Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Delapan
Deretan kantung belanja bermerek itu tampak seperti barisan prajurit yang siap mengepung Felicia. Gadis itu menarik napas panjang, teringat pesan Pak Han kemarin malam dengan nada suara yang tak menerima bantahan: "Besok temani saya meeting. Gunakan pakaian yang sudah saya berikan kemarin."
Felicia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh kain blus berwarna peach yang terasa dingin dan jatuh dengan anggun saat diangkat. Potongannya sederhana, namun detail jahitan di bahu, dan kain pakaian ini terlihat sangat mewah.
Saat pakaian itu ditempelkan di depan cermin, warnanya seketika menghidupkan rona wajah Felicia menjadi lebih segar.
Cocok. Terlalu cocok, malah.
"Tapi ini PT Arthemis, Fel... bukan lantai bursa Wall Street," gumamnya pelan. Di kantor cabang kecil tempatnya bekerja, pemandangan sehari-hari hanyalah kemeja katun standar dan celana bahan yang seringkali kusut karena cuaca panas menyengat. Mengenakan pakaian seperti ini di koridor kantor yang sempit hanya akan membuatnya tampak seperti alien dari planet lain.
Setelah perdebatan batin yang melelahkan, Felicia akhirnya menyerah. Ia mengenakan blus itu, memadukannya dengan celana flare hitam yang membentuk pinggangnya dengan sempurna. Rambutnya ia ikat satu ke belakang, menonjolkan leher jenjang dan garis rahangnya.
Ia berdiri mematung di depan cermin. Sosok yang terpantul di sana bukan lagi Felicia si mantan asisten sampel, melainkan perempuan yang siap berdiri di samping pria sekelas Pak Han.
"Bagus banget... tapi apa nggak berlebihan?" tanyanya pada pantulan dirinya sendiri. Ada rasa canggung yang menggelitik, namun bayangan wajah Pak Han yang perfeksionis dan tajam langsung melintas di benak.
Ia tahu betul, membantah Pak Han bukan pilihan yang bijak. Apalagi semua pakaian ini adalah pemberian pria itu. Akan jauh lebih sulit menjelaskan alasan kenapa ia tidak memakai baju ini daripada menanggung malu karena dilirik rekan kantor seharian.
Dengan satu semprotan parfum terakhir, Felicia memantapkan hati. Hari ini, akan menjadi hari yang panjang.
...***...
Langkah Felicia di koridor kantor terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer PT Arthemis dengan irama yang menarik perhatian. Benar saja, baru beberapa meter dari pintu masuk, suasana kantor yang biasanya sibuk dengan suara printer dan obrolan teknis mendadak senyap.
Beberapa staf administrasi mencuri pandang dari balik kubikel, sementara para asisten lain yang hanya mengenakan kemeja katun biasa tampak saling berbisik.
"Aduh, Felicia! Geulis pisan, makin cantik gini euy setelah jadi asisten Pak Han," celetuk Teh Moya, salah satu penjahit senior dari ruang sampel, yang kebetulan sedang lewat membawa gulungan kain. Ia berhenti sejenak, memindai penampilan Felicia dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan wajah kagum.
Felicia hanya bisa tersenyum kaku, tangannya refleks merapikan ujung blus peach-nya yang halus. "Bisa saja, Teh. Ini cuma baju lama, kok."
"Lama dari mana? Bahannya saja kelihatan mahal begitu," sahut sebuah suara yang sangat familiar.
Maria bersandar di pintu ruangannya dengan tangan bersedekap. Senyumnya penuh arti, tipe senyum yang menandakan ia siap melontarkan godaan maut.
"Kayaknya udah dikasih bonus gede nih sama Pak Bos. Makin cantik kamu, Fel. Auranya jadi beda," goda Maria sambil mengerlingkan mata.
Felicia merasakan pipinya sedikit memanas. Ia mendekat ke meja Maria, berusaha mengecilkan suaranya. "Bukan bonus, Mbak. Ini... permintaan Pak Han langsung. Katanya kalau jadi asisten dia, harus rapi dan wangi biar nggak malu-maluin pas ketemu client."
Maria tertawa kecil, melangkah mendekat untuk merapikan sedikit kerah blus Felicia yang sebenarnya sudah sempurna. "Malu-maluin? Fel, kalo kamu cantik gini sih, kamu malah bikin client gagal fokus ke materi meeting. Tapi ya, Pak Han emang gitu. Orangnya perfeksionis, suka yang bersih dan wangi."
Maria mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinga Felicia. "Tapi hati-hati, Fel. Kalau bos segalak dia mulai perhatiin kamu sampai ke detail parfum dan baju kamu, itu artinya kamu bukan cuman asisten."
Belum sempat Felicia membalas, pintu lift di ujung koridor berdenting terbuka. Sosok tinggi tegap dengan setelan jas navy yang tajam keluar dari sana. Pak Han.
Pria itu tidak berhenti, namun matanya yang tajam sempat menyapu ke arah Felicia selama dua detik—lebih lama dari biasanya. Tanpa senyum, namun ada binar kepuasan yang tertahan di balik tatapan dinginnya.
"Felicia, lima menit lagi di ruangan saya. Jangan terlambat," suara baritonnya menggema, membuat Maria menyenggol lengan Felicia sambil menahan tawa kemenangan.
Felicia menarik napas panjang, berusaha menetralkan debar jantungnya sebelum mengetuk pintu. Suara bariton di dalam mempersilakannya masuk.
Begitu pintu tertutup, keheningan ruangan itu terasa mencekik. Pak Han duduk di balik meja besarnya, jemarinya lincah menari di atas layar iPad, namun begitu Felicia berdiri di depan meja, gerakannya terhenti. Pria itu meletakkan perangkatnya dan bersandar pada kursi kulitnya.
Ia tidak langsung bicara. Matanya yang tajam mulai melakukan inspeksi—mulai dari tatanan rambut ponytail Felicia yang rapi, turun ke blus peach yang membungkus tubuh asistennya dengan pas, hingga ke ujung sepatu.
"Coba sini," perintahnya datar.
Felicia melangkah ragu sampai hanya tersisa jarak satu meter di antara mereka. Pak Han bangkit dari kursinya, membuat Felicia harus sedikit mendongak. Aroma parfum pria itu—campuran sandalwood dan citrus yang mahal—langsung menyerbu indra penciuman Felicia.
"Ternyata pilihan saya tidak salah. Warna itu membuat kulitmu tidak pucat," ucap Pak Han pelan. Ia berjalan memutari Felicia, seolah sedang memeriksa kualitas sebuah mahakarya.
Tiba-tiba, langkahnya berhenti tepat di belakang Felicia. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang menyentuh kerah blus Felicia yang sedikit melipat ke dalam karena gesekan tas tadi. Sentuhan kulitnya yang hangat di tengkuk Felicia memberikan sensasi seperti sengatan listrik kecil.
"Rapi dan wangi," bisik Pak Han tepat di samping telinganya. "Kamu udah memenuhi syarat untuk jadi asisten yang benar. Saya senang."
Felicia membeku, bahkan lupa cara mengembuskan napas. "Terima kasih, Pak. Saya... saya hanya menjalankan instruksi."
Pak Han kembali ke depan Felicia, menatap mata gadis itu dalam-dalam. Ada kilat tipis di matanya yang biasanya sedingin es. "Bagus. Karena hari ini bukan hanya meeting biasa. Saya pengen semua orang tahu kalau asisten saya punya standar yang sama tingginya dengan saya."
Pria itu mengambil jasnya yang tersampir, lalu melirik jam tangan Rolex-nya. "Ayo berangkat. Jangan jauh-jauh dari saya selama di sana."
Saat Pak Han berjalan mendahuluinya menuju pintu, Felicia baru bisa mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan. Ia menyentuh tengkuknya yang masih terasa hangat.
Pekerjaan ini baru saja dimulai, tapi rasanya jantungnya sudah lari maraton duluan.