NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Ibu susu / Janda / Duda
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai merindukan Kamila

Setelah meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang berkecamuk, Evan melajukan mobilnya membelah kemacetan Jakarta. Pikirannya tidak bisa lepas dari kondisi Jaka yang mengenaskan, namun di sisi lain, ada kerinduan aneh yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Sebuah dorongan kuat untuk segera sampai ke mansion, melihat Kamila, dan memeluk putra kecilnya, Zevan.

Padahal, jam digital di dasbor masih menunjukkan pukul lima sore. Biasanya, Evan baru akan menapakkan kaki di rumah saat larut malam untuk menghindari kebisingan pikiran. Namun hari ini, ia butuh "rumah" yang sesungguhnya.

Begitu pintu jati besar mansion terbuka, langkah Evan terhenti. Di sana, Kamila sudah berdiri menunggunya sambil menggendong Baby Zevan. Senyum tipis terukir di wajah cantik wanita itu, sebuah pemandangan yang seketika meruntuhkan sisa-sisa amarah Evan akibat ulah Siska.

"Selamat datang kembali, Mas," ucap Kamila lembut.

Evan mendekat dengan canggung. Secara alami, Kamila meraih tangan kanan Evan dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Jantung Evan berdegup dua kali lebih cepat. Tanpa sadar, seolah digerakkan oleh insting yang tak bisa ditolak, Evan mencondongkan tubuh dan mengecup keningnya Kamila dengan lama dan lembut.

Para pelayan yang melintas seketika menunduk malu sembari tersenyum kecil. Suasana hangat menyelimuti lobi mansion, seolah mereka adalah potret keluarga kecil yang paling harmonis di dunia. Namun, begitu ciuman itu terlepas, keduanya langsung terdiam dengan wajah yang memerah. Senyum kaku tersungging di bibir mereka, mencoba menutupi rasa gugup yang luar biasa.

"A-ba-ba! Dada!" Zevan tiba-tiba mengoceh keras, tangannya mungilnya menggapai-gapai kemeja Evan.

"Hei, jagoan Papa sudah pintar bicara sekarang?" Evan terkekeh, mencubit gemas pipi gembul putranya yang semakin aktif, rasa lelahnya menguap seketika melihat binar kedua matanya Zevan.

Kemudian Kamila menyerahkan baby Zevan kepada Suster Zara yang sudah menunggu di dekat tangga. Seolah mengerti ayahnya butuh waktu istirahat, bayi itu tidak rewel sama sekali saat dibawa pergi. Kamila kemudian mengekori Evan masuk ke dalam kamar besar mereka.

Suasana di dalam kamar terasa jauh lebih sunyi dan intim. Evan merasa canggung, ia belum terbiasa dengan kehadiran sosok istri yang begitu telaten di ruang pribadinya. Tanpa banyak bicara, Evan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari aroma rumah sakit yang melekat.

Sementara itu, Kamila bergegas menuju walk-in closet di sudut kamar. Ia memilah deretan pakaian mewah milik suaminya, mencari piyama yang nyaman untuk dikenakan Evan malam ini. Namun, saat ia sedang asyik memilah bahan sutra dan katun, suara serak Evan memanggilnya dari arah kamar mandi.

"Kamila... Kamila!" suara itu terdengar sedikit gugup.

Kamila tersentak, ia segera berlari kecil menuju pintu kamar mandi. Ia berdiri mematung di balik daun pintu yang tertutup, meremas ujung bajunya sendiri. "I... Iya, Mas? Ada perlu apa memanggilku?"

"Bisakah kau ambilkan handuk untukku? Biasanya ART sudah menyiapkannya di dalam, tapi hari ini aku tidak menemukan satu handuk pun di sini," ujar Evan dari balik pintu yang sedikit terbuka celahnya.

"Oh, astaga! Tunggu sebentar, Mas!"

Kamila dengan cekatan mencari handuk bersih di lemari khusus. Setelah menemukannya, ia kembali dan menyerahkan handuk putih besar itu melalui celah pintu tanpa berani menoleh.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka sepenuhnya. Kamila yang masih berdiri di sana belum sempat beranjak saat Evan keluar.

Deg!

Napas Kamila seolah berhenti, Evan keluar hanya dengan lilitan handuk putih di pinggang ke bawah. Tetesan air masih mengalir dari rambutnya yang basah, jatuh melewati dadanya yang bidang dan berotot. Perutnya yang rata dan berbentuk sempurna seperti roti sobek terpampang jelas di depan mata Kamila.

Kamila mematung dengan mata membelalak, tanpa sadar ia menelan ludahnya dengan susah payah. Wajahnya kini sudah semerah kepiting rebus.

Evan yang tidak menyangka Kamila masih berdiri di sana pun ikut terperanjat. Ia mengerem langkahnya, tangannya refleks memegang handuk di pinggangnya agar tidak melonggar.

"K...Kamila? Kau... belum kembali ke lemari pakaian?" tanya Evan dengan nada suara yang pecah karena salah tingkah.

Baru saja Kamila hendak memutar tubuh untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas, tiba-tiba seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Arus listrik terputus total. Detik berikutnya, sebuah kilatan cahaya putih membelah langit, disusul suara guntur yang menggelegar dahsyat hingga menggetarkan kaca jendela kamar.

"Aakh!"

Kamila berteriak kecil. Rasa takut yang mendalam terhadap petir membuatnya kehilangan logika. Bukannya menjauh, ia justru berlari ke arah satu-satunya sosok yang ada di sana. Dalam kegelapan total, Kamila menubruk dada bidang Evan dan memeluk pinggang suaminya itu dengan sangat erat. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya disembunyikan di balik pundak Evan yang masih terasa lembap setelah mandi.

Evan sempat tersentak kaget, namun ia bisa merasakan ketakutan yang nyata dari getaran tubuh Kamila.

"Kau kenapa, Kamila?" tanya Evan lembut, suaranya terdengar berat di tengah kesunyian malam.

"S... saya takut, Mas! Saya sangat takut suara petir!" jawab Kamila dengan suara bergetar, hampir menangis.

Mendengar pengakuan jujur itu, pertahanan Evan runtuh. Rasa canggungnya hilang, digantikan oleh naluri untuk melindungi. Evan melingkarkan tangannya yang kokoh, memeluk Kamila dengan erat, seolah memberikan pagar pelindung bagi wanita itu dari suara alam yang mengamuk di luar sana.

Tak lama kemudian, suara klik terdengar dan lampu kembali menyala terang. Keadaan yang tiba-tiba terang benderang itu menyingkap posisi mereka yang masih saling terkunci dalam pelukan. Kamila tersentak, ia menyadari wajahnya menempel langsung pada kulit dada Evan yang tak tertutup sehelai benang pun.

Aroma sabun maskulin bercampur wangi tubuh alami Evan menyeruak ke indra penciumannya, membuat jantung Kamila berdegup kencang, kali ini bukan karena takut petir, melainkan karena pria di hadapannya. Saat Kamila mulai mengendurkan pelukannya dan hendak mundur, tangan Evan justru semakin mengunci pinggangnya, mencegahnya menjauh.

Evan seolah terserap oleh suasana. Matanya menatap lekat pada wajah Kamila yang kini merah padam. Suasana di kamar itu berubah menjadi sangat intens. Evan membungkukkan punggungnya sedikit, mendekatkan wajahnya perlahan ke arah Kamila.

Kamila terdiam terpaku. Ia seperti terhipnotis oleh tatapan tajam namun lembut milik suaminya. Alih-alih menghindar, ia justru menutup matanya perlahan, seolah memberikan izin tak tertulis bagi Evan untuk mendekat. Ketika ujung hidung mereka sudah saling bersentuhan dan napas hangat Evan mulai terasa di bibir Kamila...

Tok! Tok! Tok!

"Tuan? Nyonya? Maaf, ini Baby Zevan menangis terus, sepertinya merindukan Ibunya!" suara Suster Zara terdengar dari balik pintu, diikuti suara tangisan bayi yang mulai kencang.

Suasana romantis yang nyaris mencapai puncaknya itu lenyap seketika bak gelembung yang pecah. Evan segera melepaskan tangannya dari pinggang Kamila, sementara Kamila hampir melompat mundur karena terkejut.

"Zevan..." gumam Kamila dengan suara serak. Tanpa berani menatap mata Evan lagi, ia bergegas lari menuju pintu kamar dengan langkah seribu. Jantungnya berdetak sangat kencang, rasanya seperti baru saja menyelesaikan lari maraton sejauh puluhan kilometer.

Evan berdiri mematung di tengah kamar, hanya mengenakan handuknya, menatap pintu yang baru saja tertutup dengan pandangan kosong. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya sendiri yang tak kalah liar.

Sesaat kemudian, sebuah senyum tipis, senyum tulus yang jarang ia perlihatkan telah terukir di sudut bibirnya. Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan sisa kehangatan pelukan Kamila tadi.

"Sial... kau hampir membuatku lepas kendali, Kamila," bisiknya pada diri sendiri.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
sukurlah jaka sadar dan mudsh2an cepat sehat biar bisa jd saksi ratu demit masuk bui
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 👍
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya jaka sadar dan bisa jdi saksi kejhtn siska
Lisa
Ciee..Evan udh mulai pdkt nih..😊
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: iya dong 🤣🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/🤗🤗🤗
total 1 replies
Nar Sih
hahaha😂😂iklan lewat dulu gais😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Juriah Juriah
sebagai pembaca novel menurut ku jln crita nya udh cukup bagus tulisannya juga rapi ga banyak typo nya trus tanda baca nya juga tepat penempatan nya sampai di episode ini masih enak di baca nya...buat kakak author tetap semangat untuk berkarya 💪🙏
Juriah Juriah: sama-sama kak🙏
total 2 replies
suryani duriah
gagal lagi😁😁
neny
apa itu panggilan di bawah alam kubur,,atau mungkin kah orang yg sdh dianggap siska mati akan mengganggu siska sampe ia mengakui perbuatan nya sendiri,,jd penasaran nich,,semangat terus kak othor💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
neny
oramg suruhan siska pasti itu,,lanjut kak,,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
neny
cinta rvan,,itu cintaa,,cinta mu pada jingga ada di ruang hati mu yg lain,,beda jg dengan cinta kamila,,ayo akui perasaan mu drpd tersiksa,,🤭lanjut kak🥰
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk, aku sudah up 3 Bab 🤗
total 1 replies
Teh Euis Tea
cieee evan udah nyosor lg aj🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: jadi bebek dia kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
pasti si Siska.😡
Nar Sih
hahaha😂😂evan ,,kmu ada ,,sja pkai cerita tentang teman mu pdhl itu cerita diri mu sendiri yg mungkin udh jtuh cinta dgn kamila ,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak, malu tuh dia 🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
kocak di evan, pake bilang temannya bilang aj aku yg mulai jatuh cinta dm istriku 🤣🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: nah betul begitu 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Iqlima Al Jazira
next thor..
kopi untuk mu👍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ani
lepas kendali juga gak apa apa kali Van lah yo wong halal kok..😄😄😄
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Nar Sih
buat pangn yg sdh sah boleh kok kamila untuk berhubungan seperti layak nya suami ,dan kmu jujur sja klau sdh ngk punya rahim lgi
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak 👍🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!