"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMI YANG SEBENARNYA
Lantai kaca di bawah kakiku terasa bergetar, seirama dengan tumpahnya cairan biru dari tangki raksasa di hadapanku. Pria itu—Stevanus yang asli—melangkah keluar dengan gerakan yang sangat anggun, jauh dari kekakuan Stevanus "robot" yang menyiksaku selama lima tahun. Tubuhnya sempurna, tanpa bekas luka, namun aura yang dipancarkannya begitu dingin hingga membuat bulu kudukku berdiri.
"Yati..." suaranya terdengar seperti melodi yang menghantui, jauh lebih dalam dan berwibawa. "Maafkan sandiwara panjang ini. Aku harus memastikan rahimmu cukup kuat untuk menampung 'harapan' kami."
Aku mundur hingga punggungku menabrak dinding dingin. Aris tergeletak lemas di sampingku, tak berdaya menghadapi teknologi perisai energi Maya. "Jadi... selama ini... pria yang tidur bersamaku, pria yang memukulku, pria yang kuharap menjadi ayah dari anakku... dia bukan kau?"
Stevanus asli tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak memiliki rasa bersalah. "Dia hanyalah alat pemindai biologis. Setiap rasa sakit yang kau rasakan, setiap hormon yang kau lepaskan saat ketakutan, semuanya dicatat."
Maya berdiri di samping Stevanus, menatapku dengan tatapan kasihan yang memuakkan. "Jangan menangis, Yati. Kau seharusnya bangga. Kau adalah bagian dari masa depan."
"Kalian gila!" teriakku, suaraku pecah karena amarah dan kehinaan yang luar biasa. Aku merasa seperti barang yang hanya digunakan dan dibuang.
Aku meraba saku blusku, mencari belati kecil yang diberikan Aris di bunker tadi. Tanganku gemetar hebat.
Stevanus asli mendekat. Dia tidak menggunakan kekerasan. Dia hanya menyentuh daguku dengan jarinya yang sedingin es. "Darahmu mengandung penawar untuk degradasi sel yang dialami keluarga Kencana. Tanpa itu, aku akan membusuk seperti Stevanus klon itu dalam hitungan bulan. Berikan kerja samamu, dan kau akan hidup sebagai permaisuriku di laboratorium ini."
"Aku lebih baik mati daripada bekerja sama denganmu!" aku meludah tepat di wajahnya yang sempurna.
Wajah Stevanus tidak berubah, namun matanya berkilat penuh kedinginan yang mematikan. "Maya, siapkan ruang karantina. Jika dia tidak mau secara sukarela, kita paksa. Kita hanya butuh kemampuan biologisnya tetap hidup, bukan kesadarannya."
Maya mengangguk dan menekan sebuah tombol di panel kontrol. Seketika, lengan-lengan robotik muncul dari langit-langit laboratorium, mengunci tanganku dan kakiku ke dinding. Aku meronta, berteriak, namun kekuatanku tidak ada artinya di hadapan mesin-mesin tahun 2026 ini.
Tiba-tiba, alarm di laboratorium dasar laut itu meraung merah. Layar monitor besar di belakang Stevanus menampilkan peringatan: "EXTERNAL BREACH DETECTED. SECTOR 7 COMPROMISED."
"Siapa yang berani masuk ke sini?!" geram Stevanus.
Sebuah ledakan besar menghantam dinding kaca laboratorium yang menghadap ke laut dalam. Air laut mulai merembes masuk dengan tekanan tinggi. Di tengah kabut air dan asap, sebuah siluet muncul.
Sosok itu mengenakan pakaian selam tempur hitam. Saat dia melepas helmnya, aku ternganga.
"Ayah?" bisikku.
Pria itu adalah Ayahku. Pria yang seharusnya sudah meninggal sepuluh tahun lalu, yang makamnya baru saja diledakkan semalam. Dia tidak mati. Dia berdiri di sana dengan senjata laras panjang di tangannya, matanya menatap Stevanus dengan kebencian yang sudah dipendam selama dekade.
"Lepaskan putriku, Stevanus. Atau aku akan menghancurkan seluruh oksigen di tempat ini," suara Ayah menggelegar.
Stevanus justru tertawa, sebuah tawa yang mengguncang ruangan. "Ah, Tuan Besar... kau akhirnya keluar dari persembunyianmu. Tapi kau terlambat."
Stevanus menunjuk ke arah layar monitor di sampingku. Di sana, gambar skema kompleks terlihat, menunjukkan rancangan teknologi canggih yang terintegrasi dengan tubuh manusia.
"Yati, ayahmu tidak datang hanya untuk menyelamatkanmu," ucap Stevanus sambil menatapku penuh kemenangan. "Dia datang untuk mengklaim hasil 'penelitian' yang dia tinggalkan sepuluh tahun lalu saat kau masih kecil. Tanyakan padanya, teknologi apa yang sebenarnya mengalir di darahmu?"
Aku menatap Ayah. Ayah terdiam, senjatanya sedikit turun. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang sangat dalam. "Yati... ini satu-satunya cara untuk menghentikan mereka... kau harus mengerti..."
Air mataku jatuh, kali ini benar-benar hancur. "Jadi... bahkan Ayah juga mengkhianatiku?"
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...