Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil Menjadi Pendonor
Tiga Minggu Aariz dirawat di rumah sakit. Keadaan pria itu sedikit lebih baik, tapi dokter masih belum mengizinkan Aariz untuk pulang. Aariz sudah terlihat normal, aura di wajahnya sudah tak begitu memprihatinkan.
“Anda sudah lebih baik, tapi bukan berarti sudah sembuh Pak Aariz. Tekanan, stres, dan kelelahan fisik bisa membuat penyakit Anda kumat, jadi tolong Anda bisa memperhatikan hal ini,” kata Dokter Ibrahim mengingatkan, bahkan tidak hanya sekali, berulang kali pria itu selalu mengingatkan Aariz sampai Aariz merasa bosan mendengarnya.
“Dokter sudah lima kali mengingatkan saya akan hal ini, Dok, saya masih ingat,” balas Aariz.
“Lalu kenapa dia ada di sini?” dokter menunjuk pada laki-laki yang berdiri di samping Aariz, laki-laki itu adalah Alex Hossam. Dokter tahu laki-laki itu pasti datang dari perusahaan Aariz, makanya dokter mempertanyakannya. Kehadiran laki-laki itu hanya akan mengganggu ketenangan Aariz.
“Dia memang salah satu rekan kerjaku, Dok, tapi dia datang untuk menjenguk, bukan menggangguku,” jelas Aariz.
“Aku tidak percaya, apa yang akan kalian bicarakan pasti ujung-ujungnya soal pekerjaan. Dengar Pak Aariz, Anda harus memikirkan putri Anda yang sudah siang malam menjaga Anda. Dia sampai tidak masuk kuliah hanya untuk berada di samping Anda.”
“Saya tahu, dok.”
Aariz berubah murung, dia jelas saja sedih saat mengetahui putrinya menjadi susah karena merawat dirinya. Dia baru saja ingin membahagiakan Hanin, tapi sekarang keadaan dirinya justru membuatnya susah. Aariz bertekad untuk sembuh meskipun dengan mengorbankan segalanya.
Setelah dokter meninggalkan ruangan, Aariz tak melihat Hanin di ruangan itu. Seharian itu juga anak itu tak menjaganya, apa mungkin Hanin sudah kembali kuliah? Pikirnya.
“Apa kau melihat putriku?” tanya Aariz pada Alex.
“Sepertinya dia bersama Daniyal di luar,” jawab Alex. “Kalau kau ingin bertemu biar aku panggilkan.”
“Tidak perlu, aku ingin bicara beberapa hal denganmu.”
Melihat sikap serius Aariz, Alex tadinya ingin pergi karena tidak ingin disalahkan dokter sebagai pengganggu istirahatnya Aariz, tapi Aariz justru ingin berbicara serius dengannya.
••
Sementara Hanin dia baru saja mendapatkan informasi jika dirinya bisa menjadi pendonor sumsum tulang. Entah mengapa Hanin merasa senang akhirnya dirinya bisa berguna juga untuk orang lain. Berbeda dengan Daniyal yang tidak senang juga merasa heran bagaimana Hanin bisa memiliki kecocokan itu. Kejadian itu sesuatu yang sangat langka.
“Nona sudah merasa yakin dengan keputusan Anda ini?” Daniyal kembali mempertanyakan keseriusan Hanin.
“Sudah, Kak, dan aku sekali lagi ingin minta tolong kakak jaga ayahku selama proses ini. Aku tidak mau ada yang mengganggu ayah nantinya.”
“Nona tenang saja, saya pasti menjaga Tuan Aariz sebaik mungkin.”
“Dan satu hal lagi, Kak. Masalah ini jangan sampai ada yang tahu termasuk ayahku. Aku tidak ingin membuatnya cemas. Jika nanti beberapa hari aku belum bisa menemuinya, kakak katakan sesuatu yang membuat ayah tidak curiga.”
“Kenapa Anda merahasiakannya?”
“Bukan apa-apa, hanya tidak ingin saja. Aku juga meminta pihak rumah sakit merahasiakan diriku.”
“Iya, Nona, jangan khawatir.”
Meskipun berjanji menjaga rahasia itu, Daniyal tidak yakin keluarga pasien tidak akan mempertanyakan soal itu. Mereka bahkan rela memberikan uang 500 juta untuk orang yang bisa menjadi pendonor. Mereka Sepertinya keluarga yang cukup mampu.
Daniyal adalah orang kepercayaan ayahnya, Hanin merasa yakin laki-laki itu bisa dipercaya.
Hari itu juga Hanin dibawa ke ruang persiapan. Daniyal masih menemaninya sebelum Hanin benar-benar masuk ruang operasi. Dia benar-benar cemas, tidak hanya dengan Hanin dan proses operasi itu, tapi dirinya juga cemas jika terjadi sesuatu dengan Hanin, maka dia harus berhadapan dengan Aariz. Hanin sudah melibatkan masalah yang serius dan berisiko.
“Kak apa akan terasa sakit?” tanya Hanin sebelum masuk ruang operasi. Hanin sudah berbaring di ranjang dengan pakaian khusus. Ia tadinya terlihat tenang, tapi dia tetaplah hanya seorang perempuan pasti ada perasaan takut.
“Nona akan dibius, jadi tidak akan merasakan sakit. Dokter di sini juga adalah dokter profesional mereka tidak akan membuatmu sakit.” Daniyal berusaha menghiburnya.
Walaupun dia tahu jawaban Daniyal hanya untuk menghibur, Hanin merasa senang. Dia teringat saat dirinya berusia tujuh belas tahun, saat itu dia pun harus menolong Satya dengan mendonorkan darahnya saat Satya kecelakaan dan kehilangan banyak darah. Hanin memiliki golongan darah yang sama, yang langka. Saat itu dia takut saat diambil darahnya, tapi Elvan dan Miranda menghiburnya.
Daniyal mengantar Hanin hingga tiba di depan pintu ruang operasi. Hanin dibawa masuk, dan pintu itu ditutup. Daniyal berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah berat.
Saat proses operasi itu Daniyal kembali ke ruangan Aariz dirawat. Ketika tiba di sana dia melihat Alex baru saja meninggalkan ruangan. Daniyal menghindar bertemu dengan Alex, baru setelah pria itu pergi Daniyal masuk ruangan.
Melihat Daniyal datang seorang diri tanpa Hanin, Aariz mempertanyakannya. Daniyal sudah menduganya. Daniyal terpaksa berbohong Hanin sedang pergi kuliah. Untung saja Aariz percaya.
“Daniyal, kau sekarang paling dekat dengan putriku. Jika nanti terjadi sesuatu dengan diriku kau harus menjaganya. Jika mungkin aku ingin dia menggantikanku di perusahaan, kau harus membantunya.”
“Saya tidak yakin Nona bersedia, dia sepertinya tidak menyukai bisnis dan perusahaan.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Dia kuliah bahasa, Tuan. Dia ingin menguasai semua bahasa di dunia ini. Dia ingin bisa berkomunikasi dengan semua orang dari banyak negara. Dalam lima tahun ini dia sudah mempelajari lima bahasa, tapi ...”
“Tapi apa?”
“Kejadian yang menimpa Anda sudah menunda belajarnya. Jadi selagi Anda baik-baik saja, kuliahnya tidak akan terganggu,” jelas Daniyal. “Anda harus berusaha untuk sembuh. Nona saat ini ingin fokus dengan kuliahnya beberapa hari ke depan, jadi dia tidak bisa menjaga Anda. Dia meminta saya untuk menjaga Anda selama itu.”
“Tapi kau juga di perusahaan bagaimana kau menjagaku setiap waktu.”
“Bergantian dengan Amaan.”
“Aku tidak melarangnya pergi kuliah, meski sebenarnya aku sangat membutuhkan putriku saat ini. Dia satu-satunya keluargaku yang aku butuh kan saat ini.”
“Beberapa kali nyonya berusaha untuk menemui Anda, tapi Nona tidak memberinya kesempatan.” Daniyal dengan ragu-ragu menyinggung masalah itu.
“Biarkan saja, saat ini aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.”
Daniyal bisa melihat kebencian Aariz saat membicarakan tentang Sabrina. Entah benar atau tidaknya tentang gosip perselingkuhan istrinya itu, belum ada yang tahu pasti. Apa lagi Aariz sudah lama berbaring di rumah sakit tak ada media yang berhasil mendapatkan informasi darinya sampai hari itu. Selama ini Hanin pun tak pernah membahas masalah itu.
“Jika, Tuan butuh sesuatu katakan saja, jika tidak saya tidak akan mengganggu Anda, Tuan harus istirahat dengan baik.”
“Tidak, pergilah!”
Daniyal berjalan keluar dan menunggu di luar ruangan. Operasi Hanin mungkin selesai sekitar lima jam. Berhubung Amaan berada di tempat itu, ia menyerahkan tugas menjaga pada Amaan. Daniyal juga menempatkan dua pria untuk menjaga ruangan itu.
“Kalian jangan pernah sekali pun mengizinkan Nyonya Sabrina mendekati ruangan ini apa lagi mengganggu Tuan Aariz, dengan alasan apa pun Tuan Aariz tidak boleh bertemu dengannya. Kalau kalian melanggar kalian bisa dipecat, karena ini menyangkut nyawa Tuan Aariz,” pesan Daniyal pada dua pria itu, juga pada Amaan tidak main-main.
Daniyal kemudian pergi ke perusahaan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dia akan kembali ke rumah sakit pukul tujuh malam nanti.