semua siksaan yang dia terima. Semua hinaan. Semua rasa sakit.

Dan... dia inget Ismi.

Ismi yang nunggu dia. Ismi yang percaya sama dia. Ismi yang bilang "aku mencintaimu."

*Gue nggak bisa kalah. Gue nggak boleh kalah.*

Dyon pegang kaki Edward yang mau nendang lagi. Tahan. Kuat kuat.

Edward kaget. "Lepas!"

Dyon tarik kaki Edward, keras. Edward kehilangan keseimbangan, jatuh.

Dyon bangkit, cepat. Ambil pipa besi yang tadi jatuh.

Pukul punggung Edward pakai pipa.

Keras.

Edward teriak kesakitan. Tapi dia bangkit lagi. Muka merah, marah.

"KAMU... KAMU BERANI MUKUL GUE?!"

Edward loncat, cekik leher Dyon pakai dua tangan.

Cekikan keras. Dyon nggak bisa napas. Muka mulai merah. Mata berkunang kunang.

*Nggak... nggak bisa napas...*

Tangan Dyon cari pipa. Nemu. Pegang.

Pukul kepala Edward pakai pipa.

Bunyi gedebuk keras.

Edward lepas cekikan, pegang kepala yang berdarah. "AAAKH!"

Dyon batuk batuk, napas ngos ngosan. Leher sakit, memar.

Tapi dia nggak berhenti.

Dia pukul lagi. Kali ini ke perut Edward.

Edward terlipat. Muntah, isi perutnya keluar.

Dyon pukul punggung Edward, jatuh ke lantai.

"RASAIN!" Dyon teriak. Emosi meledak. "RASAIN GIMANA RASANYA DISAKITIN! RASAIN!"

Dia mau pukul lagi, tapi...

Edward guling, cepat. Tendang kaki Dyon.

Dyon jatuh. Pipa terlepas dari tangan.

Edward bangkit, meskipun terhuyung. Muka penuh darah. Mata merah. Kayak iblis.

"GUE... GUE AKAN BUNUH KAMU!" Edward ambil pipa yang jatuh.

Ayun keras ke kepala Dyon.

Dyon guling, nghindar. Pipa nabrak lantai semen, bunyi klang keras.

Dyon tendang perut Edward.

Edward mundur, napas ngos ngosan.

Mereka berdua udah babak belur. Dyon berdarah di kepala, pipi bengkak, rusuk sakit. Edward juga sama, muka penuh darah, tangan bengkak, badan penuh luka.

Tapi... mereka masih berdiri.

Masih... belum selesai.

"Menyerah aja, Edward," kata Dyon, suara serak. "Lo... lo udah kalah."

"BELUM!" Edward teriak. "GUE BELUM KALAH!"

Dia lari lagi, tinju ke muka Dyon.

Dyon tangkis pakai tangan kiri. Sakit, tapi dia tahan.

Tinju balik pakai tangan kanan, kena rahang Edward.

Edward terhuyung.

Dyon tinju lagi. Lagi. Lagi.

Setiap tinju... dia inget semua yang Edward lakuin. Semua siksaan. Semua ancaman.

"INI..." tinju, "BUAT..." tinju, "ISMI!" tinju terakhir, keras banget, kena tepat di hidung Edward.

Bunyi krek.

Hidung Edward patah. Darah muncrat.

Edward jatuh terlentang. Napas ngos ngosan. Mata setengah merem.

Dyon berdiri di atas Edward. Napas berat. Seluruh badan sakit. Tapi... dia masih bisa berdiri.

Sementara Edward... nggak bisa bangkit lagi.

"Kalau..." Dyon berbisik, suara rendah penuh ancaman, "kalau kamu berani ganggu Ismi lagi... kalau kamu berani sebarkan video itu... aku nggak akan segan segan... membunuhmu."

Edward cuma bisa ngeliatin Dyon dengan mata penuh takut.

Untuk pertama kalinya... Edward takut.

"Hape lo," kata Dyon. "Kasih gue."

Edward nggak gerak.

"GUE BILANG KASIH!" Dyon teriak.

Edward ngeluarin hape dari saku celana dengan tangan gemetar. Kasih ke Dyon.

Dyon buka. Cari video Ismi. Nemu. Hapus semua. Satu per satu. Sampai bersih.

"Kalau lo punya backup..." Dyon jongkok, tatap mata Edward yang babak belur, "aku akan cari. Dan aku akan... aku akan bikin lo menyesal."

Dyon buang hape Edward ke pojok atap. Terus dia jalan, keluar atap. Ninggalin Edward yang tergeletak, pingsan, penuh darah.

***

BERSAMBUNG

***

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!